oleh : Dedi Runanto (kakak sepupuku)
Suatu hari dalam duduk selepas sholat isya, hati ini bertanya “apa rencana Alloh dengan semuanya ini ?, kemuliaan ataukah kehinaan dengan status duda ini”. Kemuliaan berarti adanya kesabaran yang dalam serta tingginya syukur dalam menapaki sisa hidup dengan anak usia 10 bulan sedangkan kehinaan berarti keluh kesah, air mata dan segala sesuatu yang membuat hati ini tidak ridho terhadap ketetapan Alloh. Dalam hati ini selalu ada kasih sayang Alloh dalam setiap ketetapan dan ada banyak kebaikan dari ketetapanNya.
Saudara dan teman dekat berusaha menghibur dan menyarankan untuk menikah lagi secepatnya, “kasihan zaidan, dia butuh kasih sayang seorang ibu” setidaknya begitu kata yang selalu menyertai saran agar hati dan raga ini selalu sabar. Sebuah saran yang ketika dipertimbangkan bukan menenangkan hati tapi justru menambah pikiran dengan bertanya “apakah kuota jodoh masih tersedia?”. Selain itu hati ini minder dengan status yang sangat tidak populer dimata calon mertua, duda beranak 1.
Suatu hari datang tawaran untuk berproses dengan seseorang yang saya tidak tau nama dan rupanya. Hanya kukatakan “pastikan dia dan orang tuanya tau kalau saya adalah seorang duda atas kehendak Alloh dan saya punya anak 1”. Beberapa hari setelah itu ada kabar jika orang tua gadis itu langsung menolak dengan alasan duda beranak 1.
Posisi tawar yang semakin sulit ditambah dengan rasa minder yang berlebih. Sebaiknya saya percayakan ini pada murobby saya saja, posisi tawar saya lemah dan saya akan pasrah. Walau begitu rahmat Alloh itu luas, apa yang sudah Alloh lapangkan, saya tidak berusaha untuk mempersempit.
Beberapa minggu berlalu tanpa kabar, sementara ku ingin melihat senyum simetris pada kedua orang tua saat menikahkan adik. Akhirnya timbul sebuah ide untuk mengadakan riset tentang persepsi seorang akhwat ketika harus menikah dengan seorang duda. Maksud dari semuanya ini adalah untuk mengetahui persepsi akhwat dan meminta nasehat.
Ada 17 umahat dimana semuanya telah menikah, ada yang baru menikah, ada yang sudah lama. Ada yang sudah punya momongan ada yang belum. Inilah hasil dari bertanya dan nasehat dari mereka:
- Menurut anda, jodoh yang akhwat inginkan itu seperti apa ?
Semua akhwat senantiasa menginginkan jodoh seorang laki-laki yang sholeh dan mampu menjadi seorang imam bagi keluarga. Dia mampu membimbing istri ke arah kebaikan dan menjadikan anak-anaknya sholih dan sholihah. Menjadi seorang teladan bagi keluarga syukur-syukur bisa menjadi teladan di masyarakat. Memenuhi kebutuhan keluarga dengan yang halal dan memposisikan keluarga sebagai yang utama. Membina keluarga dan membina masyarakat. Mensholehkan keluarga dan mensholehkan masyarakat.
2. Menurut anda, bagaimana jika yang datang kepada akhwat tersebut adalah seorang duda beranak 1 ?
Semua akhwat itu kalau berdoa kan “ya Alloh, berikanlah aku jodoh pemuda yang sholeh”, bukan duda yang sholeh. Tentunya akan menjadi sedikit masalah yang mengejutkan jika ternyata yang datang adalah seorang duda. Akhwat yang baik akan mengkondisikan diri dengan semuanya itu. Mungkin saja akhwat tersebut bisa menerima dengan mengatakan “jika ini memang yang terbaik dari Alloh, insyaalloh”, tapi lain dengan orang tua akhwat. Kesiapan yang kudang dari orang tua akhwat apalagi yang masih berpandangan kalau duda itu adalah sebuah status hina. Apalagi sebagian orang tua masih berpandangan lebih baik menikahkan anaknya yang punya banyak mantan pacar daripada punya mantan 1 istri. Maka itu butuh peran yang besar dari akhwat tersebut untuk mengkondisikan keluarganya.
Akhwat juga mempunyai kekhawatiran yang besar ketika menikah nanti, suami akan ada bayang-bayang mantan istri. Apalagi kalau suami membandingkan dengan mantan istri. Perasaan akhwat itu sensitif, jangankan membandingkan kadang dengan melihat foto yang masih terpajang di dinding saja perasaan akhwat bisa galau, cemburu yang luar biasa. Peran suami untuk menjaga hati istri sangat diperlukan. Memang tidak ada yang salah dengan suami yang masih ingat dengan mantan istri, mendoakannya dan memohonkan ampunan baginya. Tapi ketika banyak mengingat dan menyebut namanya ini bisa jadi masalah sepertihalnya aisyah yang mencemburui khadijah.
3. Menurut anda, bagaimana kehadiran seorang anak yang itu bukan anak kandung anda ?
Anak adalah anugerah, bukah hadiah yang jika kita tidak suka bisa dikembalikan. Anak adalah anugerah dan amanah. Seorang akhwat akan berfikiran “apakah saya mampu menjadi ibu yang baik untuk anak yang bukan anakku”. Beban menjadi istri bagi suami sekaligus menjadi ibu tanpa harus mengandung dan melahirkan inilah yang kadang sangat lama dilamunkan akhwat. Perasaan takut jika membuat kesalahan dan ditegur oleh sang suami serta takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Akhwat juga harus siap dengan konsekuensi sekarang sudah menjaadi istri dan anak sehingga kebiasaan sewaktu lajang seperti jalan-jalan dan ngumpul bareng teman akan berkurang.
Disisi lain akhwat juga bersyukur karena adanya anak membuat adanya persiapan untuk mengasuh anak kandungnya sendiri kelak. Adanya anak juga mendewasakan, menyingkirkan rasa egois, membuat lebih sabar dan membuat lebih bijak dalam pengambilan keputusan.
4. Menurut anda, akhwat seperti apakah yang terbaik untuk seorang duda ?
Pada dasarnya, semua akhwat telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu dan guru dari madrasah yang bernama keluarga. Terus siapa yang cocok untuk seorang duda ?. dialah akhwat yang sudah dewasa, mencintai anak, taat kepada kedua orang tua, menyayangi keluarga serta memahami kehidupan bermasyarakat. Tua tidak berarti dewasa, dan orang yang selama ini hidup di kampus atau di pesantren juga belum tentu buta dengan kehidupan masayarakat umum.
Jika ada akhwat, apalagi dia belum pernah menikah sebelumnya yang bersedia dan ridho menerima seorang duda yang telah mempunyai anak maka dia luar biasa. Dia akan merawat suaminya dan bersama suaminya membersamai dan merawat anak yang itu bukan anaknya dia. Dialah sebaik baiknya wanita. Dan untuk keluarga yang bersedia menerima anak seorang duda itu sebagai bagian dari keluarganya, menjadi cucu diantara cucu yang lain, diperlakukan sama, disayangi, maka itulah sebaik-baiknya keluarga.
Salam dan doa kami untuk semua yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner serta ngobrol dengan kami. Semoga Alloh senantiasa merahmatimu, mencukupkan keluargamu dengan syukur dan memuliakan keluargamu dengan sabar.
Alhamdulillah Alloh menyempurnakan keluarga kami dengan menghadirkan seorang ibu untuk zaidan. Mungkin pembaca masih bertanya “bagaimana, kok bisa, dll”. Kami hanya bisa menjawab “dialah sebaik-baiknya wanita dan keluarganya itu sebaik-baiknya keluarga”.
Wallohu’alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar