Rabu, 01 Mei 2013

Belajar di Universitas Kehidupan, -4

#Seorang anak penjual koran.

Nasibku mungkin tidak seperti seorang anak itu. Tidak juga terjadi pada adik-adikku. Di saat anak yang lain asyik dg dunia bermainnya, belajar di sekolah tapi dia sibuk mencari sejumlah uang dengan berjualan koran di simpang-simpang lampu merah. Nasibku dulu  jauh lebih baik dari seorang anak itu, aku bisa sekolah tanpa harus memikirkan bagaimana aku mendapatkan uang. Yang penting, ketika butuh uang untuk jajan atau bayar uang sekolah yaa tinggal minta aja dengan ibu ku. Pada waktu itu kerjaku ya hanya sekolah, belajar, bermain, urusan biaya sekolah aku serahkan semuanya kepada orang tuaku. Begitu juga dengan adik-adikku yang tidak pernah memikirkan mencari uang di saat masa sekolahnya. Aku dan adik-adikku lebih baik nasibnya sepertinya, karena kami bisa menikmati masa-masa kami. Masa anak-anak yang disibukan dengan bermain, masa-masa sebagai siswa yang disibukkan dengan sekolah dan belajar. Itu saja aktifitas kami, kami tidak diberikan beban oleh kedua orang tua kami untuk mencari uang. Jangankan untuk membiayai kebutuhan keluarga, untuk biaya sekolah dan uang jajan kami pun tidak dibebankan kepada kami untuk mencari sendiri. Alangkah enaknya hidup kami, Alhamdulillah.

Anak itu, aku mengambil fotonya di sebuah simpang lampu merah Pertamina Kenali Asam Bawah. Dengan wajahnya yang terlihat capek mungkin karena menahan haus. Dengan matanya yang menahan silau sinar matahari dia tawarkan koran yang ada di tanganya itu kepada pengendara mobil atau motor yang sedang berhenti menunggu lampu merah. Dengan semangat menghabiskan koran yang ada di tangannya ia tidak malu-malu untuk menghampiri pengendara mobil atau motor yang satu ke pengendara-pengendara lainnya. Wajah yang terlihat hitam karena di sengat matahari tidak ia pedulikan, baginya ia dapat menghabiskan semua koran nya hari ini. Dengan begitu ia bisa pulang dengan membawa penghasilan yang banyak.

Anak itu, tidaklah memiliki nasib yang sama dengan aku dan anak-anak yang lain. Di usianya yang segini dia telah diberikan beban untuk mencari penghasilan. Dan aku yakin masih banyak anak-anak yang bernasib sama seperti dia di bumi sepucuk jambi sembilan lurah ini. Anak-anak yang sudah dibebankan mencari nafkah dengan berjualan koran di simpang-simpang jalan, ataupun dengan pekerjaan yang lain. Padahal pada usianya yang segini seharusnya disibukkan dengan dunia bermain dan menuntut ilmu untuk masa depannya yang cerah. Tapi mungkin kondisi latar belakang keluarganya yang memaksa dia untuk jadi seperti ini. Yang memaksa untuk tidak bermain-main seperti anak-anak lainnya bahkan memaksa dia untuk tidak bersekolah. Mungkin dia pun tidak menginginkan kondisi yang seperti itu, panas-panasan berjualan di simpang lampu merah. Merelakan waktu bermainnya dengan mengganti untuk mencari uang

Aku tidak tau secara persisi bagaimana latar belakang ekonomi keluarga sang anak itu. Bagaimana kondisi orang tuanya. Berapa orang dan bagaimana kondisi saudaranya. Yang pasti, sepertinya kondisi latar belakang ekonomi keluarganyalah yang memaksa dia harus seperti itu, turut mencari uang sebagai tambahan nafkah keluarganya. Bersyukur anak itu mencari uangnya dengan cara yang halal, di saat cara-cara yang haram berseliweran di sekitarnya. Cara yang halal semoga terus dijalankannya meskipun sangat susah, letih, capek harus dirasakan setiap harinya. Meskipun ada cara-cara yang gampang, tidak merasakan capek tapi haram.

Seorang anak yang telah memahami pahitnya kehidupan, di saat anak-anak yang lain masih merasakan manis dunianya. Seorang anak yang telah memahami bagaimana sulitnya mencari uang di saat anak-anak lain yang taunya hanya sekedar meminta kepada orang tuanya. Seorang anak yang telah memahami bagaimana konsep dan cara bersyukur dengan sesuatu yang telah ia dapatkan di saat anak-anak lainnya banyak menghambur-hamburkan apa yang dimilikinya. Seorang anak yang telah mampu melakukan sebuah pengorbanan di saat anak-anak lainnya yang taunya hanya bersandar kepada orang lain. Seorang anak yang telah memahami bagaimana dia harus mandiri di saat anak-anak lainnya masih dimanja oleh orang tuanya.

Sungguh, nasibku tidak seperti sang anak itu. Aku tidak pernah merasakan bagaimana seperti dia di saat umur ku sama dengan dia dulu. Aku bisa mengenyam pendidikan yang baik dan lancar tanpa ada hambatan biaya sedikitpun, berbeda dengan dia. Dengan pendidikan yang telah ku miliki aku pun bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dengan tingkat kelelahan yang tidak begitu banyak, berbeda dengan dia. Semoga pada dirinya masih tersimpan sebuah cita-cita tinggi untuk masa depannya. Yang dengan cita-citanya tersebut dia terus berjuang melalui masalah-masalah hidup yang sedang ia dan keluarganya hadapi.

Terus berjuang wahai sang anak, berjuang menaklukan teriknya matahari. Berjuang menaklukan rasa hausmu. Berjuang menghadapi kerikil-kerikil kehidupan dalam hidupmu. Yang dengan hasil perjuanganmu itu bisa memberikan yang terbaik bagi keluargamu, ayah ibu mu, dan saudara-saudaramu.

#BelajarNulis
Yudhi Prasetyo
Jambi, 02 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar