Selasa, 12 Maret 2013

Belajar di Universitas Kehidupan, -2

(Foto diambil dari atas motor berjalan,
maaf pak polisi krn berkendara msh main HP)


Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Sesungguhnya aku tidaklah mengenalmu saat ini, jangankan tempat tinggalmu bahkan nama pun aku tak tahu. Tapi aku memiliki keyakinan terhadapmu wahai seorang Bapak. Aku yakin penghasilan yang engkau dapatkan tidaklah lebih besar dariku, tapi engkau merasa puas dengan penghasilanmu tersebut. Aku yakin kerja kerasmu dalam menjalankan pekerjaanmu itu melebihi kerja kerasku dalam menunaikan pekerjaanku. Aku yakin keringat yang kau keluarkan lebih banyak dari keluarnya keringatku saat menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin waktu yang kau habiskan lebih banyak daripada diriku untuk menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin rasa capek,lelahnya yang engkau rasakan pasti lebih besar dibandingkan dengan aku.

Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Ku tahu bagaimana kondisimu di atas tumpukkan sampah tersebut. Bau sampah mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi dirimu di saat orang lain merasa jijik dengan bau-bau sampah tersebut. Aroma-aroma sampah kau ubah menjadi harapan yang besar ketika engkau melihat ke belakang ada keluargamu yang sedang menanti nafkah darimu. Engkau tidak pedulikan dengan aroma-aroma sampah tersebut. Sampah bagimu adalah sumber rizki ketika orang-orang lain menganggap sampah sebagai kotoran-kotoran yang tidak bermanfaat.

Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Aku yakin sesungguhnya engkau pun tidak ingin bekerja dengan tumpukan-tumpukan sampah. Jikalau ada pekerjaan yang bisa dipilih dan lebih baik, pastilah engkau memilih pekerjaan yang lain. Akan tetapi engkau tetap memilihnya karena engkau adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada keluargamu. Maka apapun pekerjaanmu engkau tidak memperdulikannya meskipun harus mengurusi sampah dengan bau-bau yang luar biasa. Tidak memperdulikan anggapan orang lain terhadapmu dikarenakan pekerjaanmu itu, dan menjadi bau pula badanmu dikarenakan pengaruh sampah-sampah itu. Engkau tidak memperdulikan itu semua yang penting halal bagimu, pekerjaanmu dan rizki yang engkau dapatkan. Rizki yang halal bagimu yang akan diperuntukan buat keluargamu.

Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Kenapa engkau mengambil pilihan untuk bekerja seperti itu mungkin dikarenakan tidak ada pilihan pekerjaan lainnya. Mungkin pula engkau mempunyai latar pendidikan yang tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari itu. Dengan keterbatasanmu tersebut, engkau tetap tidaklah berputus asa untuk memberikan yang terbaik bagi keluargamu.

Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil itu.
Wahai seorang Bapak yang merupakan seorang ayah, seorang kepala keluarga yang luar biasa. Aku yakin kepadamu, ketika engkau rela bekerja seperti itu pasti karena engkau memiliki harapan besar bahwa rizki yang engkau peroleh bisa engkau berikan kepada anak-anakmu. Pasti engkau memiliki harapan besar agar anak-anakmu bisa bersekolah setinggi-tingginya supaya tidak seperti engkau. Pasti engkau memiliki harapan besar ketika anak-anakmu bisa sekolah yang setinggi-tingginya anak-anakmu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pasti engkau tidak mau anakmu memiliki pekerjaan sepertimu. Engkau mungkin tidak pernah berpikiran ketika bisa menyekolahkan anakmu setinggi-tingginya, harapannya mereka bisa memberikan balasan berupa materi kepadamu. Aku yakin bahwa sesungguhnya yang ingin engkau liat dari mereka anak-anakmu adalah kehidupan yang lebih baik dari dirimu saat ini. Mengenai balasan anak-anakmu terhadapmu sesungguhnya merupkan kesadaran dari anak-anakmu itu.

Wahai bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Aku berdoa di atas motor ini dan ketika aku tuliskan tulisany ini. Semoga rizki yang engkau dapatkan itu benar-benar penih barakah biarpun sedikit. Untuk apa penghasilan yang besar ketika dia tidak barakah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu bisa menjadi nafkah yang terbaik bagi keluarga yang sedang menunggumu di rumah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu barakah, sehingga bisa menumbuhkan anak-anakmu yang baik dan soleh/ah. Semoga dengan rizkimu tersebut bisa menyekolahkan anak-anakmu setinggi-tingginya sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak kelak. Semoga anak-anakmu tidak melupkan akan kerja kerasmu hari ini. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih membahagiakan bagi dirimu dan orang tua yang lain selain engkau bisa melihat anak-anakmu bahagia....
aamiin...aamiin yaa rabbal ‘alamin...

Jambi, 13 Maret 2013
#BelajarNulis. Yudhi Prasetyo

Kudeta Jilid IV: Sebuah Nasehat Tentang................. by Abine Zaidan (Catatan) on 16 Juli 2012 pukul 17:53



oleh : Dedi Runanto (kakak sepupuku)

Suatu hari dalam duduk selepas sholat isya, hati ini bertanya “apa rencana Alloh dengan semuanya ini ?, kemuliaan ataukah kehinaan dengan status duda ini”. Kemuliaan berarti adanya kesabaran yang dalam serta tingginya syukur dalam menapaki sisa hidup dengan anak usia 10 bulan sedangkan kehinaan berarti keluh kesah, air mata dan segala sesuatu yang membuat hati ini tidak ridho terhadap ketetapan Alloh. Dalam hati ini selalu ada kasih sayang Alloh dalam setiap ketetapan dan ada banyak kebaikan dari ketetapanNya.
Saudara dan teman dekat berusaha menghibur dan menyarankan untuk menikah lagi secepatnya, “kasihan zaidan, dia butuh kasih sayang seorang ibu” setidaknya begitu kata yang selalu menyertai saran agar hati dan raga ini selalu sabar. Sebuah saran yang ketika dipertimbangkan bukan menenangkan hati tapi justru menambah pikiran dengan bertanya “apakah kuota jodoh masih tersedia?”. Selain itu hati ini minder dengan status yang sangat tidak populer dimata calon mertua, duda beranak 1.
Suatu hari datang tawaran untuk berproses dengan seseorang yang saya tidak tau nama dan rupanya. Hanya kukatakan “pastikan dia dan orang tuanya tau kalau saya adalah seorang duda atas kehendak Alloh dan saya punya anak 1”. Beberapa hari setelah itu ada kabar jika orang tua gadis itu langsung menolak dengan alasan duda beranak 1.
Posisi tawar yang semakin sulit ditambah dengan rasa minder yang berlebih. Sebaiknya saya percayakan ini pada murobby saya saja, posisi tawar saya lemah dan saya akan pasrah. Walau begitu rahmat Alloh itu luas, apa yang sudah Alloh lapangkan, saya tidak berusaha untuk mempersempit.
Beberapa minggu berlalu tanpa kabar, sementara ku ingin melihat senyum simetris pada kedua orang tua saat menikahkan adik. Akhirnya timbul sebuah ide untuk mengadakan riset tentang persepsi seorang akhwat ketika harus menikah dengan seorang duda. Maksud dari semuanya ini adalah untuk mengetahui persepsi akhwat dan meminta nasehat.
Ada 17 umahat dimana semuanya telah menikah, ada yang baru menikah, ada yang sudah lama. Ada yang sudah punya momongan ada yang belum. Inilah hasil dari bertanya dan nasehat dari mereka:
  1. Menurut anda, jodoh yang akhwat inginkan itu seperti apa ?
Semua akhwat senantiasa menginginkan jodoh seorang laki-laki yang sholeh dan mampu menjadi seorang imam bagi keluarga. Dia mampu membimbing istri ke arah kebaikan dan menjadikan anak-anaknya sholih dan sholihah. Menjadi seorang teladan bagi keluarga syukur-syukur bisa menjadi teladan di masyarakat. Memenuhi kebutuhan keluarga dengan yang halal dan memposisikan keluarga sebagai yang utama. Membina keluarga dan membina masyarakat. Mensholehkan keluarga dan mensholehkan masyarakat.

2.  Menurut anda, bagaimana jika yang datang kepada akhwat tersebut adalah seorang duda beranak 1 ?
Semua akhwat itu kalau berdoa kan “ya Alloh, berikanlah aku jodoh pemuda yang sholeh”, bukan duda yang sholeh. Tentunya akan menjadi sedikit masalah yang mengejutkan jika ternyata yang datang adalah seorang duda. Akhwat yang baik akan mengkondisikan diri dengan semuanya itu. Mungkin saja akhwat tersebut bisa menerima dengan mengatakan “jika ini memang yang terbaik dari Alloh, insyaalloh”, tapi lain dengan orang tua akhwat. Kesiapan yang kudang dari orang tua akhwat apalagi yang masih berpandangan kalau duda itu adalah sebuah status hina. Apalagi sebagian orang tua masih berpandangan lebih baik menikahkan anaknya yang punya banyak mantan pacar daripada punya mantan 1 istri. Maka itu butuh peran yang besar dari akhwat tersebut untuk mengkondisikan keluarganya.
Akhwat juga mempunyai kekhawatiran yang besar ketika menikah nanti, suami akan ada bayang-bayang mantan istri. Apalagi kalau suami membandingkan dengan mantan istri. Perasaan akhwat itu sensitif, jangankan membandingkan kadang dengan melihat foto yang masih terpajang di dinding saja perasaan akhwat bisa galau, cemburu yang luar biasa. Peran suami untuk menjaga hati istri sangat diperlukan. Memang tidak ada yang salah dengan suami yang masih ingat dengan mantan istri, mendoakannya dan memohonkan ampunan baginya. Tapi ketika banyak mengingat dan menyebut namanya ini bisa jadi masalah sepertihalnya aisyah yang mencemburui khadijah.  

3.  Menurut anda, bagaimana kehadiran seorang anak yang itu bukan anak kandung anda ?

Anak adalah anugerah, bukah hadiah yang jika kita tidak suka bisa dikembalikan. Anak adalah anugerah dan amanah. Seorang akhwat akan berfikiran “apakah saya mampu menjadi ibu yang baik untuk anak yang bukan anakku”. Beban menjadi istri bagi suami sekaligus menjadi ibu tanpa harus mengandung dan melahirkan inilah yang kadang sangat lama dilamunkan akhwat. Perasaan takut jika membuat kesalahan dan ditegur oleh sang suami serta takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Akhwat juga harus siap dengan konsekuensi sekarang sudah menjaadi istri dan anak sehingga kebiasaan sewaktu lajang seperti jalan-jalan dan ngumpul bareng teman akan berkurang.
Disisi lain akhwat juga bersyukur karena adanya anak membuat adanya persiapan untuk mengasuh anak kandungnya sendiri kelak. Adanya anak juga mendewasakan, menyingkirkan rasa egois, membuat lebih sabar dan membuat lebih bijak dalam pengambilan keputusan.  

4.  Menurut anda, akhwat seperti apakah yang terbaik untuk seorang duda ?

Pada dasarnya, semua akhwat telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu dan guru dari madrasah yang bernama keluarga. Terus siapa yang cocok untuk seorang duda ?. dialah akhwat yang sudah dewasa, mencintai anak, taat kepada kedua orang tua, menyayangi keluarga serta memahami kehidupan bermasyarakat. Tua tidak berarti dewasa, dan orang yang selama ini hidup di kampus atau di pesantren juga belum tentu buta dengan kehidupan masayarakat umum.
Jika ada akhwat, apalagi dia belum pernah menikah sebelumnya yang bersedia dan ridho menerima seorang duda yang telah mempunyai anak maka dia luar biasa. Dia akan merawat suaminya dan bersama suaminya membersamai dan merawat anak yang itu bukan anaknya dia. Dialah sebaik baiknya wanita. Dan untuk keluarga yang bersedia menerima anak seorang duda itu sebagai bagian dari keluarganya, menjadi cucu diantara cucu yang lain, diperlakukan sama, disayangi, maka itulah sebaik-baiknya keluarga.

Salam dan doa kami untuk semua yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner serta ngobrol dengan kami. Semoga Alloh senantiasa merahmatimu, mencukupkan keluargamu dengan syukur dan memuliakan keluargamu dengan sabar.
Alhamdulillah Alloh menyempurnakan keluarga kami dengan menghadirkan seorang ibu untuk zaidan. Mungkin pembaca masih bertanya “bagaimana, kok bisa, dll”. Kami hanya bisa menjawab “dialah sebaik-baiknya wanita dan keluarganya itu sebaik-baiknya keluarga”.
Wallohu’alam.

Senin, 11 Maret 2013

Belajar di Universitas Kehidupan -1



Mau dibayar berapapun anaknya dia tidak akan memberikannya kepada orang yang mau membeli anaknya tersebut. Dia  rela hidup penuh dengan kekurangan daripada mendapatkan sebanyak uang (sementara waktu) akan tetapi dia harus berpisah dengan salah satu anak kandungnya. Ini lah yang di rasakan oleh seorang bapak dan istrinya di suatu desa Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di desa Mendalo. Bapak ini memiliki anak yang berjumlah 8 orang dengan kehidupan yang sangat sederhana, bahkan kekurangan. Hidupnya sangat kekurangan sekali, dengan memiliki usaha penjual pempek keliling dia harus bisa menghidupi keluarganya istri dan 8 anaknya.

Sempat ada yang berniat membeli anaknya dengan harga yang lumayan mahal. Dua kali dia mendapatkan tawaran ini. Anak yang kedua dari bawah sempat mau dibeli oleh orang akan tetapi sang bapak tidak memberikannya. Kemudian anak yang baru lahir beberapa bulan kemarin juga ingin langsung dibeli oleh orang yang tidak memiliki anak setelah beberapa waktu selesai melahirkan. Akan tetapi kasih sayang sang Bapak dan istri terhadap anaknya tidak akan terbeli dengan banyaknya uang dari orang yang berniat membeli. Terutama sang ibu, yang telah timbul kasih  sayangnya semenjak sang anak telah berada dalam kandungannya. Mereka menolak semua tawaran orang untuk membeli anaknya. Mereka lebih baik hidup serba kekurangan tapi mereka bisa berkumpul bersama daripada memiliki uang dan harus berpisah dengan anak-anaknya, darah dagingnya. Mereka berprinsip “mangan ora mangan sing penting kumpul”.

Kecerian setiap anak selalu ada dalam kesehariannya. Mereka menjalani hari-hariny layaknya anak-anak yang lain. Seorang anak yang belum terlalu banyak pikiran, dunianya masih dalam dunia bermain yang penuh dengan keceriaan. Mereka tidak terlalu memikirkan bagaimana bentuk rumahnya yang sudah hampir roboh itu. Jika bisa dibilang sesungguhnya rumah anak-anak tersebut sudahlah tidak layak huni. Dinding-dinding kayu yang lapuk, lantai yang kotor, dapur yang hampir roboh sehingga harus ada beberapa penyangga susulan di tiang tiang yang hampir roboh. Ditambah ruangan antara dapur dan ruang depan yang jika hujan sudah bisa dipastikan akan banyak air yang masuk dikarenakan beberapa waktu yang lalu ruangan tersebut atapnya roboh. Dan sekarang atapnya hanya diganti dengan sebuah terpal dan bocor. Mereka tidak memikirkan itu semua, mereka masih ceria. Bercanda dengan saudaranya yang lain, berlari, main layang-layang dan bentuk-bentuk permainan lainnya.

Itulah mereka anak-anak yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu. 2 anak yang paling besar besar mungkin telah mampu berpikir tentang kondisi keluarganya. Keinginannya yang kuat untuk sekolah sangat besar, sehingga ketika telah tamat SMA dia masih mau melanjutkan sekolahnya meskipun orang tuanya emang sudah menyerah untuk membiayai sekolahnya karena adik-adiknya masih banyak yang butuh biaya sekolah. Akan tetapi dikarenakan niatnya yang besar, ia pun bisa kuliah dengan sambil bekerja  sebagai karyawan rumah makan di tempat pamannya. Dan mereka berdua menetap di rumah usaha pamannya tersebut. 6 anak yang lain itulah yang bersama orang tuanya, menjalani kehidupan selayaknya anak-anak lainnya, bermain dan membantu kedua orang tuanya disaat mereka butuh bantuan. Yang nomor 3 SMP dan yang paling bungsu baru lahir beberapa bulan yang lalu.

Hidup keluarga ini sangat kekurangan. Dengan tanggungan istri dan 8 anak sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu untuk memberikan nafkah kepada mereka semua. Keluarga ini memberikan pelajaran berharga, bagaimana menikmati hidup ini meskipun dengan apa yang ada. Usaha selalu mereka lakukan setiap harinya agar mereka bisa sama-sama melanjutkan kehidupannya. Makan apa yang bisa dimakan secara bersama-sama, tidak ada perbedaan jenis yang dimakan antara satu sama lain, semuanya sama. Makan pempek itulah mungkin yang selalu mereka temui dibandingkan dengan makan nasi. Jika bisa dibilang, mungkin hanya satu kali saja dalam sehari mereka makan dengan sepiring nasi. Tidak ada sebutir nasi pun yang tertinggal di atas piring ketika mereka makan nasi. Begitulah sang orang tuang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mensyukuri dan menghargai nikmat yang diberikan saat itu. meskipu dengan kondisi yang seperti ini, alhamdulillah keluarga ini hidup dengan sehat sepertinya tidak ada yang menderita penyakit dikarenakan kekurangan gizi.

Sang bapak akan berusaha sekuat tenaga dengan dibantu istrinya untuk menghidupi keluarganya tersebut. Yang baru bisa mereka usahakan sebagai bentuk ikhtiar saat ini adalah dengan usaha jualan pempek keliling. Ikhtiar tersebut sebagai bentuk kesungguhannya dalam upaya menghidupi anak-anaknya, untuk menyekolahkan anak-anaknya sehingga anak-anaknya tersebut bisa menjadi anak yang pintar di masa depan dan memiliki kehidupan yang lebih layak dari apa yang mereka rasakan saat ini.

Jambi 11 Maret 2013
Belajar nulis. Yudhi Prasetyo

Minggu, 10 Maret 2013

Perbedaan

Perbedaan akan selalu ada dalam setiap masa, maka nikmatilah perbedaan tsb untuk saling melengkapi.

Perbedaan telah ada bahkan sejak Rasul ada, yg terjadi pada diri para sahabat. Nikmati lah perbedaan untuk saling mengisi, bukan mencaci.

Pada masa sahabat setelah Rasul, perbedaan semakin besar dan tidak ada lagi tempat untuk menjadi hakim yang semuanya tlah tsiqoh kepadanya.

Para sahabat,adalah generasi terbaik krn mereka bertemu langsung dg rasulullah akan tetapi bukan berarti menutup kemungkinan adany perbedaan

Apalah lagi dengan generasi saat ini, yg jauh dari rasul. Sudah dipastikan perbedaan itu semakin besar sehingga membentuk firqoh2.

Jangan takut dengan perbedaan, karena perbedaan kita diciptakan. supaya kita saling mengenal dan saling melengkapi.

Kita harus siap dengan sebuah perbedaan, karena perbedaan harus membuat kita menjadi bijak.

via twitter @kyud_

Senin, 04 Maret 2013

Mengambil Hikmah dari Musa yang menghancurkan tirani.




Musa bahkan dimasukkan ke dalam kerajaan fir'aun sebagai salah satu misi dalam menghancurkan tirani fir'aun. tidak ada yg curiga sebelumnya

Musa tumbuh dengan baik di dalam kerajaan fir'aun yang pasti dengan perlindungan Allah SWT melalui asiyah istri fir'aun.

Aisyiah yg selalu membela musa ketika fir'aun hendak membunuh musa. Berkatnya pula musa bisa tumbuh dg fasilitas kerajaan

sang tirani fir'aun pun tidak mengetahui bahwa anak yang dipeliharanya tsb kelak akan meruntuhkan kekuasaannya.

Musa tumbuh menjadi pemuda yang baik, dengan mengetahui segala seluk beluk kerajaan dan mengenai fir'aun itu sendiri.

Hingga pada suatu saat, pada waktu yg telah ditentukan dimana segala persiapan telah siap, kesanggupan telah dimiliki untuk melawan fir'aun.

maka ini lah waktu yang tepat, saatnya untuk meruntuhkan tirani fir'aun meskipun dengan komunikasi yang kurang baik dari fir'aun (gagap)

Akan tetapi bagi Allah itu bukanlah alasan utama untuk tidak melakukan perlawanan kepada tirani fir'aun dikarenakan semuanya yg dianggap...

paling utama tlah siap dan telah dimiliki musa dalam melawan fir'aun.

maka dengan berbekal keyakinan, musa mampu meruntuhkan tirani fir'aun dengan ditemani saudarnya sendiri, harun..

yang menghancurkan dan meruntuhkan kekuasaan fir'aun bukanlah berasal dari musuh yang berada jauh dari tempat tinggalnya.

Akan tetapi yang menghancurkannya adalah yang selama ini menjadi bagian dari dirinya, bagian dari keluarganya. yang sama2 hidup di istananya

yang dulu dia sempat ingin membunuhnya karena musa, krn musa adalah termasuk anak laki-laki yg harus dibunuh pd waktu itu.

yang dulu fir'aun sempat ragu terhadap musa, yg pernah khwatir kalo-kalo musalah laki2 yang akan meruntuhkan kekuasaannya sesuai dg ramalan

Akan tetapi allah mempunyai kehendak, sehingga bagaimanapun situasinya musa tetap tidak bisa dibunuh oleh fir'aun.

Allah punya kehendak agar musa tumbuh dengan baik, dengan kasih sayang istana yang segala kebutuhan bisa dia dapatkan dari istana.

Allah punya kehendak untuk menghancurkan fir'aun dari orang yang paling dekat dengannya. Dari dalam istananya sendiri.

Musa tidak terpengaruh dengan sistem yg dibuat fir'aun karna allah telah menjaganya. Musa tidak lah menjadi pengikut fir'aun.

demikian, silakan kalo mau dihubungkan dengan apa saja. Cuma mengingat tentang kisa musa saja.

dan meyakini bahwa ketika Allah mempunyai kehendak, maka terjadilah kehendaknya karena tidak ada yg tdk mungkin bagi Allah.

dan Mungkin saja sesuatu kezholiman itu hancur dari dalam dirinya sendiri, mungkin saja itu terjadi ketika Allah berkehendak.

Jangan sampai kita dengan mengucapkan secara pasti dengan ucapan bahwa pasti tidak mungkin bisa menghancurkan dari dalam.

Semuanya adlh mengenai cara, cara utk meruntuhkan kezholiman.yg pasti pastikan diri ini slalu bersama Allah, agar Allah ridho thd cara kita.

Musa menghancurkan dari Dalam has been chirpified! http://chirpstory.com/li/58359

via Twitter @kyud_