Sejak kemunculan kata GALAU, sebenarnya
saya sangat tidak suka dengan kata-kata ini. Kata GALAU yang diperuntukan
kepada mereka yang jika mendapatkan masalah seolah-olah dia merasakan masalah
yang takkan bisa dihadapi, akan menhadirkan kerisauan dalam hati, kelimpungan
bukan kepalang. Kata GALAU yang diperuntukkan untuk mereka yang ketika
menginginkan sesuatu yang diidam-idamkan kemudian tidak tercapai sehingga denga
tidak tercapainya sesuatu itu membuat perasaannya tidak tenang.
Kata GALAU bagi saya hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka yang tidak mempercayai tentang hakikat ma’rifatullah, bahwa sesungguhnya Allah telah mengatur semua yang akan terjadi pada dirinya. Bagi orang yang beriman ketika mendapatkan masalah, ia akan mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Dia akan mempercayai bahwa sesungguhnya Allah lah yang telah berkehendak atas itu semua sehinggga dengan begitu ia akan tetap merasa tenang.
Kata GALAU bagi saya hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka yang tidak mempercayai tentang hakikat ma’rifatullah, bahwa sesungguhnya Allah telah mengatur semua yang akan terjadi pada dirinya. Bagi orang yang beriman ketika mendapatkan masalah, ia akan mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Dia akan mempercayai bahwa sesungguhnya Allah lah yang telah berkehendak atas itu semua sehinggga dengan begitu ia akan tetap merasa tenang.
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya), jika kamu orang orang yang beriman.(Q.S
Ali-Imron : 139)
Maka tidak ada kata-kata GALAU bagi orang-orang yang beriman. Dan tidak pantas jika kata GALAU itu disematkan untuk mereka yang beriman. Karena bagi orang beriman itu simpel, yakni ketika ia mendapatkan nikmat ia akan bersyukur dan jika mendapatkan musibah ia akan bersabar bukan GALAU. Ketenangan selalu terpancar dalam dirinya, karena inilah buah dari keimanan yang mantap dalam dirinya.
“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh
perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila
ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa
musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.”
(HR. Muslim)
Memberikan kata GALAU kepada orang lain juga seolah-olah kita memandang bahwa orang tersebut tidak mempunyai keimanan kepada Allah, padahal kita tidak tahu bagaimana isi hati dari seseorang itu. astaghfirullahal 'azhiim.
Wallahu a'lam.
Jambi, 29 juni 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar