Mau dibayar berapapun anaknya dia tidak akan memberikannya kepada
orang yang mau membeli anaknya tersebut. Dia
rela hidup penuh dengan kekurangan daripada mendapatkan sebanyak uang (sementara
waktu) akan tetapi dia harus berpisah dengan salah satu anak kandungnya. Ini
lah yang di rasakan oleh seorang bapak dan istrinya di suatu desa Kabupaten
Muaro Jambi, tepatnya di desa Mendalo. Bapak ini memiliki anak yang berjumlah 8
orang dengan kehidupan yang sangat sederhana, bahkan kekurangan. Hidupnya
sangat kekurangan sekali, dengan memiliki usaha penjual pempek keliling dia
harus bisa menghidupi keluarganya istri dan 8 anaknya.
Sempat ada yang berniat membeli anaknya dengan harga yang lumayan
mahal. Dua kali dia mendapatkan tawaran ini. Anak yang kedua dari bawah sempat
mau dibeli oleh orang akan tetapi sang bapak tidak memberikannya. Kemudian anak
yang baru lahir beberapa bulan kemarin juga ingin langsung dibeli oleh orang
yang tidak memiliki anak setelah beberapa waktu selesai melahirkan. Akan tetapi
kasih sayang sang Bapak dan istri terhadap anaknya tidak akan terbeli dengan
banyaknya uang dari orang yang berniat membeli. Terutama sang ibu, yang telah
timbul kasih sayangnya semenjak sang
anak telah berada dalam kandungannya. Mereka menolak semua tawaran orang untuk
membeli anaknya. Mereka lebih baik hidup serba kekurangan tapi mereka bisa
berkumpul bersama daripada memiliki uang dan harus berpisah dengan
anak-anaknya, darah dagingnya. Mereka berprinsip “mangan ora mangan sing
penting kumpul”.
Kecerian setiap anak selalu ada dalam kesehariannya. Mereka menjalani
hari-hariny layaknya anak-anak yang lain. Seorang anak yang belum terlalu
banyak pikiran, dunianya masih dalam dunia bermain yang penuh dengan keceriaan.
Mereka tidak terlalu memikirkan bagaimana bentuk rumahnya yang sudah hampir
roboh itu. Jika bisa dibilang sesungguhnya rumah anak-anak tersebut sudahlah
tidak layak huni. Dinding-dinding kayu yang lapuk, lantai yang kotor, dapur
yang hampir roboh sehingga harus ada beberapa penyangga susulan di tiang tiang
yang hampir roboh. Ditambah ruangan antara dapur dan ruang depan yang jika
hujan sudah bisa dipastikan akan banyak air yang masuk dikarenakan beberapa
waktu yang lalu ruangan tersebut atapnya roboh. Dan sekarang atapnya hanya
diganti dengan sebuah terpal dan bocor. Mereka tidak memikirkan itu semua,
mereka masih ceria. Bercanda dengan saudaranya yang lain, berlari, main
layang-layang dan bentuk-bentuk permainan lainnya.
Itulah mereka anak-anak yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu. 2
anak yang paling besar besar mungkin telah mampu berpikir tentang kondisi
keluarganya. Keinginannya yang kuat untuk sekolah sangat besar, sehingga ketika
telah tamat SMA dia masih mau melanjutkan sekolahnya meskipun orang tuanya
emang sudah menyerah untuk membiayai sekolahnya karena adik-adiknya masih
banyak yang butuh biaya sekolah. Akan tetapi dikarenakan niatnya yang besar, ia
pun bisa kuliah dengan sambil bekerja
sebagai karyawan rumah makan di tempat pamannya. Dan mereka berdua
menetap di rumah usaha pamannya tersebut. 6 anak yang lain itulah yang bersama
orang tuanya, menjalani kehidupan selayaknya anak-anak lainnya, bermain dan
membantu kedua orang tuanya disaat mereka butuh bantuan. Yang nomor 3 SMP dan
yang paling bungsu baru lahir beberapa bulan yang lalu.
Hidup keluarga ini sangat kekurangan. Dengan tanggungan istri dan 8
anak sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu untuk memberikan nafkah
kepada mereka semua. Keluarga ini memberikan pelajaran berharga, bagaimana
menikmati hidup ini meskipun dengan apa yang ada. Usaha selalu mereka lakukan
setiap harinya agar mereka bisa sama-sama melanjutkan kehidupannya. Makan apa
yang bisa dimakan secara bersama-sama, tidak ada perbedaan jenis yang dimakan
antara satu sama lain, semuanya sama. Makan pempek itulah mungkin yang selalu
mereka temui dibandingkan dengan makan nasi. Jika bisa dibilang, mungkin hanya
satu kali saja dalam sehari mereka makan dengan sepiring nasi. Tidak ada
sebutir nasi pun yang tertinggal di atas piring ketika mereka makan nasi.
Begitulah sang orang tuang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mensyukuri dan
menghargai nikmat yang diberikan saat itu. meskipu dengan kondisi yang seperti
ini, alhamdulillah keluarga ini hidup dengan sehat sepertinya tidak ada yang
menderita penyakit dikarenakan kekurangan gizi.
Sang bapak akan berusaha sekuat tenaga dengan dibantu istrinya untuk
menghidupi keluarganya tersebut. Yang baru bisa mereka usahakan sebagai bentuk
ikhtiar saat ini adalah dengan usaha jualan pempek keliling. Ikhtiar tersebut
sebagai bentuk kesungguhannya dalam upaya menghidupi anak-anaknya, untuk
menyekolahkan anak-anaknya sehingga anak-anaknya tersebut bisa menjadi anak
yang pintar di masa depan dan memiliki kehidupan yang lebih layak dari apa yang
mereka rasakan saat ini.
Jambi 11 Maret 2013
Belajar nulis. Yudhi Prasetyo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar