Sabtu, 04 Mei 2013

Di jalan Dakwah Aku Menikah | Di Jalan Nikah Aku Futur?


Dalam bait lagu thufail al-ghifari berbunyi “gak usah ngomong Jihad lah, jihad yang aduhai aja gak berani, gimana mau bicara jihad kayak di palestina”, menikah saja gak berani maksudnya tuh. Mungkin ada seorang aktifis dakwah yang tertantang dengan kalimat tersebut. Atau tertantang dengan ejekan-ejekan teman-temannya atau tantangan-tantangan yang lainnya. Sehingga tantangan tersebut membuat dia memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikah. Motivasi yang tinggi tentang menikah dari teman-teman atau yang lainnya semakin menguatkan dia untuk menikah. Yaa... meskipun biaya nikah masih pas-pasan atau belum punya pekerjaan tetap, atau malah masih kuliah. Tapi itu semua tidaklah menjadi hambatan baginya untuk menikah, menikah di jalan dakwah. Maju terus, pantang mundur untuk menikah.

“ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah, tapi ya gitulah ngaji pulang ngaji pulang, habis walimah hilang !” masih di dalam bait lagu thufail lanjutan dari yg sebelumnya. Nah, kalo begitu gimana? Kenapa menghilang setelah menikah, atau hanya sekedar ngaji pulang ngaji pulang. Kenapa tidak aktif lagi dalam aktiftas dakwah atau berkurangnya menjalankan aktifitas dakwah? Dengan alasan mengurusi keluarga lah atau yang lain lah sehingga membuatnya sedikit mengurangi aktifitas dakwahnya atau bahkan hilang dari aktifitas dakwah. Sungguh disayangkan.

Di jalan dakwah aku menikah dan di jalan menikah aku futur, Kenapa?

Ini lah fenomenanya, ternyata menikah juga merupakan bagian dari seleksi para aktifis dakwah, menyeleksi mana yang akan terus aktif dan mana yang akan terhenti atau berkurang. Menikah menjadikan SEBAGIAN KECIL aktifis dakwah untuk berhenti atau mengurangi aktifitas-aktiftas dakwahnya. Aktifitas dakwah yang dulu ketika sebelum menikah sangat semangat sekali dia kerjakan. Dengan menjadi ini di sana, menjadi ini di sini dan menjadi ini itu di sana sini, mengisi ini dan itu pun di sana sini. Sungguh terasa produktif sekali hari-harinya ketika masih lajang. Wajar emang ketika lajang kan memang belum banyak yang dipikirkan, belum banyak beban yang harus dipikulnya sehingga bebas dalam menjalankan aktifitas dakwah.

“Dimana ya si fulan kok jarang muncul ya sekarang, padahal biasaya dia paling aktifkan dari kite-kite nih?” tanya seorang al-akh kepada teman sampingnya saat ngobrol-ngobrol ringan  di sebuah warung makan.
“oh iya, dia jarang nampak ya semenjak walimahannya kemarin, tapi sih kalo halaqohnya masih jalan kok kata temen sekelompoknya” jawab al-akh yang lain.
“hm... gitu ya, ya lah mungkin karena ada keperluaan atau kesibukan yang lain kali ya, sehingga membuat dia tidak hadir dalam setiap kegiatan” sambutnya lagi.
“iya kita berhusnuzhon saja terhadap beliau, mudah-mudahan urusannya selalu dipermudah dan bisa aktif kembali” pungkas salah seorang teman lainnya.

Sangat disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah menjadi terhenti langkahnya di saat setelah menikah. Padahal dengan jalan menikah, dengan bersatunya dua insan aktifis dakwah dalam satu keluarga mereka seharusnya bisa saling menguatkan. Menguatkan untuk terus bersama aktifitas-aktifitas dakwah bukan nya malah futur (berkurang aktifitasnya) atau malah hilang sama sekali. Berdua seharusnya lebih asyik, berdua seharusnya lebih semangat.

“Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh” dalam sebuah kredo KAMMI. Kita adalah aktifis dakwah yang lahir dari dakwah, yang seharusnya akan selalu bersama dakwah baik dalam keadaan luang ataupun sempit, dalam keadaan senang ataupun sedih, lajang ataupun setelah menikah.

Sangat disayangkan sekali ketika seorang aktifis dakwah yang telah dibentuk dan dibesarkan oleh dakwah akan tetapi turun aktifitasnya bahkan tidak aktif lagi di aktifitas-aktifitas dakwah setelah menikah. Dua aktifis dakwah yang telah disatukan dalam ikatan pernikahan seharusnya menjadi mereka semakin kokoh dakwahnya, saling menguatkan satu sama lain bukan saling melemahkan. Saling memotivasi untuk selalu aktif bukan malah saling mengendorkan semangat.  Dua insan yang seharusnya bisa memadukan komitmen untuk terus aktif dan tidak berkurang dalam dakwah dan segala aktifitas-aktifitasnya.

Sebuah pemahaman yang telah ternanam dalam diri bagi sepasang suami istri aktifis dakwah seharusnya selalu ada dalam dirinya. Apalagi dua-duanya adalah aktifis dakwah, yang telah lama paham betul tentang dakwah. Pemahaman tentang dakwah, pentingnya dakwah, dan motivasi-motivasi dakwah pasti telah ada dalam diri semenjak pemahaman tersebut ditanamkan dalam dirinya dahulu ketika masih sendiri, belum menikah. Motivasi dakwah seharusnya yang akan menggerakkan mereka untuk selalu istiqomah bersama barisan dakwah dan membangunnya (tidak hanya sekedar bergabung). Bagaimanapun sibuknya aktifitas kerja dan keluarga karena telah paham tentang motivasi dakwah, seharusnya sangat sayang bagi dirinya untuk meninggalkan barisan dakwah ini.

Motivasi dakwah seharusnya bisa mengalahkan sikap egoisme dalam diri yang menimbulkan sebuah alasan kenapa aktifitasnya berkurang bahkan tidak aktif lagi. Bisa mengalahkan beribu-ribu alasan yang bisa membuat berkurangnya aktifitas dakwahnya. Sehingga tidaklah ada yang berubah intensitas dakwahnya baik sebelum menikah maupun setelah menikah.

Motivasi dakwah seharusnya bisa mengalahkan aktifitas yang semakin banyak setelah menikah. Mengurusi keluarga, anak, suami/istri, pekerjaan, penghasilan, dan sebagainya tidak membuatnya sebagai hambatan akan tetapi menjadi sebuah tantangan yang akan menimbulkan sebuah manajemen diri dan keluarga. Sehingga dengan begitu muncullah sebuah penyeimbangan antara keluarga dan dakwahnya.

Motivasi dakwah seharusnya membuat mereka semakin optimis akan selalu dipermudah urusan keluarganya, karena mereka tetap bersama aktifitas-aktifitas dakwah menolong agama Allah. “hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah. Niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S : Muhammad : 7)

“ah penulis mah emang enak bisa ngomong gitu, belum nikah sih.... jadi belum bisa ngerasain bagaimana nanti ketika setelah menikah. Coba kalo sudah nikah palingan gak bisa dia ngomong begitu. Sudah nikah baru tau bagaimana kesibukan rumah tangga, ngurus rumah tangga, ngurus suami/istri, cari penghasilan dan kesibukan-kesibukan lain. Lah, sekarang masih single...ya wajarlah kalo mobilitas nya tinggi. Belum ada tanggungan, masih gak ada beban yang dia rasakan”

Mungkin begitu kira-kira bagi sebagian orang ketika selesai membaca tulisan ini.
Dan memang penulis belum lah menikah jadi memang belum tahu bagaimana rasanya berkeluarga, bagaimana kesibukan berumah tangga. Penulis menyadari betul akan hal itu, akan tetapi selayaknya penulis ingin menjadikan tulisan ini sebagai pengingat bagi pembaca dan bagi penulis sendiri terutama, untuk hari ini, esok dan seterusnya. Penulis juga tidak tau bagaimana kondisi penulis esok ketika setelah menikah, masih tetap seperti ini atau malah berkurang bahkan menghilang seperti yang digambarkan di atas. Jadi ini hanya sebagai pengingat. Dan ketika kelak penulis pun menjadi sama seperti sebagian kecil tersebut, berarti penulis telah kalah melawan egosime nya sendiri, bukan salah dari siapa-siapa. Karena untuk aktif dan tidak merupkan pilihan diri sendiri.

Pengingat bagi yang sudah maupun yang belum menikah. Yakinlah ketika kita tidak menghendaki atau takut untuk melakukan sebuah kesalahan. Dan ketakutan itu semakin kuat maka dengan sendirinya kita akan berusaha untuk menjauhi atau menghindari kesalahan tersebut. Sehingga kita menjadi istiqomah berada pada komitmen kita untuk berada pada jalan yang kita yakini benar. Karena masih banyak atau sebagian besar aktifis dakwah yang setelah menikah mereka masih konsisten berada dalam jalan dakwah dan aktifitas-aktifitasnya. Mereka suami istri malah bisa saling menguatkan sehingga geraknya lebih dahsyat setelah menikah.

Wallahu a’lam, mohon maaf jika ada yang salah.. CMIIW
Jambi, 04 Mei 2013
Yudhi Prasetyo 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar