“Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka sebaik-baik Pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menaklukan)nya”.
Sultan Murad II Sang Ayah Muhammad Al-Fatih pun sebenarnya terobsesi dengan Kabar Rasulullah itu tentang penaklukan kota konstantinopel akan tetapi Sang ayah tidak berhasil melakukan penaklukan Kota itu dikarenakan terlalu kuatnya pertahanan konstantinopel. Maka ia berharap anaknya lah yang kelak mampu mewujudkan kabar Rasulullah itu. Sehingga dengan itu, sang ayah menyiapkan anaknya untuk menjadi seorang yang mampu menjadi seorang pemimpin yang tangguh di masa depan. Proses menyiapkan Al-Fatih ini seperti mendatangkan seorang guru yang akan mengajarkannya tentang agama, strategi, sains dan sebagainya. Al-Fatih kecil sangatlah nakal dan sulit diatur, makanya ketika sang ayah mendatangkan seorang guru, ia membawakan gurunya dengan sebilah cambuk dan memerintahkan kepada guru itu untuk mencambuknya jika anaknya tidak mau belajar. Selain itu, ayahnya mengajak al-fatih di setiap perperangan. Hal ini mengajarkan agar anaknya itu terbiasa dengan kondisi perang, dan bisa belajar bagaimana berperang dan mengatur sebuah strategi perang.
825 Tahun telah dilakukan upaya penaklukan konstantinopel akan tetapi tidak berhasil hingga akhirnya datanglah masanya Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukannya. Muhammad Al-Fatih adalah sosok yang memiliki obsesi dari kecil tentang khabar dari Rasulullah SAW “Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka sebaik-baik Pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menaklukan)nya”. Guru nya selalu menekankan kabar tersebut kepada Al-fatih sejak kecil, menekankan bahwa sang penakluk itu adalah Muhammad Al-Fatih. Keyakinan Janji Rasul dan obsesinya yang terbangun sejak kecil inilah yang membuat sultan muhammad Al-Fatih tumbuh dengan persiapan-persiapan yang matang untuk menjadi seorang pemimpin.
Selain kabar dari rasulullah tentang penaklukan konstantinopel, Kota Konstantinopel selalu menarik perhatian kaum muslimin dengan keindahan dan keanggunannya. Ia ibarat sebuah permata yang berada dalam pelukan teluk bosporus dari arah timur dan utara. Ia kemudian membentang dari arah barat hingga terhubung dengan daratan. Menara-menara dan benteng-bentengnya berdiri kokoh seakang-akan menantang semua orang yang berhasrat menaklukannya. Pagar-pagarnya yang tinggi mengelilinginya tampak jelas dari segala penjuru hingga menghancurkan dan meruntuhkan obsesi dan harapan para petempur dan penakluk yang ingin memasukinya.
Perlindungan Konstantinopel itu terdiri dari hal-hal berikut :
1. Kota itu adalah sebuah kota yang berbentuk segitiga. Dua sisinya dikelilingi air laut dan sisi yang ketiga diliputi oleh dua lapis padagr dan parit air
2. Kota itu sendiri dikelilingi oleh dua lapis pagar benteng dan di luar kedua pagar tersebut terdapat sebuah parit air yang lebarnya 60 kaki dan kedalamannya 10 meter.
3. Lalu pagar pertama ketinggiannya 25 kaki dan ketebalannya 10 meter.
4. Lalu pagar kedua ketinggiannya 40 kaki, dan pagar ini memiliki beberapa menara penjagaan yang tingginya masing-masing adalah 60 kaki. Sementara ketebalan tembok pagar adalah 15 meter.
5. Kota ini dari arah laut dilindungi dan dijaga oleh 400 kapal.
Penyerangan pun dilakukan, dengan strategi-startegi pelumpuhan dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-fatih menghadapi pertahanan yang luar biasa di kota konstantinopel. Beliau membuat meriam yang sangat besar yang diharapkan bisa menembus benteng-benteng konstantinopel yang dibuat oleh seorang teknisi bernama Ourban (Urban). Muhammad Al-Fatih berusaha terus menerus untuk menembus benteng konstantinopel, akan tetapi setelah beberapa kali serangan tidak berhasil melumpuhkannya, malah pasukannya banyak yang syahid.
![]() |
| Meriam Sultan Mehmet II (Berat : 15 ton / Berat Canon Ball : 285 kg) |
Para ulama menyebar ke tengah-tengah barisa pasukan untuk ikut serta bertempur dan berjiha ; suatu hal yang berpengaruh meningkatkan semangat mereka, hingga setiap prajurit tidak sabar lagi menunggu saat pertempuran itu demi menunaikan kewajibannya.
Sebuah pemikiran cemerlang tiba-tiba saja terlintas di benak sultan. Yaitu memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju teluk tanduk emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang terletak antara dua pelabuhan demi menjauhi benteng Galota, karena khwatir kapal-kapal itu akan terlihat oleh pasukan sebelah barat. Jarak antara kedua pelabuhan itu sekitar tiga mil, dan ia bukan sebuah permukaan yang mudah dilalui. Ia adalah tanah perbukitan dan terjal serta tidak mulus. Mengenai ide tersebut, semua panglima dan prajurit mendukung dan mengungkapkan kekaguman mereka terhadapnya.
![]() |
| Pasukan Sultan Mehmet II memindahkan 70 kapal laut melewati daratan |
Semua operasi itu berhasil dalam satu malam. Penduduk kota yang malang itu bangun pada pagi hari, 22 April, karena mendengar suara takbir pasukan utsmani yang menggema dan teriakan-teriakan mereka yang semakin meninggi serta lantunan nasyid perjuangan mereka yang keras di teluk Tanjung Emas. Mereka dikejutkan dengan kapal-kapal armada Utsmani yang telah menguasai penyebrangan laut itu. Kini tidak ada lagi laut pemisah antara pasukan pembela Konstantinopel dengan pasukan Utsmani. Salah seorang ahli sejarah byzantium mengungkapkan kegaguman mereka terhadap proses ini sehingga mengatakan :
“kami tidak pernah melihat dan mendengarkan sebelumnya hal yang luar biasa seperti ini. Muhammad Al-fatih telah mengubah permukaan tanah menjadi laut dan menyeberangkan kapal-kapalnya di ats puncak bukit sebagai pengganti gelombang lautan. Muhammad Al-Fatih benar-benar telah mengungguli Alxander the Great denga apa yang dilakukannya ini”
Muhammad Al-Fatih semakin yakin bahwa kota itu tidak lama lagi akan jatuh. Meski demikian, ia tetap berusaha untuk memasuki kota tersebut dengan cara damai. Maka ia kembali menulis surat kepada kaisar untuk memintanya menyerahkan kota itu tanpa pertumpahan darah. Al-fatih menjamin keamanan kaisar dan keluarganya serta penduduknya. Akan tetapi setelah surat tersebut sampai kepada kaisar, kaisar memutuskan dan bersumpah untuk melindunginya hingga nafas terakhir dalam hidupnya. Meskipun sebelumnya kaisar mendapat masukan dari sebagian penasihatnya untuk menyerah saja kepada Muhammad Al-Fatih.
Ketika balasan itu sampai kepada Al-Fatih, ia mengatakan “Baiklah, Tidak lama lagi aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan dikuburkan di sana”. Kemudian dilancarkan lah lagi serangan demi serangan oleh pasukan Muhammad Al-Fatih. Pada hari ahad, 18 jumadal ula/27 Juni, sultan Muhammad Al-Fatih mengarahkan pasukkannya untuk meningkatkan kekhusuan, mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan shalat, ibadah lain secara umum, merendahkan diri dan berdoa di hadapan-Nya; semoga Allah mempermudah penaklukan untuk diri mereka. Hal ini segera tersebar di tengah kaum muslimin.
Pada tanggal 29 Mei, berbagai persiapan pasukan Utsmani semakin lengkap. Sultan berkeliling mendatangi perkemahan pasukannya untuk melakukan pemeriksaan dan sekaligus memberikan arahan dan peringatan untuk selalu mengikhlaskan niat, berdoa, berkorban dan berjihad. Kemudian setelah Al-Fatih kembali ke kemahnya dan memanggil semua petinggi militernya, beliau menyampaikan arahan-arahan terakhirnya. Kemudian ia menyampaikan khutbah berikut ini :
“apabila penaklukan Konstantinopel terwujud untuk kita, maka terbuktilah salah satu hadits Rasulullah dan salah satu kemukjizatannya kepada kita. Akan menjadi sebuah keberuntungan bagi kita mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang ada dalam hadits ini. Karenanya sampaikanlah kepada semua prajurit kita, satu persatu, bahwa kemenangan besar akan kita raih akan menambah kemuliaan dan keagungan islam. Setiap prajurit harus selalu meletakkan ajaran syariat agama kita di depan matanya. Jangan sampai ada seorang pun yang melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran ini. Hindarilah gereja dan tempat-tempat ibadah, jangan sampai ada yang mengganggunya! Biarkanlah para pendeta dan orang-orang lemah yang tidak berdaya yang tidak ikut perang.”
Pada hari selasa 20 Jumadal ula 857H / 29 Mei 1453 M pukul 01.00 pagi dengan semangat yang menayala-nyala dimulailah penyerangan terhadap konstantinopel. Akhirnya kemenangan pun bisa diraih oleh pasukan Al-Fatih.Sebelum matahari berada di atas kepala, sultan Al-fatih telah berada di bagian tengah kota diiringi oleh pasukan dan komandannya sambil mengucapkan :”masyaAllah” Beliau berpaling kepada mereka semua dan mengatakan :”kalian benar-benar telah menjadi para penakluk Konstantinopel yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah SAW”
Beliau kembali mengucapkan selamat atas kemenangan itu dan emlarang mereka melakukan pembunuhan, pembantaian dan perampasan. Beliau memerintahkan mereka untuk bersikap lemah lembut dan berbuat baik kepada semua orang. Lalu ia turun dari kudanya, lalu menghadap kiblat dan bersujud kepada Allah di atas tanah sebagai ungkapan syukur, pujian dan kerendahhatiannya kepada Allah.
Muhammad Al-Fatih kemudian berjalan menuju Gereja Aya Sophia. Di sana telah berkumpul banyak sekali manusia bersama para pendeta dan pastor yang terus membaca doa-doa mereka. Ketika sultan mendekati pintunya, orang-orang Kristen itu benar-benar sangat ketakutan di dalam. Seorang pastor berdiir membuaka pintu-pintu. Lalu sultan meminta kepadanya untuk menenangkan orang-orang itu, dan bahwa mereka bisa pulang ke rumahnya masing-masing dengan aman. Semua orangpun menjadi tenang. Beberapa pastor sebelumnya bersembunyi di lubang-lubang persembunyian gereja. Namun ketika mereka menyaksikan toleransi dan sikap pemaaf Sultan Al-fatih, mereka pun keluar bahkan menyatakan keislamannya. Di gereja itu, Al-Fatih menunaikan sholat Ashar. Setelah itu , al-Fatih memerintahkan agar gereja tersebut diubah jadi sebuah masjid, dan agar semuanya disiapkan dengan baik agar pada hari jum’at dapat diselenggarakan Shalat Juma’at pertama di situ.
Kemudian ia memerintahkan pengebumian Sang Kaisar dengan cara yang layak. Sultan telah memberikan kebebasan bagi kaum kristen untuk menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan memilih pemimpin agama yang berhak memberikan putusan dalam persoalan-persoalan sipil. Hak yang sama juga diberikan kepada semua pemuka gereja di berbagai propinsi lain, namun di saat yang sama ia mewajibkan mereka semua membayar jizyah.
Membangun peradaban
Bagi Muhammad Al-Fatih pembangunan peradaban adalah sebuah landasan yang sangat urgen dan kuat untuk mewujudkan berbagai kemenangan di medan jihad. Apa artinya kememnangan, peperangan dan jihad jika semua kemenangan itu tidak dilanjutkan dengan keberhasilan dari sisi pembangunan peradaban yang meliputi seluruh Wilayah yang ditaklukan. Berbagai penaklukan tidak akan bernilai apa-apa dalam kondisi seperti itu. Hal ini sangat dipahami oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, karena itu proyek peradabannya begitu komprehensif.
Demikian sedikit resumenya, lebih seru lagi baca bukunya euy..... ^___^










825 Tahun telah dilakukan upaya penaklukan konstantinopel akan tetapi tidak berhasil hingga akhirnya datanglah masanya Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukannya. Muhammad Al-Fatih adalah sosok yang memiliki obsesi dari kecil tentang khabar dari Rasulullah SAW
BalasHapus