Dari sisi ilmu yang
bermanfaat.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata,,
Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus
kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan
anak soleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).
Menjadinya soleh diri kita ini pasti tidak
terlepas dari peran orang lain yang memberikan pemahaman kepada kita tentang
kesholehan. Sehingga kita pun dekat dengan hidayahnya Allah SWT untk senantiasa
menjalankan amalan-amalan sholeh dalam kesahrian kita. Tidak terlepas dari
peran orang lain, peran dari temen-temen dekat kita, kakak-kakak kita, senior2
kita atau para da'i secara umum. Dengan adanya pemberian pemahaman yang intens
kpd kita maka kita pun akhirnya paham akan pentingnya sebuah kesholehan dan
melakukan amalan-amalan sholeh bagi seorang muslim. Akhirnya kita pun berusaha
utk menjadi anak yang sholeh secara pribadi. Kemudian kita terpacu untuk
melakukan perbaikan diri, banyak yang kita lakukan utk mencapai kesholehan
pribadi itu, utk meningkatkan kapasitas kesholehan kita itu. Berbagai sarana
kita pergunakan utk menambah pemahaman kita sebagai anak yang sholeh.
Pahala besar akan didapatkan oleh orang
yang tlah menjadi sarana kita utk berubah menjadi anak yang sholeh. Yang
pahalanya sama dengan pahalanya kita tanpa mengurangi pahala kita.
“Barang siapa mengajak pada petunjuk, ia
berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi
pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa ,mengajak kepada kesesatan, ia
berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak
mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (H.R. Muslim)
Sungguh, benar-benar ilmu yang bermanfaat
ketika kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain, yang mengajak kepada
sebuah kebajikan. Sangat memberikan ganjaran yang besar bagi orang yang
memiliki ilmu dan digunakan untuk menyolehkan orang lain. Rugi donk, ketika
kita tidak memiliki keinginan untuk bisa menjadi seperti orang yang telah mampu
menyolehkan kita. Pahalanya selalu mengalir kepadanya selama kita melakukan
amalan sholeh dari yang ia ajarkan kepada kita.
Maka, kita pun harus bertekad supaya bisa
seperti orang yang telah menyolehkan kita. Yakni dg cara mencari target siapa
yang akan kita sholehkan melalui
sarana kita. Ilmu yang kita punya kita sebarkan ke semua orang yang ada di
sekitar kita. Sehingga Ilmu yang baik yang
kita miliki itu tidak hanya sekedar untuk diri kita sendiri akan tetapi bisa
tersebar utk orang lain pula. Sholehnya bukan sholeh pribadi tapi sholeh sosial.
Jangan menjadi sholeh yang tak berdaya guna yang tidak bisa memberikan
perbaikkan kepada apa yang terjadi di lingkungan kita. Setidaknya meskipun itu
kecil dalam melakukan perbaikkan, tetaplah lakukan itu. Jangan sampai seperti sebuah
cerita, Allah melaknat suatu kaum yang telah melakukan banyak kemaksiatan kemudian
akan memberikan sebuah azab kepada kaum tersebut. Azab akan dimulai dari rumah seorang yang sholeh
dikarenakan orang tersebut hanya memikirkan kesholehan pribadinya saja tanpa
memikirkan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Mari berangkat dari rasa simpatik dan
empatik terhadap kondisi di lingkungan sekitar kita terutama dunia remaja dan
pemudanya. Kondisi remaja saat ini sungguh menyedihkan, mereka terpengaruh
dengan budaya-budaya yang sangat jauh dari keislaman. Free sex, Narkoba, Miras,
hura-hura, durhaka kepada orang tuanya, dan perbuatan-perbuatan jelek lainnya.
Mereka sangat jauh sekali dari islam. Maka timbulkanlah keinginan tuk menjadikan
mereka semua tersentuh dengan nilai islam dan menjadikannya sholeh melalui
sarana ilmu yang kita miliki.
Sehingga ilmu kita pun akan menjadi bermanfaat
bagi orang lain. Dan tidak sedikitpun kita dirugikan dengan memberikan ilmu
yang kita miliki tersebut karena ia akan menghasilkan. Hasilnya berupa pahala
yang akan mengalir kepada kita meskipun kita telah meninggal selama ia
menjalankan apa yang telah kita ajarkan kepadanya.
Itulah soleh dan menyolehkan melalui sarana
ilmu yang bermanfaat yang seseorang miliki, yang akan senantiasa mengaliri dan
dialiri pahala secara terus menerus meski tlah meninggal. Yang akan bisa
menolong dan ditolong melalui pahala yang mengalir tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar