Jumat, 31 Mei 2013

STIKOM Punyo Cerito.

31 Mei 2013. Hari ini aku senang sekali bisa mengadakan sebuah acara Training Motivasi untuk kegiatan Lembaga Dakwah Kampus yang baru ada di STIKOM Dinamika Bangsa Jambi. LDK ini bernama UKM Kerohanian Nur Islam (KNI). Sebenarnya LDK/rohis di kampus pink ini dulu pernah ada baik secara lembaganya maupun secara kegiatannya, ya meskipun kegiatannya gak terlalu aktif juga. Akan tetapi karena regenerasi yang tidak berjalan dengan baik, terutama kaderisasinya tidak berjalan sehingga kader-kadernya lose dan secara kelembagaannya juga vakum.
Akan tetapi tahun ini dari pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKOM Dinamika Bangsa menginginkan adanya rohis kembali, sehingga terbentuklah KNI ini pada bulan Januari tahun ini tahun 2013. Selama rentang waktu Januari sampai Mei ini lagi-lagi secara kelembagaannya juga belum bisa maksimal menjalankan rodda organisasinya, Hal tersebut dikarenakan mungkin SDM yang akan menjalankannya itu tidak ada maupun pemahaman yang kurang mengenai keorganisasian keisalamannya.
Training Motivasi ini terlaksana setelah sebelumnya diawali dengan adanya kegiatan taklim gabungan ikhwan-akhwat yang pada saat itu belum mempunyai wadah atas nama apa kita mengadakan agenda taklim itu. Hal ini bisa dilaksanakan karena inisiatif dari beberapa mahasiswa STIKOM yang berminat mengadakan taklim dalam rangka belajar Islam. Inisiatif itu muncul juga ada yang menstimulus diawalnya. Beberapa mahasiswa tersebut diajak oleh kader UKM Rohis Ar-Rahman UNJA yang kebetulan berjualan di kantin STIKOM, Wirausaha yang memiliki visi dakwah nih, Hendra namanya mantan Ketua LDKF FSI FKIP UNJA.
Hendra  mempunyai satu teman yang kuliah di STIKOM. Naaah dari satu temannya ini lah dia ajak untuk ngadakan acara keislaman di kampus. Akhirnya sang teman mau, kemudian diarahkan untuk mengajak temen-temen terdekatnya, dimulai dari temen sekelasnya. Hendra juga mengajak saya untuk membantunya sebadai pemandu/mentor di LDK STIKOM itu. Saya pun bisa, dan saya pun selalu hadir dari pertemuan pertama sampai acara tadi. (makanya saya bisa bercerita dari awal sampai sekarang…hehe..)
Terlaksana deh taklimnya. Pertemuan sudah berjalan 5 kali pada hari jumat pekan yang lalu, tanggal 24 tepatnya. Awal pertemuan hanya dihadiri 4 orang saja 1 ikhwan 3 akhwat kalo gak salah. Tapi pada pertemuannya semakin bertambah, karena mereka selalu mengajak temen2 sekelasnya untuk ikut. Pertemuannya diadakan pas hari jum’at pagi, karena di kampus ini hari jum’at pagi digunakan untuk olahraga para dosen jadi tidak diadakan jam kuliah.
Seperti dibilang di awal bahwa pertemuan taklim ini mulanya tidak memiliki wadah atas nama apa taklim ini diadakan….. prinsipnya yang penting jalan aja dulu, terlaksananya niat baik dari beberapa mahasiswa itu. Sejak pertemuan pertama pikiran itu sudah diutarakan bahwa taklim ini harus ada wadahnya agar tidak dicurigai pihak kampus. Akhirnya dicobalah untuk mencari rohisnya yang katanya sudah ada di kampus ini. Ditugaskan satu orang untuk mencarinya, dan dievaluasi pada pertemuan selanjutnya. Akan tetapi pertemuan kedua dan ketiga laporannya belum ada menemukan pihak rohis.
Pada pertemuan ke-4, alhamdulillah ada pihak dari BEM yang berkenan hadir di taklim itu. dari dia lah kita dihubungkan dengan ketua rohisnya yang akhirnya bisa juga ketemu dengan pihak rohis pada pertemuan ke-5. Pada pertemuan kelima inilah banyak sharing tentang apa yang sudah dilakukan rohis dari bulan januari, dan ternyata masih Vakum.
Untuk menghidupkan rohis, maka di sepakati untuk mengadakan agenda perdana untuk rohis sekaligus rekrutmen pengurus rohis, karena pengurus yang baru ada hanya sekitar 5 orang. Di sepakatilah pada pertemuan selanjutnya diadakan training motivasi di tempat yang berbeda dan lumayan nyaman…hehe…
jreng-jreng…Terlaksanalah acara tadi. Berupa training motivasi tentang pengembangan diri yang diisi oleh Ahmad Nopriansyah. Setelah selesai trainingnya agenda dilanjutkan dengan pembahasan pengelolaan organisasi KNI ini dengan pembentukan struktur Pengurusan UKM KNI, Alhamdulillah peserta yang hadir yang merupakan peserta yang telah rutin ikut taklim sebelumnya bersedia menjadi pengurus UKM KNI. Setelah terbentuk dan pembagian pos-pos dilanjutkan dengan pembahasan rencana kegiatan terdekat yakni rekrutmen pengurus, pelantikan, pembekalan dan musyawarah kerja yang direncanakan akan diadakan pada tanggal 14 Juni. Berkahirlah acara hari ini… Eh, sebelum ditutup ada satu lagi acaranya yakni pengarahan dari PUSKOMDA jambi yang disampaikan oleh Irawan Malebra selaku Sekretaris Umum PUSKOMDA/FSLDK jambi. Dia menyampaikan tentang jaringan LDK senasional bahkan Internasional,Motivasi untuk mengembangkan rohis STIKOM dan Masih banyak lagi…he..
Kemudian selesailah acaranya dan pulaaaaaaaaaaaaaaaaang….
Inilah awal dari sebuah cita-cita besar itu. Semoga ke depan semakin lebih baik lagi perkembangan LDK di STIKOM ini. Aaamiin…

Sabtu, 25 Mei 2013

"Husnuzhon kepada Allah"

Husnuzhon kepada Allah adalah sebaik-baiknya ibadah, bahkan wajib bagi orang-orang yang beriman. Karena dia menunjukkan bagaimana refleksi keimanananya terhadap Allah yang maha segala-galanya. 

Tidak ada alasan untuk tidak berhusnuzhon kepada Allah ketika ia telah memahami tentang ma'rifatullah dan kemudian meyakininya.

Apapun yang terjadi dalam diri kita adalah sebuah yang sudah ditetapkan Allah SWT, maka berhusnuzhon lah yang harus ditimbulkan.

Maka bagi orang-orang yang beriman, ketika ia ditimpa musibah dia akan bersabar dan ketika ia mendapatkan Rizki dia bersyukur.

Jiwa yang tenang selalu ada pada diri orang yang beriman, karena dia selalu memiliki sifat husnuzhon kepada Allah, menyerahkan semua yang terjadi pada dirinya Hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa semuanya itu datangnya dari Allah.

Orang2 yg sulit untuk berhusnuzhon kepada Allah mungkin saja pemahamanya tentang ma'rifatullah masih kurang apalagi untuk meyakininya.


Jambi, 26 Mei 2013

Jumat, 24 Mei 2013

"Muhasabah Amal"


Jangan senang dan lebih sibuk menghitung sudah berapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi perseringlah menghitung sudah berapa banyak maksiat yang telah kita lakukan.

Bisa jadi ibadah-ibadah yang kita lakukan itu tidak sebanding dengan maksiat yang kita lakukan, padahal kita telah terlanjur bangga dengan ibadah yang sudah kita lakukan.

Bagaimana jadinya ketika kita lebih asyik membanggakan diri -meskipun hanya sebatas kepada diri sendiri- dengan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan, eh ternyata maksiat yang tlah kita lakukan tidak kalah banyaknya sedangkan kita tidak memikirkannya.

Bagaimana jadinya, ketika kita tlah merasa sudah banyak ibadah yang kita lakukan ternyata hanya seperti debu yang terbang di bawa angin.

Amal-amal ibadah kalo sering diingat bisa saja dia menjadi hilang dikarenakan timbul sifat sombong, riya, tidak ikhlas dan penyakit hati lainnya.

Beda hal nya ketika kita sering mengingat dosa-dosa kita, maksiat-maksiat kita, kita akan berusaha mencoba untuk menghilangkannya yakni melalui istighfar, mohon ampun kepada Allah.

Nah, kalo dosa2 tersebut jarang kita ingat jarang kita hitung, gimana mw hilang? Malahan dia akan semakin bertambah karena tidak pernah dihilangkan dengan istighfar.

Itulah muhasabah, ia menghitung, dosa-dosa, maksiat-masiatlah yg mestinya lebih banyak dihitung supaya tidak semakin banyak bertambah dari hari ke hari. Supaya kita menggantinya dengan ibadah-ibadah yang lebih baik

Mengenai ibadah ikhlaskan saja setelah kita kerjakan, mengingat-ungatnya terus akan berpotensi besar bagi kita untuk menghapusnya melalui penyakit2 hati

Mengingat ibadah-ibadah yang sudah dilakukan berpotensi untuk menghilangkannya begitu juga dengan mengingat-ingat dosa.

Mengingat Ibadah yang sudah kita lakukan, ingatlah kekurangannya karena kurangnya tersebut pastilah diakibatkan adanya dosa maksiat yang kita lakukan.

Astaghfirullahal'azhiim
Wallahu a'lam

Rabu, 22 Mei 2013

Meruginya jadi Pendengki


Sungguh kasihan wahai engkau para pendengki/haters
Karena hanya dengan sedikit berita jelek tentang seseorang yang dibenci (doi)
engkau langsung gunakan itu untuk mengolok-olok si doi,
engkau langsung membully si doi
tanpa engkau harus sabar menunggu tentang kebenaran berita jelek tersebut.
Atau menunggu klarifikasi dari yang bersangkutan terlebih dahulu.

Mungkin bagi dirimu sedikit berita jelek tentang si doi itu yang paling ditunggu-tunggu.
Dengan sedikit berita jelek tersebut engkau akan puas mengejek doi.
Terkadang kebanyakan darimu adalah orang intelek,
akan tetapi kenapa tidak kau gunakan intelekmu itu untuk menganalisis tentang kebenaran sebuah berita.
Kenapa Engkau langsung percaya begitu saja kalo tentang berita jelek itu, Dimana intelektualmu?

Yang penting bagimu mungkin bisa menjelek-jelekan si doi ya,
Sehingga nafsumu bisa menutupi intelektualmu.
Sungguh kasihan engkau, hanya karena sifat dengkimu intelekutualmu tidak lagi melekat pada dirimu.
Sungguh orang telah melihatmu bukan lagi seorang intelektual lagi.

Itu semua tidak kau lakukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.
dan berkali-kali pula engkau salah.
kenapa sih engkau tidak sadar-sadar.
Ayolah kawan, gunakan intelektualmu, gunakan imanmu.
Hanya karena sifat dengkimua, kau tutup matamu dari kebenaran.
kau tutup hatimu dari nilai iman.

Sekarang lalu bagaimana,
Ketika yang bersangkutan telah memberikan klarifikasi terkait berita jelek tentang dirinya.
Ternyata faktanya tidak sesuai dengan apa yang diberitakan sebelumnya,
Bahkan jauh sekali dari apa yg telah diberitakan.

Waduh, mau diletakan dimana mukamu itu
Semua perkataanmu yang menjelek-jelekan si doi mentah seketika dengan adanya klarifikasi dari yang bersangkutan.
Waduh, gimana lagi nih.
Bangkai sudah termakan bahkan disebar-sebarkan juga ke yang lain.

Kalo sudah begini terus gimana,
malu kah engkau, merasa bersalahkan engkau, mau meminta maafkah engkau kepada si doi?
Yaah ketika nafsumu lebih besar daripada imanmu pasti tidak akan kau lakukan itu.

Sungguh merugi engkau wahai pendengki...!
Engkau mendapat dosa, si doi dapat pahala yg tidak di sangka-sangka.

Jambi, 23 Mei 2013

Selasa, 21 Mei 2013

Malu pada siapa?


Rasanya aku malu pada diriku sendiri hanya dengan alasan sibuk aku tidak bisa menjalankan ibadah-ibadah harianku secara maksimal.

Rasanya aku malu dengan diriku sendiri, hanya dengan alasan sibuk terhadap aktifitas kerjaan setiap harinya sehingga tilawahku tidak sampai satu juz dalam sehari.

Rasanya aku malu dengan diriku sendiri, hanya dengan alasan susah konsentrasi karena banyak yang dipikirkan sehingga aku tak mampu menghapal ayat-ayat Al-Qur’an meski hanya satu ayat dalam sehari.

Rasanya aku malu dengan diriku sendiri, hanya dengan alasan  capek karena aktifitas-aktifitasku yang seharian sehingga aku tidak bisa bangun pada sepertiga malam terakhir untuk menegakkan sholat Tahajjud. Aku enggan bangun, dan lebih mementingkan tidur sampai datang waktu shubuh.

Rasanya aku malu pada diriku sendiri, hanya dengan alasan masih sibuk mengurusi kerjaan sehingga aku tidak bisa menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha tiap harinya meskipun hanya dua rakaat.

Rasanya aku malu pada diriku sendiri, hanya dengan alasan tidak sempat sehingga melalaikanku untuk membaca dzikir al-ma’tsurat pada setiap pagi dan sore harinya.

Dan sebenarnya tidak hanya malu pada diri sendiri, akan tetapi malu pada Allah SWT. Dengan alasan yang tidak begitu besar itu lantas aku tidak maksimal dalam menjalankan ibadahku tiap harinya.

Sebenarnya alasan-alasan tersebut bukan lah alasan yang sebenarnya, ia hanya mencari-cari alasan semata. Adapun kenapa aku tidak bisa melaksanakan ibadahku dengan maksimal hanya cukup diwakili dengan satu kata alasan yakni aku LALAI. Lalai untuk membiasakan tilawah satu juz per-hari, Qiyamul lail tiap hari, menghapal qur’an, Sholat dhuha, dan ibdah-ibadah sunnah lainnya.

Selanjutnya pemakluman-pemakluman yang aku berikan atas kelalaian tersebut, sehingga tidak ada usaha untuk melawan kelalaian tersebut. Tidak ada usaha memaksakan diri untuk maksimal dalam mencapai setiap ibadah yang harus ku lakukan.

Meskipun begitu Allah tetap tidak jauh dariku, dia masih memberikan kebutuhanku tiap harinya, meskipun aku tidak pernah memintanya sebelum nya ataupun ibadahku yang tidak maksimal, Sungguh malu aku kepada Allah ketika ibadah-ibadahku tidak bisa maksimal.

Senin, 20 Mei 2013

PEMUDA AL-KAHFI MODERN


Oleh : Yudhi Prasetyo

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Penggunaan istilah Pemuda Al-Kahfi Modern pada tulisan ini hanya ingin menggambarkan bagaimana pada zaman modern sepeti saat ini pun ada sebagian dari pemuda yang bisa menjadi layaknya Pemuda Al-Kahfi yang kisahnya telah diabadikan dalam Al-Qur’an. Pemuda yang berusaha melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri di tengah kezholiman, kemaksiatan yang sedang terjadi di lingkungan mereka. Pemuda-pemuda semacam ini Insya Allah akan selalu ada di setiap zamannya, meskipun secara jumlah tidak lah banyak dibandingkan dengan pemuda –pemuda lainnya yang terlena dengan kehidupan dunia.

Meneladani sebuah kisah dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Kahfi tepatnya. Mereka adalah Pemuda Al-kahfi yang mengasingkan diri ke dalam sebuah gua. Mereka mengasingkan diri untuk menyelamatkan diri dari kezholiman penguasa dari sebuah negeri, penguasa tersebut bersama rakyatnya melakukan kemunkaran kesyirikan, mereka menyembah berhala. Padahal menurut pemuda al-kahfi  yang beriman ini hanyalah Allah yang patut untuk disembah. Maka dengan keyakinannya tersebut pemuda-pemuda ini lebih baik menjauh dari perbuatan-perbuatan maksiat itu supaya mereka tidak turut dalam kemaksiatan yang dilakukan oleh penguasa dan rakyat negeri itu.

Mereka adalah pemuda-pemuda yang jumlahnya sedikit, tidak ada sampai sepuluh. Akan tetapi mereka memiliki iman dibandingkan dengan jumlah yang banyak dan dalam keadaan kafir. Demi menyelamatkan iman, mereka rela meninggalkan kemegahan, kemewahan yang sebelumnya mereka dapatkan di negeri itu. Nikmatnya iman lebih mereka pilih dibandingkan dengan nikmatnya harta, kemewahan dan kemegahan yang bersifat duniawi dan sementara saja. Mengasingkan diri untuk menyelamatkan iman itulah jalan yang mereka pilih, karena memang mereka tidak mampu mencegah kemungkaran dengan kekuasaan dan lisan. Mereka tidak bisa mencegah kemungkaran yang sedang terjadi karena mereka adalah dari golonganorang biasa yang tidak memiliki kekuasaan. Jika ingin mencegahnya dengan lisan, mereka takut karena jumlah mereka yang sedikit malah akan membahayakan iman mereka, khawatir mereka dipaksa berbuat syirik juga atau bahkan di siksa dan dibunuh. Sehingga keputusan akhir adalah menghilang, meninggalkan negeri yang dalam kemunkaran tersebut untuk imannya. Dengan kesamaan tujuan dan keimanan maka bertemulah beberapa pemuda untuk melakukan pengasingan diri.

Allah meneguhkan bagi pemuda-pemuda itu, karena mereka memiliki iman dan ingin menyelamatkan imannya dari kemunkaran-kemunkaran yg sedang terjadi di lingkungan mereka. Mereka meminta perlindungan hanya kepada Allah dengan berkata “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Q.S Al-kahfi : 10). Inilah yang terucap jika keimanan telah bersemayam dalam hati mereka, dengan keimanan mereka berdoa dan memohon petunjuk hanya kepada allah.

Mereka beriman kepada Allah dan Allah menambahkannya petunjuk ketika kebenaran iman tampak jelas dari diri mereka. Mereka meminta petunjuk sehingga mereka diberi petunjuk oleh Allah. Maka Allah menunjukan kekuasaan-Nya dengan ditidurkannya pemuda-pemuda tersebut selama 309 tahun, sehingga selamatlah mereka dari kemungkaran. Hanya Allah yang menjaga mereka di saat mereka tidur, selamat dari binatang-binatang yang akan membahayakan mereka, bumi tidak memakan jasadnya dan matahari tidak membakar tubuh dan pakaian mereka. “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (Q.S Al-Kahfi :17)

Merekalah pemuda-pemuda yang patut dijadikan teladan bagi pemuda-pemuda saat ini. Menjadi Pemuda Al-Kahfi Modern, pemuda-pemuda yang berjiwa laksana pemuda Al-Kahfi itu. Pemuda Al-Kahfi modern adalah mereka yang rela mengasingkan diri dari keramaian-keramaian yang berbau maksiat atau perbuatan-perbuatan yang sia-sia. Mengasingkan diri ke suatu tempat dimana mereka tidak akan terpengaruh oleh perbuatan yang tidak baik. Lingkunganlah yang akan mempengaruhi diri seorang pemuda. Bagi seorang pemuda yang berkeinginan menjadi pemuda yang baik maka hendaknya ia harus pandai memilih lingkungan bergaulnya. Lingkungan yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya bukan malah merusaknya.

Pemuda Al-kahfi modern adalah mereka yang lebih senang menghadiri majelis-majelis ilmu di saat teman-teman lainnya lebih banyak berada pada tempat-tempat tongkrongan sia-sia. Tempat tongkrongan yang tidak jauh-jauh dari minuman keras untuk menemaininya, Narkoba sebagai hidangan pertemuannya bahkan mungkin untuk akhir pertemuannya disajikan dengan seks bebas sebagai ajang pelampiasan nafsu bejatnya. Bagi Pemuda Al-Kahfi Modern mengasingkan diri dari tempat-tempat yang seperti itu dirasakannya adalah lebih baik, kemudian beralih memilih menghadiri atau membuat majelis-majelis yang bermanfaat dan memberikan manfaat baginya.

Pemuda Al-Kahfi Modern lebih tenang karena memautkan hatinya dengan tempat-tempat yang baik, masjid sebagai tempat melakukan ibadah-ibadahnya, majelis ilmu sebagai tempat untuk nya menambah ilmu dan pemahaman. Sehingga dengan ilmunya yang dia dapatkan itu, mereka bisa terselamatkan dari fitnah dunia.

Pemuda Al-Kahfi Modern adalah mereka yang berbeda dengan pemuda-pemuda lain yang menikmati malam minggunya atau malam-malam lainnya dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia bahkan dengan maksiat. Yang  menikmati semalaman hanya dengan pesta minuman keras, Narkoba atau perbuatan yang sia-sia lainnya. Yang menikmati dengan jalan bersama pacarnya, yang tidak ada yang bisa menjamin jalannya seorang pasangan muda-mudi tanpa ikatan yag halal itu tidak dihiasi dengan perbuatan-perbuatan dosa karena setan yang akan menggoda mereka selalu bersama mereka. Bagi Pemuda Al-Kahfi Modern mereka lebih senang dengan mengisi malam mingggunya dengan berkumpul untuk melakukan kebaikan, dalam suasana mentoring atau halaqoh. Yang dengan suasana itu mereka bisa menambah ilmu tentang pemahaman sehingga bertambahlah pemahamannya mengenai suatu ilmu. Atau mengisinya dengan berkumpul, melakukan kajian-kajian keilmuan, meningkatkan ibadah-ibadah malam dalam suasana Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT). Atau jika tidak bisa melakukan hal-hal yang baik seperti itu karena adanya keterbatasan, minimal setidaknya dia tidak melakukan hal-hal yang hanya akan menimbulkan dosa.

Tidak hanya pada malam minggu-malam saja atau malam-malam lainnya, bahkan banyak momen lainnya yang telah biasa dijadikan sebagai ajang untuk melakukan hal-hal yang maksiat itu bisa kita hindari. Alihkanlah dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Bagi Pemuda Al-Kahfi Modern di saat mereka tidak bisa memberikan perubahan dengan bergabungnya ke dalam lingkungan yang tidak baik, maka mengasingkan diri adalah pilihan yang tepat agar dia tidak terpengaruh olehnya lama-kelamaan. Bukan berarti tidak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, akan tetapi bagaimana agar intensitas berkumpulnya itu lebih banyak dengan lingkungan yang baik-baik. Perbanyak intensitas kita bersama dengan lingkungan yang baik daripada bersama dengan lingkungan yang tidak baik. Dan tetap membagun hubungan baik kepada semua lingkungan lainnya, akan tetapi intensitasnya tidak terlalu sering.

Pemuda Al-Kahfi modern adalah mereka yang jumlahnya tidak lah banyak, mereka berjumlah sedikit. Karena memang begitulah dari dulu hingga sekarang, orang yang memilih pada kebaikan-kebaikan itu tidak lah banyak, orang-orang yang menjadi pionir tidak lah banyak, orang-orang yang tercatat dalam sejarah tidak lah banyak. Akan tetapi sungguh beruntunglah orang-orang yang sedikit itu, apalagi mereka adalah seorang pemuda. Sehingga tidaklah heran jika dianggap asing bagi sebagian yang banyak, asing karena melakukan sebuah kesholihan, asing karena tidak mau melakukan kemaksiatan. Hal itu tidaklah mengapa ketika pemuda-pemuda yang sedikit itu dianggap asing, akan tetapi asing dalam keimanan.

Mudah-mudahan pemuda-pemuda seperti ini yang senantiasa menjaga keimanannya diberikan oleh Allah petunjuk pula selayaknya pemuda Al-Kahfi.

Wallahu A’lam
Jambi, 21 Mei 2013
Join with me :
On Twitter @dhipra_
Blog : goresandhipra.blogspot.com

Minggu, 12 Mei 2013

Umroh, Mungkin Aku Belum Pantas...

Sudah lama semenjak mendengar ada kegiatan Jalan Sehat dengan adanya ddor prize utama 3 buah Umroh berharap sekali dalam hati bisa mendapatkan door prize umroh itu. Sehingga dengan door prize umroh tersebut bisa menjadi sarana bagiku untuk menjalankan ibadah ke baitullah. Bersujud di tempat suci, di tempat yang penuh dengan keutamaan adalah sebuah impian setiap muslim untuk bisa mengerjakannya. Keinginan itu sangat sekali...

Jalan sehat pada hari minggu 12 Mei 2013 ini diselenggarakan oleh sebuah partai islam terbesar yang ada di Indonesia Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS sebagai partai nomor 4 di indonesia ini meskipun  pada tingkat pimpinan pusat sedang dilanda fitnah besar dan masalah besar, tapi itu tidak membuat struktur di bawah tingkat daerah  beserta kader-kadernya tidak terpengaruh atas hal tersebut. Mereka terus bekerja untuk masyarakat sebagai bukti bahwa PKS memang ingin dekat dengan masyarakat sesuai dengan Tag Line nya Cinta Kerja Harmoni. Aku yakin PKS akan menjadi partai besar dan lebih besar lagi. Salah satu buktinya dengan penyelenggaraan Jalan Sehat ini dengan adanya beberapa Door Prize yang dipersembahkan untuk masyarakat yang hadir.

3 Umroh sebagai hadiah terbesar, Door prize yang akan memfasilitasi ibadah ke tanah suci bagi 3 orang yang beruntuk di pagi hari itu. Aku hanya bisa berharap 1 dari tiga hadiah umroh itu aku lah yang mendapatkannya, supaya aku bisa pergi ke tanah suci sebaik-baiknya tempat di bumi ini. Dan ternyata undian demi undian yang diambil tidak ada dari door prize 3 umroh itu yang keluar sesuai dengan nomor undian yang aku pegang. Huft... Mungkin Allah belum memilih aku. Mungkin orang lain yang  lebih pantas.

Kita sebagai hamba hanya bisa berharap akan tetapi Allah lah yang menentukan apakah harapan kita dikabulkan atau ditangguhkan. Dia lah yang Maha Mengetahui, mengetahui siapa hamba-hambanya yang layak mendapatkan sesuatu yang terbaik dari-Nya pada suatu waktu. Dia lah yang Maha Kuasa, memiliki kehendak untuk memilih satu hambanya untuk mendapatkan sesuatu yang baik dari-Nya.

Mungkin ini bukan rizkiku untuk mendapatkan Door Prize Umroh itu. Mungkin aku belum pantas mendapatkan Door Prize umroh itu yang kemudian aku bisa pergi ke baitullah untuk melakukan ibadah di sana. Sesuatu itu didapatkan bagi orang yang pantas. Sesuatu yang terbaik tidak mungkin diambil oleh orang yang belum baik, maka baikilah terlebih dahulu agar pantas mendapatkan yang terbaik itu. Surga hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang pantas berada di surga, orang yang belum pantas meskipun muslim dia harus ke Neraka terlebih dahulu sampai benar-benar dia sudah pantas berada di surga. Atau juga mungkin karena aku masih banyak mengerjakan perbuatan maksiat sehingga membuat aku tidak pantas mendapatkan sesuatu yang terbaik itu, astaghfirullah...

Memantaskan diri untuk mendapatkan yang terbaik itu yang harus senantiasa dilakukan. Dengan memantaskan diri, ini merupakan bentuk usaha kita untuk mendapatkan yang terbaik itu, sehingga ketika kita mendapatkan yang terbaik kita dalam kondisi yang sama-sama baik dengannya. Di saat itu lah kita memang sudah pantas untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik itu. Dalam hal apapun itu, ketika ingin mendapatkan sesuatu yang baik, maka koreksi terlebih dahulu bagaimana dengan diri kita saat ini. Sudah pantas belum kita mendapatkannya, jika merasa belum lakukanlah sebuah usaha, lakukanlah perbaikan diri untuk mencapai kepantasan itu. ketika ingin mendapatkan surga kelak maka lakukanlah amalan surga ketika di dunia sebagai usaha mendapatkan kepantasan sebagai ahli surga. Bukan malah sebaliknya, menginginkan surga tapi lebih banyak melakukan amalan-amalan neraka.

Semoga aku bisa memantaskan diri dengan usaha-usaha yang ku lakukan sehingga kerinduan untuk beribadah di baitullah kelak bisa terwujud. Aamiin.....

“Saat berkah Allah berlimpah kepadamu
Apa yang kau nantikan selain menghampiri
rumah-Nya ridho-Nya di Baitullah
Tuntunilah hati

Saat kau memandang rumah-Nya di tanah-Nya
bagaikan istana yang megah dihatimu
turunlah rahmat-Nya kepadamu
seiring tangismu

Ya Allah beri kesempatan
menjadi tamu-Mu
bersujud di tanah suci-Mu
sebelum Izrail memanggil

Labayk Allahuma Labayk Labayk. La shareeka laka Labayk.
Innal hamda wannimata laka wal mulk.  La shareeka Labayk.

tegakkan niatmu
sekokoh ragamu”

Sambut Panggilan-Nya, SNADA


Sabtu, 11 Mei 2013

Maaf

Sepatah kata maaf memang tidak bisa mengembalikan kaca yang telah pecah
Yang telah hancur berkeping keping akibat kesalahanku
Tapi setidaknya melalui kata tersebutlah sebagai bentuk kesadaran bahwa aku memang telah melakukan sebuah kesalahan.

Seuntai kalimat maaf memang tidak bisa langsung mengobati luka
Akibat sayatan benda tajam yang tidak sengaja mengenaimu
Akan tetapi setidaknya melalui kalimat tersebut menjadi awal untuk bukti penyesalan ku bahwa aku pun tak berniat melukaimu.

Sederet kalimat-kalimat maaf memang tidak bisa memperbaiki cara pandang
Akibat terlalu banyaknya kesalahan-kesalahan yang selalu berulang
Akan tetapi setidaknya kalimat-kalimat tersebut menjadi awal yang selanjutnya akan mengganti kesalahanku dengan perbuatan-perbuatan yang lebih baik lagi.

Kata maaf tidak bisa mengembalikan butiran air mata yang telah jatuh
Untuk kembali ke dalam kelopak mata
Kata maaf tidak akan bisa memutarbalik waktu
Sehingga tidak melakukan sebuah kesalahan
Kesalahan itu telah terjadi,
Yang dibutuhkan sekarang adalah menyadari bahwa itu adalah sebuah bentuk kesalahan

Kata maaf terkadang sangat mudah terucap dari bibir ini
Sehingga terkesan hanya sekedar kata saja
Harapannya bukan begitu, ia tidak hanya di bibir saja
Ia harus terwujud dalam sebuah sikap
Untuk memberikan wujud keseriusan kata maaf itu.

Dengan ketulusan jiwa dan penyesalan dalam hati
Kata maaf pun terucap
Berharap bisa memperbaiki apa yang telah terjadi
Berharap tiada lagi dendam yang bersemayam dalam dada
Berharap ukhuwah masih senantiasa terjalin

Yudhi prasetyo
Jambi, 11 Mei 2013 

Minggu, 05 Mei 2013

Apakah aku pribadi yang kontroversial? He...


Setiap menulis dari dulu sampai sekarang, kok terkesan menimbulkan sesuatu yang kontroversi. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. Hehe.. Mohon pemaklumannya lah yaa, aku belum lah sepandai seorang penulis Salim A Fillah yang bisa dengan lembut menyampaikan tulisan-tulisannya. Yaa nama nya juga tahap belajar, belum bisa menahan emosi terkadang dalam setiap menulis satu tulisan. Dalam setiap paragraf belum pandai memilih kata-kata yang pas sehingga nantinya ketika dibaca tidak menimbulkan persepsi yang berbeda.

Kalo Salim A Fillah dalam menulis emang sangat enak sekali kelihatannya, ia mampu menuliskannya dengan lembut, mampu mengontrol emosinya. Sehingga hal tersebut membuat para pembacanya menjadi lembut pula. Sebagai contoh saat beliau menanggapi kicauannya Tokoh JIL Ulil Abshar di TwitterLand beberapa waktu yang telah lalu. Di saat orang-orang lain menanggapinya dengan panas akan kicauan ulil tersebut, Salim A Fillah menanggapinya dengan sebuah kultweet yang lembut yang ditujukan kepada Ulil. Dan akhirnya ulil pun tidak malu-malu mengucapkan maaf terhadap kicauannya terdahulu, mungkin berkat membaca mention nya  Salim A Fillah.

Menulis sangatlah sulit. Makanya butuh banyak belajar lagi, banyak menulis biar terbiasa dalam memadukan kata demi kata. Banyak membaca tulisan orang lain supaya dapat mencontoh gaya bahasa yang digunakannya ataupun mengambil pelajaran dari seorang penulis tersebut.

Banyak yang ingin di sampaikan oleh seorang penulis sebuah pesan-pesan kepada para pembacanya. Akan tetapi terkadang pesan itu tidak sampai kepada pembaca melalui tulisannya tersebut. Malahan mendapatkan pemahaman yang berbeda dengan maksud yang sebenarnya yang ingin di sampaikan penulis. Salah pembacanya yang tidak mampu menerjemahkan tulisan sama seperti apa yang diinginkan penulisnya ataukah salah penulisnya. Yang pertama salah adalah pasti penulisnya yang kurang mampu menulis dengan baik. Karena tulisan adalah sumber awal bagi informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Ada yang mengatakan penulis itu hanya menulis, selanjutnya mengenai persepsi maupun penilaian semuanya diserahkan kepada pembaca. Aku lupa secara persis siapa yang mengatakan ini, tetapi aku ingat ya kira-kira seperti itulah yang dikatakannya. Meskipun nanti ada bedah buku dari penulis untuk menjelaskan apa yang diinginkan penulis melalui tulisannya tersebut, bisa saja.

Terlepas dari sebuah kontroversi hasil tulisan. Selayaknya pembaca bisa menjadikan sebuah tulisan itu ya sebuah tulisan tanpa mengaitkan dengan penulisnya. Ketika tulisannya adalah sebuah nasihat maka jadikan dia sebagai sebuah nasihat, ataupun yang lainnya. Yang pasti seorang penulis ketika menuliskan sesuatu ia ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya. Mungkin penulis menginginkan sesuatu yang terbaik atau mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Jadi, bukan sebuah pembiaran yang dilakukan...

Wallahu a’lam
Yudhi prasetyo
Jambi, 06 mei 2013 

Sabtu, 04 Mei 2013

Di jalan Dakwah Aku Menikah | Di Jalan Nikah Aku Futur?


Dalam bait lagu thufail al-ghifari berbunyi “gak usah ngomong Jihad lah, jihad yang aduhai aja gak berani, gimana mau bicara jihad kayak di palestina”, menikah saja gak berani maksudnya tuh. Mungkin ada seorang aktifis dakwah yang tertantang dengan kalimat tersebut. Atau tertantang dengan ejekan-ejekan teman-temannya atau tantangan-tantangan yang lainnya. Sehingga tantangan tersebut membuat dia memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikah. Motivasi yang tinggi tentang menikah dari teman-teman atau yang lainnya semakin menguatkan dia untuk menikah. Yaa... meskipun biaya nikah masih pas-pasan atau belum punya pekerjaan tetap, atau malah masih kuliah. Tapi itu semua tidaklah menjadi hambatan baginya untuk menikah, menikah di jalan dakwah. Maju terus, pantang mundur untuk menikah.

“ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah, tapi ya gitulah ngaji pulang ngaji pulang, habis walimah hilang !” masih di dalam bait lagu thufail lanjutan dari yg sebelumnya. Nah, kalo begitu gimana? Kenapa menghilang setelah menikah, atau hanya sekedar ngaji pulang ngaji pulang. Kenapa tidak aktif lagi dalam aktiftas dakwah atau berkurangnya menjalankan aktifitas dakwah? Dengan alasan mengurusi keluarga lah atau yang lain lah sehingga membuatnya sedikit mengurangi aktifitas dakwahnya atau bahkan hilang dari aktifitas dakwah. Sungguh disayangkan.

Di jalan dakwah aku menikah dan di jalan menikah aku futur, Kenapa?

Ini lah fenomenanya, ternyata menikah juga merupakan bagian dari seleksi para aktifis dakwah, menyeleksi mana yang akan terus aktif dan mana yang akan terhenti atau berkurang. Menikah menjadikan SEBAGIAN KECIL aktifis dakwah untuk berhenti atau mengurangi aktifitas-aktiftas dakwahnya. Aktifitas dakwah yang dulu ketika sebelum menikah sangat semangat sekali dia kerjakan. Dengan menjadi ini di sana, menjadi ini di sini dan menjadi ini itu di sana sini, mengisi ini dan itu pun di sana sini. Sungguh terasa produktif sekali hari-harinya ketika masih lajang. Wajar emang ketika lajang kan memang belum banyak yang dipikirkan, belum banyak beban yang harus dipikulnya sehingga bebas dalam menjalankan aktifitas dakwah.

“Dimana ya si fulan kok jarang muncul ya sekarang, padahal biasaya dia paling aktifkan dari kite-kite nih?” tanya seorang al-akh kepada teman sampingnya saat ngobrol-ngobrol ringan  di sebuah warung makan.
“oh iya, dia jarang nampak ya semenjak walimahannya kemarin, tapi sih kalo halaqohnya masih jalan kok kata temen sekelompoknya” jawab al-akh yang lain.
“hm... gitu ya, ya lah mungkin karena ada keperluaan atau kesibukan yang lain kali ya, sehingga membuat dia tidak hadir dalam setiap kegiatan” sambutnya lagi.
“iya kita berhusnuzhon saja terhadap beliau, mudah-mudahan urusannya selalu dipermudah dan bisa aktif kembali” pungkas salah seorang teman lainnya.

Sangat disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah menjadi terhenti langkahnya di saat setelah menikah. Padahal dengan jalan menikah, dengan bersatunya dua insan aktifis dakwah dalam satu keluarga mereka seharusnya bisa saling menguatkan. Menguatkan untuk terus bersama aktifitas-aktifitas dakwah bukan nya malah futur (berkurang aktifitasnya) atau malah hilang sama sekali. Berdua seharusnya lebih asyik, berdua seharusnya lebih semangat.

“Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh” dalam sebuah kredo KAMMI. Kita adalah aktifis dakwah yang lahir dari dakwah, yang seharusnya akan selalu bersama dakwah baik dalam keadaan luang ataupun sempit, dalam keadaan senang ataupun sedih, lajang ataupun setelah menikah.

Sangat disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah yang telah dibentuk dan dibesarkan oleh dakwah akan tetapi turun aktifitasnya bahkan tidak aktif lagi di aktifitas-aktifitas dakwah setelah menikah. Dua aktifis dakwah yang telah disatukan dalam ikatan pernikahan seharusnya menjadi mereka semakin kokoh dakwahnya, saling menguatkan satu sama lain bukan saling melemahkan. Saling memotivasi untuk selalu aktif bukan malah saling mengendorkan semangat.  Dua insan yang seharusnya bisa memadukan komitmen untuk terus aktif dan tidak berkurang dalam dakwah dan segala aktifitas-aktifitasnya.

Sebuah pemahaman yang telah ternanam dalam diri bagi sepasang suami istri aktifis dakwah seharusnya selalu ada dalam dirinya. Apalagi dua-duanya adalah aktifis dakwah, yang telah lama paham betul tentang dakwah. Pemahaman tentang dakwah, pentingnya dakwah, dan motivasi-motivasi dakwah pasti telah ada dalam diri semenjak pemahaman tersebut ditanamkan dalam dirinya dahulu ketika masih sendiri, belum menikah. Motivasi dakwah seharusnya yang akan menggerakkan mereka untuk selalu istiqomah bersama barisan dakwah dan membangunnya (tidak hanya sekedar bergabung). Bagaimanapun sibuknya aktifitas kerja dan keluarga karena telah paham tentang motivasi dakwah, seharusnya sangat sayang bagi dirinya untuk meninggalkan barisan dakwah ini.

Motivasi dakwah seharusnya bisa mengalahkan sikap egoisme dalam diri yang menimbulkan sebuah alasan kenapa aktifitasnya berkurang bahkan tidak aktif lagi. Bisa mengalahkan beribu-ribu alasan yang bisa membuat berkurangnya aktifitas dakwahnya. Sehingga tidaklah ada yang berubah intensitas dakwahnya baik sebelum menikah maupun setelah menikah.

Motivasi dakwah seharusnya bisa mengalahkan aktifitas yang semakin banyak setelah menikah. Mengurusi keluarga, anak, suami/istri, pekerjaan, penghasilan, dan sebagainya tidak membuatnya sebagai hambatan akan tetapi menjadi sebuah tantangan yang akan menimbulkan sebuah manajemen diri dan keluarga. Sehingga dengan begitu muncullah sebuah penyeimbangan antara keluarga dan dakwahnya.

Motivasi dakwah seharusnya membuat mereka semakin optimis akan selalu dipermudah urusan keluarganya, karena mereka tetap bersama aktifitas-aktifitas dakwah menolong agama Allah. “hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah. Niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S : Muhammad : 7)

“ah penulis mah emang enak bisa ngomong gitu, belum nikah sih.... jadi belum bisa ngerasain bagaimana nanti ketika setelah menikah. Coba kalo sudah nikah palingan gak bisa dia ngomong begitu. Sudah nikah baru tau bagaimana kesibukan rumah tangga, ngurus rumah tangga, ngurus suami/istri, cari penghasilan dan kesibukan-kesibukan lain. Lah, sekarang masih single...ya wajarlah kalo mobilitas nya tinggi. Belum ada tanggungan, masih gak ada beban yang dia rasakan”

Mungkin begitu kira-kira bagi sebagian orang ketika selesai membaca tulisan ini.
Dan memang penulis belum lah menikah jadi memang belum tahu bagaimana rasanya berkeluarga, bagaimana kesibukan berumah tangga. Penulis menyadari betul akan hal itu, akan tetapi selayaknya penulis ingin menjadikan tulisan ini sebagai pengingat bagi pembaca dan bagi penulis sendiri terutama, untuk hari ini, esok dan seterusnya. Penulis juga tidak tau bagaimana kondisi penulis esok ketika setelah menikah, masih tetap seperti ini atau malah berkurang bahkan menghilang seperti yang digambarkan di atas. Jadi ini hanya sebagai pengingat. Dan ketika kelak penulis pun menjadi sama seperti sebagian kecil tersebut, berarti penulis telah kalah melawan egosime nya sendiri, bukan salah dari siapa-siapa. Karena untuk aktif dan tidak merupkan pilihan diri sendiri.

Pengingat bagi yang sudah maupun yang belum menikah. Yakinlah ketika kita tidak menghendaki atau takut untuk melakukan sebuah kesalahan. Dan ketakutan itu semakin kuat maka dengan sendirinya kita akan berusaha untuk menjauhi atau menghindari kesalahan tersebut. Sehingga kita menjadi istiqomah berada pada komitmen kita untuk berada pada jalan yang kita yakini benar. Karena masih banyak atau sebagian besar aktifis dakwah yang setelah menikah mereka masih konsisten berada dalam jalan dakwah dan aktifitas-aktifitasnya. Mereka suami istri malah bisa saling menguatkan sehingga geraknya lebih dahsyat setelah menikah.

Wallahu a’lam, mohon maaf jika ada yang salah.. CMIIW
Jambi, 04 Mei 2013
Yudhi Prasetyo 

Jumat, 03 Mei 2013

Yang besar dimulai dari yang kecil

Pertemuan (Taklim) II di STIKOM DB Jambi


Sesuatu yang besar selayaknya tidak langsung dilihat ketika ia sudah menjadi besar. Untuk menjadi besar pastilah sebelumnya banyak yang diakukan, banyak yang dikorbankan oleh orang-orang yang memiliki cita-cita menjadikannya besar. Sesuatu yang besar itu bisa berupa organisasi, usaha, dan sebagainya. Penulis pada kesempatan tulisan ini berbicara mengenai besarnya sebuah organisasi.

Ketika telah menjadi besar  kita akan melihat ia memiliki jumlah orang yang banyak yang tergabung kepadanya dan banyak yang mengenalnya.  Padahal sebelumnya ketika memulai untuk menjadi besar seperti itu ia hanya digerakan oleh beberapa orang saja. Yakni orang-orang yang peduli untuk menjadikannya besar. Mungkin kelihatan aneh, asing ketika di waktu awal dulu melakukan kegiatan-kegiatan yang sekarang telah menjadi besar.

Ketika telah menjadi besar kita akan melihat bagaimana aktifnya sesuatu yang besar itu dengan kegiatan-kegiatanya, publikasinya, dan sebagainya. Padahal pada awalnya dulu ia dengan beberapa kegiatan kecil saja yang dijalankan oleh beberapa orang tadi.

Dengan rasa kepedulian besar untuk menjadikannya besar yang menggerakan hati beberapa orang menjadi langkah-langkah kecil yang nyata. Dengan rasa kepedulian di hati akan menggerakan langkah sebagai bentuk ikhtiar (usaha) untuk mewujudkan organisasi nya menjadi besar.  Sebuah azam (tekad) yang besar telah menghujam dalam diri beberapa orang untuk berjuang semaksimal mungkin menghidupkannya.

Yudhi Prasetyo
STIKOM Dinamika Bangsa Jambi, 03 Mei 2013

Kamis, 02 Mei 2013

Semua berawal dari sini

Semua yang besar pasti akan dimulai dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu. Cita-cita besar akan terwujud dengan sebuah langkah kecil nyata untuk mengawali mewujudkannya. Tidak banyak orang yang berani untuk memulai biasanya, krn mereka tau bagaimana sulitnya untuk memulai. Hanya orang-orang yang sedikitlah yang berani untuk menjadi pioner.

Seorang pioner dialah yang sangat berjasa dalam mewujudkan sebuah cita-cita besar. Seorang pioner dialah yang berani memulai langkah kecil untuk mewujudkan sebuah cita-cita besar. Seorang pioner meskipun dengan sumber daya yang minim dia akan melakukannya untuk membuat langkah kecil.

Jangan takut untuk memulai, meskipun banyak kendala yang dihadapi di awal. Ingatlah karena ini adalah merintis maka pasti banyak kekurangan yang kita punyai, beda hal ketika telah besar wajar jika semuanya telah lengkap dalam melakukan sesuatu.

Semua berawal dari sini. Dari niat yang kuat kita untuk mewujudkan cita-cita besar kita itu. kemudian dilanjutkan dengan sebuah langkah awal merealisasikan niat tersebut. Niat yang kuat dan ikhtiar. Mudah-mudahan apa-apa yang kita impikan semuanya akan terwujud, dan menyamai dengan yang lain bahkan lebih besar dari yang lain.

Yudhi Prasetyo,
Jambi 30 April 2013

Rabu, 01 Mei 2013

Belajar di Universitas Kehidupan, -4

#Seorang anak penjual koran.

Nasibku mungkin tidak seperti seorang anak itu. Tidak juga terjadi pada adik-adikku. Di saat anak yang lain asyik dg dunia bermainnya, belajar di sekolah tapi dia sibuk mencari sejumlah uang dengan berjualan koran di simpang-simpang lampu merah. Nasibku dulu  jauh lebih baik dari seorang anak itu, aku bisa sekolah tanpa harus memikirkan bagaimana aku mendapatkan uang. Yang penting, ketika butuh uang untuk jajan atau bayar uang sekolah yaa tinggal minta aja dengan ibu ku. Pada waktu itu kerjaku ya hanya sekolah, belajar, bermain, urusan biaya sekolah aku serahkan semuanya kepada orang tuaku. Begitu juga dengan adik-adikku yang tidak pernah memikirkan mencari uang di saat masa sekolahnya. Aku dan adik-adikku lebih baik nasibnya sepertinya, karena kami bisa menikmati masa-masa kami. Masa anak-anak yang disibukan dengan bermain, masa-masa sebagai siswa yang disibukkan dengan sekolah dan belajar. Itu saja aktifitas kami, kami tidak diberikan beban oleh kedua orang tua kami untuk mencari uang. Jangankan untuk membiayai kebutuhan keluarga, untuk biaya sekolah dan uang jajan kami pun tidak dibebankan kepada kami untuk mencari sendiri. Alangkah enaknya hidup kami, Alhamdulillah.

Anak itu, aku mengambil fotonya di sebuah simpang lampu merah Pertamina Kenali Asam Bawah. Dengan wajahnya yang terlihat capek mungkin karena menahan haus. Dengan matanya yang menahan silau sinar matahari dia tawarkan koran yang ada di tanganya itu kepada pengendara mobil atau motor yang sedang berhenti menunggu lampu merah. Dengan semangat menghabiskan koran yang ada di tangannya ia tidak malu-malu untuk menghampiri pengendara mobil atau motor yang satu ke pengendara-pengendara lainnya. Wajah yang terlihat hitam karena di sengat matahari tidak ia pedulikan, baginya ia dapat menghabiskan semua koran nya hari ini. Dengan begitu ia bisa pulang dengan membawa penghasilan yang banyak.

Anak itu, tidaklah memiliki nasib yang sama dengan aku dan anak-anak yang lain. Di usianya yang segini dia telah diberikan beban untuk mencari penghasilan. Dan aku yakin masih banyak anak-anak yang bernasib sama seperti dia di bumi sepucuk jambi sembilan lurah ini. Anak-anak yang sudah dibebankan mencari nafkah dengan berjualan koran di simpang-simpang jalan, ataupun dengan pekerjaan yang lain. Padahal pada usianya yang segini seharusnya disibukkan dengan dunia bermain dan menuntut ilmu untuk masa depannya yang cerah. Tapi mungkin kondisi latar belakang keluarganya yang memaksa dia untuk jadi seperti ini. Yang memaksa untuk tidak bermain-main seperti anak-anak lainnya bahkan memaksa dia untuk tidak bersekolah. Mungkin dia pun tidak menginginkan kondisi yang seperti itu, panas-panasan berjualan di simpang lampu merah. Merelakan waktu bermainnya dengan mengganti untuk mencari uang

Aku tidak tau secara persisi bagaimana latar belakang ekonomi keluarga sang anak itu. Bagaimana kondisi orang tuanya. Berapa orang dan bagaimana kondisi saudaranya. Yang pasti, sepertinya kondisi latar belakang ekonomi keluarganyalah yang memaksa dia harus seperti itu, turut mencari uang sebagai tambahan nafkah keluarganya. Bersyukur anak itu mencari uangnya dengan cara yang halal, di saat cara-cara yang haram berseliweran di sekitarnya. Cara yang halal semoga terus dijalankannya meskipun sangat susah, letih, capek harus dirasakan setiap harinya. Meskipun ada cara-cara yang gampang, tidak merasakan capek tapi haram.

Seorang anak yang telah memahami pahitnya kehidupan, di saat anak-anak yang lain masih merasakan manis dunianya. Seorang anak yang telah memahami bagaimana sulitnya mencari uang di saat anak-anak lain yang taunya hanya sekedar meminta kepada orang tuanya. Seorang anak yang telah memahami bagaimana konsep dan cara bersyukur dengan sesuatu yang telah ia dapatkan di saat anak-anak lainnya banyak menghambur-hamburkan apa yang dimilikinya. Seorang anak yang telah mampu melakukan sebuah pengorbanan di saat anak-anak lainnya yang taunya hanya bersandar kepada orang lain. Seorang anak yang telah memahami bagaimana dia harus mandiri di saat anak-anak lainnya masih dimanja oleh orang tuanya.

Sungguh, nasibku tidak seperti sang anak itu. Aku tidak pernah merasakan bagaimana seperti dia di saat umur ku sama dengan dia dulu. Aku bisa mengenyam pendidikan yang baik dan lancar tanpa ada hambatan biaya sedikitpun, berbeda dengan dia. Dengan pendidikan yang telah ku miliki aku pun bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dengan tingkat kelelahan yang tidak begitu banyak, berbeda dengan dia. Semoga pada dirinya masih tersimpan sebuah cita-cita tinggi untuk masa depannya. Yang dengan cita-citanya tersebut dia terus berjuang melalui masalah-masalah hidup yang sedang ia dan keluarganya hadapi.

Terus berjuang wahai sang anak, berjuang menaklukan teriknya matahari. Berjuang menaklukan rasa hausmu. Berjuang menghadapi kerikil-kerikil kehidupan dalam hidupmu. Yang dengan hasil perjuanganmu itu bisa memberikan yang terbaik bagi keluargamu, ayah ibu mu, dan saudara-saudaramu.

#BelajarNulis
Yudhi Prasetyo
Jambi, 02 Mei 2013