Selasa, 05 November 2013

Sajak Kehidupan (1)

oleh : Multon Ackrowi

Awal

Dari tiada menjadi ada
ya kita adalah wujud yang diadakan
raga yang diisi ruh dihidupkan
diberi akal
diberi hati
akal untuk berpikir
dan hati untuk menilai

lalu jasad menjadi utuh
sebentuk tubuh yang sempurna
disiapkan menjadi pemimpin
mengajak pada kebaikan
mencegah dari kemungkaran

ya itulah manusia
ciptaan dengan penyempurnaan
penyempurnaan akal
penyempurnaan pikiran
penyempurnaan jasad

Dan tugas akhirnya menyempurnakan amal
Siapapun dan Dimanapun terlahir
Itulah manusia

"Wahai Allah Tuhanku, mengapa kau hendak menurunkan manusia yang suka merusak dan suka menumpahkan darah untuk menjadi pemimpin di muka bumi" dan Tuhan pun menjawab "apakah kamu mengetahui lebih dari yang aku ketahui ? " dan malaikat pun bersujud dihadapan Allah.

Begitulah keraguan yang ada pada malaikat terhadap manusia karena ia tahu bahwa watak manusia diciptakan penuh hawa nafsu, lalai dan lemah, meski demikian Allah tetap mencipatakan manusia dengan semua potensi yang mengikutinya. Manusia diberikan akal, diberikan hati atau qolbu dan diberikan bentuk sebaik baik bentuk dari semua ciptaanNya termasuk dari para malaikat.

Akal diciptakan dengan potensi untuk menganalisis dan mengolah data dengan logika berpikir rasional guna menentukan keputusan ya atau tidak, kemudian hati diciptakan dengan potensi peka perasaan guna menilai baik buruknya tindakan dengan tolok ukur seberapa besar tingkat penerimaan lingkungan terhadap keputusannya. apakah ada yang tersakiti atau tidak atas tindakan yang dilakukannya. Dan terakhir potensi jasad dengan potensi indra tubuh yang melekat disana seperti mata, telinga, hidung, kaki, tangan. Jasad merupakan muara utama dari dua potensi sebelumnya yaitu hati dan akal sebagai sarana perwujudan semua gagasan untuk menjadi sebuah amal yang terlihat dan terukur.

Penyempurnaan potensi inilah yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Malaikat dikenal sebagai makhluk Allah yang paling taat, iblis dikenal sebagai makhluk pembangkang dan dilaknat oleh Allah dan terakhir manusia sebagai makhluk pertengahan, ia diberi kebebasan untuk memilih jalan yang ia tempuh tentu saja dengan konsekuensi jika memilih jalan keburukan berhadapan dengan dosa azaz dan siksa, jika memilih jalan kebaikan akan bertemu dengan pahala dan syurga. Jadi saya ingin menyampaikan bahwa manusia memiliki dua unsur jiwa yaitu, separuh iblis dan separuhnya malaikat.

Kehidupan kita dimulai dari sebuah penciptaan dimana ditempat yang belum pernah kita lihat dan tentu tempat yang belum pernah kita bayangkan. Disana zat yang Maha Agung yang kita nyatakan sebagai Tuhan bersemayam bersama ribuan malaikat yang senantiasa taat dan siap siaga menjalankan perintahNya untuk mengelola kehidupan tempat para manusia hidup yang disebut sebagai dunia. Dalam arsyNya ruh ruh dikumpulkan dan ditanyakan satu persatu sebelum ditiup kedalam jasad manusia "Siapakah Tuhanmu" ruhpun menjawab "ya, kami mengakui bahwa engkau adalah Tuhan kami" setelah ikrar disampaikan ditiuplah ruh tersebut menuju jasad yang sudah ditentukanNya.

Jika dilihat proses yang terjadi atas penciptaan manusia maka bisa dikatakan bahwa kita terlahir sebagai orang yang dipilih untuk berada di dunia. Disebutkan bahwa "hendak kujadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi" hal ini dimaksudkan agar manusia sadar akan tugasnya bahwa ia hidup bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk memberi manfaat kepada sesama. khalifah adalah sebuah kata yang bermakna luas, khalifah memiliki tugas besar, khalifah adalah pemimpin, khalifah adalah pengambil kebijakan dan khalifah adalah pengelola kehidupan.

Dengan begitu besarnya harapan dan tugas yang diberikan kepada manusia dan dengan telah dimuliakannya kita apakah masih pantas jika kita terus mengeluh dan menyesali keberadaan kita di dunia? lalu dengan pilihan dan konsekuensi yang ada apakah masih yakin jika kita terus melakukan kerusakan dan menjadi wabah keburukan di tengah masyarakat. Ingat bahwa kita dipilih oleh kekuatan besar kemudian kita disempurnakan dengan tiga potensi dasar untuk menentukan tindakan apa yang tepat kita lakukan untuk hidup ini.

Memilih baik atau buruk? memilih optimis atau mengeluh? memilih kuat atau lemah? memilih manfaat atau kesia siaan? memilih syurga atau neraka?
semua pilihan ada pada kita sebagai pelaksana tugas, apapun yang kita pilih bersiaplah dengan segala resiko yang akan kita dapatkan sesuai dengan pilihan kita. jadi silahkan pilih jalan kita.

Apakah saudara ataupun saudari pernah mendengar tentang kisah telur elang yang terjatuh di kandang ayam sehingga induk ayam mengeraminya sampai menetas. pada suatu waktu induk elang hendak memindahkan telur-telurnya dari pohon yang rendah ke pohon yang lebih tinggi agar lebih aman dari pemburu telur. Satu persatu telur-telur tersebut dipindahkan, saat telur terakhir akan dipindahkan kuku elang tersebut patah dan membuat telur yang dibawanya terjatuh, ia berusaha mencari dari ketinggian kemudian menukik namun ia juga tidak menemukan telurnya akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan pencarian tersebut.

Ternyata telur tersebut jatuh diatas jerami tepat disebelah sarang ayam yang sedang dierami. ketika induk ayam pulang ia melihat satu telur yang tidak pada tempatnya yang tanpa ia sadari bahwa itu adalah telur elang, ia mendorong dengan paruh dan kakinya terus menerus hingga masuk ke tempat ia mengeram.

Waktu pun berlalu hingga satu persatu telur-telur yang ia erami menetas. dari 10 telur yang menetas ada satu anak ayam yang berbeda warna dan bentuknya. warnanya kecoklatan, paruhnya lebih runcing daripada anak ayam lainnya, namun karena sudah bercampur bersama anak ayam lainnya si anak elang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia adalah elang yang biasa memangsa ayam dan ayam pun tidak menyadari bahwa ia sedang memelihara elang.

Pada suatu waktu saat anak anak ayam tersebut berkerumun diluar kandang mencari makan, tiba-tiba datang seekor elang besar akan menyambar hingga semua kocar kacir termasuk elang kecil yang berada dalam kerumunan tersebut. Elang besar tersebut coba kembali mendekat ke arah elang kecil yang tertinggal dari kerumunannya lalu ia berkata "kenapa kau ikut berlari, kenapa kau takut melihatku, bukankah kau sama sepertiku ? " elang kecil menjawab "bukan, aku tidak sepertimu, kau kasar dan kejam, kau membuat kami takut seharian, kau membuat kami lapar seharian" . Elang besar pun berkata "baik jika itu pendapatmu, tapi lihat warna bulumu, bentuk paruhmu, bentuk cakarmu kau sama sepertiku bukan seperti ayam ayam itu. Kau bisa terbang tinggi sepertiku, melanglang buana di angkasa tapi jika kau memilih untuk tetap berada bersama ayam tersebut mengais makan dengan paruh dan cakarmu silahkan" sesaat elang kecilpun bimbang, saat elang besar akan terbang " tunggu ! teriak elang kecil, tunjukkan padaku bagaimana cara bisa terbang sepertimu".

Elang besar mengajak elang kecil ke tepi sebuah bukit "ikuti aku, kepakkan sayapmu sekuat yang kau mampu, jangan berhenti sampai kau benar benar letih". Elang kecilpun memulai pengalaman pertamanya untuk terbang. Usaha pertamanya gagal bahkan baru tiga kali kepak ia terjerembab dari atas jurang. Elang besar hanya berkata teruslah berusaha kau elang sepertiku terbanglah yang tinggi. Percobaan kedua dan ketiga juga belum berhasil, sampai pada percobaan keempat ia mulai melayang dan terus melayang semakin tinggi akhirnya dia mulai bisa meliuk dan menukik. Ia merasa sangat gembira, dirinya makin percaya diri dan mulai meyakini bahwa ia adalah elang yang tangguh gagah perkasa.
Kisah diatas menggambarkan kondisi kita sebagai manusia yang terkadang lupa dengan potensi besar dan jati diri kita yang mungkin larut dalam kondisi yang kurang tepat, sehingga potensi yang ada menjadi kerdil, jati diri menjadi kabur, hidup menjadi hilang arah dan pada akhirnya tujuan hidup tidak tercapai. "Hidup tidak berguna ketika mati badan tersiksa"

Katakan pada diri sendiri mulai saat ini saya akan mencari tahu siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, kenapa saya diciptakan dan manfaat apa yang akan saya berikan dengan semua potensi besar yang melekat pada tubuh saya. Jadilah jiwa yang sadar sepenuhnhya terhadap hidup dan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar