TETAP EXIST WALAU TAK
DIANGGAP
Dengan
Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Dan
Katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Maha Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Q.S.
At-Taubah : 105)
Terkadang kalau kita mengikuti naluri kita sebagai manusia pasti
banyak hal yang akan membuat kita sakit hati, muak, bosan, jenuh dan akhirnya
ingin keluar. Gimana tidak, kalau kita selalu tidak dianggap ada, atau tidak
terlalu diperhatikan untuk suatu urusan yang padahal kita pun berada dalam
bagian dari itu, sehingga emang menimbulkan kesan tidak menjadi prioritas.
Ada seorang ketua yang seharusnya dia yang dievaluasi
terkait apa yang terjadi di lembaga yang dia pimpin, akan tetapi lebih memilih
orang lain untuk di evaluasi secara rutin.
Ada pula yang tidak boleh ikut pada sebuah acara yang
seharusnya dia yang berada di sana dan yang sangat membutuhkan untuk ikut pada acara
tersebut karena dia adalah orang yang bertanggung jawab di sebuah lembaga. Sudah jauh-jauh datang cuma berharap bisa
ikut acara tersebut,,, eh tiba-tiba di cut
tidak boleh masuk, karena sudah ada yang diutus untuk itu. Ha…ha…ha…Kasihan
deh loe..
Tidak terpenuhinya suplemen yang lebih. Yang katanya seseorang
yang memiliki posisi besar di sebuah lembaga dan atau telah “lama” tergabung
dalam sebuah lembaga, harus diberikan asupan yang lebih dibandingkan yang lain.
Dan bahkan ada juga yang memang bener-bener tidak
dianggap lagi, karena kurang tepatnya pengambilan kebijakan disebabkan adanya
kesalahpahaman saja dalam mendapatkan informasi dan tidak diberikan kesempatan
untuk klarifikasi.
Dan masih banyak lagi kondisi-kondisi yang menimbulkan
kesan kita termasuk yang terabaikan, bukan prioritas.
Sakit hati emang sakit hati ketika kita sebagai manusia yang
mempunyai hati, yang kadang memiliki rsa ingin sedikit diperhatikan (meski
bukan menjadi tujuan) tidak diberikan dan naluri manusia suatu saat seperti
itu…
Muak emang muak ketika ada temen kita yang terlalu diperhatikan dan
diberikan banyak kesempatan dibandingkan kita.
Tapi kawan, jangan lah kita
bersedih hati. Kita bekerja bukan untuk manusia, kita bekerja bukan untuk
mendapatkan kedudukan di hadapan manusia. Kita bekerja hanya untuk Allah, Insya Allah. Ingat sebuah penggalan
kalimat dari salah satu Kredo KAMMI yang bunyinya. “….Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari
pujian atau kedudukan.
Kita harus bisa belajar dari akar yang rela berjuang di bawah tanah,
yang meskipun tidak tampak akan tetapi sesungguhnya dia yang paling mempunyai
peranan lebih dalam memberikan sebuah penghidupan bagi sang pohon sehingga
pohon itupun lambat laun bisa memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya. Biarkan
orang melihat pohon yang kokoh, biarkan orang mengambil manfaat dari yang
dihasilkan pohon tersebut. Karena sebenarnya kita lah yang membuatnya bisa
seperti itu, dan itu mampu dipahami bagi orang-orang yang berilmu.
Kemudian Seperti ayat di awal kita diperintahkan untuk bekerja dan
kemudia biarkan Allah dan Rasulnya serta
orang-orang mukmin yang akan melihat pekerjaan kita itu. Cukuplah Allah bagi
kita, alangkah senangnya ketika Allah yang melihat kita, Allah yang maha kaya,
Allah yang maha sempurna dibandingkan dengan manusia yang terbatas
kepemilikannya.
Kita masih disini, berikan yang terbaik untuk dakwah dan islam ini,
kita tunjukan pada dunia kita mampu berkontribusi dan memberikan yang terbaik
meski kita tak terperhatikan. Jangan sampai hanya karena kita mengedepankan ego
manusiawi kita, lantas kita berhenti bahkan mau keluar karena sakit hati.
Seperti apa yang dikatakan Abu Bakar radiyallahu anhu “mungkinkah kubiarkan agama ini berkurang padahal
aku masih hidup”. Sebuah semangat untuk selalu berkontribusi, bekerja hanya
untu islam, hanya untuk Allah. Kita pun harus memiliki tekad laksana Abu Bakar
tersebut, selama kita masih disini tak kan kita biarkan nilai-nilai islam ini
berkurang.
Kita harus tetap Exist walau tak dianggap, bukan malah exit karena tak dianggap.
Biarkan orang lain lebih diperhatikan, lebih teristimewakan. Biarkan
orang lain yang mengambil peran lebih. Biarkan kita tidak diberikan sesuatu
yang lebih. Kita adalah manusia yang diberikan akal yang luar biasa oleh Allah
SWT. Kita bisa mencari ilmu sendiri dan
meningkatkan kapasitas diri kita sendiri dengan memperkuat tarbiyah dzatiyah
dan sarana-sarana lain yang dekat dengan kita. Dan cukuplah Allah dan Rasul-Nya
yang menjadi pegangan bagi kita.
Kita harus sabar karena mungkin dengan tidak terperhatikannya kita,
ini adalah sebuah cobaan bagi kita yang datangnya dari Allah swt, dan kita akan
mulia darinya, Insya Allah. Dan ingat
Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umat-Nya di luar kemampuannya.
Wallahu A’lam, kebenaran datangnya dari Allah SWT.
Setidaknya inilah tausyiah yang diberikan untuk penulis itu sendiri,
dan akan menjadi penyejuk jiwa penulis.
Y96.Senin malam, 18 Oktober 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar