Pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah terkadang tidak
bisa membendung kenakalan remaja hari ini. Kenakalan remaja seperti
berkata-kata kotor, berakhlak buruk, minum-minuman keras, narkoba bahkan sampai
seks bebas tetap terjadi di kalangan para siswa. Padahal pendidikan agama
seharusnya bisa memberikan pemahaman kepada mereka bahwa itu semua tidak boleh
dilakukan karena agama melarangnya.
Bagian apa yang salah dari pendidikan agama ini?
1. Apakah jumlah jam pada pelajaran pendidikan agama yang relatif
sedikit diberikan kepada para siswa? atau
2. Metode pembelajarannya yang kurang maksimal dalam memberikan
pemahaman agama terhadap para siswa? atau
3. Pendidik yang kurang cakap dalam memberikan pengajarannya? Oke,
boleh baik secara pengetahuan ilmu agamanya akan tetapi dalam aplikasinya tidak
bisa mencontohkan kepada peserta didiknya.
Oke, menurut pandangan penulis akan saya jabarkan satu persatu.
Kemungkinan atas ketiga hal tersebut bisa saja menjadi alasan kenapa pelajaran
agama tidak bisa membendung kenakalan remaja hari ini.
1. Jam pelajaran
Ini bisa saja menjadi faktor
penyebab kenapa meskipun pelajaran agama ada di mata pelajaran sekolah akan
tetapi dia tidak bisa membendung kenakalan remaja. Jumlah jam mata pelajaran
agama yang berjumlah 2-3 jam perminggu seolah-olah memberikan anggapan kepada
kita semua bahwa pelajaran agama adalah pelajaran pelengkap, pelajaran yang
tidak terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran umum lainnya.
Anggapan seperti ini akhirnya bagi peserta didik dianggap sesuatu yang biasa
pula pelajarannya sehingga dalam belajar pun mereka hanya mengejar nilai, hanya
sekedar pengetahuan bukan pemahaman yang akan melahirkan sebuah aplikasi di
kehidupannya sehari-hari. Selain itu, jumlah jam pelajaran yang terbatas akan
terkendala pada pemberian mata pelajaran agama.
Waktu 2-3 jam saja perminggu
mungkin hanya bisa digunakan untuk menyampaikan saja materi-materi yang
dianggap sangat dibutuhkan. Tidak ada lagi waktu untuk pemantauan aplikasinya
di lapangan. Karena pelajaran agama ini bukan sekedar dijadikan sebagai sebuah
pengetahuan tanpa aplikasi. Pelajaran agama butuh aplikasi di kehidupan
sehari-hari. Jika hanya sekedar dijadikan sebagai sebuah pengetahuan semata,
mereka (guru dan Murid) hanya mengejar bisa menjawab soal ujian nanti dan
mendapat nilai yang bagus dan naik kelas/lulus tanpa memperhatikan apakah
pemahaman agama itu benar-benar sampai ke masing-masing murid atau tidak.
Apakah pelajaran agamanya telah dijalankan di kehidupan sang murid atau tidak.
Jika tidak terkontrol sampai ke sana, ya wajar saja jika masih terjadi juga
kenakalan remaja hari ini.
2. Metode Pembelajaran
Pemberian mata pelajaran oleh
satu guru agama kepada 30-40 siswa di satu kelas secara khusus atau oleh satu
guru agama kepada ratusan siswa secara umum biasanya dilakukan dengan metode ceramah,
pemberian materi-materi per bab. Memang dengan kondisi yang demikian banyaknya
siswa sang guru tidak bisa secara persuasif memberikan pemahaman agama per
siswa, sehingga pula sang guru tahu secara persis bahwa apa yang dia sampaikan
itu benar-benar dipahami siswanya dan terjalankan di kehidupan sehari-harinya.
Ini sangat penting, karena pelajaran agama sekali lagi saya katakan tidak hanya
sebatas pengetahuan saja. Cukup tahu ini dan itu akan tetapi tidak ada rasa
kesadaran untuk menjalankan pengetahuannya tersebut.
3. Kecakapan Pendidik
Siswa akan melihat sumber yang
memberikan ilmu. Maka sang guru agama harus siap memberikan keteladanan kepada
para siswanya. Apa yang dikatakan di kelas, sang guru harus yang paling cepat
memberikan contonya kepada para siswanya. Sangat disayangkan ketika guru agama
tidak bisa memberikan contoh tersebut, malah mungkin sebaliknya. Apa yang
dikatakan sebuah keharusan dalam pelajaran agamanya, sang guru tidak
menjalankannya. Begitu juga apa yang dikatakan sebuah larangan malah sang guru
mengerjakannya, dan itu semua dilihat oleh para siswa nya. Maka ada sebagian
para siswa pasti menjadikan itu sebagai dalih untuk dia melakukan sebuah yang
bertentangan dari apa yang diajarkan pada pelajaran agama.
Mungkin itu sedikit faktor yang mempengaruhi kenapa pendidikan agama
tidak bisa membendung kenakalan remaja. Meskipun memang masih banyak lagi
faktor lainnya, seperti keluarga, lingkungan, teman.
#SaveRemajaMuslimIndonesia.
#GerakanSelamatkanTunasBangsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar