Oleh : Yudhi Prasetyo
Sudah menjadi fitrah jika manusia memiliki sifat lemah dan selalu
dekat dengan kesalahan. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan, kecuali
para Rasul-Nya yang maksum dari perbuatan-perbuatan salah. Kesalahan yang
dilakukan manusia terkadang selalu berulang-ulang pada kesalahan yang sama.
Inilah manusia, yang lemah untuk menahan
diri dalam melakukan sebuah kesalahan. Bahkan menahan dari dalam dirinya, menahan
diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang mengajaknya pada perbuatan salah
juga ia kadang tak mampu.
Lantas, bukan berarti menjadikan kita untuk selalu memaklumi kelemahan
kita tersebut. Memaklumi setiap kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan
tanpa ada perasaan menyesal setelah melakukannya. Selalu memaklumi sebagai makhluk
yang lemah sehingga mewajarkannya ketika melakukan kesalahan tanpa ada upaya
yang kuat untuk melawan kelemahan itu. Memaklumi setiap kesalahan yang telah
dilakukan tanpa berusaha untuk memperbaikinya untuk di kemudian hari.
Di kondisi lain terkadang kita mungkin masih terlihat sebagai manusia
yang terbaik di hadapan manusia lainnya. Padahal kita masih merasa bahwa diri
ini masih banyak sekali kesalahan yg dilakukan. Merasakan kesalahan-kesalahan
yang merupakan aib masih banyak dalam diri ini. Akan tetapi, manusia menganggap
kita adalah seorang yang telah baik dari segala sisinya. Kita tidak bisa lepas
dari sikap lemah tadi, yang dengannya membuat kita berbuat salah. Kita masih
terlihat baik di hadapan manusia lainnya karena mungkin Allah masih menutup aib-aib
yang telah kita lakukan.
Sepatutnya bagi kita untuk bersyukur dan beristighfar kepada Allah
secara bersamaan atas kelemahan-kelemahan kita.
Bersyukur Allah masih menutup aib-aib yang telah kita lakukan,
sehingga kita masih bisa tampil baik di hadapan manusia, yang masih PD
bercengkerama dengan teman-teman kita. Atas kebaikan-Nya Dia masih
menyembunyikan aib-aib kita di hadapan manusia. Apa jadinya ketika aib tersebut
dibukakan oleh-Nya, mungkin kita akan merasa hina karena aib-aib kita tersebut
diketahui oleh orang lain. Sesuatu yang kita anggap aib pasti ia akan membuat
kita malu jika diketahui oleh orang lain. Meskipun kita dengan sadar melakukan
sebuah kesalahan di tempat yang tidak diketahui orang lain tetap saja kita akan
malu jika itu diketahui oleh orang lain.
Bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena Dia telah menutupi
aib-aib kita, kesalahan-kesalahan kita di sebabkan oleh kelemahan kita sebagai
manusia. Berterima kasih karena Dia menutup aib dan kesalahan kita. Aib yang
berupa sifat-sifat jelek yang coba kita tahan untuk tidak diperlihatkan kepada
orang lain. Prilaku ataupun perbuatan jelek yang kita lakukan di saat kita
sendiri. Sehingga dengan ditutupnya aib tersebut kita masih terlihat baik di
hadapan manusia lainnya.
Beristighfarlah, mohon ampun
kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Allah mungkin masih
memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri sehingga Dia belum
membukakan aib kita di hadapan manusia. Bukan lantas pula kita berlaku sombong
ketika aibnya tidak diperlihatkan oleh Allah sehingga kita masih terlihat baik
di hadapan manusia.

Sudah menjadi fitrah jika manusia memiliki sifat lemah dan selalu dekat dengan kesalahan. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan, kecuali para Rasul-Nya yang maksum dari perbuatan-perbuatan salah.
BalasHapus