Setiap menulis dari dulu sampai sekarang, kok terkesan menimbulkan
sesuatu yang kontroversi. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. Hehe.. Mohon
pemaklumannya lah yaa, aku belum lah sepandai seorang penulis Salim A Fillah
yang bisa dengan lembut menyampaikan tulisan-tulisannya. Yaa nama nya juga
tahap belajar, belum bisa menahan emosi terkadang dalam setiap menulis satu
tulisan. Dalam setiap paragraf belum pandai memilih kata-kata yang pas sehingga
nantinya ketika dibaca tidak menimbulkan persepsi yang berbeda.
Kalo Salim A Fillah dalam menulis emang sangat enak sekali
kelihatannya, ia mampu menuliskannya dengan lembut, mampu mengontrol emosinya.
Sehingga hal tersebut membuat para pembacanya menjadi lembut pula. Sebagai
contoh saat beliau menanggapi kicauannya Tokoh JIL Ulil Abshar di TwitterLand
beberapa waktu yang telah lalu. Di saat orang-orang lain menanggapinya dengan
panas akan kicauan ulil tersebut, Salim A Fillah menanggapinya dengan sebuah
kultweet yang lembut yang ditujukan kepada Ulil. Dan akhirnya ulil pun tidak
malu-malu mengucapkan maaf terhadap kicauannya terdahulu, mungkin berkat
membaca mention nya Salim A Fillah.
Menulis sangatlah sulit. Makanya butuh banyak belajar lagi, banyak
menulis biar terbiasa dalam memadukan kata demi kata. Banyak membaca tulisan
orang lain supaya dapat mencontoh gaya bahasa yang digunakannya ataupun
mengambil pelajaran dari seorang penulis tersebut.
Banyak yang ingin di sampaikan oleh seorang penulis sebuah pesan-pesan
kepada para pembacanya. Akan tetapi terkadang pesan itu tidak sampai kepada
pembaca melalui tulisannya tersebut. Malahan mendapatkan pemahaman yang berbeda
dengan maksud yang sebenarnya yang ingin di sampaikan penulis. Salah pembacanya
yang tidak mampu menerjemahkan tulisan sama seperti apa yang diinginkan
penulisnya ataukah salah penulisnya. Yang pertama salah adalah pasti penulisnya
yang kurang mampu menulis dengan baik. Karena tulisan adalah sumber awal bagi
informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Ada yang mengatakan penulis itu hanya menulis, selanjutnya mengenai
persepsi maupun penilaian semuanya diserahkan kepada pembaca. Aku lupa secara
persis siapa yang mengatakan ini, tetapi aku ingat ya kira-kira seperti itulah
yang dikatakannya. Meskipun nanti ada bedah buku dari penulis untuk menjelaskan
apa yang diinginkan penulis melalui tulisannya tersebut, bisa saja.
Terlepas dari sebuah kontroversi hasil tulisan. Selayaknya pembaca bisa
menjadikan sebuah tulisan itu ya sebuah tulisan tanpa mengaitkan dengan
penulisnya. Ketika tulisannya adalah sebuah nasihat maka jadikan dia sebagai
sebuah nasihat, ataupun yang lainnya. Yang pasti seorang penulis ketika menuliskan
sesuatu ia ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya. Mungkin penulis
menginginkan sesuatu yang terbaik atau mencegah sesuatu yang buruk terjadi.
Jadi, bukan sebuah pembiaran yang dilakukan...
Wallahu a’lam
Yudhi prasetyo
Jambi, 06 mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar