Jumat, 26 Oktober 2012

Sholeh dan Menyolehkan


Dari sisi ilmu yang bermanfaat.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata,, Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).


Menjadinya soleh diri kita ini pasti tidak terlepas dari peran orang lain yang memberikan pemahaman kepada kita tentang kesholehan. Sehingga kita pun dekat dengan hidayahnya Allah SWT untk senantiasa menjalankan amalan-amalan sholeh dalam kesahrian kita. Tidak terlepas dari peran orang lain, peran dari temen-temen dekat kita, kakak-kakak kita, senior2 kita atau para da'i secara umum. Dengan adanya pemberian pemahaman yang intens kpd kita maka kita pun akhirnya paham akan pentingnya sebuah kesholehan dan melakukan amalan-amalan sholeh bagi seorang muslim. Akhirnya kita pun berusaha utk menjadi anak yang sholeh secara pribadi. Kemudian kita terpacu untuk melakukan perbaikan diri, banyak yang kita lakukan utk mencapai kesholehan pribadi itu, utk meningkatkan kapasitas kesholehan kita itu. Berbagai sarana kita pergunakan utk menambah pemahaman kita sebagai anak yang sholeh.

Pahala besar akan didapatkan oleh orang yang tlah menjadi sarana kita utk berubah menjadi anak yang sholeh. Yang pahalanya sama dengan pahalanya kita tanpa mengurangi pahala kita.

“Barang siapa mengajak pada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa ,mengajak kepada kesesatan, ia berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (H.R. Muslim)

Sungguh, benar-benar ilmu yang bermanfaat ketika kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain, yang mengajak kepada sebuah kebajikan. Sangat memberikan ganjaran yang besar bagi orang yang memiliki ilmu dan digunakan untuk menyolehkan orang lain. Rugi donk, ketika kita tidak memiliki keinginan untuk bisa menjadi seperti orang yang telah mampu menyolehkan kita. Pahalanya selalu mengalir kepadanya selama kita melakukan amalan sholeh dari yang ia ajarkan kepada kita.

Maka, kita pun harus bertekad supaya bisa seperti orang yang telah menyolehkan kita. Yakni dg cara mencari target siapa yang akan kita sholehkan melalui sarana kita. Ilmu yang kita punya kita sebarkan ke semua orang yang ada di sekitar kita. Sehingga  Ilmu yang baik yang kita miliki itu tidak hanya sekedar untuk diri kita sendiri akan tetapi bisa tersebar utk orang lain pula. Sholehnya bukan sholeh pribadi tapi sholeh sosial. Jangan menjadi sholeh yang tak berdaya guna yang tidak bisa memberikan perbaikkan kepada apa yang terjadi di lingkungan kita. Setidaknya meskipun itu kecil dalam melakukan perbaikkan, tetaplah lakukan itu. Jangan sampai seperti sebuah cerita, Allah melaknat suatu kaum yang telah melakukan banyak kemaksiatan kemudian akan memberikan sebuah azab kepada kaum tersebut. Azab akan  dimulai dari rumah seorang yang sholeh dikarenakan orang tersebut hanya memikirkan kesholehan pribadinya saja tanpa memikirkan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Mari berangkat dari rasa simpatik dan empatik terhadap kondisi di lingkungan sekitar kita terutama dunia remaja dan pemudanya. Kondisi remaja saat ini sungguh menyedihkan, mereka terpengaruh dengan budaya-budaya yang sangat jauh dari keislaman. Free sex, Narkoba, Miras, hura-hura, durhaka kepada orang tuanya, dan perbuatan-perbuatan jelek lainnya. Mereka sangat jauh sekali dari islam. Maka timbulkanlah keinginan tuk menjadikan mereka semua tersentuh dengan nilai islam dan menjadikannya sholeh melalui sarana ilmu yang kita miliki.

Sehingga ilmu kita pun akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. Dan tidak sedikitpun kita dirugikan dengan memberikan ilmu yang kita miliki tersebut karena ia akan menghasilkan. Hasilnya berupa pahala yang akan mengalir kepada kita meskipun kita telah meninggal selama ia menjalankan apa yang telah kita ajarkan kepadanya.

Itulah soleh dan menyolehkan melalui sarana ilmu yang bermanfaat yang seseorang miliki, yang akan senantiasa mengaliri dan dialiri pahala secara terus menerus meski tlah meninggal. Yang akan bisa menolong dan ditolong melalui pahala yang mengalir tersebut.

Kamis, 25 Oktober 2012

Kita lah Inspirasi Itu


Tidak selamanya Inspirasi itu datang dari sesuatu yang bagus saja,
Bisa saja ia datang dari sesuatu yang tidak bagus.

Tidak selamanya inspirasi itu datang dari sesuatu yang sempurna,
Bisa saja ia datang dari sesuatu yang kurang sempurna.

Tidak selamanya inspirasi itu datang dari seseorang cara berbicara yang bagus,
Bisa saja ia datang dari seseorang yang cara bicaranya kurang bagus

Tidak selamanya inspirasi itu di dapat dari sebuah tulisan yang bagus,
Bisa saja ia didapat dari tulisan yang kita anggap jelek.

Tidak selamanya Inspirasi itu di dapat dari seseorang yang memiliki kesempurnaan,
Bisa saja ia didapat dari seseorang yang serba kekurangan.

Setiap kita adalah inspirasi bagi yang lain, maka jangan ragu untuk berkarya. Mau itu kita anggap baik atau kita anggap buruk. Yakinlah bahwa yang kita buat itu akan menginspirasi orang lain. Jangan berhenti untuk berbuat, Optimislah. Kita lah inspirasi itu.

Janganlah langsung menilai sesuatu yang datangnya dari orang lain itu sebuah kejelekan, karena dari sana pasti kita dapatkan sebuah pelajaran. Dan belum tentu kita bisa berbuat seperti apa yang mereka lakukan.

Yudhi Prasetyo
26 Okt 2012

Rabu, 24 Oktober 2012

Sholeh dan Menyolehkan


Dari sisi doa anak yang sholeh

Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu katanya,, Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).

1. Sholeh
Dari hadits tersebut kita dapat melihat bahwa amalan yang tidak akan terputus ketika anak adam meninggal dunia salah satunya adalah anak yg sholeh yg selalu mendoakan orang tuanya. Menjadi anak sholeh adalah aset bagi orang tua yg akan bisa menyelamatkan mereka melalui doa anak-anaknya. Maka jadilah anak yang sholeh bagi kedua orang tua kita sebagai bentuk terima kasih atas jasa yang begitu besar yang telah diberikan oleh mereka kepada kita. Mereka tidak akan pernah meminta ganti rugi biaya atas perawatan kita dari kecil hingga sekarang ini. Hanya doa dari anak yang sholehlah yang membuat mereka bahagia di dunia dan akhirat.

Berapa banyak anak yang kaya akan tetapi bagi orang tuanya tidak bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka. Berapa banyak anak yang pintar akan tetapi bagi kedua orang tuanya tidak bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka, malah mungkin anaknya menghina mereka, karena sang anak menganggap dirinya yang paling pintar, yang paling tahu. Jadi harta yang berlimpah, ilmu yang tinggi belum tentu bisa membahagiakan kedua orang tuanya jika ia bukan seorang anak sholeh. Ilmu yang tinggi, harta yang berlimpah sesungguhnya hanya akan bermanfaat bagi kita sendiri. Lalu apa yang akan kita berikan utk orang tua kita? Yakni cukup dengan kesholehan kita, jadilah anak yang sholeh. Anak yg sholeh ketika diberikan harta yang berlimpah ia tetap hormat kpd orang tuanya dengan menyantuninya, bukan malah merendahkannya. Anak yang sholeh ketika diberikan ilmu yang banyak ia akan tetap hormat kepada orang tuanya, bukan menganggap dirinya lebih tahu. Meskipun sang anak tidak kaya akan tetapi jika ia sholeh pasti orang tuanya tetap bahagia dan bangga karena memiliki anak yg sholeh. Kebahagiaan bathinlah yang lebih dibutuhkan orang tua kita saat ini, di saat umurnya yang mulai renta.

Mari para remaja, para pemuda kita sama-sama berusaha untuk menjadi anak yang sholeh untuk orang tua kita masing-masing. Meskipun orang tua kita tidak secara langsung mengajarkan kita tentang kesholehan, kita harus tetap berusaha untuk menjadi anak yang  sholeh, karena kita telah paham akan hal itu dan jika kita ingin membahagiakan orang tua kita.

Dengan menjadi anak yang sholeh saja sudah sangat membuatnya bahagia, karena bisa menolong mereka. Apalagi ditambah kita bisa membantu orang tua secara materi yakni dengan harta dan ilmu kita, pasti akan berlipat kebahagiaanya, lahir dan bathin.

Ya Allah jadikan lah aku dan anak-anak negeri ini anak yang sholeh yang bisa membahagiakan orang tua kami di dunia dan akhirat. Aamiin...

2. Menyolehkan.
Kemudian selain kita berkeinginan bisa membahagiakan orang tua kita. Tentunya kitapun ingin bahagia melalui amalan yang tidak terputus yakni dengan memiliki anak yg sholeh, anak yg akan mendoakan kita ketika kita telah meninggal dunia kelak. Karena anak yang sholehlah yang akan membantu orang tuanya berada pada tempat yang terbaik melalui do'a-do’a mereka.  Maka bercita-cita memiliki anak yang sholeh pasti dibolehkan donk... J

Sebagai orang tua, solehkanlah anak-anak melalui pendidikan di keluarga maupun di lingkungan sang anak. Maka mulailah sejak awal untuk menjadikannya menjadi anak yang sholeh, di saat mereka masih gampang untuk diarahkan. Berikan pendidikan moral, akhlak, ibadah, iman dan bekal-bekal kesholehan lainnya di setiap saat setiap waktu, demi terbentuknya anak yg sholeh. Ciptakan suasana yang kondusif di lingkungan keluarga dalam pembentukan kepribadian anak yg sholeh. Maka harus ada kerja sama yang baik antara kedua orang tuanya dalam mendidik anak-anaknya, sampai sang anak menjadi anak yang sholeh. Untuk menjalin kerja sama yang baik makanya perlu pasangan yang pas, sehingga kerja sama pun terjalin dengan baik. Maka memilih calon pasangan hidup pun hrs dicari dengan sangat teliti, ia yang akan bisa kita ajak kerja sama dalam membentuk anak yg sholeh. Maka butuh waktu utk mencarinya.... *nahhhh lho kok jadi ke situ.

Fokus, itulah fungsi orang tua ketika menginginkan anak yg sholeh maka harus dimulai dari diri mereka sendiri dahulu. Dengan memberikan contoh, tidak hanya memberikan pengajaran, pemahaman, arahan semata. Peran orang tua sangat besar dalam membentuk anak menjadi anak yang sholeh. Jadi jangan sekedar berharap saja tanpa usaha dari org tua untuk menyolehkan anak-anaknya. Di mulai dari lingkungan yang paling kecil yakni lingkungan keluarga. Itu ketika kita berada pada posisi sebagai orang tua yang menginginkan amalan yang tidak terputus dari doa  anak yg sholeh.

Yuuuuk.. kita soleh dan menyolehkan, sehingga kita bisa menolong dan ditolong, membahagiakan dan dibahagiakan. Menjadi anak dan sekaligus menjadi orang tua. Yang senantiasa akan mendoakan dan didoakan. Dan sempurnalah kebahagiaan ketika di akhirat kelak bisa dikumpulkan kembali anak dan orang tua di tempat yg terindah....Aamiiin... 

Yudhi Prasetyo
24 Okt 2012

Teman, sebagai Lingkungan Pembentuk Kepribadian Anak



Teman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukkan kepribadian anak selanjutnya. Interaksi anak juga lebih banyak dengan teman-temannya dibandingkan dengan orang tuanya, apalagi jika kedua orang tuanya sibuk dengan kariernya. Oleh karena itu, arahkan sang anak untuk mencari teman yang baik, teman-teman yang mengarahkan kepada aktifitas-aktifitas yang bermanfaat. Ketika sang anak merasa nyaman dengan teman-temannya yang kurang baik, maka saat itulah sang orang tua harus mulai khawatir. Pasti setiap orang tua tidak meninginkan anak-anaknya bergabung dengan lingkungan pergaulan yang terlibat narkoba, miras, free sex, dan perbuatan-perbuatan lain yang akan merusak masa depan sang anak. Sejak dari awal selalu awasi pergaulan sang anak, jika sudah terindikasi pada pergaulan yang kurang baik maka langsung diberikan pengertian untuk meninggalkan pergaulannya tersebut sebelum sang anak terlibat lebih jauh lagi.

Dan sepertinya, dalam pencarian jati diri seorang anak itu lebih banyak terpengaruh oleh faktor lingkungan pergaulannya. Kita hitung saja, orang tua berinteraksi saat umur anggaplah 6 tahun ke bawah, itu umur saat anak belum mengerti apa-apa tentang arti hidupnya.  Sedangkan umur 6 tahun sampai 17 tahun lebih banyak dihabiskan berinteraksi dengan teman-temannya baik itu di sekolah ataupun di lingkungan setelah pulang sekolah. Umur 6 - 17 Tahun adalah umur di saat anak telah mampu berfikir, dan memilih sendiri mau seperti apa dirinya. Bayangkan ketika pada umur segitu interaksinya dipengaruhi oleh teman-teman yang kurang baik. Jadi, bagaimana supaya selaku orang tua juga mampu mengarahkan anak-anaknya untuk lebih banyak berteman dengan teman-teman yang baik.

Maksimalkan ketika berinteraksi dengan anak-anak meskipun itu tidak terlalu panjang waktunya dalam setiap hari. Interaksi yang dilakukan antara bangun tidur sampai pukul 06.00 atau 06.30 kemudian setelah itu pukul 17.00 sampai maksimal pukul 21.00 sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan interaksinya dengan teman-temannya. Tetapi ketika orang tua pintar dalam memanfaatkan waktu yang sedikit itu, maka yang terjadi adalah kualitas interaksinya akan tinggi. Jadi meskipun mereka lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya, ia tetap akan lebih nyaman ketika berinteraksi dengan orang tuanya dan selalu ingin bersama orang tuanya. Ketika kondisi seperti itu, pasti anak-anak lebih mudah untuk diarahkan dan diberikan pemahaman tentang pergaulannya.

Bagi teman-teman yang merupakan bagian dari sang anak tersebut, mari kita bantu orang tua mereka dengan mengajak anak-anaknya berada pada lingkungan yg baik. Menciptakan sarana-sarana yang dapat membantunya supaya terjaga dengan lingkungan pergaulan yang baik. Mengapa kita pun harus turut andil dalam menciptakan lingkungan yang baik bagi anak-anak, karena ini menjadi tanggung jawab kita pula untuk menyelamatkan anak-anak bangsa ini, yang akan mengisi bangsa ini di masa yang akan datang. Karena kita adalah lingkungan pergaulannya. Ketika mereka tidak tergabung pada lingkungan pergaulan yg baik, otomatis mereka akan tergabung pd lingkungan yg buruk. 

Yudhi Prasetyo
24 Okt 2012

Selasa, 23 Oktober 2012

Lingkungan Sekolah Sebagai Pembentuk Kepribadian Anak



Sekolah juga merupakan salah satu lingkungan pembentuk kepribadian anak. Sudah dipastikan tidak ada orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya. Waktu yang banyak dihabiskan bagi anak pada masa pencarian jati dirinya yakni berinteraksi dengan lingkungan sekolahnya. Maka menjadi penting pula bagi orang tua dalam menyekolahkan anak – anaknya  di sekolah yang mampu memberikan pendidikan yang baik, yang mampu mengarahkan anak – anak mereka menjadi anak yang baik dari segi ilmunya, wawasannya, pengetahuannya, akhlaknya, moral nya, akidahnya, ibadahnya, dan aspek-aspek lainnya. Sesuatu yang baik yang telah terbangun dilingkungan keluarga harus juga didukung oleh lingkungan sekolah sebagai lembaga pendidikan formalnya, mengingat mungkin banyak orang tua yang tidak mampu dalam memberikan pendidikan yang banyak dikarenakan keterbatasan ilmu.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki sistem dan tenaga pengajar yang baik pula. Dengan adanya sistem yang baik ia akan mengarahkan pada mekanisme pembentukan kepribadian bagi sang anak. Bagaimana menanamkan sifat disiplin, akhlak yang baik, keteraturan, kemandirian, dan lain – lainnya yang mengarahkan seorang anak didik memiliki kepribadian yang baik. Sistem ini akan mengatur seluruh civitas akademika sekolah terutama yang mengarah pada pendidikan bagi anak didiknya. Ketika sistemnya baik dan terlaksana secara ideal maka sebagian besar akan terbentuk menjadi baik pula. Seorang guru yang merupakan elemen lingkungan sekolah yang paling banyak berinteraksi dengan anak-anak harus merupakan guru yang baik pula. Guru yang menjalankan sistem yang telah ada di sekolah, ia yang akan mengarahkan agar anak – anaknya sesuai dengan apa yang menjadi target dari sistem yang ada di sekolah tersebut. Itulah alasan kenapa sebagai orang tua harus memilihkan sekolah yang terbaik bagi anak – anaknya.

Pihak sekolah juga harus memahami bahwa mereka mempunyai amanah besar dari orang tua siswa dalam membantu membentuk kepribadian anak – anaknya. Sekolah memiliki sistem dan guru-guru dalam menjalankan proses pendidikan di sekolahnya tersebut. Maka keduanya harus menjadi perhatian dari pihak sekolah agar keduanya memeang benar-benar berkualitas, sehingga mampu menghasilkan keluaran yang berkualitas pula. Keluaran berupa anak – anak yang baik, baik dari segi akademiknya maupun dari segi moral/akhlaknya. Guru menjadi pilar utama bagi lingkungan sekolah dalam pembentukan kepribadian anak – anak, krn mereka lah yg bersentuhan langsung. Guru adalah orang tua kedua bagi anak-anak sehingga menjadi suatu beban bagi seorang guru, karena menanggung amanah dari orang tua siswa yakni untuk membantu dalam hal membentuk kepribadian anaknya. Jadi menjadi guru harapannya bukan hanya sebatas profesi saja yg tugasnya mengajar sesuai dengan matapelajaran dan waktunya saja, kemudian setelah itu selesai. Lebih besar dari itu, guru harus bisa mengarahkan sang anak dalam menemukan jati dirinya, dan menjadi generasi terbaik. Memang berat sampai harus segitunya. Betapa mulianya seorang guru, ketika dia tdk menjalankannya sebatas profesi saja.  Betapa banyak anak negeri ini setiap tahunnya berhasil dia bentuk, sungguh luar biasa.

Interaksi anak selama kurang lebih 12 tahun bahkan lebih dengan lingkungan sekolah atau instansi pendidikan lainnya. Maka memilih sekolah yg terbaik harus diutamakan, demi terbentuknya anak yang baik dan bisa dibanggakan kedepannya.

Yudhi Prasetyo

Lingkungan Pembentuk Kepribadian Anak



Lingkungan adalah faktor utama yang akan membentuk kepribadian seorang anak. Bagaimanapun baiknya Orang tuanya, ketika orang tua yang paling bertanggung jawab atas pertumbuhan anak - anaknya tidak mampu membentuk sebuah lingkungan yang baik utk anaknya, tidak akan mungkin anak dapat tumbuh menjadi seorang anak yang orang tua harapkan yakni menjadi anak yang baik. Jika orang tua tidak mampu membentuk atau mengarahkan anaknya mendapatkan lingkungan yang baik mungkin sang anak akan mencari lingkungan yang menurutnya baik, dan tidak sedikit anak yang menemukan lingkungan yang baik, terjerumus di lingkungan yang rusak, yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, miras dan macam-macam lainnya. Jika diibaratkan dengan sebuah benih yang terbaik, ia tidak akan tumbuh menjadi pohon yang baik jika lingkungannya tidak mendukung pertumbuhannya, suhu yang pas, pupuk yang pas dan sebagainya.

Menurut penulis ada tiga lingkungan yang harus dibentuk menjadi baik, sehingga bisa mendukung masa pertumbuhan anak untuk menemukan jati dirinya yang baik, Lingkungan tersebut yakni :

Pertama, Lingkungan Keluarga.
Pemantauan orang tua sangat menentukan mengingat keluarga sebagai lingkungan yang pertama bagi seorang anak. Kasih sayang, perhatian lebih diperlukan bagi sang anak ketika dia dalam masa menemukan jati dirinya. Harta yg banyak, keinginan anak selalu terpenuhi, semua serba kecukupan jika tanpa pembentukan lingkungan keluarga yg baik maka anak bisa saja terpengaruh oleh lingkungan luar. Tidak sedikit anak yg serba kecukupan dari segi materi pleh orang tuanya akan tetapi dia menjadi anak yang tidak baik, dikarenakan ia lebih terpengaruh lingkungan luar. Oleh karena itu, bentuklah lingkungan yang kondusif pada masa pertumbuhan sang anak, jgn sampai lingkungan luar dirasakan lebih nyaman dibandingkan dengan lingkungan keluarga sendiri.

Kesibukan orang tua dengan segala macam pekerjaannya, jangan sampai lupa meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Banyak orang tua yg kuwalahan menghadapi anak – anaknya sendiri ketika tumbuh dewasa dalam keadaan yang tidak diharapkan. Penyesalan pun menjadi terlambat, kini ketika mrk telah tumbuh menjadi remaja yang nyaman dg lingkungan pilihannya sendiri. Sbg org tua pasti mengalami kesulitan utk mengarahkannya lagi, kini anak telah bisa melawan, tidak mau diatur karena ia merasa apa yang dilakukannya sudah benar.

Itulah linngkungan awal pembentuk kepribadian dan jati diri seorang anak, lingkungan paling utama. Sebagai orang tua harus bisa sebisa mungkin mengkondisikan lingkungan keluarga ini sehingga orang tua dapat mengarahkan kepada anak untuk memilih lingkungan di luar keluarga yang baik pula. Keteladanan sangat diperlukan dalam mendidik anak. Banyak anak yang sulit diarahkan dikarenakan orang tuanya sendiri tidak memberikan teladan bagi dirinya. Banyak orang tua yang kurang baik pasti menginginkan anaknya menjadi baik, tidak seperti dirinya. Akan tetapi menjadi sulit bagi orang tua tersebut memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya, karena sang anak akan melihat orang tuanya terlebih dahulu. Dan akhirnya sang anak akan lebih suka mencontoh perbuatan – perbuatan orang tuanya, meskipun itu buruk.

Kedua, Lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah merupakan waktu yang cukup lama pada masa-masa pertumbuhan anak bahkan sang anak menemukan jati dirinya pada saat di lingkungan sekolah ini. Waktu yang lama tersebut bisa mencapai 12 tahun ketika ia hanya menamatkan di tingkat sekolah menengah atas atau bisa sampai 16 tahun jika ia lanjut ke perguruan tinggi. Jadi sebenarnya interaksi antara sekolah dan keluarga sebenarnya lebih banyak dengan lingkungan sekolah sang anak. Orang tua yang sibuk kerja ketika pagi hanya bertemu dengan anak nya sampai pukul 06.30 dikarenakan anak mulai berangkat sekolah, ketika sorenya sang orang tua bertemu lagi kira-kira pukul 17.00 yang mungkin anak-anak masih bermain dan orang tua masih perlu istirahat. Interaksi dilakukan mungkin ketika selesai sholat maghrib sampai pukul 21.00 setelah itu tidur, hanya kurang lebih 3 jam setiap malamnya bahkan kurang dari itu. Jadi jika ditambahkan sehari semalam orang tua bisa berinteraksi dengan anak-anaknya Cuma 3 -4 jam. Sedangkan anak di sekolah  lebih banyak interaksinya, maka penting sekali menemukan sekolahan yang terbaik bagi anak-anak yang dapat mendukung masa pertumbuhannya dan mendukung apa yang sudah dilakukan di lingkungan keluarga. Semuanya itu adalah peran orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya berada pada lingkungan sekolah yang baik.

Memilihkan sekolah yang baik bagi anak merupakan bagian penting dalam mendidik anak sehingga ia bisa mendukung apa yang sudah dilakukan di lingkungan keluarga. Sekolah yang memiliki sistem dan guru yang baik pasti mendukung pendidikan yang sudah diberikan orang tua ketika di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, arahkan anak untuk bisa bersekolah di sekolah yang memiliki sistem dan guru yang baik.

Ketiga, Lingkungan Pergaulan Anak.
Sama halnya dengan lingkungan sekolah, interaksi anak akan lebih banyak dengan teman-temannya. Lihat  saja  ketika di sekolah bergaul dengan teman-temannya, pulang sekolah bermain dengan teman-temannya, sampai benar – benar ia berada di rumah untuk melakukan aktiftasnya semua di lakukan dengan teman-temannya. Maka jika orang tua tidak pintar mencari waktu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya maka sang anak akan lebih banyak terpengaruh dengan teman-temannya diluar, bahkan mungkin rumah hanya akan dijadikan tempat persinggahannya saja, sebagai untuk tidur, ganti pakaian, makan saja.

Waktu yang banyak dihabiskan dengan teman-temannya pasti sedikit banyaknya akan mempengaruhi kepribadian anak. Jika anak kebetulan bisa bergaul dengan teman-temannya yang baik maka itu akan mempengaruhi anak untuk menjadi baik pula, akan tetapi sebaliknya jika dia telah bergaul dengan teman-teman yang kurang baik, maka sudah dipastikan ketidakbaikkan tersebut akan mempengaruhi anak untuk menjadi tidak baik pula.

Jadi cukup melalui 3 lingkungan tersebut untuk menjadikan anak – anak  tumbuh dengan kepribadian yang baik dan merasakan itulah jati dirinya yg sebenarnya. Mau tidak mau peran orang tua sangat besarlah dalam mengkondisikan ketiga lingkungan tersebut. Kalo bukan orang tuanya sendiri yang mengambil peran besar tersebut lantas siapa, tidak akan mungkin orang lain yang mengambilnya. Bentuk anak-anak dari sedini mungkin, ketika bersamanya, memilihkan sekolah yg baik teman yang baik pula. Iringi sang anak dalam melewati tahap demi tahap fase-fase pertumbuhannya. Ingat, menyesal di kemudian tidak ada gunanya. Disaat anak sudah sangat sulit lagi diarahkan. Berikan yang terbaik bagi anak, di Keluarga, Sekolah dan Pergaulannya. Semoga orang tua indonesia bisa membentuk anak – anaknya  menjadi ANAK JUARA dengan memberikan yang terbaik bagi anak – anaknya.

Yudhi Prasetyo

23 Okt 2012

Minggu, 21 Oktober 2012

Menyambut Sebuah Seruan


Sanggupkah kita menjawab seruan “Siapakah yang akan menolongku kepada Agama Allah di Kota Jambi ini” dengan jawaban yang sama seperti jawaban kaum hawariyyun ketika ditanya oleh Isa ibn maryam dengan pertanyaan “Siapakah yang akan menolongku kepada agama Allah” yakni dengan tegas hawariyyun nya menjawab “ Kami lah penolong-penolong agama Allah”.

Jadilah penolong agama Allah dimanapun berada ketika kita termasuk orang-orang yang beriman, karena memang Allah hanya menyeru kepada Orang-orang beriman saja untuk menjadi penolong agamanya. “Hai orang-orang yang beriman, jadilah penolong agama Allah” (Q.S Ash-shaf : 14). kesempatan dan peluang yang besar bagi kita untuk menolong agama Allah melalui sarana amanah yang kita miliki saat ini. Menolong agama Allah dari ancaman globalisasi, liberalisasi, kapitalismen, sekularisme yang sedang menyerang kaum muslimin saat ini. Pemuda adalah target dari ancaman tersebut, dengan paham-paham liberalisasi membuat pemuda jauh dari islam, enggan mengenal dan mempelajari islam. Dan siapakah yang memiliki tanggung jawab ini? Salah satunya adalah seorang da’i.

Allah telah menjamin akan menolong orang yang menolong agamanya. Rizki kita tidak akan terhalangi ketika kita yakin akan pertolongan Allah, sebagai mahasiswa skripsi kita tidak akan gagal ketika kita jg disibukkan dalam aktifitas menolong agama Allah. Sehingga jangan sampai kerjaan kita melalaikan kita untuk menolong agama Allah. Jangan sampai kesibukkan kita mengurusi bisnis2 kita menyebabkan kita enggan tuk terlibat dalam menolong agama Allah. Karena Allah telah memberikan peryataan tegas dalam firmannya di Q.S Muhammad : 7  “hai orang-orang yang beriman, tolonglah agama Allah maka allah akan menolongmu...” Jadi harus memiliki keyakinan penuh bahwa ketika Allah yang maha kuasa, yang  maha besar telah memberikan pertolongan kepada kita maka tidak ada seorang makhluk pun yng bisa menghalanginya. Dengan begitu Pastu allah akan mengalirkan rizki kita, memudahkan rizki kita mungkin dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Kemudian kesatuan gerak dalam menjalankan misi besar menolong agama Allah ini pun sangat dipentingkan yakni kesatuan dalam sebuah jamaah yang memiliki satu misi dalam mewujudkan kejayaan islam dan mengembalikan islam sebagai ustadziyatul alam. Dengan adanya jamaah maka keteraturan dalam melewati tahap demi tahap misi dakwah dapat tercapai hingga akhirnya kejayaan islam pun terwujud. Jadi ketika seseorang dikatakan sebagai seorang da’i akan tetapi dia tidak berjamaah maka sesungguhnya dia tidak memiliki visi besar bagi islam ini, dia tidak memiliki visi jauh kedepan bagi kemenangan dakwahnya.

Dengan atau tidaknya kita tergabung dalam barisan dakwah, kita pun yakin dakwah ini akan terus berjalan. Akan tetapi harus menjadi tekad buat kita untuk turut serta dalam mengambil amanah dakwah tersebut karena kita ingin mendapatkan kemuliaan di sisi allah SWT. Hilangkan kalimat tersebut sehingga kita selalu optimis bahwa hanya kitalah yang akan menolong agama Allah ini.

Jika ada 1000 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 100 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku pun termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 50 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku masih termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 20 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku juga masih termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 10 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku masih termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 1 mujahid dakwah di kota jambi ini, maka aku pastikan ia adalah diriku.

Yudhi Prasetyo

TETAP EXIST WALAU TAK DIANGGAP


TETAP EXIST WALAU TAK DIANGGAP

Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Dan Katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Q.S. At-Taubah : 105)

Terkadang kalau kita mengikuti naluri kita sebagai manusia pasti banyak hal yang akan membuat kita sakit hati, muak, bosan, jenuh dan akhirnya ingin keluar. Gimana tidak, kalau kita selalu tidak dianggap ada, atau tidak terlalu diperhatikan untuk suatu urusan yang padahal kita pun berada dalam bagian dari itu, sehingga emang menimbulkan kesan tidak menjadi prioritas.

Ada seorang ketua yang seharusnya dia yang dievaluasi terkait apa yang terjadi di lembaga yang dia pimpin, akan tetapi lebih memilih orang lain untuk di evaluasi secara rutin.
Ada pula yang tidak boleh ikut pada sebuah acara yang seharusnya dia yang berada di sana dan  yang sangat membutuhkan untuk ikut pada acara tersebut karena dia adalah orang yang bertanggung jawab di sebuah lembaga.  Sudah jauh-jauh datang cuma berharap bisa ikut acara tersebut,,, eh tiba-tiba di cut tidak boleh masuk, karena sudah ada yang diutus untuk itu. Ha…ha…ha…Kasihan deh loe..
Tidak terpenuhinya suplemen yang lebih. Yang katanya seseorang yang memiliki posisi besar di sebuah lembaga dan atau telah “lama” tergabung dalam sebuah lembaga, harus diberikan asupan yang lebih dibandingkan yang lain.
Dan bahkan ada juga yang memang bener-bener tidak dianggap lagi, karena kurang tepatnya pengambilan kebijakan disebabkan adanya kesalahpahaman saja dalam mendapatkan informasi dan tidak diberikan kesempatan untuk klarifikasi.
Dan masih banyak lagi kondisi-kondisi yang menimbulkan kesan kita termasuk yang terabaikan, bukan prioritas.

Sakit hati emang sakit hati ketika kita sebagai manusia yang mempunyai hati, yang kadang memiliki rsa ingin sedikit diperhatikan (meski bukan menjadi tujuan) tidak diberikan dan naluri manusia suatu saat seperti itu…
Muak emang muak ketika ada temen kita yang terlalu diperhatikan dan diberikan banyak kesempatan dibandingkan kita.

Tapi kawan, jangan lah kita bersedih hati. Kita bekerja bukan untuk manusia, kita bekerja bukan untuk mendapatkan kedudukan di hadapan manusia. Kita bekerja hanya untuk Allah, Insya Allah. Ingat sebuah penggalan kalimat dari salah satu Kredo KAMMI yang bunyinya. “….Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.

Kita harus bisa belajar dari akar yang rela berjuang di bawah tanah, yang meskipun tidak tampak akan tetapi sesungguhnya dia yang paling mempunyai peranan lebih dalam memberikan sebuah penghidupan bagi sang pohon sehingga pohon itupun lambat laun bisa memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya. Biarkan orang melihat pohon yang kokoh, biarkan orang mengambil manfaat dari yang dihasilkan pohon tersebut. Karena sebenarnya kita lah yang membuatnya bisa seperti itu, dan itu mampu dipahami bagi orang-orang yang berilmu.

Kemudian Seperti ayat di awal kita diperintahkan untuk bekerja dan kemudia biarkan  Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin yang akan melihat pekerjaan kita itu. Cukuplah Allah bagi kita, alangkah senangnya ketika Allah yang melihat kita, Allah yang maha kaya, Allah yang maha sempurna dibandingkan dengan manusia yang terbatas kepemilikannya.

Kita masih disini, berikan yang terbaik untuk dakwah dan islam ini, kita tunjukan pada dunia kita mampu berkontribusi dan memberikan yang terbaik meski kita tak terperhatikan. Jangan sampai hanya karena kita mengedepankan ego manusiawi kita, lantas kita berhenti bahkan mau keluar karena sakit hati.
Seperti apa yang dikatakan Abu Bakar radiyallahu anhu “mungkinkah kubiarkan agama ini berkurang padahal aku masih hidup”. Sebuah semangat untuk selalu berkontribusi, bekerja hanya untu islam, hanya untuk Allah. Kita pun harus memiliki tekad laksana Abu Bakar tersebut, selama kita masih disini tak kan kita biarkan nilai-nilai islam ini berkurang.

Kita harus tetap Exist walau tak dianggap, bukan malah exit karena tak dianggap.

Biarkan orang lain lebih diperhatikan, lebih teristimewakan. Biarkan orang lain yang mengambil peran lebih. Biarkan kita tidak diberikan sesuatu yang lebih. Kita adalah manusia yang diberikan akal yang luar biasa oleh Allah SWT. Kita bisa mencari ilmu sendiri  dan meningkatkan kapasitas diri kita sendiri dengan memperkuat tarbiyah dzatiyah dan sarana-sarana lain yang dekat dengan kita. Dan cukuplah Allah dan Rasul-Nya yang menjadi pegangan bagi kita.

Kita harus sabar karena mungkin dengan tidak terperhatikannya kita, ini adalah sebuah cobaan bagi kita yang datangnya dari Allah swt, dan kita akan mulia darinya, Insya Allah. Dan ingat Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umat-Nya di luar kemampuannya.

Wallahu A’lam, kebenaran datangnya dari Allah SWT.
Setidaknya inilah tausyiah yang diberikan untuk penulis itu sendiri, dan akan menjadi penyejuk jiwa penulis.
Y96.Senin malam, 18 Oktober 2010.


PECUNDANGKAH KITA…? PENGECUTKAH KITA…?


PECUNDANGKAH KITA…?
PENGECUTKAH KITA…?

Wahai orang yang beriman! Apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka. Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh, orang itu kemabli dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka jahannam, dan seburuk-buruknya temapt kembali
(al-anfal 15-16)

Pemberian amanah bukan tanpa melalui proses pertimbangan yang matang. Sehingga harus segera disadari bahwa saat ini kita lah yang pantas untuk menjadi pengemban amanah tersebut di bandingkan orang lain. Apalagi pemberian amanah kepada seoarang ketua (baik ketua umum maupun ketua bidang) pasti lebih matang lagi pertimbangannya. Dan banggalah karena kita termasuk orang yang dipertimbangkan.

Oleh karena itu ketika amanah ini telah terpikul di pundak-pundak kita, tidak ada kata lagi untuk tidak menjalankannya. Buang perasaan tidak pantas, tidak mampu, ataupun tidak paham.

Banyak yang hanya mengedepankan ego masing-masing sehingga dengan berlindung pada alasan ketidakpantasan, ketidakpahaman, ataupun ketidakmampuan, dia berusaha untuk tidak menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, tidak menuntaskan amanah tersebut hingga selesai sudah amanah tersebut berakhir. Yakinlah sesungguhnya penetapan amanah kepada kita tersebut bukan hanya pengamanahan dari seseorang kepada kita saja, bisa saja amanah tersebut datangnya dari Allah SWT, hanya saja melalui orang-orang pilihan untuk proses pengamanahanya tersebut. Berarti amanah yang kita pikul ini juga termasuk amanah dari Allah SWT.

Sifat egois memang selalu menyelimuti kita untuk mundur dari amanah yang telah dipercayakan kepada kita. Mengapa kita tidak memikirkan bagaimana kondisi ketua umum kita atau saudara-saudara kita yang lainnya yang pada waktu bersamaan posisinya sama seperti kita, apakah dia tidak memiliki perasaan sama seperti kita, apakah dia tidak ingin cepat tamat, apakah dia tidak ingin membahagiakan orang tuanya. Ataukah kita hanya berpikir untuk diri kita sendiri, sehingga dengan berlindung masih ada yang pantas untuk mengemban amanah ini.

Mengapa kita tidak membuang keminderan pada diri kita ketika ada perasaan tidak pantas, mengapa kita tidak berusaha untuk memahamkan diri kita, dan mengapa kita tidak memaksakan diri kita supaya sanggup menjalankan amanah ini. yaa karena amanah ini telah diputuskan kepada kita. Daripada kita hanya berkutat pada masalah-masalah pribadi kita seperti itu sehingga tetap saja tidak menghasilkan sesuatu, lebih baik kita menjalankan amanah ini dengan semaksimal mungkin yang kita bisa.

Buang sifat egois kita…..
Karena saudara kita pun memiliki keinginan sama seperti kita, keinginan itu bukan hanya kita saja yang punya. Tetapi marilah kita berusaha bersama-sama menuntaskan amanah ini dengan sebaik-baiknya terus kemudian menuntaskan keinginan-keinginan kita secara bersama-sama pula. Apakah kita tega dengan kita mengedepankan ego kita saja, kita biarkan saudara kita itu bekerja menjalankan amanahnya sendiri.

PENGECUT KITA! PECUNDANG KITA !
Hanya menjalankan amanah yang sekecil ini saja kita tidak mampu.
Yang kita inginkan mungkin berada pada posisi-posisi nyaman saja dalam suatu amanah seperti hanya menjadi seorang staf,  karena kalau dipikir-pikir apalagi kita mengedepankan ego kita, menjadi staf itu adalah memang posisi yang paling nyaman. Beban mental dikit, tanggung jawab dikit, beban moral pun dikit….terkadang ada yang berpikiran seperti itu. Tapi ada juga yang tidak sehh….

PECUMA ! acara-acara motivasi telah banyak kita ikuti, kalau kita tetap menjadi pengecut, kalau kita tetap menjadi pecundang dalam menjalankan amanah yang kecil ini, karena hanya mengedepankan ego kita.

Adakah perasaan,… kita tidak ingin mengecewakan orang yang telah memilih kita untuk mengemban amanah ini, atau adakah perasaan kita tidak ingin mengecewakan Allah SWT yang mungkin amanah ini ada campur tangan dari Dia. Tapi kalau kita tetap mengedepankan ego kita yaa udah kita buang buang aja perasaan-perasaan tersebut.

Yakinlah kita pasti bisa, kita pasti sanggup, kita pasti pantas menjalankan amanah yang telah dipikulkan kepada kita…..jadikan amanah ini sebagai salah satu sarana bagi kita untuk meningkatkan kapasitas diri kita. Imam syahid Hasan Al-Banna dalam wajibatul Akh di Risalatu ta’alim mengatakan “ hendaklan kalian bersungguh-sungguh meningkatkan kapasitas diri kalian, hingga tongkat kepemimpinan itu diserahkan pada kalian yang memiliki kualitas”.

Ditinjau dari naluri kemanusiaan.
Y96.Sabtu 25 September 2010

Jangan Terlena

Program Mahasiswa Wirausaha yang mengarahkan mahasiswa untuk menjadi pengusaha-pengusaha mudayang kelak dapat membuka lapangan pekerjaan. Program kreatifitas mahasiswa (PKM) yang mengarahkan mahasiswa untuk bisa berfikir kreatif menemukan sebuah gagasan-gagasan melalui penelitian. Program Mahasiswa Berprestasi Memberikan dana yang sebesar-besarnya kepada organisasi mahasiswa intra kampus agar dia lebih berkutat pada pembuatan agenda-agenda even organizer.

Program-program tersebut dibuat menarik untuk diikuti oleh mahasiswa dengan memberikan sebuah penghargaan dan pemberian sejumlah uang jika berhasil menjadi yang terbaik.

Agenda-agenda tersebut jangan sampai melenakan kita,,, agenda yang mengarahkan kepada kita agar berkutat pada ranah keilmuan saja sehingga bisa saja akan melenakan kita dan kita tidak mau berpikir lagi akan kondisi disekitar kita…kita sebagai da’I yang bertugas menyeru kepada kebaikan untuk orang-orang yang mengalami kebingungan. Kita para kaum intelektual yang bebas dari kepentingan-kepentingan politik praktis,,,kita yang sebagai social control atas berjalannya pemerintahan… ini adalah tugas kita selaku seorang da’I di kampus dan seorang mahasiswa sebagai social control, jangan sampai kita terlena dengan aktifitas-aktifitas di atas yang mungkin program itu semua di buat oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan perhatian mahasiswa agar lebih berkutat kepada bidang pengembangan diri dan keilmuan saja sehingga tidak perlu lagi ataupun terlupa dengan kerusakan yang terjadi di pemerintahan.

 Bukannya tidak boleh mengambil kesempatan mengikuti semua program yang telah dicanangkan tersebut. Bahkan kalau bisa kenapa tidak… kita lah para aktifis dakwah yang berhasil menjadi mahasiswa berpretasi,,,kita lah para aktivis dakwah yang menjuarai setiap PKM,,,,kitalah para aktivis dakwah yang menjadi para pengusaha-pengusaha muda…karena itu juga akan mendukung dalam aktivitas dakwah kita, dan kita akan lebih mudah menarik perhatian objek dakwah kita dengan sesuatu kelebihan yang kita miliki melalui sarana program-program tersebut diatas.

Artinya adalah kita harus bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia (seperti dengan adanya program-program tersebut) dengan sebaik-baiknya akan tetapi jangan sampai kita menjadi terlena karenanya,,,sehingga lebih focus untuk memikirkan penelitian keilmuan saja, memikirkan menjalankan usaha saja, terlalu study orientied dan kita malah terlupa bahkan malas lagi memikirkan fungsi awal kita sebagi seorang mahasiswa dan da’i.

Kita harus waspada dengan tipu daya yang dibuat setan terhadap sesuatu yang bisa membuat kita terlena olehnya, yang membuat kita terlupakan tugas kita selaku da’I menentang kebethilan dan mengajak manusia kepada kebenaran, mengingatkan penguasa jika dia melakukan kesalahan, membuat kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung atas kemaslahatan para rakyatnya. Kita juga harus meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang muslim, sebagai seorang da’i. sehingga keseimbangan itu terwujud, seimbang atas ilmu keduniaan dan ilmu keakhiratan yang kita akan kekal didalamnya. Kita tetap mengikuti program keilmiahan akan tetapi tidak membuat kita lupa untuk juga mengkaji terkait dengan kita selaku muslim, selaku seorang da’i.

Kamis, 18 Oktober 2012

KAMMI dan Kejayaan ISLAM

“KAMMI DAN KEJAYAAN ISLAM” (Sebuah Refleksi Pasca DM III KAMMI SUMBAGSEL - Jambi, 23-28 Nopember 2010) Oleh Yudhi Prasetyo KAMMI JAMBI. Jambi, 27 Nopember 2010

Kemenangan islam adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan terwujud, karena Allah pun telah menjanjikan dalam Al-Quran surah An-Nuur : 55, yang berbunyi “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah(keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Bahwa kemenangan islam akan diberikan kepada orang-orang beriman, orang-orang beriman ini adalah umat islam itu sendiri bukan orang-orang kafir atau orang-orang fasik. Sebuah konsep strategi untuk merebut kepemimpinan sehingga ketika telah menjadi seorang pemimpin kita dapat menerapkan aturan-aturan sesuai dengan apa yang Allah SWT inginkan kepada kita. Dan membuat aman sentosa terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Akan tetapi kemenangan tersebut tidak diberikan oleh Allah secara langsung tanpa usaha yang kita lakukan untuk mendapatkannya. Jadi kemenangan ini harus diperjuangkan oleh umat islam. Dan kemenangan oleh umat islam tidak didatangkan secara tiba-tiba, dia butuh pengorbanan untuk memperjuangkan kemenangan tersebut. Banyak yang harus dipersiapkan oleh umat islam untuk mencapai kemenangan itu, mempersiapkan syarat-syarat untuk mencapai kemenangan itu dan mempersiapkan fase-fase atau tahapan untuk mencapai sebuah kemenangan.

Syarat-syarat untuk mencapai sebuah kejayaan yakni 1) iman kepada Allah dan Amal Sholeh, 2) realisasi ibadah, 3) perang terhadap kemusyrikan, dan 4) taqwa kepada Allah. Dengan terlebih dahulu kita membangun syarat-syarat tersbut melalui kerja-kerja kita dalam membentuk umat islam agar dapat memenuhi syarat-syarat tersebut. Kemudian menyiapkan fase-fase untuk mencapai kejayaan tersebut juga harus kita ketahui dan kita berusaha untuk mencapai setiap fase-fase tersebut dengan secara maksimal, sehingga fase demi fase dan terjalankan dengan baik, terpenuhi tahap demi tahap, beralih dari tahap yang satu ke tahap yang lain yang lebih tinggi dengan tetap mempertahankan dan memperkuat tahapan sebelumnya, artinya tidak meninggalkan tahap yang sebelumnya. Tahapan tersebut yakni; 1) fase dakwah dan pengenalan islam, 2) fase pemilihan unsure-unsur pengemban dakwah, 3) fase penerapan, 4) fase tamkin, dan 5) Gerakan islam dan perannya dalam mengembalikan kejayaan.

Diakui atau tidak memang dalam memenuhi syarat dan fase-fase untuk mencapai kemenangan tersebut banyak kendala yang dihadapi baik dari sisi internal umat islam itu sendiri ataupun dari sisi eksternal. Contoh dari kendala sisi internal yang dihadapi untuk memenuhi syarat dan fase mencapai kemenangan adalah seperti, pemahaman umat islam yang kurang mengenai janji kemenangan islam, banyaknya terbentuk firqoh-firqoh pergerakan islam. Sedangkan dari sisi eksternal yakni konspirasi dari umat yang tidak menginginkan umat islam bangkit yang telah dilancarkan dengan baik sehingga disadari atau tidak konspirasi tersebut telah merasuk di dalam diri umat islam. Akan tetapi meskipun kendala yang telah kita baca untuk mewujudkan kemenangan islam itu banyak dan berat, kita harus mempunyai keyakinan yang besar bahwa kemenangan islam itu pasti terwujud di suatu hari nanti, dan sekarang merupakan keputusan kita untuk memilih antara kita diam saja dan menanti kemenaangan islam itu tiba atau kita turut mengambil peran dalam mewujudkan kemenanganya islam tersebut.

Kemudian adapun cara untuk memenuhi setiap syarat dan fase untuk mencapai kemenangan tersebut bukan lah dengan menggunakan cara yang asal atau tidak sesuai dengan aturan. Akan tetapi untuk memenuhi setiap syarat dan fase tersebut yakni dengan menggunakan cara-cara yang syar’I, sesuai dengan apa yang telah dituntunkan oleh al-Qur’an dan As-sunnah. Dengan cara-cara yang seperti ini diharapkan dapat meraih kemenangan islam dan bisa menciptakan sebuah ketenteraman ketika islam itu memimpin.

Peran KAMMI sebagai sarana untuk ikut serta dalam mewujudkan kemenangan islam tersebut adalah yang dinanti-nantikan. Peran KAMMI untuk memenuhi syarat-syarat dan fase-fase untuk mencapai kemenangan islam baik secara pribadi ataupun menyebarkan pemikiran-pemikiran tentang kemenangan islam kepada umat islam yang belum memahami tentang kemenangan islam harus diwujudkan oleh umat islam itu sendiri. Peran KAMMI untuk membuat propaganda tentang kemenangan islam kepada seluruh umat islam sehingga timbul dengan sendirinya pada diri umat bahwa kemenangan islam itu pasti dan perlu serta timbul keinginan untuk mewujudkan kemenenangan tersebut. Peran KAMMI dalam mengatasi setiap kendala-kendala yang dihadapi untuk mencapai kemenangan islam. Kendala tersebut berasal dari syarat-syarat ataupun fase-fasenya. KAMMI harus mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi umat dalam membangun kebangkitan umat melalui pilar-pilarnya untuk mencapai dan menunaikan Janji Allah SWT tentang kemenangan islam.

Membuat formulasi-formulasi dari KAMMI untuk memberikan solusi permasalahan yang sedang dihadapi umat islam harus senantiasa terpikirkan bagi kader-kadernya. Tantangan konspirasi dari pihak musuh, pihak yang tidak menginginkan umat islam bangkit dan merebut kemenangannya harus segera dipahami supaya tidak terlena dengan konspirasi yang telah dibuat oleh pihak musuh tersebut. Mengendalikan konspirasi dan melawan konspirasi tersebut sehingga tidak terberdaya olehnya. Selain hanya disadari oleh diri sendiri kemudian membuat formulasi untuk menyebarkan pemahaman tentang konspirasi itu kepada seluruh umat islam sehingga mereka juga bisa membantu dalam mewujudkan kemenangan isalam dan melawan atau membendung konspirasi yang dijalankan pihak musuh.

Demokrasi adalah salah satu bentuk konspirasi oleh pihak-pihak mush islam, akan tetapi melalui demokrasi inilah kita dapat memanfaatkannya, karena dengannya kita dapat berbuat semau kita, bebas dalam bertindak, berkata dan berekspresi. Demokrasi yang telah ditetapkan sebagai system suatu Negara khususnya Indonesia menjadi peluang tersendiri untuk menjadikan itu sebagai sarana untuk mencapai kemenangan itu sendiri. Inilah system, sehingga ketika ingin memperbaiki system ini atau bahkan akan mengubah system ini maka harus dengan memasuki system tersebut akan tetapi jangan samapi melebur olehnya. Kita tidak menghancurkan demokrasi akan tetapi mengakhiri demokrasi. Artinya adalah kita tidak menentang demokrasi akan tetapi memasukinya terlebih dahulu kemudian sedikit-demi sedikit kita perbaiki dan akhirnya kita akan mengakhiri demokrasi ini dengan menggantinya dengan system yang lebih mengacu kepada Al-qur’an dan sunnah.

Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi dengan sebaik-baiknya dalam pelaksanaan sistemnya dibandingkan dengan Negara-negara lain. Peran KAMMI dalam membangun Negara Indonesia ini. Menjadikan Indonesia menjadi stimulant bagi kebangkitan umat di Negara-negara lainnya, maka akan kita bangun Indonesia ini menjadi Negara yang baik yang akan menjalankan sistemnya dangan al-qur’an dan sunnah. Dengan kondisi Indonesia saat ini, masalah-masalah yang dihadapi oelh Indonesia begitu kompleks, terkena ke semua lini/aspek. Baik dari sisi pemerintahannya sendiri, pelaku-pelaku pemerintahannya, rakyatnya semuanya telah mengalami banyak masalah. Birokrasi yang tidak beres sehingga menuntuT untuk melakukan reformasi demokrasi, pelaku-pelaku pemerintahan yang dihinggapi penyakit KKN yang mengakar sehingga menuntut untuk memberantasnya. Disini lah KAMMI harus bisa mengambil peranan dalam melakukan perbaikan terhadap kondisi Negara tersebut.

Kekuatan aqidah yang dimiliki KAMMI akan menjadi pegangan bagi para kadernya dalam bergerak. Nilai-nilai aqidah tersebut tertuang dalam prinsip/ideology Gerakan KAMMI. Adapun prinsip gerakan tersebut yakni ; a). Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI, b). Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI, c). Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI, d). Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI, e). Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI, dan f).Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI. Ini adalah merupakan penuangan dari yang akidah yang diajarkan oleh islam, hanya saja terjabar dalam sebuah kata-kata yang tersistematis. Prinsip-prinsip tersebut harus benar-benar mengakar dalam hati setiap kader KAMMI sehingga dalam bergerak dia tidak akan lari dari prinsip-prinsip tersebut terutama lagi lari dari kaedah yang bersumber Al-qur’an dan sunnah. Melalui prinsip-prinsip gerakan tersebutlah KAMMI bertindak. Gerakan KAMMI tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk kemenangan islam, agar islam ini menguasai seluruh pelosok tanah air ini, agar islam di jadikan undang-undang dalam mengatur kehidupan manusia yang ada di atas kuasanya.

Dan atas dasar prinsip tersebut lah, KAMMI turut ambil bagian dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di Negara ini, mencoba memberikan tawaran-tawaran solusi konkret untuk memperbaiki permasalahan yang tengah terjadi. KAMMI akan selalu respect terhadap kebatilan-kebatilan yang terjadi di negeri ini, menjalankan fungsi social control terhadap pemerintahan. Kemudian membentuk kader-kader berkarakter pemimpin sehingga pasca kampus dia bisa diletakan di segala lini untuk melakukan perubahan perbaikan disana. Kader-kader KAMMI disiapkan untuk mengisi ruang-ruang eksekutif,legislative, yudikatif, ataupun swasta. Sehingga di sana dia bisa menjalankan misi perbaikan sesuai dengan prinsip-prinsip gerakan KAMMI yang telah mengakar di dalam dirinya. Dengan melakukan itu semua secara optimal maka di harapkan KAMMI telah turut mengambil bagian dalam mencapai kejayaan islam. Mengatasi permasalahan-permasalahan umat, memahami konspirasi yang dibuat oleh musuh islam dan mencoba untuk menghentikannya ataupun melawannya. Turut serta dalam mengatasi permasalahan Negara yang akan menjadi batu loncatan untuk menuju kejayaan islam secara mendunia. Dan turut dalam menjadi stimulus dalam kebangkitan umat.

Senin, 15 Oktober 2012

Aku tidak takut

Bukan rasa sakit yang aku takutkan ketika aku mati nanti
Bukan penyebab kematian yang aku takutkan ketika aku mati nanti
Bukan dimananya yang aku takutkan ketika aku mati nanti
Bukan waktu nya yang aku takutkan ketika aku mati nanti
Bukan siap atau belum siapnya yang aku takutkan saat aku mati nanti

Tapi aku menakutkan bagaimana kondisi aku mati nanti,
dalam keadaan husnul khotimah atau su'ul khotimah.
Semoga Allah mengistiqomahkan aku untuk tetap berada dalam jalan-Nya
hingga akhir hayatku. Aamiin...

Yudhi Prasetyo, 16-10-2012

Pecuma...!



Pecuma kajian-kajian itu diadakan jika tidak menambah tsaqofah yang hadir dalam kajian tersebut…!
Pecuma taujih-taujih itu dilaksanakan di forum yang dihadiri banyak orang jika tidak menjadi tamparan keras buat yang hadir dalam taujih tersebut dan mereka tersadar akan kesalahannya….!

Pecuma tausyiah-tausyiah itu dilaksanakan di setiap forum rapat/majelis2 lain kalian jika itu tidak membuat kalian  tersadarkan dengan apa yang ada dalam diri kalian, dan kalian tidak mengambil hikmah dari tausyiah yang diberikan ! Atau tausyiah itu hanya bersifat rutinitas/agenda pendahuluan sebelum rapat saja?

Pecuma tulisan-tulisan yang bersifat nasehat, saran , dan kritik itu dibuat jika tidak dijadikan refleksi bagi diri kalian…!
Pecuma liqo-liqo itu dilaksanakan jika tidak membuat perubahan (sifat, kebiasaan jelek, pemahaman) yang signifikan bagi kalian…!

Kepecumaan-kepecumaan tersebut di tujukan kepada kalian semua….ya kalian semua, kalian yang hadir dalam kajian-kajian, hadir dalam taujih-taujih, pendengar tausyiah-tausyiah, pembaca—pembaca tulisan dan yang menghadiri halaqoh-halaqoh. Kepecumaan tersebut bukan ditujukan kepada pengisi kajian, pemberi taujih, pemberi tausyiah, pembuat tulisan dan murobbi-murobbi kalian semua, dan juga bukan terhadap pelaksanaannya poin2 tersebut,.BUKAN !

Coba kalian perhatikan apa yang telah berubah dalam diri kalian setelah SEKIAN LAMA dan BANYAK menghadiri kajian-kajian, taujih-taujih, mendengarkan tausyiah-tausyiah (sebagai ahlusy syuro’, berapa kali banyaknya kalian mendapatkan tausyiah), membaca tulisan, dan menghadiri liqo.
Perubahan dari sifat kalian, pemahaman kalian dan tsaqofah kalian !!!

Jika tidak ada perubahan dan tidak mau berubah, lebih baik kalian TIDUR SAJA dari pada hadir dan ikut dalam majelis-majelis di atas, karena akan sama saja baik sebelum ataupun sesudahnya.

PECUMA..PECUMA…PEE…CUU…MA . . .! ! !
Wallahu a’lam.
Y96

Minggu, 14 Oktober 2012

Keluargaku

Dari keuarga kecil inilah yang bisa menghantarkan aku sehingga bisa seperti sekarang ini. Yaa Allah, ampunilah aku dan dosa kedua orang tuaku, kasihani dan sayangilah keduanya seperti mereka telah mengasihiku dari kecil hingga sekarang ini. Dan jadikan lah saudara-saudaraku anak yang cerdas dan sholeh.
Dari keluarga kecil inilah yang mengahantarkan aku sehingga bisa sekarang ini. Kepada kedua orang tuaku yang tak pernah lelah dalam memenuhi kebutuhanku. "Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku. Kasihi dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mengashi dan menyayangiku dari kecil hingga sekarang ini. Berikanlah kehidupan yang baik bagi keduanya di dunia maupun di akhirat kelak. Dan jadikan lah kedua saudaraku anak yang cerdas dan sholeh, yang mampu membahagiakan kedua orang tua" aamiiin.....

Partner Kerja Bagimu


Partner dalam setiap aktifitas itu memang sangat dibutuhkan, aktifitas apapun itu. Karena dengan adanya partner kita bisa terus berbagi dalam setiap suka dan duka, memecahkan permasalahan bersama ketika ada masalah di hadapan. Setidaknya, meskipun hanya saling bercerita tentang apapun terkait aktifitasnya pasti ia telah meringankan beban yang ada. Beratnya beban yang ada pasti akan terasa ringan.

Untuk menghadapi apa yang akan dikerjakan selanjutnya seorang yang lemah pasti ia akan mampu mengerjakan/menghadapinya. Ada seseorang yang bilang kepada ku seperti ini, "satu orang penakut jika ditambah satu orang penakut maka akan menjadi dua orang pemberani". Lho kok bisa, bukannya seharusnya menjadi 2 orang penakut?. ya karena dua orang penakut tersebut mampu menyakinkan satu sama lain untuk menjadi pemberani dalam menghadapi sesuatu. Jadi bukan menjadi 2 orang penakut atau hanya satu pemberani saja akan tetapi dua orang pemberani. Itulah fungsi besarnya seorang partner kerja, ia mampu meyakinkan kita ketika kita mempunyai salah atau kesalahan dalam bekerja. Jika tidak ada, yaa mungkin ia akan menanggungnya sendiri dan rasa bersalah itu mungkin kerasa besar.

Bahkan seorang musa, seorang nabi yang telah dijamin oleh Allah akan melindunginya dari kesalahan dan ancaman, ia meminta seorang partner ketika diperintahkan untuk mendakwahi fir'aun yang zholim. Ia merasa tidak berani atau mungkin tidak PD menghadapi fir'aun dikarenakan komunikasinya yang tidak lancar (cedal), mungkin ia khawatir malah akan diperolok oleh fir'aun dan keroco2nya. Allah pun mengutus Harun sebagai partner kerja musa untuk menghadapi fir'aun yang zholim sehingga menang dan menghadapi susahnya bani israil. Begitu juga dengan nabi nabi lainnya yang membutuhkan partner dalam menjalankan tugas dakwahnya. Itulah begitu besar partner kerja dalam kehidupan kerja kita pasti kita butuhkan bahkan sekaliber nabi pun membutuhkan partner kerja. Jangan remehkan partner kerjamu.

#YuP 27092012, DPD antara maghrib-isya.