Dalam
bait lagu thufail al-ghifari berbunyi “gak usah ngomong Jihad lah, jihad yang
aduhai aja gak berani, gimana mau bicara jihad kayak di palestina”, menikah
saja gak berani maksudnya tuh. Mungkin ada seorang aktifis dakwah yang
tertantang dengan kalimat tersebut. Atau tertantang dengan ejekan-ejekan
teman-temannya atau tantangan-tantangan yang lainnya. Sehingga tantangan
tersebut membuat dia memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orang tuanya untuk
menikah. Motivasi yang tinggi tentang menikah dari teman-teman atau yang
lainnya semakin menguatkan dia untuk menikah. Yaa... meskipun biaya nikah masih
pas-pasan atau belum punya pekerjaan tetap, atau malah masih kuliah. Tapi itu
semua tidaklah menjadi hambatan baginya untuk menikah, menikah di jalan dakwah.
Maju terus, pantang mundur untuk menikah.
“ya
tapi akhirnya ada juga yang berani walimah, tapi ya gitulah ngaji pulang ngaji
pulang, habis walimah hilang !” masih di dalam bait lagu thufail lanjutan dari
yg sebelumnya. Nah, kalo begitu gimana? Kenapa menghilang setelah menikah, atau
hanya sekedar ngaji pulang ngaji pulang. Kenapa tidak aktif lagi dalam aktiftas
dakwah atau berkurangnya menjalankan aktifitas dakwah? Dengan alasan mengurusi
keluarga lah atau yang lain lah sehingga membuatnya sedikit mengurangi aktifitas
dakwahnya atau bahkan hilang dari aktifitas dakwah. Sungguh disayangkan.
Di
jalan dakwah aku menikah dan di jalan menikah aku futur, Kenapa?
Ini
lah fenomenanya, ternyata menikah juga merupakan bagian dari seleksi para
aktifis dakwah, menyeleksi mana yang akan terus aktif dan mana yang akan
terhenti atau berkurang. Menikah menjadikan SEBAGIAN KECIL aktifis dakwah untuk
berhenti atau mengurangi aktifitas-aktiftas dakwahnya. Aktifitas dakwah yang
dulu ketika sebelum menikah sangat semangat sekali dia kerjakan. Dengan menjadi
ini di sana, menjadi ini di sini dan menjadi ini itu di sana sini, mengisi ini
dan itu pun di sana sini. Sungguh terasa produktif sekali hari-harinya ketika
masih lajang. Wajar emang ketika lajang kan memang belum banyak yang dipikirkan,
belum banyak beban yang harus dipikulnya sehingga bebas dalam menjalankan
aktifitas dakwah.
“Dimana
ya si fulan kok jarang muncul ya sekarang, padahal biasaya dia paling aktifkan
dari kite-kite nih?” tanya seorang al-akh kepada teman sampingnya saat
ngobrol-ngobrol ringan di sebuah warung
makan.
“oh
iya, dia jarang nampak ya semenjak walimahannya kemarin, tapi sih kalo
halaqohnya masih jalan kok kata temen sekelompoknya” jawab al-akh yang lain.
“hm...
gitu ya, ya lah mungkin karena ada keperluaan atau kesibukan yang lain kali ya,
sehingga membuat dia tidak hadir dalam setiap kegiatan” sambutnya lagi.
“iya
kita berhusnuzhon saja terhadap beliau, mudah-mudahan urusannya selalu
dipermudah dan bisa aktif kembali” pungkas salah seorang teman lainnya.
Sangat
disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah menjadi terhenti langkahnya di
saat setelah menikah. Padahal dengan jalan menikah, dengan bersatunya dua insan
aktifis dakwah dalam satu keluarga mereka seharusnya bisa saling menguatkan.
Menguatkan untuk terus bersama aktifitas-aktifitas dakwah bukan nya malah futur
(berkurang aktifitasnya) atau malah hilang sama sekali. Berdua seharusnya lebih
asyik, berdua seharusnya lebih semangat.
“Kami
adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun
perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang
paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh” dalam sebuah kredo KAMMI.
Kita adalah aktifis dakwah yang lahir dari dakwah, yang seharusnya akan selalu
bersama dakwah baik dalam keadaan luang ataupun sempit, dalam keadaan senang
ataupun sedih, lajang ataupun setelah menikah.
Sangat
disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah yang telah dibentuk dan
dibesarkan oleh dakwah akan tetapi turun aktifitasnya bahkan tidak aktif lagi
di aktifitas-aktifitas dakwah setelah menikah. Dua aktifis dakwah yang telah
disatukan dalam ikatan pernikahan seharusnya menjadi mereka semakin kokoh
dakwahnya, saling menguatkan satu sama lain bukan saling melemahkan. Saling memotivasi
untuk selalu aktif bukan malah saling mengendorkan semangat. Dua insan yang seharusnya bisa memadukan
komitmen untuk terus aktif dan tidak berkurang dalam dakwah dan segala
aktifitas-aktifitasnya.
Sebuah
pemahaman yang telah ternanam dalam diri bagi sepasang suami istri aktifis
dakwah seharusnya selalu ada dalam dirinya. Apalagi dua-duanya adalah aktifis
dakwah, yang telah lama paham betul tentang dakwah. Pemahaman tentang dakwah,
pentingnya dakwah, dan motivasi-motivasi dakwah pasti telah ada dalam diri
semenjak pemahaman tersebut ditanamkan dalam dirinya dahulu ketika masih
sendiri, belum menikah. Motivasi dakwah seharusnya yang akan menggerakkan
mereka untuk selalu istiqomah bersama barisan dakwah dan membangunnya (tidak
hanya sekedar bergabung). Bagaimanapun sibuknya aktifitas kerja dan keluarga
karena telah paham tentang motivasi dakwah, seharusnya sangat sayang bagi
dirinya untuk meninggalkan barisan dakwah ini.
Motivasi
dakwah seharusnya bisa mengalahkan sikap egoisme dalam diri yang menimbulkan
sebuah alasan kenapa aktifitasnya berkurang bahkan tidak aktif lagi. Bisa
mengalahkan beribu-ribu alasan yang bisa membuat berkurangnya aktifitas
dakwahnya. Sehingga tidaklah ada yang berubah intensitas dakwahnya baik sebelum
menikah maupun setelah menikah.
Motivasi
dakwah seharusnya bisa mengalahkan aktifitas yang semakin banyak setelah
menikah. Mengurusi keluarga, anak, suami/istri, pekerjaan, penghasilan, dan
sebagainya tidak membuatnya sebagai hambatan akan tetapi menjadi sebuah
tantangan yang akan menimbulkan sebuah manajemen diri dan keluarga. Sehingga
dengan begitu muncullah sebuah penyeimbangan antara keluarga dan dakwahnya.
Motivasi
dakwah seharusnya membuat mereka semakin optimis akan selalu dipermudah urusan
keluarganya, karena mereka tetap bersama aktifitas-aktifitas dakwah menolong
agama Allah. “hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah.
Niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S : Muhammad : 7)
“ah
penulis mah emang enak bisa ngomong gitu, belum nikah sih.... jadi belum bisa
ngerasain bagaimana nanti ketika setelah menikah. Coba kalo sudah nikah
palingan gak bisa dia ngomong begitu. Sudah nikah baru tau bagaimana kesibukan
rumah tangga, ngurus rumah tangga, ngurus suami/istri, cari penghasilan dan
kesibukan-kesibukan lain. Lah, sekarang masih single...ya wajarlah kalo
mobilitas nya tinggi. Belum ada tanggungan, masih gak ada beban yang dia
rasakan”
Mungkin
begitu kira-kira bagi sebagian orang ketika selesai membaca tulisan ini.
Dan
memang penulis belum lah menikah jadi memang belum tahu bagaimana rasanya
berkeluarga, bagaimana kesibukan berumah tangga. Penulis menyadari betul akan
hal itu, akan tetapi selayaknya penulis ingin menjadikan tulisan ini sebagai
pengingat bagi pembaca dan bagi penulis sendiri terutama, untuk hari ini, esok
dan seterusnya. Penulis juga tidak tau bagaimana kondisi penulis esok ketika
setelah menikah, masih tetap seperti ini atau malah berkurang bahkan menghilang
seperti yang digambarkan di atas. Jadi ini hanya sebagai pengingat. Dan ketika
kelak penulis pun menjadi sama seperti sebagian kecil tersebut, berarti penulis
telah kalah melawan egosime nya sendiri, bukan salah dari siapa-siapa. Karena
untuk aktif dan tidak merupkan pilihan diri sendiri.
Pengingat
bagi yang sudah maupun yang belum menikah. Yakinlah ketika kita tidak
menghendaki atau takut untuk melakukan sebuah kesalahan. Dan ketakutan itu
semakin kuat maka dengan sendirinya kita akan berusaha untuk menjauhi atau
menghindari kesalahan tersebut. Sehingga kita menjadi istiqomah berada pada
komitmen kita untuk berada pada jalan yang kita yakini benar. Karena masih
banyak atau sebagian besar aktifis dakwah yang setelah menikah mereka masih
konsisten berada dalam jalan dakwah dan aktifitas-aktifitasnya. Mereka suami
istri malah bisa saling menguatkan sehingga geraknya lebih dahsyat setelah
menikah.
Wallahu
a’lam, mohon maaf jika ada yang salah.. CMIIW
Jambi,
04 Mei 2013
Yudhi
Prasetyo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar