Selasa, 11 Juni 2013

KEMENANGAN ISLAM ADALAH JIWA PERJUANGAN KAMMI


Kemenangan Islam merupakan salah satu prinsip gerakan KAMMI yang bisa disebut sebagai ideologinya KAMMI. Sebuah ideologi yang akan menjadi jiwa bagi KAMMI dan kader-kadernya untuk memperjuangkan kemenangan islam di atas muka bumi ini. Sebuah keyakinan bahwa Allah telah mengisyaratkan bahwa Dia akan memberikan kekuasan di bumi ini kepada orang-orang yang saleh, yang beriman dan bertakwa.

Keyakinan terhadap Janji Allah
Sebagai seorang muslim yang beriman, maka ia harus meyakini bahwa Islam akan kembali berjaya dan menjadi ustasziatul ‘alam. Meskipun kondisi islam hari ini tidak lebih baik dari yang di luar islam. Islam mengalami kemunduran dari segala sisi semenjak runtuhnya sistem kekhilafahan , Sistem islam tidak dipakai lagi dalam segala aspek yang mengatur kehidupan ini. Ia kalah dengan sistem-sistem sekular yang tidak melibatkan islam dalam sistemnya. Keterpurukan islam hari ini lantas tidak membuat kita menjadi pesimis mengenai kebangkitan islam.

Allah swt telah menjanjikan kepada kita bahwa kekuasaan bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hambanya yang beriman, hamba-hamba-Nya yang sholeh. Janji tersebut tertuang dalam al-Qur’an yang tiada keragu-raguan di dalamnya. Al-Qur’an adalah Mutlak kebenarannya, bagi orang yang beriman maka mengimani seluruhnya apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sebuah keharusan. Maka ketika Allah telah memberikan isyarat bahwa muslim yang beriman dan bertakwa akan menjadi pemimpin di muka bumi ini, pemimpin yang beriman dan bertakwa yang kemudian akan menjadikan islam sebagai dasar dalam mengatur sistem kehidupan di muka bumi ini harus diyakini bagi orang-orang yang beriman.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
(Q.S An-Nuur : 55)

Sayyid Qutbh mengatakan dalam zhilalnya, itulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari umat nabi Muhammad SAW. Janji itu berupa khilafah dan kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan keteguhan agama yang diridhoi bagi mereka, dan ketakutan mereka diganti dengan keamanan. Itulah janji Allah. Janji Allah pasti benar. Janji Allah pasti terjadi. Allah sekali-kali tidak pernah mengkhianati janji-Nya.

Allah telah menunjukan peristiwa-peristiwa kemenangan yang diberikan kepada  para hamba-Nya yang sholeh dan menghancurkan hamba-Nya yang kafir. Kita bisa melihat bagaimana Thalut yang mampu mengalahkan Jalut, Musa yang mengalahkan Fir’aun, Generasi Sholahudin Al-Ayubi yang mampu menaklukan Yerussalaem, Generasi Al-Fatih yang mampu menaklukan Konstantinopel, Sulaiman yang diberikan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh raja sebelum dan sesudahnya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya dari orang-orang terdahulu. Mereka yang diberikan kemenangan adalah dalam keadaan beriman. Allah hanya akan memenangkan hamba-Nya yang beriman yang kemudian menjadikan Islam sebagai aturan hidupnya untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Dan ini bukannya tidak mungkin ketika ke depan Allah pasti akan mengembalikan kejayaan islam itu kepada umat muslim yang beriman.

Diperlihatkannya contoh bahwa Allah telah memberikan kemenangan kepada para Hamba-Nya yang sholeh dan beriman sebelum kita, maka dengan itu bisa semakin menambah keyakinan kepada kita bahwa janji Allah itu adalah pasti. Dengan diperlihatkannya kemenangan kepada orang-orang sebelum kita, kita bisa memikirkannya dengan akal untuk kemudian bisa memperkuat keyakinan kita tentang wahyu Allah itu. Maka akan bertambahlah keyakinan kita akan janji Allah itu bahwa Allah akan berikan kemenangan kepada orang-orang beriman dan menghancurkan orang-orang yang berbuat zholim.

Bagi seorang kader KAMMI yang telah dibekali ideologi islam yang mengakar, maka meyakini janji Allah tentang kemenangan ini pun harus selalu bersemayam dalam dirinya dan menjadi jiwa perjuangannya.

KAMMI Menyambut Janji Allah
Laksana Muhammad al-fatih yang termotivasi untuk mewujudkan penaklukan Konstantinopel dari tangannya karena adanya Kabar gembira dari Rasulullah SAW. Dari Abdullah bin bisyr al-Khats’ami, dari ayahnya bahwasannya ia mendengarkan Nabi SAW bersabda : “Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan)nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (Penaklukan)nya.” (HR. Al-Hakim dalam Haitsami mengatakan dalam majma’ Az-Zawa’id no. 10006:”hadits ini diriwayatkan oleh ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabarani, perawinya adalah Tsiqoh”.

Disebabkan kabar gembira ini, maka berkelanjutanlah para khilafah dan pemimpin kaum muslimin berlomba-lomba di sepanjang masa untuk menaklukan Konstantinopel, karena keinginan yang kuat untuk menjadi orang yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah tersebut. Kaum muslimin telah mengerahkan 11 kali upaya sepanjang 800 tahun sebelum masa Muhammad Al-fatih untuk meraih kabar gembira itu.  Konstantinopel menjadi impian yang menggoda kaum muslimin sepanjang masa. Dari masa ke masa semuanya berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bisa menaklukan Konstantinopel. Keinginan untuk menjadi orang terbaik selalu menggelora, akan tetapi 8 abad lamanya tidak ada yang mampu menaklukan Kota Indah itu.

Muhammad Al-Fatih yang sejak kecil telah sering mendengarkan dari guru-gurunya Hadits nabi yang mulia itu menjadikan Al-Fatih juga terobsesi untuk bisa menaklukan Kota Konstantinopel itu. Akhirnya setelah 8 abad lamanya Konstantinopel dapat ditaklukan oleh pasukan di bawah kepemimpinan Muhammad Al-Fatih. Menjadikan dia dan pasukannyalah seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan. Keimanan yang murni, ibadah yang selalu terjaga dengan baik menjadikan Muhammad Al-fatih dan pasukannya adalah generasi yang terbaik, yang mampu mewujudkan kabar gembira dari Rasulullah untuk menaklukan Konstantinopel.

Keyakinan kepada Janji Allah atas kemenangan umat muslim yang beriman pun juga harus kita sambut. Bagaimana supaya dari tangan kita lah kemenangan itu bisa kita raih, atau dari kontribusi kitalah kemenangan itu bisa kita raih. KAMMI harus memiliki keinginan ini, menyambut setiap kabar kemenangan islam dengan sebuah keyakinan yang seyakin-yakinnya. Menyambutnya dengan turut serta dalam menyiapkan segala sesuatunya agar kemenangan itu segera terwujud. Kemenangan Islam ini akan selalu menjadi jiwa perjuangan KAMMI di manapun dan kapanpun.

KAMMI menyiapkannya
Dalam buku tamkin wa nashr karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, beliau menyebutkan tentang syarat-syarat sebuah kemenangan. Yang dengan syarat tersebut akan menjadikan layak bagi kita untuk memperoleh sebuah kemenangan. Seperti muhammad al-fatih yang juga pasti menyiapkan syarat-syarat kemenangan sehingga ia layak untuk menaklukan Konstantinopel. Melalui Q.S An-Nur : 55-56 telah mengisyaratkan syarat-syarat terwujudnya kemenangan, yakni 1) beriman Kepada Allah dengan segala maknanya dan segenap rukunnya, 2) Melakukan amal sholeh dalam segala jenisnya, 3) senantiasa obsesif melakukan segala bentuk kebaikan dan kebajikan, 4) membuktikan ubudiyah yang menyeluruh, serta 5) memerangi kemusyrikan dalam segala ragamnya.

Apa hakikat dari iman itu? Sayyid Qutbh mengatakan di dalam zhilal bahwa sesungguhnya hakikat iman itu yang dengannya akan terealisasi janji Allah secara pasti adalah hakikat sangat besar yang mencakup seluruh aspek aktivitas manusia. Dan, hakikat itu mengarahkan pada seluruh aktifitas manusia. Hakikat iman itu adalah ketaatan kepada Allah dan penyerahan diri secara total baik dalam perkara kecil maupun besar. Tidak tersisa lagi bersamanya hawa nafsu, syahwat di hati, penyimpangan dalam fitrah, melainkan semuanya tunduk kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dari sisi Allah. Iman itu merupakan manhaj kehidupan yang sempurna, mencakup seluruj perintah Allah. Termasuk diantaranya mempersiapkan segala sarana, menyiapkan bekal, mengusahakan wasilah-wasilah, dan membekali diri sendiri dengan segala keahlian yang memungkinkan untuk mengemban amanat besar di muka bumi ini, yaitu Amanah Khilafah.

Setelah keyakinan dalam diri seorang kader KAMMI mengenai kemenangan islam yang pasti, maka menyiapkannya adalah sebuah keharusan. Sebuah kesiapan yang selanjutnya akan terwujud dengan kerja-kerja nyata di dunia. Ini juga tertuang dalam semangat kredo KAMMI “Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.”

Menyiapkan diri untuk menjadi yang terbaik sehingga bisa menyongsong kemenangan islam, dengan menyiapkan syarat-syaratnya baik yang tertuju untuk diri kita pribadi maupun didakwahkan kepada orang lain. Bagaimana kita menyiapkan diri untuk menjadikan diri kita dan orang-orang di sekitar kita menjadi beriman dan bertakwa. Untuk mempercepat kemenangan itu, maka dengan sendirinya juga harus mempercepat banyaknya hamba-hamba Allah yang menjadi Beriman. Melalui jalan Dakwahlah untuk menjadikan umat ini beriman. Memberikan pemahaman keislaman, keimanan dan ketakwaan kepada seluruh umat manusia.

KAMMI pun harus berkontribusi dalam menyiapkan dan menjadikan umat manusia ini menjadi beriman dengan jalan dakwah. Sebagaimana yang tertuang dalam Misi KAMMI yang pertama “Membina keimanan, Keislaman, dan ketakwaan Mahasiswa Muslim Indonesia”. Itu obyeknya masih khusus terhadap mahasiswa saja karena memang segmentasi pergerakan KAMMI lebih banyak kepada mahasiswa. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan melalui wadah KAMMI juga bisa memperluas kembali segmentasinya yang tidak lagi hanya mahasiswa saja, tapi masyarakat luas juga menjadi obyek dakwahnya. Dengan begitu inilah persiapan KAMMI untuk menyongsong kemenangan islam itu dengan menyiapkan hamba-hamba Allah yang sholeh, beriman dan bertakwa.

Semangat ini lah yang harus ada dalam menjiwai prinsip gerakan KAMMI. Semangat menyiapkan setiap syarat untuk mencapai sebuah kemenangan. Semaangat kemenangan islam yang selalu menggelora dalam diri seorang kader sehingga dalam setiap geraknya selalu on mission, misi menyiapkan sebuah kemenangan besar. Semangat yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.

“dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda....”
(Q.S Al-Anfaal : 60)

Saatnya Beramal
Berita ini menjadi kan kita semakin potimis akan kebangkitan islam yang pasti. Apalagi Bagi seorang kader KAMMI yang telah memiliki basis ideologi islam yang mengakar. Sehingga ini jiwa perjuangan KAMMI, bagaimana menjadikan kemenangan islam sebagai jiwa perjuangannya. Rasa optimis selalu ada untuk mencapainya dengan tangan-tangan kita. Laksana al-fatih yang tertantang dengan kabar dari Rasulullah mengenai penaklukan Konstantinopel. Kemudian al-fatih ingin mewujudkan kabar rasulullah itu dari usaha tangannya untuk menaklukannya. Sehingga ia pun menyiapkan diri supaya bisa mewujudkan obsesinya menaklukan Konstantinopel. Begitu juga dengan KAMMI, yang telah meyakini kemenangan islam ini pasti terwujud. Maka obsesi seorang kader KAMMI untuk mewujudkannya harus selalu ada.

Dengan keyakinan kemenangan itu juga pasti terwujud meskipun ada atau tidak adanya kita. Maka KAMMI harus tidak ketinggalan untuk turut ambil bagian dalam mewujudkannya, karena kita ingin menjadi generasi terbaik. KAMMI tidak menginginkan kemenangan Islam itu hanya diperjuangkan oleh orang lain saja. Kontribusi yang nyata harus terwujud dari setiap kader KAMMI dalam menyiapkan kemenangan itu. Sebagaimana tertuang dalam kredo gerakan KAMMI yang menyatakan bahwa KAMMI harus melakukan kerja-kerta nyata “.....Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.”

Inilah satu ideologi KAMMI dari enam yang ada, yang harus menginternalisasi dalam diri setiap kader, sampai kapanpun dan dimanapun. Baik masih sebagai seorang kader aktif maupun telah menjadi alumni kader KAMMI. Baik masih dalam keadaan mahasiswa yang bergerak di luar parlemen maupun ketika dia sudah berada di dalam parlemen serta apapun profesinya yang lain di bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan atau yang lainnya. Jadi jiwa perjuangan untuk mewujudkan kemenangan islam itu tidak hanya ketika menjadi kader aktif saja, akan tetapi setelahnya atau sampai kapanpun jiwa tersebut akan selalu ada di sanubarinya. Selalu on mission.

Selanjutnya KAMMI akan siap berhimpun, bekerja sama, bersinergi, bergabung dengan pihak manapun yang memiliki jiwa perjuangan yang sejalur untuk mewujudkan kemenangan islam bukannya hanya sekedar mengejar materi semata. Sebagaimana dengan yang tertuang dalam misi KAMMI “Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).” Ini harapannya yang menjadi misi utama bagi seorang kader KAMMI ketika dia akan bergabung atau bekerja sama dengan sebuah kelompok.
Menulis dengan sedikit ilmu.
Wallahu A’lam

Referensi:
·         Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi
·         Fikih Kemenangan dan Kejayaan (Nashr wa Tamkin) karya Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi.
·         Tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya sayyid Quthb.


Jambi, 11 Juni 2013 
Yudhi Prasetyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar