Nasibku mungkin tidak seperti seorang anak itu. Tidak
juga terjadi pada adik-adikku. Di saat anak yang lain asyik dg dunia bermainnya,
belajar di sekolah tapi dia sibuk mencari sejumlah uang dengan berjualan koran
di simpang-simpang lampu merah. Nasibku dulu
jauh lebih baik dari seorang anak itu, aku bisa sekolah tanpa harus
memikirkan bagaimana aku mendapatkan uang. Yang penting, ketika butuh uang
untuk jajan atau bayar uang sekolah yaa tinggal minta aja dengan ibu ku. Pada waktu
itu kerjaku ya hanya sekolah, belajar, bermain, urusan biaya sekolah aku
serahkan semuanya kepada orang tuaku. Begitu juga dengan adik-adikku yang tidak
pernah memikirkan mencari uang di saat masa sekolahnya. Aku dan adik-adikku
lebih baik nasibnya sepertinya, karena kami bisa menikmati masa-masa kami. Masa
anak-anak yang disibukan dengan bermain, masa-masa sebagai siswa yang
disibukkan dengan sekolah dan belajar. Itu saja aktifitas kami, kami tidak
diberikan beban oleh kedua orang tua kami untuk mencari uang. Jangankan untuk
membiayai kebutuhan keluarga, untuk biaya sekolah dan uang jajan kami pun tidak
dibebankan kepada kami untuk mencari sendiri. Alangkah enaknya hidup kami,
Alhamdulillah.
Anak itu, aku mengambil fotonya di sebuah simpang
lampu merah Pertamina Kenali Asam Bawah. Dengan wajahnya yang terlihat capek
mungkin karena menahan haus. Dengan matanya yang menahan silau sinar matahari
dia tawarkan koran yang ada di tanganya itu kepada pengendara mobil atau motor
yang sedang berhenti menunggu lampu merah. Dengan semangat menghabiskan koran
yang ada di tangannya ia tidak malu-malu untuk menghampiri pengendara mobil
atau motor yang satu ke pengendara-pengendara lainnya. Wajah yang terlihat
hitam karena di sengat matahari tidak ia pedulikan, baginya ia dapat
menghabiskan semua koran nya hari ini. Dengan begitu ia bisa pulang dengan
membawa penghasilan yang banyak.
Anak itu, tidaklah memiliki nasib yang sama dengan
aku dan anak-anak yang lain. Di usianya yang segini dia telah diberikan beban
untuk mencari penghasilan. Dan aku yakin masih banyak anak-anak yang bernasib
sama seperti dia di bumi sepucuk jambi sembilan lurah ini. Anak-anak yang sudah
dibebankan mencari nafkah dengan berjualan koran di simpang-simpang jalan,
ataupun dengan pekerjaan yang lain. Padahal pada usianya yang segini seharusnya
disibukkan dengan dunia bermain dan menuntut ilmu untuk masa depannya yang
cerah. Tapi mungkin kondisi latar belakang keluarganya yang memaksa dia untuk
jadi seperti ini. Yang memaksa untuk tidak bermain-main seperti anak-anak
lainnya bahkan memaksa dia untuk tidak bersekolah. Mungkin dia pun tidak
menginginkan kondisi yang seperti itu, panas-panasan berjualan di simpang lampu
merah. Merelakan waktu bermainnya dengan mengganti untuk mencari uang
Aku tidak tau secara persisi bagaimana latar belakang
ekonomi keluarga sang anak itu. Bagaimana kondisi orang tuanya. Berapa orang
dan bagaimana kondisi saudaranya. Yang pasti, sepertinya kondisi latar belakang
ekonomi keluarganyalah yang memaksa dia harus seperti itu, turut mencari uang
sebagai tambahan nafkah keluarganya. Bersyukur anak itu mencari uangnya dengan
cara yang halal, di saat cara-cara yang haram berseliweran di sekitarnya. Cara
yang halal semoga terus dijalankannya meskipun sangat susah, letih, capek harus
dirasakan setiap harinya. Meskipun ada cara-cara yang gampang, tidak merasakan capek
tapi haram.
Seorang anak yang telah memahami pahitnya kehidupan,
di saat anak-anak yang lain masih merasakan manis dunianya. Seorang anak yang
telah memahami bagaimana sulitnya mencari uang di saat anak-anak lain yang
taunya hanya sekedar meminta kepada orang tuanya. Seorang anak yang telah
memahami bagaimana konsep dan cara bersyukur dengan sesuatu yang telah ia
dapatkan di saat anak-anak lainnya banyak menghambur-hamburkan apa yang
dimilikinya. Seorang anak yang telah mampu melakukan sebuah pengorbanan di saat
anak-anak lainnya yang taunya hanya bersandar kepada orang lain. Seorang anak
yang telah memahami bagaimana dia harus mandiri di saat anak-anak lainnya masih
dimanja oleh orang tuanya.
Sungguh, nasibku tidak seperti sang anak itu. Aku
tidak pernah merasakan bagaimana seperti dia di saat umur ku sama dengan dia
dulu. Aku bisa mengenyam pendidikan yang baik dan lancar tanpa ada hambatan
biaya sedikitpun, berbeda dengan dia. Dengan pendidikan yang telah ku miliki
aku pun bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dengan tingkat kelelahan yang
tidak begitu banyak, berbeda dengan dia. Semoga pada dirinya masih tersimpan
sebuah cita-cita tinggi untuk masa depannya. Yang dengan cita-citanya tersebut
dia terus berjuang melalui masalah-masalah hidup yang sedang ia dan keluarganya
hadapi.
Terus berjuang wahai sang anak, berjuang menaklukan
teriknya matahari. Berjuang menaklukan rasa hausmu. Berjuang menghadapi
kerikil-kerikil kehidupan dalam hidupmu. Yang dengan hasil perjuanganmu itu
bisa memberikan yang terbaik bagi keluargamu, ayah ibu mu, dan saudara-saudaramu.
#BelajarNulis
Yudhi Prasetyo
Jambi, 02 Mei 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar