Kemenangan Islam merupakan salah satu prinsip gerakan KAMMI yang bisa
disebut sebagai ideologinya KAMMI. Sebuah ideologi yang akan menjadi jiwa bagi
KAMMI dan kader-kadernya untuk memperjuangkan kemenangan islam di atas muka
bumi ini. Sebuah keyakinan bahwa Allah telah mengisyaratkan bahwa Dia akan
memberikan kekuasan di bumi ini kepada orang-orang yang saleh, yang beriman dan
bertakwa.
Keyakinan terhadap Janji Allah
Sebagai seorang muslim yang beriman, maka ia harus meyakini bahwa
Islam akan kembali berjaya dan menjadi ustasziatul ‘alam. Meskipun kondisi
islam hari ini tidak lebih baik dari yang di luar islam. Islam mengalami
kemunduran dari segala sisi semenjak runtuhnya sistem kekhilafahan , Sistem
islam tidak dipakai lagi dalam segala aspek yang mengatur kehidupan ini. Ia
kalah dengan sistem-sistem sekular yang tidak melibatkan islam dalam sistemnya.
Keterpurukan islam hari ini lantas tidak membuat kita menjadi pesimis mengenai
kebangkitan islam.
Allah swt telah menjanjikan kepada kita bahwa kekuasaan bumi ini akan
diwariskan kepada hamba-hambanya yang beriman, hamba-hamba-Nya yang sholeh.
Janji tersebut tertuang dalam al-Qur’an yang tiada keragu-raguan di dalamnya.
Al-Qur’an adalah Mutlak kebenarannya, bagi orang yang beriman maka mengimani seluruhnya
apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sebuah keharusan. Maka ketika Allah
telah memberikan isyarat bahwa muslim yang beriman dan bertakwa akan menjadi
pemimpin di muka bumi ini, pemimpin yang beriman dan bertakwa yang kemudian akan
menjadikan islam sebagai dasar dalam mengatur sistem kehidupan di muka bumi ini
harus diyakini bagi orang-orang yang beriman.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.
(Q.S An-Nuur : 55)
Sayyid Qutbh mengatakan dalam zhilalnya, itulah janji Allah kepada
orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari umat nabi Muhammad SAW. Janji
itu berupa khilafah dan kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan keteguhan agama
yang diridhoi bagi mereka, dan ketakutan mereka diganti dengan keamanan. Itulah
janji Allah. Janji Allah pasti benar. Janji Allah pasti terjadi. Allah
sekali-kali tidak pernah mengkhianati janji-Nya.
Allah telah menunjukan peristiwa-peristiwa kemenangan yang diberikan
kepada para hamba-Nya yang sholeh dan
menghancurkan hamba-Nya yang kafir. Kita bisa melihat bagaimana Thalut yang
mampu mengalahkan Jalut, Musa yang mengalahkan Fir’aun, Generasi Sholahudin Al-Ayubi
yang mampu menaklukan Yerussalaem, Generasi Al-Fatih yang mampu menaklukan
Konstantinopel, Sulaiman yang diberikan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh raja
sebelum dan sesudahnya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya dari
orang-orang terdahulu. Mereka yang diberikan kemenangan adalah dalam keadaan
beriman. Allah hanya akan memenangkan hamba-Nya yang beriman yang kemudian
menjadikan Islam sebagai aturan hidupnya untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Dan
ini bukannya tidak mungkin ketika ke depan Allah pasti akan mengembalikan
kejayaan islam itu kepada umat muslim yang beriman.
Diperlihatkannya contoh bahwa Allah telah memberikan kemenangan kepada
para Hamba-Nya yang sholeh dan beriman sebelum kita, maka dengan itu bisa semakin
menambah keyakinan kepada kita bahwa janji Allah itu adalah pasti. Dengan diperlihatkannya
kemenangan kepada orang-orang sebelum kita, kita bisa memikirkannya dengan akal
untuk kemudian bisa memperkuat keyakinan kita tentang wahyu Allah itu. Maka
akan bertambahlah keyakinan kita akan janji Allah itu bahwa Allah akan berikan
kemenangan kepada orang-orang beriman dan menghancurkan orang-orang yang
berbuat zholim.
Bagi seorang kader KAMMI yang telah dibekali ideologi islam yang
mengakar, maka meyakini janji Allah tentang kemenangan ini pun harus selalu bersemayam
dalam dirinya dan menjadi jiwa perjuangannya.
KAMMI Menyambut Janji Allah
Laksana Muhammad al-fatih yang termotivasi untuk mewujudkan penaklukan
Konstantinopel dari tangannya karena adanya Kabar gembira dari Rasulullah SAW.
Dari Abdullah bin bisyr al-Khats’ami, dari ayahnya bahwasannya ia mendengarkan
Nabi SAW bersabda : “Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka
sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan
adalah pasukan (Penaklukan)nya.” (HR. Al-Hakim dalam Haitsami mengatakan
dalam majma’ Az-Zawa’id no. 10006:”hadits ini diriwayatkan oleh ahmad,
Al-Bazzar dan Ath-Thabarani, perawinya adalah Tsiqoh”.
Disebabkan kabar gembira ini, maka berkelanjutanlah para khilafah dan
pemimpin kaum muslimin berlomba-lomba di sepanjang masa untuk menaklukan
Konstantinopel, karena keinginan yang kuat untuk menjadi orang yang disebutkan
dalam Hadits Rasulullah tersebut. Kaum muslimin telah mengerahkan 11 kali upaya
sepanjang 800 tahun sebelum masa Muhammad Al-fatih untuk meraih kabar gembira
itu. Konstantinopel menjadi impian yang
menggoda kaum muslimin sepanjang masa. Dari masa ke masa semuanya
berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bisa menaklukan Konstantinopel.
Keinginan untuk menjadi orang terbaik selalu menggelora, akan tetapi 8 abad
lamanya tidak ada yang mampu menaklukan Kota Indah itu.
Muhammad Al-Fatih yang sejak kecil telah sering mendengarkan dari
guru-gurunya Hadits nabi yang mulia itu menjadikan Al-Fatih juga terobsesi
untuk bisa menaklukan Kota Konstantinopel itu. Akhirnya setelah 8 abad lamanya
Konstantinopel dapat ditaklukan oleh pasukan di bawah kepemimpinan Muhammad
Al-Fatih. Menjadikan dia dan pasukannyalah seperti yang disebutkan oleh
Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan. Keimanan
yang murni, ibadah yang selalu terjaga dengan baik menjadikan Muhammad Al-fatih
dan pasukannya adalah generasi yang terbaik, yang mampu mewujudkan kabar
gembira dari Rasulullah untuk menaklukan Konstantinopel.
Keyakinan kepada Janji Allah atas kemenangan umat muslim yang beriman pun
juga harus kita sambut. Bagaimana supaya dari tangan kita lah kemenangan itu
bisa kita raih, atau dari kontribusi kitalah kemenangan itu bisa kita raih. KAMMI
harus memiliki keinginan ini, menyambut setiap kabar kemenangan islam dengan
sebuah keyakinan yang seyakin-yakinnya. Menyambutnya dengan turut serta dalam
menyiapkan segala sesuatunya agar kemenangan itu segera terwujud. Kemenangan
Islam ini akan selalu menjadi jiwa perjuangan KAMMI di manapun dan kapanpun.
KAMMI menyiapkannya
Dalam buku tamkin wa nashr karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, beliau
menyebutkan tentang syarat-syarat sebuah kemenangan. Yang dengan syarat
tersebut akan menjadikan layak bagi kita untuk memperoleh sebuah kemenangan.
Seperti muhammad al-fatih yang juga pasti menyiapkan syarat-syarat kemenangan
sehingga ia layak untuk menaklukan Konstantinopel. Melalui Q.S An-Nur : 55-56
telah mengisyaratkan syarat-syarat terwujudnya kemenangan, yakni 1) beriman
Kepada Allah dengan segala maknanya dan segenap rukunnya, 2) Melakukan amal
sholeh dalam segala jenisnya, 3) senantiasa obsesif melakukan segala bentuk
kebaikan dan kebajikan, 4) membuktikan ubudiyah yang menyeluruh, serta 5)
memerangi kemusyrikan dalam segala ragamnya.
Apa hakikat dari iman itu? Sayyid Qutbh mengatakan di dalam zhilal
bahwa sesungguhnya hakikat iman itu yang dengannya akan terealisasi janji Allah
secara pasti adalah hakikat sangat besar yang mencakup seluruh aspek aktivitas
manusia. Dan, hakikat itu mengarahkan pada seluruh aktifitas manusia. Hakikat
iman itu adalah ketaatan kepada Allah dan penyerahan diri secara total baik
dalam perkara kecil maupun besar. Tidak tersisa lagi bersamanya hawa nafsu,
syahwat di hati, penyimpangan dalam fitrah, melainkan semuanya tunduk kepada
apa yang dibawa oleh Rasulullah dari sisi Allah. Iman itu merupakan manhaj
kehidupan yang sempurna, mencakup seluruj perintah Allah. Termasuk diantaranya
mempersiapkan segala sarana, menyiapkan bekal, mengusahakan wasilah-wasilah,
dan membekali diri sendiri dengan segala keahlian yang memungkinkan untuk
mengemban amanat besar di muka bumi ini, yaitu Amanah Khilafah.
Setelah keyakinan dalam diri seorang kader KAMMI mengenai kemenangan
islam yang pasti, maka menyiapkannya adalah sebuah keharusan. Sebuah kesiapan
yang selanjutnya akan terwujud dengan kerja-kerja nyata di dunia. Ini juga
tertuang dalam semangat kredo KAMMI “Kami adalah orang-orang yang senantiasa
menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka
berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam
kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang
progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini
adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut
kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.”
Menyiapkan diri untuk menjadi yang terbaik sehingga bisa menyongsong
kemenangan islam, dengan menyiapkan syarat-syaratnya baik yang tertuju untuk
diri kita pribadi maupun didakwahkan kepada orang lain. Bagaimana kita
menyiapkan diri untuk menjadikan diri kita dan orang-orang di sekitar kita
menjadi beriman dan bertakwa. Untuk mempercepat kemenangan itu, maka dengan
sendirinya juga harus mempercepat banyaknya hamba-hamba Allah yang menjadi Beriman.
Melalui jalan Dakwahlah untuk menjadikan umat ini beriman. Memberikan pemahaman
keislaman, keimanan dan ketakwaan kepada seluruh umat manusia.
KAMMI pun harus berkontribusi dalam menyiapkan dan menjadikan umat
manusia ini menjadi beriman dengan jalan dakwah. Sebagaimana yang tertuang
dalam Misi KAMMI yang pertama “Membina keimanan, Keislaman, dan ketakwaan
Mahasiswa Muslim Indonesia”. Itu obyeknya masih khusus terhadap mahasiswa saja
karena memang segmentasi pergerakan KAMMI lebih banyak kepada mahasiswa. Akan
tetapi tidak menutup kemungkinan melalui wadah KAMMI juga bisa memperluas
kembali segmentasinya yang tidak lagi hanya mahasiswa saja, tapi masyarakat
luas juga menjadi obyek dakwahnya. Dengan begitu inilah persiapan KAMMI untuk
menyongsong kemenangan islam itu dengan menyiapkan hamba-hamba Allah yang
sholeh, beriman dan bertakwa.
Semangat ini lah yang harus ada dalam menjiwai prinsip gerakan KAMMI.
Semangat menyiapkan setiap syarat untuk mencapai sebuah kemenangan. Semaangat
kemenangan islam yang selalu menggelora dalam diri seorang kader sehingga dalam
setiap geraknya selalu on mission, misi menyiapkan sebuah kemenangan besar.
Semangat yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.
“dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk
menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan
berkuda....”
(Q.S Al-Anfaal : 60)
Saatnya Beramal
Berita ini menjadi kan kita semakin potimis akan kebangkitan islam
yang pasti. Apalagi Bagi seorang kader KAMMI yang telah memiliki basis ideologi
islam yang mengakar. Sehingga ini jiwa perjuangan KAMMI, bagaimana menjadikan
kemenangan islam sebagai jiwa perjuangannya. Rasa optimis selalu ada untuk
mencapainya dengan tangan-tangan kita. Laksana al-fatih yang tertantang dengan
kabar dari Rasulullah mengenai penaklukan Konstantinopel. Kemudian al-fatih
ingin mewujudkan kabar rasulullah itu dari usaha tangannya untuk menaklukannya.
Sehingga ia pun menyiapkan diri supaya bisa mewujudkan obsesinya menaklukan
Konstantinopel. Begitu
juga dengan KAMMI, yang telah meyakini kemenangan islam ini pasti terwujud.
Maka obsesi seorang kader KAMMI untuk mewujudkannya harus selalu ada.
Dengan keyakinan kemenangan itu juga pasti terwujud meskipun ada atau
tidak adanya kita. Maka KAMMI harus tidak ketinggalan untuk turut ambil bagian
dalam mewujudkannya, karena kita ingin menjadi generasi terbaik. KAMMI tidak
menginginkan kemenangan Islam itu hanya diperjuangkan oleh orang lain saja. Kontribusi
yang nyata harus terwujud dari setiap kader KAMMI dalam menyiapkan kemenangan
itu. Sebagaimana tertuang dalam kredo gerakan KAMMI yang menyatakan bahwa KAMMI
harus melakukan kerja-kerta nyata “.....Hari-hari kami senantiasa dihiasi
dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,
diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja
yang konkret bagi perbaikan masyarakat. Kami adalah putra-putri kandung dakwah,
akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang
paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang
paling kokoh.”
Inilah satu ideologi KAMMI dari enam yang ada, yang harus
menginternalisasi dalam diri setiap kader, sampai kapanpun dan dimanapun. Baik
masih sebagai seorang kader aktif maupun telah menjadi alumni kader KAMMI. Baik
masih dalam keadaan mahasiswa yang bergerak di luar parlemen maupun ketika dia
sudah berada di dalam parlemen serta apapun profesinya yang lain di bidang
sosial, ekonomi, politik, pendidikan atau yang lainnya. Jadi jiwa perjuangan
untuk mewujudkan kemenangan islam itu tidak hanya ketika menjadi kader aktif
saja, akan tetapi setelahnya atau sampai kapanpun jiwa tersebut akan selalu ada
di sanubarinya. Selalu on mission.
Selanjutnya KAMMI akan siap berhimpun,
bekerja sama, bersinergi, bergabung dengan pihak manapun yang memiliki jiwa
perjuangan yang sejalur untuk mewujudkan kemenangan islam bukannya hanya
sekedar mengejar materi semata. Sebagaimana dengan yang tertuang dalam misi
KAMMI “Mengembangkan kerjasama antar
elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan
mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).” Ini harapannya
yang menjadi misi utama bagi seorang kader KAMMI ketika dia akan bergabung atau
bekerja sama dengan sebuah kelompok.
Menulis dengan sedikit ilmu.
Wallahu A’lam
Referensi:
·
Muhammad Al-Fatih Penakluk
Konstantinopel karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi
·
Fikih Kemenangan dan
Kejayaan (Nashr wa Tamkin) karya Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi.
·
Tafsir Fii Zhilalil
Qur’an karya sayyid Quthb.
Jambi, 11 Juni 2013
Yudhi Prasetyo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar