Oleh : Yudhi Prasetyo
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Penggunaan istilah Pemuda Al-Kahfi Modern pada tulisan ini hanya ingin
menggambarkan bagaimana pada zaman modern sepeti saat ini pun ada sebagian dari
pemuda yang bisa menjadi layaknya Pemuda Al-Kahfi yang kisahnya telah
diabadikan dalam Al-Qur’an. Pemuda yang berusaha melakukan kebaikan untuk diri
mereka sendiri di tengah kezholiman, kemaksiatan yang sedang terjadi di
lingkungan mereka. Pemuda-pemuda semacam ini Insya Allah akan selalu ada di
setiap zamannya, meskipun secara jumlah tidak lah banyak dibandingkan dengan
pemuda –pemuda lainnya yang terlena dengan kehidupan dunia.
Meneladani sebuah kisah dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Kahfi
tepatnya. Mereka adalah Pemuda Al-kahfi yang mengasingkan diri ke dalam sebuah
gua. Mereka mengasingkan diri untuk menyelamatkan diri dari kezholiman penguasa
dari sebuah negeri, penguasa tersebut bersama rakyatnya melakukan kemunkaran
kesyirikan, mereka menyembah berhala. Padahal menurut pemuda al-kahfi yang beriman ini hanyalah Allah yang patut
untuk disembah. Maka dengan keyakinannya tersebut pemuda-pemuda ini lebih baik menjauh
dari perbuatan-perbuatan maksiat itu supaya mereka tidak turut dalam
kemaksiatan yang dilakukan oleh penguasa dan rakyat negeri itu.
Mereka adalah pemuda-pemuda yang jumlahnya sedikit, tidak ada sampai
sepuluh. Akan tetapi mereka memiliki iman dibandingkan dengan jumlah yang
banyak dan dalam keadaan kafir. Demi menyelamatkan iman, mereka rela meninggalkan
kemegahan, kemewahan yang sebelumnya mereka dapatkan di negeri itu. Nikmatnya
iman lebih mereka pilih dibandingkan dengan nikmatnya harta, kemewahan dan
kemegahan yang bersifat duniawi dan sementara saja. Mengasingkan diri untuk
menyelamatkan iman itulah jalan yang mereka pilih, karena memang mereka tidak
mampu mencegah kemungkaran dengan kekuasaan dan lisan. Mereka tidak bisa
mencegah kemungkaran yang sedang terjadi karena mereka adalah dari golonganorang
biasa yang tidak memiliki kekuasaan. Jika ingin mencegahnya dengan lisan,
mereka takut karena jumlah mereka yang sedikit malah akan membahayakan iman
mereka, khawatir mereka dipaksa berbuat syirik juga atau bahkan di siksa dan
dibunuh. Sehingga keputusan akhir adalah menghilang, meninggalkan negeri yang dalam
kemunkaran tersebut untuk imannya. Dengan kesamaan tujuan dan keimanan maka
bertemulah beberapa pemuda untuk melakukan pengasingan diri.
Allah meneguhkan bagi pemuda-pemuda itu, karena mereka memiliki iman
dan ingin menyelamatkan imannya dari kemunkaran-kemunkaran yg sedang terjadi di
lingkungan mereka. Mereka meminta perlindungan hanya kepada Allah dengan
berkata “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Q.S
Al-kahfi : 10). Inilah yang terucap jika keimanan telah bersemayam dalam hati
mereka, dengan keimanan mereka berdoa dan memohon petunjuk hanya kepada allah.
Mereka beriman kepada Allah dan Allah menambahkannya petunjuk ketika
kebenaran iman tampak jelas dari diri mereka. Mereka meminta petunjuk sehingga
mereka diberi petunjuk oleh Allah. Maka Allah menunjukan kekuasaan-Nya dengan
ditidurkannya pemuda-pemuda tersebut selama 309 tahun, sehingga selamatlah mereka
dari kemungkaran. Hanya Allah yang menjaga mereka di saat mereka tidur, selamat
dari binatang-binatang yang akan membahayakan mereka, bumi tidak memakan
jasadnya dan matahari tidak membakar tubuh dan pakaian mereka. “Barang siapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; Dan barang
siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun
yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (Q.S Al-Kahfi :17)
Merekalah pemuda-pemuda yang patut dijadikan teladan bagi
pemuda-pemuda saat ini. Menjadi Pemuda Al-Kahfi Modern, pemuda-pemuda yang
berjiwa laksana pemuda Al-Kahfi itu. Pemuda Al-Kahfi modern adalah mereka yang
rela mengasingkan diri dari keramaian-keramaian yang berbau maksiat atau
perbuatan-perbuatan yang sia-sia. Mengasingkan diri ke suatu tempat dimana
mereka tidak akan terpengaruh oleh perbuatan yang tidak baik. Lingkunganlah
yang akan mempengaruhi diri seorang pemuda. Bagi seorang pemuda yang
berkeinginan menjadi pemuda yang baik maka hendaknya ia harus pandai memilih
lingkungan bergaulnya. Lingkungan yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya
bukan malah merusaknya.
Pemuda Al-kahfi modern adalah mereka yang lebih senang menghadiri
majelis-majelis ilmu di saat teman-teman lainnya lebih banyak berada pada
tempat-tempat tongkrongan sia-sia. Tempat tongkrongan yang tidak jauh-jauh dari
minuman keras untuk menemaininya, Narkoba sebagai hidangan pertemuannya bahkan
mungkin untuk akhir pertemuannya disajikan dengan seks bebas sebagai ajang
pelampiasan nafsu bejatnya. Bagi Pemuda Al-Kahfi Modern mengasingkan diri dari
tempat-tempat yang seperti itu dirasakannya adalah lebih baik, kemudian beralih
memilih menghadiri atau membuat majelis-majelis yang bermanfaat dan memberikan manfaat
baginya.
Pemuda Al-Kahfi Modern lebih tenang karena memautkan hatinya dengan
tempat-tempat yang baik, masjid sebagai tempat melakukan ibadah-ibadahnya,
majelis ilmu sebagai tempat untuk nya menambah ilmu dan pemahaman. Sehingga dengan
ilmunya yang dia dapatkan itu, mereka bisa terselamatkan dari fitnah dunia.
Pemuda Al-Kahfi Modern adalah mereka yang berbeda dengan pemuda-pemuda
lain yang menikmati malam minggunya atau malam-malam lainnya dengan kegiatan-kegiatan
yang sia-sia bahkan dengan maksiat. Yang menikmati semalaman hanya dengan pesta minuman
keras, Narkoba atau perbuatan yang sia-sia lainnya. Yang menikmati dengan jalan
bersama pacarnya, yang tidak ada yang bisa menjamin jalannya seorang pasangan
muda-mudi tanpa ikatan yag halal itu tidak dihiasi dengan perbuatan-perbuatan
dosa karena setan yang akan menggoda mereka selalu bersama mereka. Bagi Pemuda
Al-Kahfi Modern mereka lebih senang dengan mengisi malam mingggunya dengan
berkumpul untuk melakukan kebaikan, dalam suasana mentoring atau halaqoh. Yang
dengan suasana itu mereka bisa menambah ilmu tentang pemahaman sehingga
bertambahlah pemahamannya mengenai suatu ilmu. Atau mengisinya dengan berkumpul,
melakukan kajian-kajian keilmuan, meningkatkan ibadah-ibadah malam dalam
suasana Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT). Atau jika tidak bisa melakukan
hal-hal yang baik seperti itu karena adanya keterbatasan, minimal setidaknya
dia tidak melakukan hal-hal yang hanya akan menimbulkan dosa.
Tidak hanya pada malam minggu-malam saja atau malam-malam lainnya,
bahkan banyak momen lainnya yang telah biasa dijadikan sebagai ajang untuk
melakukan hal-hal yang maksiat itu bisa kita hindari. Alihkanlah dengan
kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat bagi diri kita sendiri.
Bagi Pemuda Al-Kahfi Modern di saat mereka tidak bisa memberikan
perubahan dengan bergabungnya ke dalam lingkungan yang tidak baik, maka
mengasingkan diri adalah pilihan yang tepat agar dia tidak terpengaruh olehnya
lama-kelamaan. Bukan berarti tidak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak
baik, akan tetapi bagaimana agar intensitas berkumpulnya itu lebih banyak
dengan lingkungan yang baik-baik. Perbanyak intensitas kita bersama dengan
lingkungan yang baik daripada bersama dengan lingkungan yang tidak baik. Dan tetap
membagun hubungan baik kepada semua lingkungan lainnya, akan tetapi
intensitasnya tidak terlalu sering.
Pemuda Al-Kahfi modern adalah mereka yang jumlahnya tidak lah banyak,
mereka berjumlah sedikit. Karena memang begitulah dari dulu hingga sekarang,
orang yang memilih pada kebaikan-kebaikan itu tidak lah banyak, orang-orang
yang menjadi pionir tidak lah banyak, orang-orang yang tercatat dalam sejarah
tidak lah banyak. Akan tetapi sungguh beruntunglah orang-orang yang sedikit
itu, apalagi mereka adalah seorang pemuda. Sehingga tidaklah heran jika dianggap
asing bagi sebagian yang banyak, asing karena melakukan sebuah kesholihan, asing
karena tidak mau melakukan kemaksiatan. Hal itu tidaklah mengapa ketika pemuda-pemuda
yang sedikit itu dianggap asing, akan tetapi asing dalam keimanan.
Mudah-mudahan pemuda-pemuda seperti ini yang senantiasa menjaga
keimanannya diberikan oleh Allah petunjuk pula selayaknya pemuda Al-Kahfi.
Wallahu A’lam
Jambi, 21 Mei 2013
Join with me :
On Twitter @dhipra_
Blog : goresandhipra.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar