Kamis, 07 November 2013

Bagaimana rasa di hati seorang ibu

Bagaimana rasa di hati. Ya rasa di hati seorang ibu, yang melihat anak remajanya yang mulai tumbuh menuju kedewasaannya di lingkungan yang tidak baik. Lingkungannya yang salah membuat anaknya terlibat pada kenakalan remaja. Mulai merokok, minum-minuman keras sampai kepada penggunaan Narkoba. Yang dengannya pula bisa saja mengakibatkan kenakalan yang lebih besar lagi, bukan sekedar kenakalan yang biasa dilakukan remaja.

Bagaimana rasa di hati. Rasa di hati seorang ibu, yang mengharapkan anak kecil yang lucu akan tumbuh menjadi remaja yang baik namun itu tidak terwujud hari ini. Anak kecilnya yang lucu lagi imut dahulu, kini tumbuh menjadi pribadi remaja yang terlibat dalam kenakalan remaja, miskin prestasi, moral tertinggal, akhlaknya jatuh.

Bagaimana rasa di hati. Yaa rasa di hati seorang ibu, yang dahulu mendambakan anak ketika besar nanti menjadi anak yang baik, patuh terhadap kedua orang tuanya tidak terwujud hari ini. Karena lingkungan pergaulannya yang salah tempat dia tumbuh, membuat sang anak menjadi anak yang sulit diatur, melawan orang tuanya, dan tidak patuh ketika orang tuanya meminta bantuan.

Bagaimana rasa di hati. Yaa rasa di hati seorang ibu, yang dahulu mengharapkan memiliki anak yang mengerti akan kondisinya sehingga dengan pengertian tersebut sang anak dengan rela hati membalas semua jasanya tanpa diminta, namun kini hal itu tak ia dapatkan. Yang kini ia dapatkan anaknya tumbuh dalam kondisi yang jauh dari harapannya itu. Anaknya tak pernah paham bagaimana seorang ibu rela mengorbankan apapun demi sang anak. Anaknya tak pernah mengerti bahwa sang ibu selalu mendoakan yang terbaik ketika sang anak hendak pergi ke sekolah. Sang anak tak pernah paham bahwa di setiap doa selepas sholat tersisip doa kebaikan buat anaknya tersayang. Sang anak tak pernah mengerti, bagaimana sulitnya mencari uang demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Kini sang anak tumbuh jauuuuh dari apa yang diharapkan oleh sang ibu ketika sang anak masih kecil. Anak kecil itu kini tumbuh menjadi anak yang jauh dari doa sang ibu, dikarenakan sang anak terlalu gegabah memilih lingkungan yang tidak baik bagi dirinya tumbuh. Lingkungan yang membuatnya terpengaruh untuk menjadi seorang anak yang tidak seperti yang diinginkan sang ibu. Bagaimana rasadi hati seorang Ibu.

Inilah anak yang tumbuh menjadi remaja yang jauh dari harapan kedua orang tuanya. Apakah itu kamu?
 Jambi, 08 Nopember 2013

Lakukan yang terbaik

Berbuatlah yang tebaik meskipun waktumu tinggal sedikit lagi di sini. Kadang banyak orang yang ketika telah tahu gambaran kedepan dia akan tidak di sini lagi, maka ia lebih baik tidak berbuat maksimal kembali dengan alasan "aku kan tidak akan di sini lagi ke depannya". Lakukan saja ketika di sini, sama maksimalnya seperti engkau akan berada di sini selamanya.

Bahkan orang-orang terbaik senantiasa melakukan yang terbaik pula bagaimanapun kondisinya. Melakukan yang terbaik di detik-detik terakhir juga adalah orang-orang yang berjiwa pahlawan. Lihat saja di film-film, seorang penjinak bom yang berhasil menjinakan bom di waktu yang nyaris waktunya habis, 3-5 detik sebelum bom meledak. Bayangkan jika dia berputus asa di akhir-akhir tindakannya menjinakan bom, mungkin dia termasuk yang akan meledak bersama bomnya.

Selasa, 05 November 2013

Sajak Kehidupan (2)

oleh : Multon Ackrowi

Kamu adalah mahkluk terpilih
Potensi sudah dianugerahkan
Tempat bernaung mu dunia

Jalan hidupmu terbuka
Terkadang lempang terkadang sesak
Mencari suka melalui duka

Mahkluk bebas dalam batas
berpikir maju atau mundur
memilih syukur atau kufur

Tuhan ada pemberi kuasa
Kamu ada penentu usaha
Terus bekerja atau terlena

Hidup berguna atau sia-sia
Pembawa derita atau bahagia

Manusia ada bukan percuma
tentukan syurga atau neraka


Kita telah terpilih lahir kedunia dengan kedudukan yang paling mulia, dengan sebaik baik bentuk. Memiliki kesempurnaan akal dan nurani sebagai penuntun kehidupan. "Khalifatul fil ard" pemimpin atas kehidupan di dunia, meniti jembatan karir menuju akhir yang baik bukan hanya bagi diri pribadi namun juga memiliki tanggung jawab bagi manusia lainnya.

Penciptaan manusia bukan hanya dengan berbagai jenis suku, kulit, bahasa dan ras saja, namun juga dengan berbagai sifat dasar dan karakter yang berbeda pula. Ada yang penyabar, ada yang cenderung pemarah dan juga ada yang penuh canda. Meskipun pada umumnya ketiga sifat dasar tersebut dimiliki oleh semua manusia hanya kadar sifat tersebut yang berbeda-beda oleh karena itu kita perlu mengetahui sifat dasar yang kita miliki agar mampu kita seimbangkan diantara ketiganya.

Saudara-saudariku yang baik hatinya, pilihan dan ketentuan yang Tuhan curahkan di dunia semestinya menjadi pembelajaran penting bagi kita dalam menyikapi kehidupan di dunia ini. Bukankah telah banyak kejadian dan kisah yang kita baca ataupun kita dengar bagaimana akhir dari manusia manusia yang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menyeimbangkan kehidupannya. Bagaimana sifat-sifat buruk hanya memberi petaka kepada tuannya dan pilihan kebaikan membawa keberuntungan bagi tuannya. Lalu pertanyaan besarnya kenapa kejadian demi kejadian tidak membuat sebagian dari kita atau kita sendiri tidak mengambil poin penting atas hal tersebut. Apakah kita tidak memiliki akal sehat lagi untuk membedakan mana hal baik dan mana hal yang buruk, atau jangan-jangan kita sudah menjadi makhluk sombong yang lupa akan tujuan penciptaan kita di dunia.

Hidup seperti sebuah perjalanan dimana tersedia banyak destinasi tujuan, kita bebas memilih kemana kita hendak pergi, kendaraan apa yang kita gunakan semua dikembalikan dengan kemampuan dan keinginan kita. Tidak ada satupun yang memaksa kita akan kemana, yang ada hanya tawaran dari biro biro perjalanan dengan berbagai macam promosinya namun pada akhirnya pilihan akan bermuara pada diri kita. Perjalanan dan lokasi mana yang sesuai dengan diri kita. Setelah memilih suatu perjalanan maka secara langsung hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan tersebut mesti kita penuhi dan kita juga harus siap dengan segala konsekuensi yang berlaku dalam perjalanan tersebut, entah itu biaya, lama waktu perjalanan serta orang-orang yang turut serta dalam perjalanan tersebut. Resiko perjalanan ke Jepang jelas berbeda dengan resiko perjalanan ke Irak, apakah bisa kita mengganti resiko perjalanan tersebut ? tentu tidak, Jepang dan Irak adalah dua negara dengan kondisi yang berbeda.

Untuk itu mari bersama kita renungi kembali kemana tujuan kita dan apa pilihan kita dalam hidup ini. Memang hidup ini penuh dengan godaan dan pengalih perhatian ibarat tawaran dan promosi sebuah biro perjalanan yang memberikan begitu banyak bonus dan kelebihan hingga kita ragu dengan pilihan utama yang sudah kita pilih. Kemudian kembali pada diri kita sanggupkah kita menahan godaan tersebut. Godaan yang membawa kita pada kenyaman sementara yang tanpa sadar telah menghabiskan waktu kita untuk mencapai tujuan perjalanan utama kita. Saat kita tersadar semua sudah terlambat, waktu yang kita punya hampir tidak ada lagi, uang yang kita punya sudah tidak cukup lagi, yang ada hanya tinggal penyesalan dan keluh kesah yang tidak mampu merubah pilihan yang sudah kita tentukan.

Apakah tidak sia-sia energi penyesalan yang kita keluarkan saat semua cerita sudah usai, saat air telah kering dan saat raga tak lagi kuasa. Kita ambil sebuah frasa tentang seorang yang bercita cita mengubah dunia namun ia belum merubah dirinya sendiri dan ia belum memilih jalan yang baik baginya sehingga pada saat tersadar ia mendapati dirinya hanyalah lelaki tua renta yang dulu punya rencana besar namun tidak memulainya dari hal yang paling kecil dan yang paling dekat dengannya yaitu dirinya sendiri.

Pilihan hidup sepenuhnya ada pada diri kita, bahkan ketika kita tidak memilih suatu apapun, itu juga bermakna sebagai pilihan diluar dari pilihan yang ada. Jadi sesungguhnya pilihan itu mutlak adanya tidak dapat dihindari. Mulailah untuk berani memilih dari hal yang mudah dan mampu kita lakukan. Lalu apakah pilihan untuk menjadi manusia yang baik masih meragukan buat kita?

Sajak Kehidupan (1)

oleh : Multon Ackrowi

Awal

Dari tiada menjadi ada
ya kita adalah wujud yang diadakan
raga yang diisi ruh dihidupkan
diberi akal
diberi hati
akal untuk berpikir
dan hati untuk menilai

lalu jasad menjadi utuh
sebentuk tubuh yang sempurna
disiapkan menjadi pemimpin
mengajak pada kebaikan
mencegah dari kemungkaran

ya itulah manusia
ciptaan dengan penyempurnaan
penyempurnaan akal
penyempurnaan pikiran
penyempurnaan jasad

Dan tugas akhirnya menyempurnakan amal
Siapapun dan Dimanapun terlahir
Itulah manusia

"Wahai Allah Tuhanku, mengapa kau hendak menurunkan manusia yang suka merusak dan suka menumpahkan darah untuk menjadi pemimpin di muka bumi" dan Tuhan pun menjawab "apakah kamu mengetahui lebih dari yang aku ketahui ? " dan malaikat pun bersujud dihadapan Allah.

Begitulah keraguan yang ada pada malaikat terhadap manusia karena ia tahu bahwa watak manusia diciptakan penuh hawa nafsu, lalai dan lemah, meski demikian Allah tetap mencipatakan manusia dengan semua potensi yang mengikutinya. Manusia diberikan akal, diberikan hati atau qolbu dan diberikan bentuk sebaik baik bentuk dari semua ciptaanNya termasuk dari para malaikat.

Akal diciptakan dengan potensi untuk menganalisis dan mengolah data dengan logika berpikir rasional guna menentukan keputusan ya atau tidak, kemudian hati diciptakan dengan potensi peka perasaan guna menilai baik buruknya tindakan dengan tolok ukur seberapa besar tingkat penerimaan lingkungan terhadap keputusannya. apakah ada yang tersakiti atau tidak atas tindakan yang dilakukannya. Dan terakhir potensi jasad dengan potensi indra tubuh yang melekat disana seperti mata, telinga, hidung, kaki, tangan. Jasad merupakan muara utama dari dua potensi sebelumnya yaitu hati dan akal sebagai sarana perwujudan semua gagasan untuk menjadi sebuah amal yang terlihat dan terukur.

Penyempurnaan potensi inilah yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Malaikat dikenal sebagai makhluk Allah yang paling taat, iblis dikenal sebagai makhluk pembangkang dan dilaknat oleh Allah dan terakhir manusia sebagai makhluk pertengahan, ia diberi kebebasan untuk memilih jalan yang ia tempuh tentu saja dengan konsekuensi jika memilih jalan keburukan berhadapan dengan dosa azaz dan siksa, jika memilih jalan kebaikan akan bertemu dengan pahala dan syurga. Jadi saya ingin menyampaikan bahwa manusia memiliki dua unsur jiwa yaitu, separuh iblis dan separuhnya malaikat.

Kehidupan kita dimulai dari sebuah penciptaan dimana ditempat yang belum pernah kita lihat dan tentu tempat yang belum pernah kita bayangkan. Disana zat yang Maha Agung yang kita nyatakan sebagai Tuhan bersemayam bersama ribuan malaikat yang senantiasa taat dan siap siaga menjalankan perintahNya untuk mengelola kehidupan tempat para manusia hidup yang disebut sebagai dunia. Dalam arsyNya ruh ruh dikumpulkan dan ditanyakan satu persatu sebelum ditiup kedalam jasad manusia "Siapakah Tuhanmu" ruhpun menjawab "ya, kami mengakui bahwa engkau adalah Tuhan kami" setelah ikrar disampaikan ditiuplah ruh tersebut menuju jasad yang sudah ditentukanNya.

Jika dilihat proses yang terjadi atas penciptaan manusia maka bisa dikatakan bahwa kita terlahir sebagai orang yang dipilih untuk berada di dunia. Disebutkan bahwa "hendak kujadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi" hal ini dimaksudkan agar manusia sadar akan tugasnya bahwa ia hidup bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk memberi manfaat kepada sesama. khalifah adalah sebuah kata yang bermakna luas, khalifah memiliki tugas besar, khalifah adalah pemimpin, khalifah adalah pengambil kebijakan dan khalifah adalah pengelola kehidupan.

Dengan begitu besarnya harapan dan tugas yang diberikan kepada manusia dan dengan telah dimuliakannya kita apakah masih pantas jika kita terus mengeluh dan menyesali keberadaan kita di dunia? lalu dengan pilihan dan konsekuensi yang ada apakah masih yakin jika kita terus melakukan kerusakan dan menjadi wabah keburukan di tengah masyarakat. Ingat bahwa kita dipilih oleh kekuatan besar kemudian kita disempurnakan dengan tiga potensi dasar untuk menentukan tindakan apa yang tepat kita lakukan untuk hidup ini.

Memilih baik atau buruk? memilih optimis atau mengeluh? memilih kuat atau lemah? memilih manfaat atau kesia siaan? memilih syurga atau neraka?
semua pilihan ada pada kita sebagai pelaksana tugas, apapun yang kita pilih bersiaplah dengan segala resiko yang akan kita dapatkan sesuai dengan pilihan kita. jadi silahkan pilih jalan kita.

Apakah saudara ataupun saudari pernah mendengar tentang kisah telur elang yang terjatuh di kandang ayam sehingga induk ayam mengeraminya sampai menetas. pada suatu waktu induk elang hendak memindahkan telur-telurnya dari pohon yang rendah ke pohon yang lebih tinggi agar lebih aman dari pemburu telur. Satu persatu telur-telur tersebut dipindahkan, saat telur terakhir akan dipindahkan kuku elang tersebut patah dan membuat telur yang dibawanya terjatuh, ia berusaha mencari dari ketinggian kemudian menukik namun ia juga tidak menemukan telurnya akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan pencarian tersebut.

Ternyata telur tersebut jatuh diatas jerami tepat disebelah sarang ayam yang sedang dierami. ketika induk ayam pulang ia melihat satu telur yang tidak pada tempatnya yang tanpa ia sadari bahwa itu adalah telur elang, ia mendorong dengan paruh dan kakinya terus menerus hingga masuk ke tempat ia mengeram.

Waktu pun berlalu hingga satu persatu telur-telur yang ia erami menetas. dari 10 telur yang menetas ada satu anak ayam yang berbeda warna dan bentuknya. warnanya kecoklatan, paruhnya lebih runcing daripada anak ayam lainnya, namun karena sudah bercampur bersama anak ayam lainnya si anak elang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia adalah elang yang biasa memangsa ayam dan ayam pun tidak menyadari bahwa ia sedang memelihara elang.

Pada suatu waktu saat anak anak ayam tersebut berkerumun diluar kandang mencari makan, tiba-tiba datang seekor elang besar akan menyambar hingga semua kocar kacir termasuk elang kecil yang berada dalam kerumunan tersebut. Elang besar tersebut coba kembali mendekat ke arah elang kecil yang tertinggal dari kerumunannya lalu ia berkata "kenapa kau ikut berlari, kenapa kau takut melihatku, bukankah kau sama sepertiku ? " elang kecil menjawab "bukan, aku tidak sepertimu, kau kasar dan kejam, kau membuat kami takut seharian, kau membuat kami lapar seharian" . Elang besar pun berkata "baik jika itu pendapatmu, tapi lihat warna bulumu, bentuk paruhmu, bentuk cakarmu kau sama sepertiku bukan seperti ayam ayam itu. Kau bisa terbang tinggi sepertiku, melanglang buana di angkasa tapi jika kau memilih untuk tetap berada bersama ayam tersebut mengais makan dengan paruh dan cakarmu silahkan" sesaat elang kecilpun bimbang, saat elang besar akan terbang " tunggu ! teriak elang kecil, tunjukkan padaku bagaimana cara bisa terbang sepertimu".

Elang besar mengajak elang kecil ke tepi sebuah bukit "ikuti aku, kepakkan sayapmu sekuat yang kau mampu, jangan berhenti sampai kau benar benar letih". Elang kecilpun memulai pengalaman pertamanya untuk terbang. Usaha pertamanya gagal bahkan baru tiga kali kepak ia terjerembab dari atas jurang. Elang besar hanya berkata teruslah berusaha kau elang sepertiku terbanglah yang tinggi. Percobaan kedua dan ketiga juga belum berhasil, sampai pada percobaan keempat ia mulai melayang dan terus melayang semakin tinggi akhirnya dia mulai bisa meliuk dan menukik. Ia merasa sangat gembira, dirinya makin percaya diri dan mulai meyakini bahwa ia adalah elang yang tangguh gagah perkasa.
Kisah diatas menggambarkan kondisi kita sebagai manusia yang terkadang lupa dengan potensi besar dan jati diri kita yang mungkin larut dalam kondisi yang kurang tepat, sehingga potensi yang ada menjadi kerdil, jati diri menjadi kabur, hidup menjadi hilang arah dan pada akhirnya tujuan hidup tidak tercapai. "Hidup tidak berguna ketika mati badan tersiksa"

Katakan pada diri sendiri mulai saat ini saya akan mencari tahu siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, kenapa saya diciptakan dan manfaat apa yang akan saya berikan dengan semua potensi besar yang melekat pada tubuh saya. Jadilah jiwa yang sadar sepenuhnhya terhadap hidup dan kehidupan.

DM2 Awal tekad Perubahanku.



Gak tahu juga apa yang membuatku dulu termotivasi untuk ikut jenjang pengkaderan tingkat 2 di KAMMI, Daurah Marhalah II KAMMI. Mungkin awalnya hanya ikut-ikutan saja, selagi ada temen-temen sekelas (lagi) yang mengajak tuk ikut sertifikasi sebagai tahap penyeleksian mengikuti DM 2. Serasa gak PD mau ikut DM2 KAMMI mengingat aku yang belum ada apa-apanya di KAMMI dibandingkan dengan teman-teman yang lain, yang telah aktif dan masuk dalam kepengurusan. Lah aku...? habis DM1 aja kagak begitu aktif. Dijadikan panitia sebagai staf seksi perlengkapan DM1 gelombang III juga gak aktif dan gak hadir ketika acaranya. Ada lah diundang MK, sekali-kali datang. Mungkin termasuk tidak diperhitungkan kali yaa dulu sehingga tidak nian-nian tuk diajaknya.

Pasca DM1 juga lum merasa sudah menjadi AB1, jadi pas ada acara adventure yang diperuntukan untuk AB1, aku pun bingung mau ikut tapi itu untuk AB1... “aku sudah AB1 belum ya...” Pikirku. Tapi karena diajak teman lagi bahwa itu untuk yang sudah ikut DM1 ya akhirnya ikut juga adventure yang seru-seruan itu dari UNJA mendalo menuju ke Kampus IAIN..tidak hanya jalan kaki aja, tapi ada saatnya ditutup matanya, ada saatnya harus merayap, ada juga saatnya nyebur ke kolam.

Masuk sebagai pengurus pun gak dari awal seperti temen-temen lainnya, yaa karena tadi mungkin namaku belum termasuk satu yang dipertimbangkan kali sama senior-senior di komisariat...he.. Baru masuk kepengurusan ketika masa PAW (Pergantian Antar Waktu) sebagai staf biro Dana dan Usaha (Danus) untuk waktu kurang lebih 3 bulan saja menjelang Muskom dilaksanakan. Selama 3 bulan itu gak pernah rapat internal, karena kalo mau rapat yang datang Cuma berdua aja sama koordinatornya. Jadi ya sudah, siap terima tugas aja deh. Buka bazar, ambil barang di daniyah simpang kawat di bawa ke mendalo simpan dulu di sekre FOKUS (secara CO nya dulu anak ekonomi) besoknya bawa ke depan perpustakaan, buka lapak di sana. Ada beberapa kali di danus angkut2 barang bazar begitu. Selain itu, mengkoordinir pemesanan kaos KAMMI komsat, PJ untuk yang ikhwannya. Seperti itu yang baru bisa dilakukan selama 3 bulan akhir. Ketika laporan surplus lho dari danus, artinya menghasilkan uang juga tuk nambah-nambah uang kas komsat. Alhamdulillah...agak bangga lah dikit ketua komsatnya pas LPJ...he...

Itu awal terlibat di kepengurusan. Setelah kepengurusan berganti setelah Musyawarah Komisariat akhirnya aku ditunjuk lagi sebagai staf danus. Wah...kedua kali nya nih, biar lebih maksimal kali ya tugas yang dahulu yang hanya 3 bulan saja. Tapi ketika di awal aku tahunya masuk di danus hanya dari SK milik temanku, sedangkan aku gak dikasih SK nya, dikonfirmasi pun tidak sepertinya bahwa aku diminta sebagai staf danus. Mau minta ke ketua Komsatnya segan. Tapi yaa sudahlah... karena melihat di bagian akhir SK itu tertulis kapan pelantikannya. Akhirnya datang juga di pelantikan dan  pembekalan pengurus Komisariat meski belum dapat SK. Dan setelah itu bekerja menjalankan program bersama Co baru dan anggota baru yang semuanya baru aku kenal. Dengan program masih angkut-angkut barang bazar, pemesanan baju, buat Gantungan Kunci UNJA yang waktu itu belum ada yang buat dari wajihah manapun dan lainnya lupa...he..

Akhirnya aku pun ikut sertifikasi yang pertama yakni tes tertulis. Yaa ampun...banyak buanget soal yang harus dikerjakan. Ya sudah ku kerjakan mana yang bisa saja dengan maksimal. Kemudian dilanjutkan dengan sertifikasi tahap 2 berupa wawancara di waktu yang berbeda. Janjian dengan teman-teman yang sertifikasi tentang kapan bisa sama-sama menghadap tim sertifikasinya. Akhirnya berlangsunglah tahap wawancara dengan waktu yang sudah ditetapkan. Lumayan juga jawab soalnya meski sebetulnya yang ditanyakan tidak jauh-jauh amat dari soal yang ada di tes tertulisnya. Dan akhirnya selesai pula tahap wawancara, selanjutnya ninggal tunggu pengumuman layak atau tidak layak untuk mengikuti DM2.

Taraaa.... pengumuman sudah dikeluarkan oleh tim sertifikasi yang ditanda tangani oleh ketua kaderisasi dan ketua umum KAMMI daerah Jambi. Wah wah... namaku ternyata ada di sana, berarti aku lulus sertifikasi dan direkomendasikan mengikuti DM2. Masih gak yakin dan gak PD karena ternyata ada yang enggak lulus yang menurutku dia sangat layak tuk ikut, apalagi dia seniorku satua angkatan di atasku...waduh. Bahkan dia yang nantinya jadi Ketua KAMMI Komisariat meski harus menyandang status masih AB1. Satu-satunya AB1 yang bisa jadi ketua komisariat dengan bantuan intervensi pengurus KAMMI daerah yang banyak turun ketika Muskom..he.

Masih dengan ketidakyakinan dan ketidak-PD-anku, aku harus ikut DM2? Secara waktu itu masih sebagai staf danus yang masuk di masa PAW tadi. Belum banyak berbuat, belum banyak kemampuan, belum banyak banyak lainnya. Berkat semangat dari teman-teman yang juga diumumkan lulus, akhirnya akupun ikut DM2 yang diadakan di kampus UNJA juga. Meski persyaratan belum terpenuhi berupa membuat makalah sesuai dengan tema yang sudah ditentukan karena kata kakak2 panitia yang penting datang dan ikut dulu. Ikut acaranya, daftarkan diri waktu itu pembukaannya di aula KOPMA UNJA bayar Rp.50.000,- lumayan besar juga waktu itu untuk dikeluarkan bagiku. Dan makalahnya dipaksa oleh panitia diselesaikan ketika acara...terpaksa dibuatnya pas malam (kurangi waktu tidur demi terselesaikannya sebuah makalah) karena siang harinya full acara.

Selama acara berlangsung perasaan tidak PD masih menggelayuti pikiranku, karena terbebani bayangan ke belakang. Aku seorang yang belum apa-apa..berbicara di depan forum aja gak berani apalagi mengungkapkan sebuah ide, gagasan atau wacana. Tapi ya sudahlah, aku sudah berada di acara jadi harus ku selesaikan sampai akhir, malu donk jika harus ijin keluar meninggalkan tuh acara. Meskipun termasuk peserta paling kalem, gak banyak omong ketika di forum diskusi kecil apalagi di diskusi besar. Ada lah ngomong sekali-kali karena sepertinya dipaksa instruktur agar semua pesertaa bisa ngomong semua. Malu dengan teman-teman yang sudah pandai berwacana apalagi pesertanya tidak hanya dari satu kelas atau satu kampus saja. Ada yang dari IAIN dan dari palembang. Perasaan bingung dengan materi-materi yang disajikan, apalagi dengan diskusinya teman-teman peserta. Ngomong ngalor ngidul gua gak paham, jadi lebih baik diam dan mengalir mengikuti seluruh rangkaian acara DM2.

Tapi, dari sinilah yang membuatku termotivasi untuk berubah. Diamnya aku juga sambil berfikir kenapa aku tidak bisa seperti yang lain, pasti sesungguhnya aku pun bisa seperti mereka. Diakhir acara disuruh buat kesan dan pesan. Kesan ku yang kutekankan waktu itu adalah aku harus bisa menjadi seperti yang lain, bisa berwacana, bisa mengungkapkan gagasan, berani berbicara di hadapan forum. Itu yang aku tekankan, yang harus bisa kucapai pasca DM2. DM2 pun berakhir dengan hasil tekad bagi diriku untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya, apapun hasil penilaian panitia terhadapku selama acara berlangsung, mau lulus atau tidak. Yang sebelumnya diam, harus bisa berani berbicara. Harus bisa berwacana dan mengeuluarkan ide maupun sebuah gagasan.

Belum selesai ceritane. Yang lebih mengejutkan lagi, terkejut nih  ceritanya dengan sebuah tawaran. Tawaran apa itu. Ada yang menghubungiku, kakak akhwat 2001 Fakultas pertanian juga. Tawarannya adalah bisa gak aku dimagangkan di departemen kaderisasi KAMMI Daerah Jambi. Waduh.... Secara gua belum tau kondisi lulus tidaknya DM2 sudah ditawari langsung ke KAMMI Daerah. Dengan nada yang meyakinkan aku yang katanya hanya magang tidak seperti ketika jadi pengurus beneran ya akhirnya tak apa lah ku terima. Gak tau sih apa pertimbangan mereka, mereka melihat apa dari diriku. Apakah benar pandangan mereka tentangku dan keputusannya menarik diriku. Dari mana pula mereka tahu tentangku. Mungkin karena secara MR ku waktu itu Ketua Kaderisasi nya kali ya...he.

Akhirnya aku diajak tuk datang rapat internal Kaderisasinya dengan membawa ketidak-PD-anku. Masuk ke sekretariat KAMMDA. Semua berkumpul dan dimulailah rapatnya. Gimana mau PD ketika harus rapat bersama orang-orang yang kuanggap sangat senior di KAMMI mereka rata-rata angkatan 2002 dan 2001. Jadi paling junior, newbie. Kembali ngalir aja deh ikut pembahasan mereka. Tau gak apa yang ternyata dibahas. Waduh lagi... Yang dibahas adalah kelulusan DM2 yang aku sebagai pesertanya kemarin. Menilai satu persatu peserta. Bener aja nih... aku gak banyak komentar aja deh akhirnya.

Waktu terus berjalan yang aku sebagai staf kaderisasi KAMMDA (magang yaa) yang ternyata meskipun magang bebannya juga sama dengan yang lain..huhu.. Tetap sudah dianggap sebagai bagian dari kaderisasi. Tanggung jawab dan beban yang sama dengan yang lain.

Aku jadi punya 2 amanah di KAMMI, pertama sebagai staf danus di komisariat (pasca muskom yang ketuanya masih AB1..he) dan yang kedua sebagai staf (magang) di kaderisasi KAMMI Jambi. Saking gak PD nya aku karena sudah ditarik ke kammda karena merasa diri ini tak sehebat dari yang lulusan DM2 lainnya aku pun tak memberi tahu ke teman-teman yang lain bahwa aku juga dimagangkan di Kaderisasi KAMMDA. Sampai batas waktu tertentu teman-teman di komisariat tidak tahu tentang amanahku di KAMMDA. Hingga pada suatu saat pas rapat BPH Komisariat ada yang memberitahunya, yakni koordinator Pengkom KAMMDA (kalo gak salah) yang secara rutin hadir di BPH komisariat. Terkejut lah pasti teman-teman yang lain, dan aku hanya diam saja sambil malu juga. Bayangkan saja, yang lain saja masih harus di komisariat, sedangkan aku yang anak kemarin sore sudah masuk di kammda aja.

Dua amanah tetap jalan semuanya dengan kapasitas yang berbeda lebih besar all out di Danus Komsatnya. Untuk yang dikamda aku tetap ikut juga kalo ada rapat yang tidak bertabrakan dengan agenda-agendaku. Dan sejak di tarik sebagai staf (magang) kaderisasi itulah sampai akhirnya aku selalu dapat amanah di KAMMI. 2 tahun pun terjalankan dengan full amanah sebagai staf kaderisasinya. Mengikuti dinamika internal kaderisasi maupun dinamika KAMMI daerah secara umum. Dinamika pergantian koordinator Kaderisasi sebanyak 3 kali selama 2 tahun itu. Koordinator pertama awalnya mau cuti sebentar tapi akhirnya tidak muncul lagi, sepertinya ada kesibukan dan amanah lain beliaunya waktu itu. Akhirnya di PJS kan ke CO salah satu divisi, berjalan selama beberapa waktu yang akhirnya karena ada sesuatu hal yang mengharuskan dia tidak bisa melanjutkan amanahnya akhirnya diganti lagi dengan yang ketiga, seorang akhwat kakak yang mengajakku magang di kaderisasi dulu. Hingga MUSDA co Kaderisasi bersama dia. Banyak belajar yang pasti aku dari itu semua.

Sejak dari sana, aku pun tidak pernah lepas dari kaderisasi. Berbagai suplemen kekaderisasian selalu diberikan oleh senior2 di KAMMI selama di kepengurusan. Terima kasih untuk semuanya. Untuk sebuah motivasi tekad perubahan.

Jambi, 06 Nopember 2013

Damainya Embun, Silaunya Mentari

Selamat pagi, pagi yang cerah. Di saat embun yang menenangkan hampir hilang digantikan dengan indahnya sang surya. Kesejukan embun pagi membuat kita damai untuk bertafakkur, dan bermuhasabah. Dia adalah keindahan meski tak ada sinar yang terang menderang. Dia yang membawa jiwa pada sebuah kedamaian, menjadikan diri termotivasi untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Embun pagi yang hanya didampingi oleh cahaya fajar memaksa kita bermunajat kepada-Nya, untuk memohon ampunan dan mengharap sebuah kebaikan. Damainya embun sebelum cahaya.

Indahnya sinar kehangatan sang mentari mau tak mau harus menggantikan damainya embun pagi, karena diapun mengikuti aturan dari sang Maha Pengatur. Sang mentari yang mencoba memberikan cahayanya untuk manusia agar manusia melihat bagaimana keindahan dunia. Langit yang ditinggikan, bumi yang dihamparkan.

Namun Indahnya cahaya sang mentari kadang membuat manusia lupa akan kedamaian embun pagi. Keindahan mentari membuatnya terlena untuk hanyut dalam kehidupan dunia. Melupakan tafakkurnya, muhasabahnya ketika bersama embun pagi.

MUKERNAS KAMMI

MUKERNAS KAMMI. Teringat waktu ku dulu juga pernah mengikutinya tepatnya zamanya bang Rohman Thoha (amang) yang sebagai ketua PP KAMMI nya. MUKERNAS dahulu dilaksanakan di Jogja. Wah...sebenernya gak nyangka kenapa aku yang dipilih sebagai perwakilan KAMMI Jambi sebagai peserta MUKERNAS KAMMI. PAdahal masih banyak yang lain yang sepertinya lebih pantas untuk ikut.

Tiba-tiba aku dihubungi via telepon menanyakan apakah aku bisa mengikuti MUKERNAS KAMMI di Jogja sebagai utusan peserta dari Jambi. Sedikit senang secara ini adalah acara Nasional yang aku sebagai salah satu pesertanya. Pasti di sana akan bertemu dengan banyak kader yang luar biasa. Awalnya mencoba untuk menolak dan menawarkan kenapa harus aku dan tidak orang lain saja. Tapi, setelah di yakinkan oleh senior di kepengurusan KAMMI daerah waktu itu, jadilah aku mengikuti tuh acara. Setelah itu, ditentukan kapan berangkat dan segera mempersiapkannya. Perjalanan yang luar biasa ditempuh dengan mengggunakan bus, kurang lebih 2 hari 2 malam lah. Capek di perjalanan euy...

Agenda MUKERNAS KAMMI di jogja ini pertama acara nasional yang ku ikuti untuk di KAMMI dan setelahnya ada beberapa lagi acara KAMMI yang beeersifat nasional yang selalu aku jadi salah satu pesertanya. Ini juga yang membuat semangatku selalu ada di KAMMI. Semangat pasca pulang dari acara-acara nasional KAMMI. Yang dengan begitu membuat semangat pula untuk selalu aktif di KAMMI. Secara aku yang dahulu sebelum di KAMMI adalah pribadi yang tidak memiliki kemampuan sedikitpun. Tidak memiliki kemampuan untuk berbicara di depan forum, jangankan forum terbesar dan terbuka, forum diskusi kecil saja aku terkadang hanya diam. Tidak memiliki kemampuan untuk mengeluarkan sebuah ide, gagasan, tanggapan ataupun wacana-wacana terkait suatu tema. Namun setelah mengikuti beberapa tingkat pembinaan di KAMMI bs membuatku semakin meningkat saja kemampuannya dari yang sebelumnya. yaa meskipun mungkin masih jauh juga dibandingkan dengan teman-teman yang lain.

haha...lucu emang, sepertinya sebelumnya aja aku yang tidak punya kemampuan demikian tapi kenapa harus dipilih sbg utusan MUKERNAS. DM2 barusan saja, dan prestasi ketika DM2 juga mungkin para senior KAMMI daerah tentang diriku pasti dah tau sendiri. Mungkin ada juga kader lain yang lebih berharap untuk pergi ke MUKERNAS KAMMI tersebut, tetapi kenapa bukan dia saja...

Melalui sarana KAMMI yang membuatku bisa jadi seperti sekarang. Pelibatannya yang sering terhadapku menjadi pembinaan tersendiri bagi diriku untuk menjadi individu kader yang terbaik. Individu yang harus berubah dari yang sebelumnya.

Aku dan Jalan menuju sebuah Jalan

Berawal dari tertarik dengan organisasi itu ketika di masa program orientasi. Ketertarikannya dikarenakan ini adalah masa yang berbeda dengan sebelum2nya. Pengen suasana baru dari yang dahulu ketika sekolah paling malas tuk ikut-ikutan kegiatan sekolah. Sholat sudah mulai rutin 5 kali per-hari semenjak tamat sekolah tingkat atas. Karena sebelum tamat, sholatnya sangat tidak terjaga meski bersekolah yang berlatarbelakang islam. Itulah yang membuat ketertarikannya pada sebuah komunitas yang bernuansa islam. 

Awalnya menghimpun banyak informasi bagaimana cara bs bergabung dengan organisasi itu, dengan mendekati teman yang sepertinya telah bergabung di sana. Yaa secara mereka emang berada di lingkungan kost yang dihuni oleh anak2 organisasi itu, jadi wajar mereka telah dekat dg para seniornya.

Sulit emang untuk mendapatkan banyak informasi agar bisa menjadi bagian dari komunitas bernuansa islam itu. Hari demi hari tak dapat info gimana caranya biar bisa gabung. Karena fikirannya jika ingin menjadi anggotanya maka harus lewat jalur formal yaitu dengan mendaftarkan diri melalui formulir atau kegiatan yang diadakan oleh organisasi tersebut untuk anggota barunya.

Hingga pada suatu ketika melihat sebuah pengumuman bahwa organisasi tersebut mengadakan acara di bulan ramadhan yang kata teman-teman jika ingin bergabung dengan tuh organisasi harus mengikuti acara itu dahulu. Sip, akhirnya janjian dengan teman sekelas tuk ikut acara tersebut. Tidak terlalu perhatian dengan pamflet yang di sebar oleh panitia penyelenggara membuat tidak tahu bagaimana mau konfirmasi supaya bisa ikut acara tersebut.

Sampai kira2 H-2 acara belum tahu kejelasan tentang boleh tidaknya ikut tuh acara. Kata teman sekelas tadi, bisa ikut tinggal datang aja ke sana.Selain ada teman yang sepertinya dah akrab dengan panitia mengajak tuk ikut tuh acara ada juga senior satu alumni tingkat SMA dulu yang juga mengajak. Yaa sudah besok harus sudah siap-siap mengikuti tuh acara. Dari rumah dah ijin dengan orang tua bahwa akan menginap di kampus karena ada acara.

Keesokan harinya, tiba saatnya mengikuti acara itu bersama teman sekelas yang berencana ikut juga. Akan tetapi dia akhirnya tidak jadi ikut karena alasannya yang ikut ternyata sedikit. Waah jadi ragu juga dalam hati nih...jadi ikut atau enggak.

teet.... jam belajar sudah tidak ada lagi, saatnya ikut acara itu atau pulang ke rumah tidak jadi ikut karena keraguan yang ditanamkan oleh teman yang tidak jadi ikut. Bawa motor menuju keluar gerbang kampus. Niatan sudah final tidak jadi ikut tuh acara. Namun, pas di tikungan jalan menuju gerbang keluar berjumpa dengan senior satu alumni tadi. Dia mengingatkan dan memastikan bahwa aku jadi mengikuti acaranya.Wahhh....seolah ada penguat kembali tuk ikut tuh acara, gak tau juga kenapa waktu itu jadi yakin kembali untuk mengikutinya. Karena mungkin sejak awal niatannya sudah kuat kali yaaa...

Akhirnya, yang tadinya ingin menuju gerbang keluar bersama motor baruku (eh udah baru belum ya waktu itu.#GakPenting) menjadi berbelok ke arah kanan (jalan kebaikan ternyata) menuju balairung Kampus Pinang Masak Universitas Jambi dimana di sana tempat di adakannya acara dari organisasi yang membuatku tertarik itu. Sesampainya di depannya, ternyata emang sedikit yang ikut dibandingkan dengan jumlah yang ikut OSPEK dulu... Tapi yaa sudahlah, tetap ikut saja. Matikan motor, parkir masuk ke ruangan lewat pintu (ya iyalah masak lewat jendela).

Dah, ikut sampai selesai tuh acaranya. Semenjak itulah aku selalu terlibat dengan komunitas organisasi yang bernuansa islam itu yang mereka beri nama UKM ROHIS Ar-Rahman UNJA.

Pendidikan yang seimbang, Lahirkan generasi yang Cerdas tangguh dan religius.

Semua agama mengajarkan sebuah nilai kebaikan. Baik itu agama samawi maupun agama ardhi. Maka sebuah pendidikan yang mendekatkan peserta didiknya kepada nilai-nilai religius nya dapat menjadikan anak bangsa ini menjadi generasi yang lebih berkualitas. Selain kecerdasan yang dicapai dengan banyaknya prestasi yang bisa diraih, mereka juga memiliki pribadi yang berkarakter sesuai dengan ajaran agamanya.

Percuma sekali jika anak negeri ini semuanya memiliki kecerdasan dan segudang prestasi, akan tetapi tidak memiliki jiwa yang religius. Bisa saja kecerdasannya tersebut malah akan membawanya kepada hal-hal yang tidak baik, karena tidak di seimbangkan dengan pendekatan untuk menjalankan ajaran agamanya. Keblinger, itu jadinya. Otak yang cerdas digunakan untuk berbuat buruk, menipu, korupsi, berakhlak tidak baik, dsb.

Banyak sekolah yang lebih menekankan kepada para siswanya untuk meraih prestasi sebanyak-banyaknya, penghargaan dari berbagai bidang ilmu dan jenis-jenis prestasi lainnya. Sehingga dengan begitu sekolah lebih mengarahkan siswa-siswinya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang lebih bisa membawa nama sekolahnya naik ketika sang siswa meraih sebuah penghargaan dari prestasi-prestasinya. Memacu siswa-siswinya pada kegiatan yang akan dilombakan saja.

Tidak salah, sekali lagi tidak salah. akan tetapi butuh sebuah kesimbangan yang harus diperhatikan oleh sekolah. Tidak hanya membangun siswa-siswinya dari sisi prestasinya semata, akan tetapi mengesampingkan kepribadian setiap siswa yang juga harus dibentuk. Menganggap remeh kegiatan-kegitan yang sifatnya membentuk kepribadian siswa-siswinya. Dan bersemangat pada kegiatan-kegiatan yang bersifat meningkatkan prestasi sekolah semata.

Memang, kegiatan yang bersifat pembentukan kepribadian siswa tidak tampak jika harus diprestasikan. Akan tetapi apakah tidak menjadi kebahagiaan bathin tersenidir bagi sekolah jika memiliki siswa-siswi yang sopan, santun, hormat terhadap guru, ibadahnya taat, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang bisa ditunjukan oleh siswa di lingkungan sekolahnya.

Maka, keseimbangan itu sangat perlu dan semuanya harus menjadi titik tekan yang sama agar sistem pendidikan ini mampu melahirkan generasi-generasi negeri ini yang Cerdas, tangguh dan Religius.


jambi, 04 Nopember 2013

Minggu, 03 November 2013

Bersyukur Masih Diberi Hidup


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S : Al-Hasyr : 18)

Sempat terfikir bagaimana jadinya ketika kita tidur kemudian oleh Allah tidak dihidupkan kembali di pagi harinya. Bagaimana jadinya ketika sebelum tidur kita belum sempat untuk memuhasabah diri dan bertaubat atas dosa yang pernah dilakukan. Bagaimana jadinya ketika kita mati dalam keadaan sedang melakukan dosa dan sepatah kata taubatpun tak sanggup untuk diucapkan.

Kematian mengingatkan kita tentang bagaimana kehidupan setelah mati. Kehidupan setelah mati yang kondisinya akan ditentukan berdasarkan amal kebaikan yang telah manusia lakukan selama hidup di dunia.

Wahai manusia, Bersyukurlah hari ini masih diberi hidup. Karena dengannya engkau masih bisa bertaubat atas dosa yg telah kau lakukan dahulu. Sebaik-baiknya manusia yang berbuat dosa adalah mereka yang mau bertaubat. Allah maha pengampun, sebesar apapun dosa yang manusia lakukan ketika mereka bertaubat insya Allah akan diampuni semua dosanya tersebut. Dan menjadi bersih semua dosa yang telah dilakukan dahulu dengan taubat, niat dan mengamalkannya.

Bersyukurlah masih diberi hidup. Karena dengannya engkau masih diberi kesempatan tuk beramal lebih banyak lagi. Karena kita pun tak tahu amal mana yg pahalanya masih bertahan sampai yaumul hisab, dan amal2 apa saja yang menguap hilang. Jangan sampai kita terlalu PD dengan amal yg telah kita lakukan, merasa telah banyak beramal akan tetapi ternyata kosong. Kosong dikarenakan ada yang membuatnya hilang setelah kita beramal, mungkin karena niatnya yang tidak ikhlas.

Maka ketika kita masih diberi hidup hari ini dan ke depannya, bagaimana kita bisa menggunakannya untuk sebanyak-banyaknya beramal. Jangan terhenti karena merasa telah banyak beramal. Jangan merasa puas karena merasa amal yang kita lakukan lebih banyak dan baik dibandingkan manusia lainnya. Beramal lah tanpa menghitung-hitungnya. Berhitunglah, sebagai sarana muhasabah diri untuk melakukan lebih banyak lagi amal ke depannya. Berhentilah merasa puas dengan amal-amal yg sudah dilakukan, apalagi merasa bangga. Karena dengannya bisa menimbulkan sifat riya atau ujub yang akan menerbangkan amal-amalmu.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al- Baqarah:264)

Bersyukurlah masih diberi hidup setelah begitu banyak dosa yang tlah kita lakukan. Bayangkan saja ketika kita asik dalam perbuatan dosa kemudian di matikan sebelum sempat bertaubat. Mau jadi apa?

Kita pun tak tahu dari daun-daun yang ada di pohon itu mana yang duluan gugur. Yang pasti setiap daun akan gugur, dan semuanya telah diatur kapan daun-daun itu gugur. Kita hanya tahu dedaunan itu semuanya akan gugur, akan tetapi kita tidak tahu kapan waktunya setiap daun itu gugur.  Memang kebanyakan daun yang gugur adalah daun yang tlah menguning. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ada daun yang masih hijau pun bisa gugur.

Sebelum daun gugur, tugasnya adalah bagaimana dia bisa bermanfaat bagi satu pohon itu sendiri. Atau bermanfaat bagi makhluk yang lain. Tugasnya adalah beramal sebelum waktu gugurnya tiba. Waktu gugur sebagai batas baginya untuk berhenti beramal.

Cukuplah kematian sebagai pengingat. Cukuplah kehidupan seperti apa yang kita inginkan setelah mati menjadi pengingat buat kita semua.

Jambi, 04 Nopember 2013