Minggu, 05 Mei 2013

Apakah aku pribadi yang kontroversial? He...


Setiap menulis dari dulu sampai sekarang, kok terkesan menimbulkan sesuatu yang kontroversi. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. Hehe.. Mohon pemaklumannya lah yaa, aku belum lah sepandai seorang penulis Salim A Fillah yang bisa dengan lembut menyampaikan tulisan-tulisannya. Yaa nama nya juga tahap belajar, belum bisa menahan emosi terkadang dalam setiap menulis satu tulisan. Dalam setiap paragraf belum pandai memilih kata-kata yang pas sehingga nantinya ketika dibaca tidak menimbulkan persepsi yang berbeda.

Kalo Salim A Fillah dalam menulis emang sangat enak sekali kelihatannya, ia mampu menuliskannya dengan lembut, mampu mengontrol emosinya. Sehingga hal tersebut membuat para pembacanya menjadi lembut pula. Sebagai contoh saat beliau menanggapi kicauannya Tokoh JIL Ulil Abshar di TwitterLand beberapa waktu yang telah lalu. Di saat orang-orang lain menanggapinya dengan panas akan kicauan ulil tersebut, Salim A Fillah menanggapinya dengan sebuah kultweet yang lembut yang ditujukan kepada Ulil. Dan akhirnya ulil pun tidak malu-malu mengucapkan maaf terhadap kicauannya terdahulu, mungkin berkat membaca mention nya  Salim A Fillah.

Menulis sangatlah sulit. Makanya butuh banyak belajar lagi, banyak menulis biar terbiasa dalam memadukan kata demi kata. Banyak membaca tulisan orang lain supaya dapat mencontoh gaya bahasa yang digunakannya ataupun mengambil pelajaran dari seorang penulis tersebut.

Banyak yang ingin di sampaikan oleh seorang penulis sebuah pesan-pesan kepada para pembacanya. Akan tetapi terkadang pesan itu tidak sampai kepada pembaca melalui tulisannya tersebut. Malahan mendapatkan pemahaman yang berbeda dengan maksud yang sebenarnya yang ingin di sampaikan penulis. Salah pembacanya yang tidak mampu menerjemahkan tulisan sama seperti apa yang diinginkan penulisnya ataukah salah penulisnya. Yang pertama salah adalah pasti penulisnya yang kurang mampu menulis dengan baik. Karena tulisan adalah sumber awal bagi informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Ada yang mengatakan penulis itu hanya menulis, selanjutnya mengenai persepsi maupun penilaian semuanya diserahkan kepada pembaca. Aku lupa secara persis siapa yang mengatakan ini, tetapi aku ingat ya kira-kira seperti itulah yang dikatakannya. Meskipun nanti ada bedah buku dari penulis untuk menjelaskan apa yang diinginkan penulis melalui tulisannya tersebut, bisa saja.

Terlepas dari sebuah kontroversi hasil tulisan. Selayaknya pembaca bisa menjadikan sebuah tulisan itu ya sebuah tulisan tanpa mengaitkan dengan penulisnya. Ketika tulisannya adalah sebuah nasihat maka jadikan dia sebagai sebuah nasihat, ataupun yang lainnya. Yang pasti seorang penulis ketika menuliskan sesuatu ia ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya. Mungkin penulis menginginkan sesuatu yang terbaik atau mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Jadi, bukan sebuah pembiaran yang dilakukan...

Wallahu a’lam
Yudhi prasetyo
Jambi, 06 mei 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar