PECUNDANGKAH
KITA…?
PENGECUTKAH
KITA…?
Wahai
orang yang beriman! Apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang akan
menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka. Dan barang siapa
mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak
menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh, orang itu kemabli
dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka jahannam, dan
seburuk-buruknya temapt kembali
(al-anfal
15-16)
Pemberian amanah bukan tanpa melalui proses
pertimbangan yang matang. Sehingga harus segera disadari bahwa saat ini kita
lah yang pantas untuk menjadi pengemban amanah tersebut di bandingkan orang
lain. Apalagi pemberian amanah kepada seoarang ketua (baik ketua umum maupun
ketua bidang) pasti lebih matang lagi pertimbangannya. Dan banggalah karena
kita termasuk orang yang dipertimbangkan.
Oleh karena itu ketika amanah ini telah terpikul di
pundak-pundak kita, tidak ada kata lagi untuk tidak menjalankannya. Buang
perasaan tidak pantas, tidak mampu, ataupun tidak paham.
Banyak yang hanya mengedepankan ego masing-masing
sehingga dengan berlindung pada alasan ketidakpantasan, ketidakpahaman, ataupun
ketidakmampuan, dia berusaha untuk tidak menjalankan amanah tersebut dengan
sebaik-baiknya, tidak menuntaskan amanah tersebut hingga selesai sudah amanah
tersebut berakhir. Yakinlah sesungguhnya penetapan amanah kepada kita tersebut
bukan hanya pengamanahan dari seseorang kepada kita saja, bisa saja amanah
tersebut datangnya dari Allah SWT, hanya saja melalui orang-orang pilihan untuk
proses pengamanahanya tersebut. Berarti amanah yang kita pikul ini juga
termasuk amanah dari Allah SWT.
Sifat egois memang selalu menyelimuti kita untuk
mundur dari amanah yang telah dipercayakan kepada kita. Mengapa kita tidak
memikirkan bagaimana kondisi ketua umum kita atau saudara-saudara kita yang
lainnya yang pada waktu bersamaan posisinya sama seperti kita, apakah dia tidak
memiliki perasaan sama seperti kita, apakah dia tidak ingin cepat tamat, apakah
dia tidak ingin membahagiakan orang tuanya. Ataukah kita hanya berpikir untuk
diri kita sendiri, sehingga dengan berlindung masih ada yang pantas untuk
mengemban amanah ini.
Mengapa kita tidak membuang keminderan pada diri
kita ketika ada perasaan tidak pantas, mengapa kita tidak berusaha untuk
memahamkan diri kita, dan mengapa kita tidak memaksakan diri kita supaya
sanggup menjalankan amanah ini. yaa karena amanah ini telah diputuskan kepada
kita. Daripada kita hanya berkutat pada masalah-masalah pribadi kita seperti
itu sehingga tetap saja tidak menghasilkan sesuatu, lebih baik kita menjalankan
amanah ini dengan semaksimal mungkin yang kita bisa.
Buang sifat egois kita…..
Karena saudara kita pun memiliki keinginan sama
seperti kita, keinginan itu bukan hanya kita saja yang punya. Tetapi marilah
kita berusaha bersama-sama menuntaskan amanah ini dengan sebaik-baiknya terus
kemudian menuntaskan keinginan-keinginan kita secara bersama-sama pula. Apakah
kita tega dengan kita mengedepankan ego kita saja, kita biarkan saudara kita
itu bekerja menjalankan amanahnya sendiri.
PENGECUT
KITA! PECUNDANG KITA !
Hanya menjalankan amanah yang sekecil ini saja kita
tidak mampu.
Yang kita inginkan mungkin berada pada posisi-posisi
nyaman saja dalam suatu amanah seperti hanya menjadi seorang staf, karena kalau dipikir-pikir apalagi kita
mengedepankan ego kita, menjadi staf itu adalah memang posisi yang paling
nyaman. Beban mental dikit, tanggung jawab dikit, beban moral pun
dikit….terkadang ada yang berpikiran seperti itu. Tapi ada juga yang tidak
sehh….
PECUMA ! acara-acara motivasi telah banyak kita
ikuti, kalau kita tetap menjadi pengecut, kalau kita tetap menjadi pecundang
dalam menjalankan amanah yang kecil ini, karena hanya mengedepankan ego kita.
Adakah perasaan,… kita tidak ingin mengecewakan
orang yang telah memilih kita untuk mengemban amanah ini, atau adakah perasaan
kita tidak ingin mengecewakan Allah SWT yang mungkin amanah ini ada campur
tangan dari Dia. Tapi kalau kita tetap mengedepankan ego kita yaa udah kita
buang buang aja perasaan-perasaan tersebut.
Yakinlah kita pasti bisa, kita pasti sanggup, kita
pasti pantas menjalankan amanah yang telah dipikulkan kepada kita…..jadikan
amanah ini sebagai salah satu sarana bagi kita untuk meningkatkan kapasitas
diri kita. Imam syahid Hasan Al-Banna dalam wajibatul Akh di Risalatu ta’alim
mengatakan “ hendaklan kalian bersungguh-sungguh meningkatkan kapasitas diri
kalian, hingga tongkat kepemimpinan itu diserahkan pada kalian yang memiliki
kualitas”.
Ditinjau dari naluri kemanusiaan.
Y96.Sabtu
25 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar