Minggu, 30 Juni 2013

Kami di Sini Karena Islam.


Oleh : Yudhi Prasetyo

Yang diajarkan kepada kami adalah islam terlebih dahulu oleh jamaah ini. "Islam qobla jamaah". Islam adalah syamil mutakamil, yang jauh dari kesalahan. Islam yang penuh kasih sayang, penuh dengan cinta. Kami lebih mencintai islam ketika kami telah mampu memahaminya dengan baik. Islam menjadi bagian penuh kehidupan kami. Islam yang akan membersamai kami dalam setiap aktifitas hidup kami. Atas kecintaan kami dengan Islam maka kami akan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada kami dan menjuahi apa-apa yang dilarang atas kami. Kami pun siap akan memperjuangkan agar islam ini tersebar ke seluruh pelosok bumi dengan dakwah. Kami akan menyebarkannya dengan kasih sayang pula.

Sampai kapanpun islam kami yakini tidaklah salah dalam ajarannya. Kami telah memahami sepenuhnya tentang islam. Dan tidak ada kami temukan sebuah kesalahan darinya, ia mengajarkan tentang kebaikan dan pasti akan memberikan kebaikan pula bagi yang mengikutinya. Jika kau menemukan kesalahan dari seorang muslim, bukan lantas itu adalah kesalahan islamnya. Murni itu adalah kesalahan manusianya, manusia yang lemah yang selalu dekat dengan kesalahan.

Jamaah  hanyalah sebuah sarana bagi kami. Sarana bagi kami untuk menjalankan islam ini dengan baik dan sebagai sarana mendakwahkannya kepada orang lain yang lebih luas. Sarana untuk menebarkan kebaikan islam yang rahmatan lil ‘alaamin. Dalam menyebarkannya butuh kekuatan yang banyak dari manusia-manusia yang sama tujuannya agar islam ini tersebar di pelosok bumi. . Oleh karena itu, tidaklah mungkin ia hanya dikerjakan oleh seorang diri, ia membutuhkan jamaah.
Dengan jamaah akan mudah terhimpun kerja sama antara satu sama lain, sehingga tujuan yang kami harapkan bersama dengan segera dapat tercapai.

Kecintaan kami terhadap jamaah ini tidaklah akan melebihi kecintaan kami terhadap Islam. Kecintaan kami terhadap jamaah adalah ketika jamaah ini masih mencintai islam pula. Ketika jamaah ini masih berada di atas aturan Islam. Ketika masih komitmen untuk menebarkan kebaikan islam. Maka kami pun akan selalu komitmen untuk menyatukan diri kami dengan jamaah ini.

Jamaah adalah kumpulan manusia lemah, yang sangat dekat untuk melakukan kesalahan. Maka patut disadari sejak awal bisa jadi ada kesalahan-kesalahan akan dilakukan oleh manusia-manusianya dalam jamaah ini. Jadi ketika ada salah satu dari jamaah kami atau pimpinan kami yang melakukan kesalahan, bukan lantas kami harus meninggalkan pula jamaah ini. Bukan lantas kami harus meninggalkan jamaah ini di saat jamaah ini masih memegang teguh tata aturan islam. Itulah mengapa kami tidak langsung buyar, atau terpecah-pecah ketika salah seorang dari anggota jamaah kami atau pimpinan jamaah ini melakukan sebuah kesalahan yang bersifat manusiawi atau hanya sekedar difitnah. Karena kami berada disini disatukan atas nama islam, bukan karena perseorangan atau figur seseorang bukan pula karena hanya ingin mendapatkan sesuatu yang bersifat pragmatis duniawi semata.

Jambi, 01 Juli 2013



Sabtu, 29 Juni 2013

#DuniaTanpaKataGalau

Oleh : Yudhi Prasetyo

Sejak kemunculan kata GALAU, sebenarnya saya sangat tidak suka dengan kata-kata ini. Kata GALAU yang diperuntukan kepada mereka yang jika mendapatkan masalah seolah-olah dia merasakan masalah yang takkan bisa dihadapi, akan menhadirkan kerisauan dalam hati, kelimpungan bukan kepalang. Kata GALAU yang diperuntukkan untuk mereka yang ketika menginginkan sesuatu yang diidam-idamkan kemudian tidak tercapai sehingga denga tidak tercapainya sesuatu itu membuat perasaannya tidak tenang. 

Kata GALAU bagi saya hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka yang tidak mempercayai tentang hakikat ma’rifatullah, bahwa sesungguhnya Allah telah mengatur semua yang akan terjadi pada dirinya.  Bagi orang yang beriman ketika mendapatkan masalah, ia akan mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Dia akan mempercayai bahwa sesungguhnya Allah lah yang telah berkehendak atas itu semua sehinggga dengan begitu ia akan tetap merasa tenang.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang orang yang beriman.(Q.S Ali-Imron : 139)

Maka tidak ada kata-kata GALAU bagi orang-orang yang beriman. Dan tidak pantas jika kata GALAU itu disematkan untuk mereka yang beriman. Karena bagi orang beriman itu simpel, yakni ketika ia mendapatkan nikmat ia akan bersyukur dan jika mendapatkan musibah ia akan bersabar bukan GALAU. Ketenangan selalu terpancar dalam dirinya, karena inilah buah dari keimanan yang mantap dalam dirinya.

“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” 
(HR. Muslim)

Memberikan kata GALAU kepada orang lain juga seolah-olah kita memandang bahwa orang tersebut tidak mempunyai keimanan kepada Allah, padahal kita tidak tahu bagaimana isi hati dari seseorang itu. astaghfirullahal 'azhiim.

Wallahu a'lam.

Jambi, 29 juni 2013

Selasa, 25 Juni 2013

Berawal Istiqomah, Berujung Manis


Istiqomah...

Selalu akan mendapatkan yang terbaik bagi mereka yang istiqomah dalam pendiriannya. 

Di ujung sana sudah ditetapkan bahwa "sesuatu itu" adalah milikmu, maka jangan lah ragu engkau tidak akan mendapatkannya. Berbagai macam cara mungkin bisa kau tempuh untuk mempercepat keyakinanmu bahwa "sesuatu itu" memang benar-benar milikmu.

Engkau tidak bisa mendapatkannya dengan segera, mungkin masih banyak yang belum kau persiapkan sehingga engkau emang sudah benar-benar pantas mendapatkannya. 

Jangan mengeluh, jangan risau kenapa engkau tidak segera sampai di ujung sana dan mendapatkannya sehingga membuat keyakinanmu memudar. Lebih baik lihatlah ke dalam, ke dalam dirimu sendiri. Ada apa denganmu?

Istiqomahlah....
Sesungguhnya bisikan, godaan untuk membuatmu tidak istiqomah dengan prinsipmu pasti selalu membayangimu, selalu terlintas dipikiranmu, selalu berhembus di dadamu.
Tetaplah pada keyakinanmu untuk mendapatkannya dengan cara yang terbaik pula, karena kita juga menginginkan "sesuatu itu" adalah sesuatu yang terbaik.

Istiqomahlah, karena ia akan membawamu untuk mendapatkan "sesuatu itu" dengan manis.

Jambi 26 Juni 2013

terbit >> http://www.islamedia.web.id/2013/06/berawal-istiqomah-berujung-manis.html

Bersyukur Allah Masih Menutup Aib Kita

Oleh : Yudhi Prasetyo

Sudah menjadi fitrah jika manusia memiliki sifat lemah dan selalu dekat dengan kesalahan. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan, kecuali para Rasul-Nya yang maksum dari perbuatan-perbuatan salah. Kesalahan yang dilakukan manusia terkadang selalu berulang-ulang pada kesalahan yang sama. Inilah manusia,  yang lemah untuk menahan diri dalam melakukan sebuah kesalahan. Bahkan menahan dari dalam dirinya, menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang mengajaknya pada perbuatan salah juga ia kadang tak mampu.

Lantas, bukan berarti menjadikan kita untuk selalu memaklumi kelemahan kita tersebut. Memaklumi setiap kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan tanpa ada perasaan menyesal setelah melakukannya. Selalu memaklumi sebagai makhluk yang lemah sehingga mewajarkannya ketika melakukan kesalahan tanpa ada upaya yang kuat untuk melawan kelemahan itu. Memaklumi setiap kesalahan yang telah dilakukan tanpa berusaha untuk memperbaikinya untuk di kemudian hari.

Di kondisi lain terkadang kita mungkin masih terlihat sebagai manusia yang terbaik di hadapan manusia lainnya. Padahal kita masih merasa bahwa diri ini masih banyak sekali kesalahan yg dilakukan. Merasakan kesalahan-kesalahan yang merupakan aib masih banyak dalam diri ini. Akan tetapi, manusia menganggap kita adalah seorang yang telah baik dari segala sisinya. Kita tidak bisa lepas dari sikap lemah tadi, yang dengannya membuat kita berbuat salah. Kita masih terlihat baik di hadapan manusia lainnya karena mungkin Allah masih menutup aib-aib yang telah kita lakukan.

Sepatutnya bagi kita untuk bersyukur dan beristighfar kepada Allah secara bersamaan atas kelemahan-kelemahan kita.

Bersyukur Allah masih menutup aib-aib yang telah kita lakukan, sehingga kita masih bisa tampil baik di hadapan manusia, yang masih PD bercengkerama dengan teman-teman kita. Atas kebaikan-Nya Dia masih menyembunyikan aib-aib kita di hadapan manusia. Apa jadinya ketika aib tersebut dibukakan oleh-Nya, mungkin kita akan merasa hina karena aib-aib kita tersebut diketahui oleh orang lain. Sesuatu yang kita anggap aib pasti ia akan membuat kita malu jika diketahui oleh orang lain. Meskipun kita dengan sadar melakukan sebuah kesalahan di tempat yang tidak diketahui orang lain tetap saja kita akan malu jika itu diketahui oleh orang lain.

Bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena Dia telah menutupi aib-aib kita, kesalahan-kesalahan kita di sebabkan oleh kelemahan kita sebagai manusia. Berterima kasih karena Dia menutup aib dan kesalahan kita. Aib yang berupa sifat-sifat jelek yang coba kita tahan untuk tidak diperlihatkan kepada orang lain. Prilaku ataupun perbuatan jelek yang kita lakukan di saat kita sendiri. Sehingga dengan ditutupnya aib tersebut kita masih terlihat baik di hadapan manusia lainnya.

 Beristighfarlah, mohon ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Allah mungkin masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri sehingga Dia belum membukakan aib kita di hadapan manusia. Bukan lantas pula kita berlaku sombong ketika aibnya tidak diperlihatkan oleh Allah sehingga kita masih terlihat baik di hadapan manusia.

Jambi, 25 Juni 2013 

Senin, 24 Juni 2013

MUHAMMAD AL-FATIH PENAKLUK KONSTANTINOPEL


Resume Buku Karya : Syaikh Ramzi Al-Munyawi
“Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka sebaik-baik Pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menaklukan)nya”.

Sultan Murad II Sang Ayah Muhammad Al-Fatih pun sebenarnya terobsesi dengan Kabar Rasulullah itu tentang penaklukan kota konstantinopel akan tetapi Sang ayah tidak berhasil melakukan penaklukan Kota itu dikarenakan terlalu kuatnya pertahanan konstantinopel. Maka ia berharap anaknya lah yang kelak mampu mewujudkan kabar Rasulullah itu. Sehingga dengan itu, sang ayah menyiapkan anaknya untuk menjadi seorang yang mampu menjadi seorang pemimpin yang tangguh di masa depan. Proses menyiapkan Al-Fatih ini seperti mendatangkan seorang guru yang akan mengajarkannya tentang agama, strategi, sains dan sebagainya. Al-Fatih kecil sangatlah nakal dan sulit diatur, makanya ketika sang ayah mendatangkan seorang guru, ia membawakan gurunya dengan sebilah cambuk dan memerintahkan kepada guru itu untuk mencambuknya jika anaknya tidak mau belajar. Selain itu, ayahnya mengajak al-fatih di setiap perperangan. Hal ini mengajarkan agar anaknya itu terbiasa dengan kondisi perang, dan bisa belajar bagaimana berperang dan mengatur sebuah strategi perang.


825 Tahun telah dilakukan upaya penaklukan konstantinopel akan tetapi tidak berhasil hingga akhirnya datanglah masanya Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukannya.  Muhammad Al-Fatih adalah sosok yang memiliki obsesi dari kecil tentang khabar dari Rasulullah SAW “Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka sebaik-baik Pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menaklukan)nya”. Guru nya selalu menekankan kabar tersebut kepada Al-fatih sejak kecil, menekankan bahwa sang penakluk itu adalah Muhammad Al-Fatih. Keyakinan Janji Rasul dan obsesinya yang terbangun sejak kecil inilah yang membuat sultan muhammad Al-Fatih tumbuh dengan persiapan-persiapan yang matang untuk menjadi seorang pemimpin.

Selain kabar dari rasulullah tentang penaklukan konstantinopel, Kota Konstantinopel selalu menarik perhatian kaum muslimin dengan keindahan dan keanggunannya. Ia ibarat sebuah permata yang berada dalam pelukan teluk bosporus dari arah timur dan utara. Ia kemudian membentang dari arah barat hingga terhubung dengan daratan. Menara-menara dan benteng-bentengnya berdiri kokoh seakang-akan menantang semua orang yang berhasrat menaklukannya. Pagar-pagarnya yang tinggi mengelilinginya tampak jelas dari segala penjuru hingga menghancurkan dan meruntuhkan obsesi dan harapan para petempur dan penakluk yang ingin memasukinya.

Perlindungan Konstantinopel itu terdiri dari hal-hal berikut :
1. Kota itu adalah sebuah kota yang berbentuk segitiga. Dua sisinya dikelilingi air laut dan sisi yang ketiga diliputi oleh dua lapis padagr dan parit air
2. Kota itu sendiri dikelilingi oleh dua lapis pagar benteng dan di luar kedua pagar tersebut terdapat sebuah parit air yang lebarnya 60 kaki dan kedalamannya 10 meter.
3. Lalu pagar pertama ketinggiannya 25 kaki dan ketebalannya 10 meter.
4. Lalu pagar kedua ketinggiannya 40 kaki, dan pagar ini memiliki beberapa menara penjagaan yang tingginya masing-masing adalah 60 kaki. Sementara ketebalan tembok pagar adalah 15 meter.
5. Kota ini dari arah laut dilindungi dan dijaga oleh 400 kapal.

Penyerangan pun dilakukan, dengan strategi-startegi pelumpuhan dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-fatih menghadapi pertahanan yang luar biasa di kota konstantinopel. Beliau membuat meriam yang sangat besar yang diharapkan bisa menembus benteng-benteng konstantinopel yang dibuat oleh seorang teknisi bernama Ourban (Urban). Muhammad Al-Fatih berusaha terus menerus untuk menembus benteng konstantinopel, akan tetapi setelah beberapa kali serangan tidak berhasil melumpuhkannya, malah pasukannya banyak yang syahid.

Meriam Sultan Mehmet II (Berat : 15 ton / Berat  Canon Ball : 285 kg)
Akan tetapi Muhammad Al-Fatih tidaklah berputus asa di saat ada beberapa panglima dan pasukkannya ada yang telah menyerah. Bahkan Al-Fatih mengumpulkan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 250.000 prajurit. Ia menyampaikan khutbah yang akan memberikan motivasi untuk berjihad merebut kemenangan atau gugur sebagai syahid.  Al-Fatih membacakan Ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong untuk itu. Ia juga menyebutkan hadits nabi yang memberikan kabar gembira tentang penaklukan Konstantinopel serta keutamaan yang akan didapatkan oleh pasukan dan panglima yang memimpin penakulakn tersebut. Seluruh pasukan menjawab itu dengan gemuruh tahlil, takbir dan do’a.

Para ulama menyebar ke tengah-tengah barisa pasukan untuk ikut serta bertempur dan berjiha ; suatu hal yang berpengaruh meningkatkan semangat mereka, hingga setiap prajurit tidak sabar lagi menunggu saat pertempuran itu demi menunaikan kewajibannya.

Sebuah pemikiran cemerlang tiba-tiba saja terlintas di benak sultan. Yaitu memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju teluk tanduk emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang terletak antara dua pelabuhan demi menjauhi benteng Galota, karena khwatir kapal-kapal itu akan terlihat oleh pasukan sebelah barat. Jarak antara kedua pelabuhan itu sekitar tiga mil, dan ia bukan sebuah permukaan yang mudah dilalui. Ia adalah tanah perbukitan dan terjal serta tidak mulus. Mengenai ide tersebut, semua panglima dan prajurit mendukung dan mengungkapkan kekaguman mereka terhadapnya.

Pasukan Sultan Mehmet II memindahkan 70 kapal laut melewati daratan
Akhirnya, Kapal-kapal itupun berjalan dari teluk Bosporus menuju daratan, dimana kemudian ditarik di atas kayu-kayu yang telah diminyaki sepanjang tiga mil, Hingga akhirnya tiba di titik yang aman untuk kemudian diturunkan ke teluk Tanduk Emas.Pada malam itu, pasukan berhasil menarik lebih dari 70 kapal laut dan menurunkannya di teluk Tanduk emas di saat musuh mereka sedang lalai. Mereka melakukannya dengan cara yang belum pernah dilakukan kecuali oleh Muhammad Al-Fatih.

Semua operasi itu berhasil dalam satu malam. Penduduk kota yang malang itu bangun pada pagi hari, 22 April, karena mendengar suara takbir pasukan utsmani yang menggema dan teriakan-teriakan mereka yang semakin meninggi serta lantunan nasyid perjuangan mereka yang keras di teluk Tanjung Emas. Mereka dikejutkan dengan kapal-kapal armada Utsmani yang telah menguasai penyebrangan laut itu. Kini tidak ada lagi laut pemisah antara pasukan pembela Konstantinopel dengan pasukan Utsmani. Salah seorang ahli sejarah byzantium mengungkapkan kegaguman mereka terhadap proses ini sehingga mengatakan :
“kami tidak pernah melihat dan mendengarkan sebelumnya hal yang luar biasa seperti ini. Muhammad Al-fatih telah mengubah permukaan tanah menjadi laut dan menyeberangkan kapal-kapalnya di ats puncak bukit sebagai pengganti gelombang lautan. Muhammad Al-Fatih benar-benar telah mengungguli Alxander the Great denga apa yang dilakukannya ini”

Muhammad Al-Fatih semakin yakin bahwa kota itu tidak lama lagi akan jatuh. Meski demikian, ia tetap berusaha untuk memasuki kota tersebut dengan cara damai. Maka ia kembali menulis surat kepada kaisar untuk memintanya menyerahkan kota itu tanpa pertumpahan darah. Al-fatih menjamin keamanan kaisar dan keluarganya serta penduduknya. Akan tetapi setelah surat tersebut sampai kepada kaisar, kaisar memutuskan dan bersumpah untuk melindunginya hingga nafas terakhir dalam hidupnya. Meskipun sebelumnya kaisar mendapat masukan dari sebagian penasihatnya untuk menyerah saja kepada Muhammad Al-Fatih.

Ketika balasan itu sampai kepada Al-Fatih, ia mengatakan “Baiklah, Tidak lama lagi aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan dikuburkan di sana”. Kemudian dilancarkan lah lagi serangan demi serangan oleh pasukan Muhammad Al-Fatih. Pada hari ahad, 18 jumadal ula/27 Juni, sultan Muhammad Al-Fatih mengarahkan pasukkannya untuk meningkatkan kekhusuan, mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan shalat, ibadah lain secara umum, merendahkan diri dan berdoa di hadapan-Nya; semoga Allah mempermudah penaklukan untuk diri mereka. Hal ini segera tersebar di tengah kaum muslimin.

Pada tanggal 29 Mei, berbagai persiapan pasukan Utsmani semakin lengkap. Sultan berkeliling mendatangi perkemahan pasukannya untuk melakukan pemeriksaan dan sekaligus memberikan arahan dan peringatan untuk selalu mengikhlaskan niat, berdoa, berkorban dan berjihad. Kemudian setelah Al-Fatih kembali ke kemahnya dan memanggil semua petinggi militernya, beliau menyampaikan arahan-arahan terakhirnya. Kemudian ia menyampaikan khutbah berikut ini :

“apabila penaklukan Konstantinopel terwujud untuk kita, maka terbuktilah salah satu hadits Rasulullah dan salah satu kemukjizatannya kepada kita. Akan menjadi sebuah keberuntungan bagi kita mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang ada dalam hadits ini. Karenanya sampaikanlah kepada semua prajurit kita, satu persatu, bahwa kemenangan besar akan kita raih akan menambah kemuliaan dan keagungan islam. Setiap prajurit harus selalu meletakkan ajaran syariat agama kita di depan matanya. Jangan sampai ada seorang pun yang melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran ini. Hindarilah gereja dan tempat-tempat ibadah, jangan sampai ada yang mengganggunya! Biarkanlah para pendeta dan orang-orang lemah yang tidak berdaya yang tidak ikut perang.”


Pada hari selasa 20 Jumadal ula 857H / 29 Mei 1453 M pukul 01.00 pagi dengan semangat yang menayala-nyala dimulailah penyerangan terhadap konstantinopel. Akhirnya kemenangan pun bisa diraih oleh pasukan Al-Fatih.Sebelum matahari berada di atas kepala, sultan Al-fatih telah berada di bagian tengah kota diiringi oleh pasukan dan komandannya sambil mengucapkan :”masyaAllah” Beliau berpaling kepada mereka semua dan mengatakan :”kalian benar-benar telah menjadi para penakluk Konstantinopel yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah SAW”

Beliau kembali mengucapkan selamat atas kemenangan itu dan emlarang mereka melakukan pembunuhan, pembantaian dan perampasan. Beliau memerintahkan mereka untuk bersikap lemah lembut dan berbuat baik kepada semua orang. Lalu ia turun dari kudanya, lalu menghadap kiblat dan bersujud kepada Allah di atas tanah sebagai ungkapan syukur, pujian dan kerendahhatiannya kepada Allah.

Muhammad Al-Fatih kemudian berjalan menuju Gereja Aya Sophia. Di sana telah berkumpul banyak sekali manusia bersama para pendeta dan pastor yang terus membaca doa-doa mereka. Ketika sultan mendekati pintunya, orang-orang Kristen itu benar-benar sangat ketakutan di dalam. Seorang pastor berdiir membuaka pintu-pintu. Lalu sultan meminta kepadanya untuk menenangkan orang-orang itu, dan bahwa mereka bisa pulang ke rumahnya masing-masing dengan aman. Semua orangpun menjadi tenang. Beberapa pastor sebelumnya bersembunyi di lubang-lubang persembunyian gereja. Namun ketika mereka menyaksikan toleransi dan sikap pemaaf Sultan Al-fatih, mereka pun keluar bahkan menyatakan keislamannya. Di gereja itu, Al-Fatih menunaikan sholat Ashar. Setelah itu , al-Fatih memerintahkan agar gereja tersebut diubah jadi sebuah masjid, dan agar semuanya disiapkan dengan baik agar pada hari jum’at dapat diselenggarakan Shalat Juma’at pertama di situ.


Kemudian ia memerintahkan pengebumian Sang Kaisar dengan cara yang layak. Sultan telah memberikan kebebasan bagi kaum kristen untuk menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan memilih pemimpin agama yang berhak memberikan putusan dalam persoalan-persoalan sipil. Hak yang sama juga diberikan kepada semua pemuka gereja di berbagai propinsi lain, namun di saat yang sama ia mewajibkan mereka semua membayar jizyah.

Membangun peradaban
Bagi Muhammad Al-Fatih pembangunan peradaban adalah sebuah landasan yang sangat urgen dan kuat untuk mewujudkan berbagai kemenangan di medan jihad. Apa artinya kememnangan, peperangan dan jihad jika semua kemenangan itu tidak dilanjutkan dengan keberhasilan dari sisi pembangunan peradaban yang meliputi seluruh Wilayah yang ditaklukan. Berbagai penaklukan tidak akan bernilai apa-apa dalam kondisi seperti itu. Hal ini sangat dipahami oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, karena itu proyek peradabannya begitu komprehensif.

Demikian sedikit resumenya, lebih seru lagi baca bukunya euy..... ^___^

Minggu, 23 Juni 2013

Presentasi upgrading PK KAMMI UNJA

Ketika kita tidak bisa berdakwah seperti saudara kita yang lain.

Oleh : Yudhi Prasetyo

Dakwah itu kewajiban seorang muslim terhadap seluruh umat manusia.  Dakwah telah memiliki banyak keutamaan bagi setiap muslim yang mau melakukannya. Dengan semangat memperbaiki kondisi umat manusia maka ia akan tergerak melakukan dakwah terhadap lingkungannya. Dakwah telah menggerakan rasulullah yang dibebankan kepadanya seorang diri pada waktu islam ini diturunkan. Rasul pun shock ketika awal menerima perintah dakwah ini, karena beliau tau ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Akan tetapi dengan semangat perbaikan kondisi umat maka beliau pun melaksanakan kerja-kerja dakwah itu, meskipun banyak hambatan yang akan dia hadapi. Sehingga tersebarlah islam ke seluruh penjuru dunia sampai pada saat ini.

Tidak bisa dibayangkan jika Rasulullah tetap berselimut pada waktu itu, tidak mau melakukan kerja dakwah ini.

Dakwah bukanlah pekerjaan yang mudah bagi sebagian muslim dan juga bukan sebuah pekerjaan yang menyulitkan bagi sebagian muslim yang lainnya. Begitu pula dengan yang mau melakukan dakwah itu sendiri, banyak sekali cara yang bisa dilakukan. Semuanya memiliki tantangan dan hambatannya masing-masing.

Di saat kita tidak mampu berdakwah dengan mendatangi satu per satu rumah. Mengajak mereka untuk meramaikan masjid-masjid di kampungnya. Mendatangi orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan maksiat terus kemudian mengajak mereka untuk meninggalkan perbuatan maksiat itu dan kemudian menggantinya dengan ibadah kepada Allah. Tidak jarang bagi mereka mendapatkan respon yang menyakitkan dari orang yang telah mereka datangi itu. Cemoohan, makian atau kata-kata kasar sering mereka dapatkan. Akan tetapi mereka tetap sabar dan tidak pernah berputus asa untk tetap melakukan dakwah yang seperti itu di daerah/kampung-kampung yang lain.

Di saat kita tidak bisa melakukan dakwah dengan cara yang seperti itu, ternyata ada saudara-saudara kita yang tetap konsisten melakukannya. Mereka yang konsisten untuk mengajak kepada kebaikan-kebaikan.

Di saat kita tidak mampu berdakwah dengan nahi munkar secara frontal, melakukan penentangan-penentangan terhadap kemaksiatan yang sedang terjadi di suatu tempat. Mereka berani  melakukan penghentian perbuatan-perbuatan maksiat, atau tempat-tempat maksiat dengan tangan-tangan mereka. Melakukan sweeping, pembubaran tempat-tempat maksiat ketika pihak pemerintah tidak bisa melakukannya. Yang sebelumnya mereka sudah mengajukan permohonan kepada pihak yang  berwajib menghentikan tempat-tempat maksiat itu. Akan tetapi tidak adanya respon secara cepat maka dengan keberanian mereka lah yang turun tangan, tidak takut bentrok ataupun adu fisik. Mereka yang frontal terhadap kemaksiatan-kemaksiatan yang merajalela.

Di saat kita tidak bisa melakukan dakwah dengan cara yang seperti itu, ternyata ada saudara-saudara kita yang tetap konsisten melakukannya. Mereka yang konsisten untuk melakukan pencegahan perbuatan-perbuatan maksiat.

Di saat kita tidak mampu berdakwah dengan memegang teguh kepada sunnah-sunnah nabi. Memurnikan ibadah secara benar-benar bahwa yang harus dikerjakan umat muslim sampai kapanpun adalah ia yang benar-benar berasal dari perintah Allah dan yang dicontohkan oleh Rasul-Nya. Merekalah yang menjaga agar masalah ibadah, akidah tidak ada penambahan-penambahan (bid’ah) dari umat saat ini. Mereka dengan konsisten melakukan kajian-kajian ini kemudian dilaksanakannya dan didakwahkannya kepada masyarakat. Sehingga ke depan masyarakat muslim benar-benar melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan dan yang dicontohkan oleh Rasul-Nya saja, tidak ada penambahan-penambahan lagi.

Di saat kita tidak bisa melakukan dakwah dengan cara yang seperti itu, ternyata ada saudara-saudara kita yang tetap konsisten melakukannya. Sehingga kemurnian ajaran islam akan senantiasa terjaga sampai akhir zaman kelak. Mereka pun bisa dijadikan referensi tentang kemurnian ajaran islam.

Di saat kita tidak bisa berdakwah dengan fokus pada pendirian kekhilafahan, yang senantiasa menyerukan khilafah itu tegak kembali. Karena dengan sistem khilafahlah semua tatanan masyarakat akan lebih mudah diatur dan memberikan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Mereka lah yang senantiasa mengingatkan kepada kita semua pentingnya penegakan kembali Khilafah dan syariat dalam sebuah sistem kenegaraan. Sehingga dengan begitu mereka telah membuat sebuah konsep tatanan kekhilafahan dengan merujuk kepada apa yang telah rasulullah contohkan dulu ketika beliau mendirikan dan mengatur negaranya.

Di saat kita tidak bisa melakukan dakwah dengan cara yang seperti itu, ternyata ada saudara-saudara kita yang tetap konsisten melakukannya. Sehingga dengan begitu, kita akan selalu diingatkan akan pentingnya pendirian sebuah kekhilafaahan dan penerapan syariat islam.

Di saat kita tidak bisa berdakwah melalui jalan politik, masuk dalam parlemen sistem demokrasi yang dengan sistem tersebut negera kita di atur saat ini. Yang mungkin kita tidak mau ambil risiko karena takut terwarnai dengan sistem yang diambil bukan dari islam. Ada mereka yang memberanikan diri untuk masuk dalam ranah demokrasi itu, mencoba melakukan dakwah di sana. Mereka jadikan demokrasi hanya sebatas alat. Melakukan perbaikan-perbaikan di dalamnya, terhadap keputusan-keputusan yang akan dibuatnya. Dengan adanya mereka di pemerintahan dan parlemen mereka bisa membuat/mengusulkan aturan  yang tidak semena-mena atau yang merugikan gerakan dakwah atau aktifis dakwah dari harakah islam lainnya. Seandainya tidak ada aktifis dakwah yang menyerukan nilai-nilai dakwah di sana mungkin bisa saja orang-orang sekuler, liberal yang lebih menguasai parlemen dan pemerintahan. Sehingga orang-orang tersebut membuat aturan-aturan yang akan membungkam atau menghilangkan aktifitas dakwah di negeri ini.

Di saat kita tidak bisa melakukan dakwah dengan cara yang seperti itu, ternyata ada saudara-saudara kita yang tetap konsisten melakukannya. Sehingga kita sedikit terbantu dengan kebijakan-kebijakan yang mereka usulkan/buat, yang membuat kita bebas melakukan aktifitas dakwah.

Inilah indahnya kebersamaan. Lihat sisi positifnya yang lebih akan menyatukan kita umat muslim, dibandingkan melihat sisi perbedaannya yang malah akan memecah belah umat muslim. Dengan perbedaan pandangan ini akan  makin memperkuat barisan dakwah ini. Ada yang menguatkan di satu bagian dan ada yang menguatkan di bagian yang lain. Dengan begitu semuanya bisa tetap terjaga sampai islam ini kembali berjaya, bisa saling menguatkan sampai islam kembali berjaya.


Jambi, 24 Juni 2013 

Sabtu, 22 Juni 2013

Menyambut Kabar Rasulullah dengan Amal


Oleh: Yudhi Prasetyo

Khilafah itu adalah kabar rasulullah sebagaimana rasul juga telah mengabarkan bahwa konstantinopel akan ditaklukan. Akhirnya kabar rasulullah tentang penaklukan konstantinopel itupun terwujud di kemudian hari oleh Sultan Muhammad Al-fatih. Rasul tidak pernah memberikan gambaran tentang bagaimana cara teknis penaklukan konstantineopel itu. Hanya saja Rasul memberikan gambaran bahwa yang menaklukannya adalah sebaik baik nya panglima dan sebaik-baik prajurit.

Konstantinopel telah terbukti terwujud akan penaklukannya, dengan kegigihan seorang muhammad Al-Fatih bersama para prajuritnya. Berbagai macam cara dilakukannya, yang penting tidak melanggar ketentuan-ketentuan dalam islam.

Kabar rasulullah selanjut-selanjutnya tentang kejayaan islam adalah sebuah kepastian. Maka memperjuangkannya adalah sebuah keinginan besar bagi umat muslim yang beriman. Dan Allah akan memilih hamba-Nya yang pantas untuk mewujudkan kejayaan islam itu.

Mari, sekarang berbicara masalah cara bukan masalah keyakinan akan kabar yang diberikan Rasulullah, karena kita semua sama-sama berkeyakinan bahwa kabar Rasulullah adalah sebuah kebenaran yang akan terwujud di kemudian hari. Perbedaan di antara umat sekarang adalah mengenai “cara” yang bersifat fleksibel bukan pada “kabar kemenangan islam”nya yang merupakan sebuah kepastian.


Mari bersama-sama berjuang, menjadi terdepan dalam upaya mewujudkan sebuah cita-cita kebangkitan islam. Bukan malah sibuk bersinggungan mengenai cara di antara kita. Berlomba-lombalah kita dalam sebuah kebaikan, menunjukan siapa yang banyak memberikan kebaikan, memberikan kontribusi. Dan berlomba-lomba untuk memantaskan diri bahwa dengan adanya kita, kemenangan islam itu akan terwujud. Allahu Akbar...!!!

Jambi, 23 Juni 2013

Jumat, 21 Juni 2013

Dakwah, dengan atau tanpa kita?

Oleh : Yudhi Prasetyo

Selayaknya tidak ada rasa kekhawatiran di dalam hati ketika ada seorang al-akh atau al-ukh tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Baik itu dikarenakan ia futur, mengundurkan diri ataupun pindah tugas. Karena kita telah meyakini bahwa islam ini milik Allah dan Allah lah yang akan menjaganya. Termasuk para juru dakwahnya, Allah telah menjamin akan selalu ada orang-orang yang menjaga islam dengan jalan dakwah setiap masanya. Ketika generasi sebelumnya telah hilang maka Dia akan menggantikannya dengan yang lain kembali, sehingga islam dan dakwah islam akan senantiasa ada sampai hari akhir kelak.

Berhenti atau terus itu adalah pilihan, bersama atau tidak juga adalah pilihan. Dakwah islam akan terus berjalan baik dengan atau tanpa kita. Itupun adalah pilihan, apakah kita yang akan sebagai juru dakwahnya atau membiarkan hanya orang lain saja yang menjalankan tugas dakwah itu. Sedangkan kita hanya duduk dan melihat perkembangannya saja.

”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,"(QS. An Nisa' : 95)

Sudah seharusnya dan selayaknya bagi kita semua ketika hanya dengan alasan banyaknya aktifitas kita terus kemudian kita tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Begitu banyak keutamaan-keutamaan dakwah yang telah kita ketahui sebelumnya, lantas kalah dengan ego pribadi kita. Meruginya kita ketika tidak terus bersamanya atau bersamanya hanya sekedar saja tidak berkeinginan semaksimal mungkin. Karena seharusnya kita merasakan bahwa kehadiran kita di dalam barisan dakwah, dakwah akan diuntungkan. Dengan kita lah dakwah ini akan dimenangkan.

Seharusnya ada sebuah perasaan menyesal ketika kita harus berhenti sejenak atau selamanya, atau tidak lagi bersama barisan dakwah. Terus kemudian digantikan dengan orang-orang yang pasti lebih baik dengan kita. Yakni mereka yang akan selalu istiqomah menjalankan amanah dakwah itu. yang dengannya dakwah berkembang pesat bahkan mungkin dengan sarananya dakwah ini akan dimenangkan. Sedangkan kita hanya duduk terdiam dengan aktifitas-aktifitas pribadi kita melihat mereka yang berhasil menggantikan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Tidakkah ada rasa iri di hati kita, ketika kita tidak termasuk satu di dalam barisan dakwah itu? apakah kita akan seperti ini :
"jika ada 1 Mujahid di dunia ini, maka sudah dipastikan dia bukanlah aku.
Jika ada 10 Mujahid, amak aku tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 100 Mujahid, maka aku pun tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 1000 Mujahid, maka aku juga tidak termasuk satu di dalamnya."

Jadi, jangan bersedih saja bagi yang ditinggalkan teman-teman seperjuangan karena mereka tidak lagi bersama kita dengan alasan apapun itu. Jangan risau dengan sedikitnya orang yang bersama kita dalam barisan dakwah ini, karena itu bisa jadi memberikan peluang besar bagi kita untuk semakin banyak berkontribusi dan memberikan yang terbaik bagi dakwah ini. Jangan risau dengan perkembangan dakwah ini ketika ada sebagian dari kita yang rehat sejenak, karena dakwah ini milik Allah, islam ini milik Allah. Yakinlah Allah akan menjaganya dan menggantikan mereka yang rehat sejenak itu dengan generasi baru lagi.

“si anu mau mengundurkan diri, katanya jadwalnya full jadi takut gak bisa optimal dengan amanahnya di sini.” sms seorang staf kepada pemimpinnya. “sedangkan si itu mau pindah, mau melanjutkan study nya jadi gak di sini lagi, Jadi siapa yang akan menggantikan mereka?” Tambahnya. Salahkah jika pemimpinnya tersebut menjawab dengan jawabany yang singkat dan padat “mujahid-mujahidah baru”.

Jambi, 22 Juni 2013

dimuat di web Bersama Dakwah >> http://www.bersamadakwah.com/2013/06/dakwah-dengan-atau-tanpa-kita.html

Kamis, 20 Juni 2013

Penyebab Remaja Melakukan Seks Bebas

Oleh : Yudhi Prasetyo

Tulisan ini merupakan hasil dari diskusi penulis bersama beberapa siswa-siswi salah satu SMA di kota jambi dalam sebuah acara mentoring. Kita sedang mendiskusikan masalah problematika remaja yang terjadi di lingkungan kita. Salah satu diskusi tentang permasalahan remaja yakni masalah Sex Bebas atau Sex Pranikah. Ini adalah masalah remaja yang sangat memprihatinkan dan banyak terjadi di lingkungan remaja hari ini.

Mengutip dari berita http://jambi.tribunnews.com minggu, 31 maret 2013 :
“Berdasarkan beberapa data, di antaranya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32% remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil survei lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan seksual pranikah dan membuktikan 62,7% remaja kehilangan perawan saat masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2% di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan aborsi. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat dari perilaku seks bebas.

Bahkan penelitian LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002, remaja yang melakukan seks pra nikah, 72,9% hamil, dan 91,5% di antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Data ini didukung beberapa hasil penelitian bahwa terdapat 98% mahasiswi Yogyakarta yang melakukan seks pra nikah mengaku pernah melakukan aborsi. Secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah, sekitar 10-30% adalah para remaja. Artinya, ada 230 ribu sampai 575 ribu remaja putri yang diperkirakan melakukan aborsi setiap tahunnya. Sumber lain juga menyebutkan, tiap hari 100 remaja melakukan aborsi dan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun.
Dari data tersebut, memperihatinkan bukan...?

Sex bebas merupakan permasalahan remaja yang juga telah melanggar ajaran agama islam. Islam telah mensyariatkan bahwa zina itu merupakan ke dalam dosa besar, baik dilakukan oleh orang yang telah berkeluarga atau sama-sama belum berkeluarga.

Ada beberapa penyebab dari diskusi kami kenapa para remaja terlibat dalam sex pra nikah tersebut. Diantaranya yakni sebagai berikut :
1.       Pemahaman Agama yang kurang

Islam telah mengatur mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang haram dan mana yang halal, mana yang dosa dan  mana yang berpahala. Islam pun mengatur supaya seorang muslim yang baligh diharuskan untuk mengerjakan sesuatu yang bernilai kebaikan, yang halal dan yang bernilai pahala. Dan sebaliknya menjauhi apa-apa yang di bernilai keburukan, yang haram dan bernilai dosa.  Maka semuanya itu harus diketahui dan dipahami terlebih dahulu oleh seorang muslim yang baligh, sehingga dia bisa memilih dan menetapkan keputusan yang dianjurkan oleh islam dan menjauhi yang dilarang islam.

Pengetahuan islam mengenai hal-hal tersebut harus dimiliki oleh seorang remaja, sehingga mereka tahu yang kemudian paham dan melaksanakan di kehidupannya sehari-hari. Lantas bagaimana kondisi remaja hari ini? Mungkin mereka sangat jauh dari pengetahuan dan pemahaman mengenai aturan-aturan islam seperti ini.

Banyak sebab pula sehingga mereka tidak mendapatkan pengetahuan dan pemahaman Agama ini. Bisa jadi kondisi keluarganya yang tidak mendukung untuk memberikan pemahaman agama terhadapnya, sehingga kebanyakan orang tua menyerahkan pemahaman agama kepada gurunya di sekolah-sekolah. Pelajaran agama di sekolah-sekolah umum mungkin dirasakan kurang dari sisi intensitas lamanya belajar agama. Ditambah mungkin kurangnya penekanan oleh guru dalam memberikan pemahaman yang baik kepada sang murid supaya pemahaman tersebut teraplikasikan di kehidupan sang murid.

Atau memang berasal dari pribadi-pribadi remajanya yang tidak tertarik dengan pelajaran agama sehingga terasa malas mengikuti pelajaran agama di sekolahnya. Apalagi mengikuti kegiatan ekskul keagamaan (rohis), mereka sangat enggan. Padahal di rohis sekolah ini lah yang bisa dijadikan tempat bergaul yang baik, mereka adalah kumpulan remaja yang mencoba untuk baik, dari sisi pemahamannya ataupun aplikasinya di kehidupan remaja. Ini dikarenakan mungkin sebagian remaja telah terpengaruh oleh teman-temannya yang tidak baik.

Wajar lah sex bebas atau sex pra nikah itu terjadi pada remaja, penyebab pertamanya dikarenakan para remaja kurang pemahaman agamanya. Sehingga mereka melakukan apa saja yang menurut mereka mengandung sebuah kebahagiaan, kesenangan ataupun kenikmatan yang padahal itu semua dilarang oleh agamanya. Seandainya mereka paham bahwa sex bebas itu haram tidak lah mungkin mereka mau melakukan hal tersebut.

2.       Lingkungan pergaulan

Lingkungan pergaulan seorang remaja juga sangat memberikan pengaruh pada seorang remaja. Seorang remaja adalah masa-masa labil, yang mudah terpengaruh. Ketika seorang remaja lebih banyak bergaul dengan remaja-remaja lainnya yang kurang baik maka sudah hampir bisa dipastikan lama-kelamaan dia akan terpengaruh dengan kelakuan-kelakuan teman-temannya itu.

Meskipun pengetahuan agamanya baik yang didapatkan dari keluarganya yang kebetulan bearasal dari keluarga beragama atau dari lingkungan sekolah yang berlatar belakang agama, akan tetapi jika pergaulannya lebih banyak dengan anak-anak yang tidak baik, maka sudah bisa dipastikan dia akan lebih banyak terpengaruh oleh teman-temannya itu. Pengetahuannya tentang agama lebih dijadikan hanya sebatas pengetahuan saja, tidak dipahami apalagi diaplikasikan.

Karena memang telah banyak ditemui di kehidupan remaja, ternyata yang melakukan sex pranikah tidak hanya dilakukan oleh anak-anak remaja dengan berlatar belakang sekolah umum yang minim pelajaran agama saja, bahkan sex pranikah juga bisa dilakukan oleh anak-anak remaja dengan latar belakang sekolah agama yang banyak menerima pelajaran agamanya.

Lingkungan pergaulan yang tidak baik akan mempengaruhi hal-hal berikut kepada seorang remaja, yang berasal dari pengaruh berikut mereka berani melakukan sex pranikah, diantaranya yakni :

a.       Terpengaruh dari video porno
Lingkungan lah yang mempengaruhi seorang remaja untuk menonton video porno ini. Apalagi teknologi yang canggih seperti saat ini. Video porno sangat mudah diakses oleh para remaja. Melalui internet-internet ataupun melalui gadget mereka yang lebih modern bisa mendownload atau menyimpan video. Sekali lagi, ini dilakukan oleh seorang remaja jika dia lebih banyak bergaul dengan remaja lainnya yang suka bertindak bebas, apalagi hanya sekedar menonton video porno, mereka telah menganggap hal ini adalah sesuatu yang biasa. Teman-teman yang seperti ini lah yang akhirnya mempengaruhi seorang remaja untuk ikut-ikutan menikmati tontonan tersebut.

Sehingga yang terjadi berikutnya adalah keinginan untuk merasakan juga apa yang telah dia tonton itu. Inilah reaksi yang ditimbulkan setelahnya. Dari mata akan mengalir ke otak, kemudian dari otak akan timbul hasrat keinginan untuk merasakan dari apa yang telah ia lihat.

b.      Rasa ingin tahu tentang sex
Keterlibatan seorang remaja dengan lingkungan yang lebih banyak membicarakan tentang perbuatan-perbuatan yang tidak baik, maka dengan sendirinya ia akan terpengaruh. Lingkungan pergaulannya yang lebih sering membicarakan tentang sex, tontonan-tontonan tentang sex, bacaan-bacaan pornografi atau melalui cerita teman-temannya yang telah biasa melakukan sex pra nikah. Dengan itu semua rasa ingin tahu itupun timbul yang akhirnya akan menimbulkan sebuah keinginan lebih jauh lagi, sehingga akhirnya dia juga bisa merasakannya. Ia tidak lagi hanya sekedar ingin tau dari sebuah perbincangan, tontonan, bacaaan, ataupun ceritanya saja, akan tetapi timbul perasaan dalam hati ingin benar-benar melakukannya. Ini lah yang terjadi ketika ia salah gaul. Lama-kelamaan ia akan terpengaruh dengan sendirinya meskipun teman-temannya tidak dengan intensif mengajaknya untuk melakukan hal tersebut.

c.       Pacaran
Pacaran adalah sebuah langkah untuk mendekati sebuah perzinahan atau sex pranikah. Sebagian besar sex pranikah yang dilakukan oleh para remaja pasti didahului dengan pacaran. Ini sebabnya mengapa pacaran itu dilarang.

Apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang belum menikah ketika mereka berduaan, ketika mereka inginnya di tempat-tempat yang hanya ada mereka berdua saja? Pacaran menuju zina. Seseorang yang pacaran pasti inginnya selalu berdua, kemudian setelah berdua ada keinginan ingin menyentuh (memegang) tangan atau anggota tubuh yang lainnya, ingin menciumnya dan pada akhirnya ingin melakukan perbuatan dosa besar yakni Zina. Ini lah yang dilakukan oleh sepasang kekasih belum halal, kemaksiatannya semakin hari ingin semakin bertambah sehingga sampai kepada puncak kemaksiata terbesar berupa zina. Karena sesungguhnya mereka tidak sedang berdua saja ketika mereka merasa sedang berdua, ada syetan yang selalu menggodanya untuk melakukan kemaksiatan yang lebih tinggi lagi.

Pacaran, adalah budaya para remaja sekarang. Budaya yang sebenarnya mendekatkan mereka pada perbuatan nista. Melalui pacaran seseorang yang telah terpengaruh sebelumnya oleh video-video porno, bacaan-bacaan pornografi, cerita-cerita teman, juga ingin melakukannya dengan pacarnya tersebut. Seseorang yang tadinya ingin tahu dan merasakan dari apa yang telah ia lihat, baca, dengar tentang sex ia lampiaskan kepada pacarnya. Atas nama pembuktian cinta atau apalah maka mereka pun melakukan perbuatan nista zina itu.

Maka, dari pacaran itu tidak ada yang dicari bagi seorang laki-laki yang ingin berpacaran kecuali melakukan hubungan badan dengan pacarnya karena pengaruh-pengaruh lingkungan teman di atas. Maka, setelah terjadi itu semua lantas siapa yang lebih banyak dirugikan? Wanitalah yang lebih banyak dirugikan. Keperawanannya hilang di lelaki yang belum tentu mau bertanggung jawab, belum lagi ketika hamil, malu emang malu karena ia akan terlihat oleh keluarga, tetangga dan lingkungannya, mau aborsi sakitnya ditanggung perempuan belum lagi dosa membunuhnya, dan perasaan berdosa yang akan selalu ada di benaknya. Oleh karena itu jauhilah Pacaran.

Jadi, lingkungan sangat berpengaruh sekali pada seorang remaja untuk melakukan sex bebas. Mempengaruhi seorang remaja untuk mengetahui apa itu sex, terus kemudian menontonnya, membacanya, menceritakannya, kemudian pacaran untuk menuju sex bebas.

Ketika engkau tidak ingin seperti itu melakukan seks pranikah (Zina), melakukan apa yang dilarang agama, maka penuhilah pemahamanmu tentang agama kemudian pilihlah teman-temanmu dari kalangan yang baik-baik. Bergabunglah bersama teman-teman yang bisa mempengaruhimu untuk melakukan sebuah kebaikan, yang akan menghasilakan nilai-nilai kebaikan, dan pahala.

Wallahu a’lam

Rabu, 19 Juni 2013

Terima kasih "Batu Sandungan"


Jadikan setiap masalah sebagai batu sandungan bagi kita semua. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena sudah menjadi fitrah bahwa manusia memiliki sifat lemah dan salah. Jangan malah sibuk mencari siapa yang membuat kita bersalah, akan tetapi bagaimana supaya ia mengingatkan kita tentang kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Sehingga ada proses perbaikan dalam diri kita sendiri.

Bayangkan ketika melakukan salah, terus kemudian tidak ada yang mengingatkan atau yang menyalahkan kita. Mungkin, kita akan terus melenggang melakukan kesalahan itu terus dan mungkin kesalahan demi kesalahan dengan mudahnya kita lakukan dikarenakan sudah terlalu biasa kita melakukannya.

Yang namanya batu sandungan itu pasti menyakitkan buat kita, mungkin bisa membuat kaki kita berdarah karenanya. Akan tetapi batu sandungan tersebutlah yang memaksa kita berhenti sejenak. berhenti untuk mengobatinya ataupun memikirkan kenapa dia bisa tersandung batu sandungan itu. Di sini akan terjadi proses muhasabah diri, sehingga kita tidak menjadi orang yang sombong yang menganggap kita yang tidak pernah melakukan kesalahan atau memaklumi kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan di masa lampau.

Bersyukur kita tersandung, beruntung kita terluka sejenak. Daripada kita tidak pernah tersandung sehingga tidak ada waktu untuk memuhasabah diri. Jadikan luka tersebut sebagai pengingat atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Sehingga kemudian ke depan perbaikan-perbaikan yang dilakukan.

Beruntung ada teman yang mengingatkan atas kesalahan yang telah kita lakukan. Meskipun kadang mereka mengingatkan kita dengan cara yang tidak kita sukai, Mengeluarkan kata-kata pedas, sindiran-sindiran tajam, ataupun menghambat kita sehingga kita tidak jadi mendapatkan sesuatu. Sakit emang sakit ketika kita harus menerima luka atas kata-kata ataupun sindiran yang mengingatkan kita. Tapi beruntung itu semua dilakukan kepada kita. Dengan begitu kita dipaksa untuk berhenti sejenak dan memikirkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan terdahulu.

Berhenti sejenak, kemudian berjalanlah kembali untuk melanjutkan perjalanan kita. Berjalan kembali dengan adanya bekal baru. Berjalan kembali dengan energi perbaikan yang telah kita lakukan di saat berhenti tadi. Berjalanlah kembali, sesuai dengan jalan yang lurus sehingga sampai pada tujuan yang telah kita niatkan di awal di saat kita hendak berangkat.

oleh : Yudhi Prasetyo
Jambi, 20 Juni 2013

Senin, 17 Juni 2013

Pelarangan mengenakan Jilbab, melanggar UUD.

Oleh : Yudhi Prasetyo

Indonesia bukanlah negara islam, sehingga hukum-hukum islam tidak diterapkan dalam mengatur sistem ketatanegaraan ini. Indonesia bukan negara agama, sehingga agama tidak dijadikan dasar negara ini. Akan tetapi melalui hukum-hukum yang dijadikan dasar negara ini, Negara telah memberikan kebebasan bagi warganegaranya untuk beragama dan menjalankan syariat sesuai dengan keyakinan seseorang atau suatu agama. Melalui aturan Undang-undang yang merupakan bagian dari 4 pilar kebangsaan negara memberikan hak-haknya sebagai warga negara yang beragama. Ini lah pada dasarnya  jaminan yang diberikan negara terhadap para warganegaranya.

Pada Pasal 29 ayat (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Di sini menunjukan bahwa negara seharusnya menjadikan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan bernegara. Termasuk semua yang ada dalam negara indonesia ini selayaknya mereka semua berdasarkan pada pendekatan ketuhanan. Dan seharusnya negarapun menjamin semua aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh semua yang ada dalam negara ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai katuhanan atau malah melarikan diri dari nilai-nilai ketuhanan.

Sedangkan pada pasal 29 ayat 2 nya berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Negara telah menjamin dan memberikan kebebasan kepada warganegaranya untuk memilih suatu agama yang diyakini kebenaranya dan memberikan kebebasan pula untuk melaksanakan apa yang telah di syariatkan oleh agamanya masing-masing. Ini yang telah dijamin oleh negara Indonesia. Sehingga ketika ada pemaksaan agama dalam menganut suatu agama sesungguhnya ia telah bertentangan dengan pasal ini dan kewajiban bagi negara untuk melindungi hak dari orang yang dipaksa itu.

Begitu juga selayaknya tidak ada pelarangan yang dilakukan oleh suatu pihak kepada warga negara lainnya agar tidak menjalankan apa-apa yang telah disyariatkan oleh agama yang dipeluk oleh seseorang. Pelarangan ini seharusnya mendapatkan perlindungan oleh negara yang telah berjanji menjamin warganegaranya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.

Jadi, ketika negara telah memberikan kebebasan sebagaimana yang tercantum dalam pasal 29 UUD tersebut maka seharusnya semua warga negara atau lembaga-lembaga yang ada dalam negara Indonesia ini harus juga mencerminkan apa yang telah terkandung dalam UUD tersebut. Ketika tidak sesuai dengan pasal tersebut atau melanggar pasal tersebut seharusnya mereka kena sanksi.

Bagi seorang Muslimah, meyakini bahwa mengenakan jilbab adalah sebuah kewajiban yang telah disyariatkan oleh agama Islam. Syariat yang telah ditetapkan dalam kitab Al-Qur’an sebagai bentuk perintah langsung dari Allah SWT. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mengenakan Jilbab bagi seorang muslimah sebagai sebuah bentuk Ibadah kepada Allah. Mengenakan jilbab adalah sebuah ibadah bagi seorang muslimah dalam rangka ketaatannya kepada perintah Allah.

Ini adalah sebuah kebebasan dari negara bagi seorang pemeluk agama, dalam rangka ketaataannya kepada syariat agamanya. Maka telah menjadi hak bagi seorang muslimah untuk mengenakan jilbab tanpa adanya pelarangan dari pihak manapun, di manapun selama dia berada di Indonesia, karena dia dijamin dalam UUD pasal 29 tersebut. Ketika ada sikap yang mencoba melarang muslimah untuk mengenakan jilbab, maka sesungguhnya dia telah melanggar UUD. Termasuk Polri yang melarang para polwan muslimah mengenakan jilbab ketika bekerja sesungguhnya polri tersebut tidak sedang menjalankan pasal 29 UUD 1945. Polri sebagai sebuah lembaga yang berada di bawah aturan UUD sesungguhnya dia tidak turut menjalankan apa yang terkandung pada pasal tersebut. Polri tidak memberikan kebebasan terhadap umat beragama untuk menjalankan ibadahnya yang dalam hal ini mengenakan jilbab ketika bekerja.

Tidak hanya di POLRI, semua lembaga ataupun instansi yang berada di Indonesia sesungguhnya mereka tidak diperkenankan melarang karyawan atau pegawainya yang muslimah untuk mengenakan Jilbab. Diharuskan setiap lembaga menjalankan apa yang sudah menjadi aturan negara, memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada karyawannya untuk menggunakan jilbab bagi yang muslimah sebagai bentuk ibadah di keyakinannya.

Berjilbabpun, sesungguhnya tidak lah akan mempengaruhi produktifitas kerja bagi seorang muslimah, tidak menggangu profesionalisme seorang muslimah. Karena masalah produktifitas dan profesionalisme kerja itu kembali kepada orangnya sendiri tidak ada kaitannya dengan berjilbab ataupun tidak.

Ketika ada lembaga di Indonesia yang tetap melarang karyawannya menggunakan Jilbab maka secara lembaga yang juga berada di bawah aturan UUD dia telah melanggar pasal 29 UUD 1945. Dan secara pribadi seorang muslim, jika dia yang melarang karyawannya mengenakan jilbab maka sesungguhnya dia telah melanggar perintah Allah SWT. Menghalang-halangi seseorang untuk taat kepada perintah Allah. Melarang seseorang untuk menjalankan perintah Allah maka sama saja dia telah melanggar perintah Allah, padahal dia telah mengetahui perintah tersebut. Dan Allah sangat murka kepada manusia yang menentang apa yang sudah menjadi perintah-Nya.