Rabu, 04 September 2013

Membendung kenakalan Remaja melalui Pelajaran Agama.

Pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah terkadang tidak bisa membendung kenakalan remaja hari ini. Kenakalan remaja seperti berkata-kata kotor, berakhlak buruk, minum-minuman keras, narkoba bahkan sampai seks bebas tetap terjadi di kalangan para siswa. Padahal pendidikan agama seharusnya bisa memberikan pemahaman kepada mereka bahwa itu semua tidak boleh dilakukan karena agama melarangnya.

Bagian apa yang salah dari pendidikan agama ini?
1. Apakah jumlah jam pada pelajaran pendidikan agama yang relatif sedikit diberikan kepada para siswa? atau
2. Metode pembelajarannya yang kurang maksimal dalam memberikan pemahaman agama terhadap para siswa? atau
3. Pendidik yang kurang cakap dalam memberikan pengajarannya? Oke, boleh baik secara pengetahuan ilmu agamanya akan tetapi dalam aplikasinya tidak bisa mencontohkan kepada peserta didiknya.

Oke, menurut pandangan penulis akan saya jabarkan satu persatu. Kemungkinan atas ketiga hal tersebut bisa saja menjadi alasan kenapa pelajaran agama tidak bisa membendung kenakalan remaja hari ini.

1.   Jam pelajaran
Ini bisa saja menjadi faktor penyebab kenapa meskipun pelajaran agama ada di mata pelajaran sekolah akan tetapi dia tidak bisa membendung kenakalan remaja. Jumlah jam mata pelajaran agama yang berjumlah 2-3 jam perminggu seolah-olah memberikan anggapan kepada kita semua bahwa pelajaran agama adalah pelajaran pelengkap, pelajaran yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran umum lainnya. Anggapan seperti ini akhirnya bagi peserta didik dianggap sesuatu yang biasa pula pelajarannya sehingga dalam belajar pun mereka hanya mengejar nilai, hanya sekedar pengetahuan bukan pemahaman yang akan melahirkan sebuah aplikasi di kehidupannya sehari-hari. Selain itu, jumlah jam pelajaran yang terbatas akan terkendala pada pemberian mata pelajaran agama.

Waktu 2-3 jam saja perminggu mungkin hanya bisa digunakan untuk menyampaikan saja materi-materi yang dianggap sangat dibutuhkan. Tidak ada lagi waktu untuk pemantauan aplikasinya di lapangan. Karena pelajaran agama ini bukan sekedar dijadikan sebagai sebuah pengetahuan tanpa aplikasi. Pelajaran agama butuh aplikasi di kehidupan sehari-hari. Jika hanya sekedar dijadikan sebagai sebuah pengetahuan semata, mereka (guru dan Murid) hanya mengejar bisa menjawab soal ujian nanti dan mendapat nilai yang bagus dan naik kelas/lulus tanpa memperhatikan apakah pemahaman agama itu benar-benar sampai ke masing-masing murid atau tidak. Apakah pelajaran agamanya telah dijalankan di kehidupan sang murid atau tidak. Jika tidak terkontrol sampai ke sana, ya wajar saja jika masih terjadi juga kenakalan remaja hari ini.

2.   Metode Pembelajaran
Pemberian mata pelajaran oleh satu guru agama kepada 30-40 siswa di satu kelas secara khusus atau oleh satu guru agama kepada ratusan siswa secara umum biasanya dilakukan dengan metode ceramah, pemberian materi-materi per bab. Memang dengan kondisi yang demikian banyaknya siswa sang guru tidak bisa secara persuasif memberikan pemahaman agama per siswa, sehingga pula sang guru tahu secara persis bahwa apa yang dia sampaikan itu benar-benar dipahami siswanya dan terjalankan di kehidupan sehari-harinya. Ini sangat penting, karena pelajaran agama sekali lagi saya katakan tidak hanya sebatas pengetahuan saja. Cukup tahu ini dan itu akan tetapi tidak ada rasa kesadaran untuk menjalankan pengetahuannya tersebut. 

3.   Kecakapan Pendidik
Siswa akan melihat sumber yang memberikan ilmu. Maka sang guru agama harus siap memberikan keteladanan kepada para siswanya. Apa yang dikatakan di kelas, sang guru harus yang paling cepat memberikan contonya kepada para siswanya. Sangat disayangkan ketika guru agama tidak bisa memberikan contoh tersebut, malah mungkin sebaliknya. Apa yang dikatakan sebuah keharusan dalam pelajaran agamanya, sang guru tidak menjalankannya. Begitu juga apa yang dikatakan sebuah larangan malah sang guru mengerjakannya, dan itu semua dilihat oleh para siswa nya. Maka ada sebagian para siswa pasti menjadikan itu sebagai dalih untuk dia melakukan sebuah yang bertentangan dari apa yang diajarkan pada pelajaran agama.

Mungkin itu sedikit faktor yang mempengaruhi kenapa pendidikan agama tidak bisa membendung kenakalan remaja. Meskipun memang masih banyak lagi faktor lainnya, seperti keluarga, lingkungan, teman.

#SaveRemajaMuslimIndonesia.

#GerakanSelamatkanTunasBangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar