![]() |
| (Foto diambil dari atas motor berjalan, maaf pak polisi krn berkendara msh main HP) |
Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Sesungguhnya aku tidaklah mengenalmu saat ini, jangankan tempat tinggalmu bahkan nama pun aku tak tahu. Tapi aku memiliki keyakinan terhadapmu wahai seorang Bapak. Aku yakin penghasilan yang engkau dapatkan tidaklah lebih besar dariku, tapi engkau merasa puas dengan penghasilanmu tersebut. Aku yakin kerja kerasmu dalam menjalankan pekerjaanmu itu melebihi kerja kerasku dalam menunaikan pekerjaanku. Aku yakin keringat yang kau keluarkan lebih banyak dari keluarnya keringatku saat menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin waktu yang kau habiskan lebih banyak daripada diriku untuk menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin rasa capek,lelahnya yang engkau rasakan pasti lebih besar dibandingkan dengan aku.
Sesungguhnya aku tidaklah mengenalmu saat ini, jangankan tempat tinggalmu bahkan nama pun aku tak tahu. Tapi aku memiliki keyakinan terhadapmu wahai seorang Bapak. Aku yakin penghasilan yang engkau dapatkan tidaklah lebih besar dariku, tapi engkau merasa puas dengan penghasilanmu tersebut. Aku yakin kerja kerasmu dalam menjalankan pekerjaanmu itu melebihi kerja kerasku dalam menunaikan pekerjaanku. Aku yakin keringat yang kau keluarkan lebih banyak dari keluarnya keringatku saat menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin waktu yang kau habiskan lebih banyak daripada diriku untuk menjalankan pekerjaan ini. Aku yakin rasa capek,lelahnya yang engkau rasakan pasti lebih besar dibandingkan dengan aku.
Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Ku tahu bagaimana kondisimu di atas tumpukkan sampah tersebut. Bau sampah mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi dirimu di saat orang lain merasa jijik dengan bau-bau sampah tersebut. Aroma-aroma sampah kau ubah menjadi harapan yang besar ketika engkau melihat ke belakang ada keluargamu yang sedang menanti nafkah darimu. Engkau tidak pedulikan dengan aroma-aroma sampah tersebut. Sampah bagimu adalah sumber rizki ketika orang-orang lain menganggap sampah sebagai kotoran-kotoran yang tidak bermanfaat.
Ku tahu bagaimana kondisimu di atas tumpukkan sampah tersebut. Bau sampah mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi dirimu di saat orang lain merasa jijik dengan bau-bau sampah tersebut. Aroma-aroma sampah kau ubah menjadi harapan yang besar ketika engkau melihat ke belakang ada keluargamu yang sedang menanti nafkah darimu. Engkau tidak pedulikan dengan aroma-aroma sampah tersebut. Sampah bagimu adalah sumber rizki ketika orang-orang lain menganggap sampah sebagai kotoran-kotoran yang tidak bermanfaat.
Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Aku yakin sesungguhnya engkau pun tidak ingin bekerja dengan tumpukan-tumpukan sampah. Jikalau ada pekerjaan yang bisa dipilih dan lebih baik, pastilah engkau memilih pekerjaan yang lain. Akan tetapi engkau tetap memilihnya karena engkau adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada keluargamu. Maka apapun pekerjaanmu engkau tidak memperdulikannya meskipun harus mengurusi sampah dengan bau-bau yang luar biasa. Tidak memperdulikan anggapan orang lain terhadapmu dikarenakan pekerjaanmu itu, dan menjadi bau pula badanmu dikarenakan pengaruh sampah-sampah itu. Engkau tidak memperdulikan itu semua yang penting halal bagimu, pekerjaanmu dan rizki yang engkau dapatkan. Rizki yang halal bagimu yang akan diperuntukan buat keluargamu.
Aku yakin sesungguhnya engkau pun tidak ingin bekerja dengan tumpukan-tumpukan sampah. Jikalau ada pekerjaan yang bisa dipilih dan lebih baik, pastilah engkau memilih pekerjaan yang lain. Akan tetapi engkau tetap memilihnya karena engkau adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada keluargamu. Maka apapun pekerjaanmu engkau tidak memperdulikannya meskipun harus mengurusi sampah dengan bau-bau yang luar biasa. Tidak memperdulikan anggapan orang lain terhadapmu dikarenakan pekerjaanmu itu, dan menjadi bau pula badanmu dikarenakan pengaruh sampah-sampah itu. Engkau tidak memperdulikan itu semua yang penting halal bagimu, pekerjaanmu dan rizki yang engkau dapatkan. Rizki yang halal bagimu yang akan diperuntukan buat keluargamu.
Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Kenapa engkau mengambil pilihan untuk bekerja seperti itu mungkin dikarenakan tidak ada pilihan pekerjaan lainnya. Mungkin pula engkau mempunyai latar pendidikan yang tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari itu. Dengan keterbatasanmu tersebut, engkau tetap tidaklah berputus asa untuk memberikan yang terbaik bagi keluargamu.
Kenapa engkau mengambil pilihan untuk bekerja seperti itu mungkin dikarenakan tidak ada pilihan pekerjaan lainnya. Mungkin pula engkau mempunyai latar pendidikan yang tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari itu. Dengan keterbatasanmu tersebut, engkau tetap tidaklah berputus asa untuk memberikan yang terbaik bagi keluargamu.
Wahai seorang Bapak yang ada di atas mobil itu.
Wahai seorang Bapak yang merupakan seorang ayah, seorang kepala keluarga yang luar biasa. Aku yakin kepadamu, ketika engkau rela bekerja seperti itu pasti karena engkau memiliki harapan besar bahwa rizki yang engkau peroleh bisa engkau berikan kepada anak-anakmu. Pasti engkau memiliki harapan besar agar anak-anakmu bisa bersekolah setinggi-tingginya supaya tidak seperti engkau. Pasti engkau memiliki harapan besar ketika anak-anakmu bisa sekolah yang setinggi-tingginya anak-anakmu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pasti engkau tidak mau anakmu memiliki pekerjaan sepertimu. Engkau mungkin tidak pernah berpikiran ketika bisa menyekolahkan anakmu setinggi-tingginya, harapannya mereka bisa memberikan balasan berupa materi kepadamu. Aku yakin bahwa sesungguhnya yang ingin engkau liat dari mereka anak-anakmu adalah kehidupan yang lebih baik dari dirimu saat ini. Mengenai balasan anak-anakmu terhadapmu sesungguhnya merupkan kesadaran dari anak-anakmu itu.
Wahai seorang Bapak yang merupakan seorang ayah, seorang kepala keluarga yang luar biasa. Aku yakin kepadamu, ketika engkau rela bekerja seperti itu pasti karena engkau memiliki harapan besar bahwa rizki yang engkau peroleh bisa engkau berikan kepada anak-anakmu. Pasti engkau memiliki harapan besar agar anak-anakmu bisa bersekolah setinggi-tingginya supaya tidak seperti engkau. Pasti engkau memiliki harapan besar ketika anak-anakmu bisa sekolah yang setinggi-tingginya anak-anakmu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pasti engkau tidak mau anakmu memiliki pekerjaan sepertimu. Engkau mungkin tidak pernah berpikiran ketika bisa menyekolahkan anakmu setinggi-tingginya, harapannya mereka bisa memberikan balasan berupa materi kepadamu. Aku yakin bahwa sesungguhnya yang ingin engkau liat dari mereka anak-anakmu adalah kehidupan yang lebih baik dari dirimu saat ini. Mengenai balasan anak-anakmu terhadapmu sesungguhnya merupkan kesadaran dari anak-anakmu itu.
Wahai bapak yang ada di atas mobil sampah itu.
Aku berdoa di atas motor ini dan ketika aku tuliskan tulisany ini. Semoga rizki yang engkau dapatkan itu benar-benar penih barakah biarpun sedikit. Untuk apa penghasilan yang besar ketika dia tidak barakah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu bisa menjadi nafkah yang terbaik bagi keluarga yang sedang menunggumu di rumah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu barakah, sehingga bisa menumbuhkan anak-anakmu yang baik dan soleh/ah. Semoga dengan rizkimu tersebut bisa menyekolahkan anak-anakmu setinggi-tingginya sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak kelak. Semoga anak-anakmu tidak melupkan akan kerja kerasmu hari ini. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih membahagiakan bagi dirimu dan orang tua yang lain selain engkau bisa melihat anak-anakmu bahagia....
Aku berdoa di atas motor ini dan ketika aku tuliskan tulisany ini. Semoga rizki yang engkau dapatkan itu benar-benar penih barakah biarpun sedikit. Untuk apa penghasilan yang besar ketika dia tidak barakah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu bisa menjadi nafkah yang terbaik bagi keluarga yang sedang menunggumu di rumah. Semoga Rizki yang engkau peroleh itu barakah, sehingga bisa menumbuhkan anak-anakmu yang baik dan soleh/ah. Semoga dengan rizkimu tersebut bisa menyekolahkan anak-anakmu setinggi-tingginya sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak kelak. Semoga anak-anakmu tidak melupkan akan kerja kerasmu hari ini. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih membahagiakan bagi dirimu dan orang tua yang lain selain engkau bisa melihat anak-anakmu bahagia....
aamiin...aamiin yaa rabbal ‘alamin...
Jambi, 13 Maret 2013
#BelajarNulis. Yudhi Prasetyo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar