Rabu, 19 Juni 2013
Terima kasih "Batu Sandungan"
Jadikan setiap masalah sebagai batu sandungan bagi kita semua. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena sudah menjadi fitrah bahwa manusia memiliki sifat lemah dan salah. Jangan malah sibuk mencari siapa yang membuat kita bersalah, akan tetapi bagaimana supaya ia mengingatkan kita tentang kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Sehingga ada proses perbaikan dalam diri kita sendiri.
Bayangkan ketika melakukan salah, terus kemudian tidak ada yang mengingatkan atau yang menyalahkan kita. Mungkin, kita akan terus melenggang melakukan kesalahan itu terus dan mungkin kesalahan demi kesalahan dengan mudahnya kita lakukan dikarenakan sudah terlalu biasa kita melakukannya.
Yang namanya batu sandungan itu pasti menyakitkan buat kita, mungkin bisa membuat kaki kita berdarah karenanya. Akan tetapi batu sandungan tersebutlah yang memaksa kita berhenti sejenak. berhenti untuk mengobatinya ataupun memikirkan kenapa dia bisa tersandung batu sandungan itu. Di sini akan terjadi proses muhasabah diri, sehingga kita tidak menjadi orang yang sombong yang menganggap kita yang tidak pernah melakukan kesalahan atau memaklumi kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan di masa lampau.
Bersyukur kita tersandung, beruntung kita terluka sejenak. Daripada kita tidak pernah tersandung sehingga tidak ada waktu untuk memuhasabah diri. Jadikan luka tersebut sebagai pengingat atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Sehingga kemudian ke depan perbaikan-perbaikan yang dilakukan.
Beruntung ada teman yang mengingatkan atas kesalahan yang telah kita lakukan. Meskipun kadang mereka mengingatkan kita dengan cara yang tidak kita sukai, Mengeluarkan kata-kata pedas, sindiran-sindiran tajam, ataupun menghambat kita sehingga kita tidak jadi mendapatkan sesuatu. Sakit emang sakit ketika kita harus menerima luka atas kata-kata ataupun sindiran yang mengingatkan kita. Tapi beruntung itu semua dilakukan kepada kita. Dengan begitu kita dipaksa untuk berhenti sejenak dan memikirkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan terdahulu.
Berhenti sejenak, kemudian berjalanlah kembali untuk melanjutkan perjalanan kita. Berjalan kembali dengan adanya bekal baru. Berjalan kembali dengan energi perbaikan yang telah kita lakukan di saat berhenti tadi. Berjalanlah kembali, sesuai dengan jalan yang lurus sehingga sampai pada tujuan yang telah kita niatkan di awal di saat kita hendak berangkat.
oleh : Yudhi Prasetyo
Jambi, 20 Juni 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar