Senin, 11 Maret 2013

Belajar di Universitas Kehidupan -1



Mau dibayar berapapun anaknya dia tidak akan memberikannya kepada orang yang mau membeli anaknya tersebut. Dia  rela hidup penuh dengan kekurangan daripada mendapatkan sebanyak uang (sementara waktu) akan tetapi dia harus berpisah dengan salah satu anak kandungnya. Ini lah yang di rasakan oleh seorang bapak dan istrinya di suatu desa Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di desa Mendalo. Bapak ini memiliki anak yang berjumlah 8 orang dengan kehidupan yang sangat sederhana, bahkan kekurangan. Hidupnya sangat kekurangan sekali, dengan memiliki usaha penjual pempek keliling dia harus bisa menghidupi keluarganya istri dan 8 anaknya.

Sempat ada yang berniat membeli anaknya dengan harga yang lumayan mahal. Dua kali dia mendapatkan tawaran ini. Anak yang kedua dari bawah sempat mau dibeli oleh orang akan tetapi sang bapak tidak memberikannya. Kemudian anak yang baru lahir beberapa bulan kemarin juga ingin langsung dibeli oleh orang yang tidak memiliki anak setelah beberapa waktu selesai melahirkan. Akan tetapi kasih sayang sang Bapak dan istri terhadap anaknya tidak akan terbeli dengan banyaknya uang dari orang yang berniat membeli. Terutama sang ibu, yang telah timbul kasih  sayangnya semenjak sang anak telah berada dalam kandungannya. Mereka menolak semua tawaran orang untuk membeli anaknya. Mereka lebih baik hidup serba kekurangan tapi mereka bisa berkumpul bersama daripada memiliki uang dan harus berpisah dengan anak-anaknya, darah dagingnya. Mereka berprinsip “mangan ora mangan sing penting kumpul”.

Kecerian setiap anak selalu ada dalam kesehariannya. Mereka menjalani hari-hariny layaknya anak-anak yang lain. Seorang anak yang belum terlalu banyak pikiran, dunianya masih dalam dunia bermain yang penuh dengan keceriaan. Mereka tidak terlalu memikirkan bagaimana bentuk rumahnya yang sudah hampir roboh itu. Jika bisa dibilang sesungguhnya rumah anak-anak tersebut sudahlah tidak layak huni. Dinding-dinding kayu yang lapuk, lantai yang kotor, dapur yang hampir roboh sehingga harus ada beberapa penyangga susulan di tiang tiang yang hampir roboh. Ditambah ruangan antara dapur dan ruang depan yang jika hujan sudah bisa dipastikan akan banyak air yang masuk dikarenakan beberapa waktu yang lalu ruangan tersebut atapnya roboh. Dan sekarang atapnya hanya diganti dengan sebuah terpal dan bocor. Mereka tidak memikirkan itu semua, mereka masih ceria. Bercanda dengan saudaranya yang lain, berlari, main layang-layang dan bentuk-bentuk permainan lainnya.

Itulah mereka anak-anak yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu. 2 anak yang paling besar besar mungkin telah mampu berpikir tentang kondisi keluarganya. Keinginannya yang kuat untuk sekolah sangat besar, sehingga ketika telah tamat SMA dia masih mau melanjutkan sekolahnya meskipun orang tuanya emang sudah menyerah untuk membiayai sekolahnya karena adik-adiknya masih banyak yang butuh biaya sekolah. Akan tetapi dikarenakan niatnya yang besar, ia pun bisa kuliah dengan sambil bekerja  sebagai karyawan rumah makan di tempat pamannya. Dan mereka berdua menetap di rumah usaha pamannya tersebut. 6 anak yang lain itulah yang bersama orang tuanya, menjalani kehidupan selayaknya anak-anak lainnya, bermain dan membantu kedua orang tuanya disaat mereka butuh bantuan. Yang nomor 3 SMP dan yang paling bungsu baru lahir beberapa bulan yang lalu.

Hidup keluarga ini sangat kekurangan. Dengan tanggungan istri dan 8 anak sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu untuk memberikan nafkah kepada mereka semua. Keluarga ini memberikan pelajaran berharga, bagaimana menikmati hidup ini meskipun dengan apa yang ada. Usaha selalu mereka lakukan setiap harinya agar mereka bisa sama-sama melanjutkan kehidupannya. Makan apa yang bisa dimakan secara bersama-sama, tidak ada perbedaan jenis yang dimakan antara satu sama lain, semuanya sama. Makan pempek itulah mungkin yang selalu mereka temui dibandingkan dengan makan nasi. Jika bisa dibilang, mungkin hanya satu kali saja dalam sehari mereka makan dengan sepiring nasi. Tidak ada sebutir nasi pun yang tertinggal di atas piring ketika mereka makan nasi. Begitulah sang orang tuang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mensyukuri dan menghargai nikmat yang diberikan saat itu. meskipu dengan kondisi yang seperti ini, alhamdulillah keluarga ini hidup dengan sehat sepertinya tidak ada yang menderita penyakit dikarenakan kekurangan gizi.

Sang bapak akan berusaha sekuat tenaga dengan dibantu istrinya untuk menghidupi keluarganya tersebut. Yang baru bisa mereka usahakan sebagai bentuk ikhtiar saat ini adalah dengan usaha jualan pempek keliling. Ikhtiar tersebut sebagai bentuk kesungguhannya dalam upaya menghidupi anak-anaknya, untuk menyekolahkan anak-anaknya sehingga anak-anaknya tersebut bisa menjadi anak yang pintar di masa depan dan memiliki kehidupan yang lebih layak dari apa yang mereka rasakan saat ini.

Jambi 11 Maret 2013
Belajar nulis. Yudhi Prasetyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar