Awal
Dari tiada menjadi ada
ya kita adalah wujud yang diadakan
raga yang diisi ruh dihidupkan
diberi akal
diberi hati
akal untuk berpikir
dan hati untuk menilai
lalu jasad menjadi utuh
sebentuk tubuh yang sempurna
disiapkan menjadi pemimpin
mengajak pada kebaikan
mencegah dari kemungkaran
ya itulah manusia
ciptaan dengan penyempurnaan
penyempurnaan akal
penyempurnaan pikiran
penyempurnaan jasad
Dan tugas akhirnya menyempurnakan amal
Siapapun dan Dimanapun terlahir
Itulah manusia
"Wahai
Allah Tuhanku, mengapa kau hendak menurunkan manusia yang suka merusak dan suka
menumpahkan darah untuk menjadi pemimpin di muka bumi" dan Tuhan pun
menjawab "apakah kamu mengetahui lebih dari yang aku ketahui ? " dan
malaikat pun bersujud dihadapan Allah.
Begitulah
keraguan yang ada pada malaikat terhadap manusia karena ia tahu bahwa watak
manusia diciptakan penuh hawa nafsu, lalai dan lemah, meski demikian Allah
tetap mencipatakan manusia dengan semua potensi yang mengikutinya. Manusia
diberikan akal, diberikan hati atau qolbu dan diberikan bentuk sebaik baik
bentuk dari semua ciptaanNya termasuk dari para malaikat.
Akal
diciptakan dengan potensi untuk menganalisis dan mengolah data dengan logika
berpikir rasional guna menentukan keputusan ya atau tidak, kemudian hati diciptakan
dengan potensi peka perasaan guna menilai baik buruknya tindakan dengan tolok
ukur seberapa besar tingkat penerimaan lingkungan terhadap keputusannya. apakah
ada yang tersakiti atau tidak atas tindakan yang dilakukannya. Dan terakhir
potensi jasad dengan potensi indra tubuh yang melekat disana seperti mata,
telinga, hidung, kaki, tangan. Jasad merupakan muara utama dari dua potensi
sebelumnya yaitu hati dan akal sebagai sarana perwujudan semua gagasan untuk menjadi
sebuah amal yang terlihat dan terukur.
Penyempurnaan
potensi inilah yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya.
Malaikat dikenal sebagai makhluk Allah yang paling taat, iblis dikenal sebagai
makhluk pembangkang dan dilaknat oleh Allah dan terakhir manusia sebagai
makhluk pertengahan, ia diberi kebebasan untuk memilih jalan yang ia tempuh
tentu saja dengan konsekuensi jika memilih jalan keburukan berhadapan dengan
dosa azaz dan siksa, jika memilih jalan kebaikan akan bertemu dengan pahala dan
syurga. Jadi saya ingin menyampaikan bahwa manusia memiliki dua unsur jiwa
yaitu, separuh iblis dan separuhnya malaikat.
Kehidupan
kita dimulai dari sebuah penciptaan dimana ditempat yang belum pernah kita
lihat dan tentu tempat yang belum pernah kita bayangkan. Disana zat yang Maha Agung
yang kita nyatakan sebagai Tuhan bersemayam bersama ribuan malaikat yang
senantiasa taat dan siap siaga menjalankan perintahNya untuk mengelola
kehidupan tempat para manusia hidup yang disebut sebagai dunia. Dalam arsyNya ruh
ruh dikumpulkan dan ditanyakan satu persatu sebelum ditiup kedalam jasad
manusia "Siapakah Tuhanmu" ruhpun menjawab "ya, kami mengakui bahwa
engkau adalah Tuhan kami" setelah ikrar disampaikan ditiuplah ruh tersebut
menuju jasad yang sudah ditentukanNya.
Jika
dilihat proses yang terjadi atas penciptaan manusia maka bisa dikatakan bahwa
kita terlahir sebagai orang yang dipilih untuk berada di dunia. Disebutkan
bahwa "hendak kujadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi" hal
ini dimaksudkan agar manusia sadar akan tugasnya bahwa ia hidup bukan untuk
dirinya sendiri melainkan untuk memberi manfaat kepada sesama. khalifah adalah
sebuah kata yang bermakna luas, khalifah memiliki tugas besar, khalifah adalah
pemimpin, khalifah adalah pengambil kebijakan dan khalifah adalah pengelola kehidupan.
Dengan
begitu besarnya harapan dan tugas yang diberikan kepada manusia dan dengan
telah dimuliakannya kita apakah masih pantas jika kita terus mengeluh dan
menyesali keberadaan kita di dunia? lalu dengan pilihan dan konsekuensi yang
ada apakah masih yakin jika kita terus melakukan kerusakan dan menjadi wabah
keburukan di tengah masyarakat. Ingat bahwa kita dipilih oleh kekuatan besar
kemudian kita disempurnakan dengan tiga potensi dasar untuk menentukan tindakan
apa yang tepat kita lakukan untuk hidup ini.
Memilih
baik atau buruk? memilih optimis atau mengeluh? memilih kuat atau lemah?
memilih manfaat atau kesia siaan? memilih syurga atau neraka?
semua
pilihan ada pada kita sebagai pelaksana tugas, apapun yang kita pilih bersiaplah
dengan segala resiko yang akan kita dapatkan sesuai dengan pilihan kita. jadi
silahkan pilih jalan kita.
Apakah
saudara ataupun saudari pernah mendengar tentang kisah telur elang yang
terjatuh di kandang ayam sehingga induk ayam mengeraminya sampai menetas. pada
suatu waktu induk elang hendak memindahkan telur-telurnya dari pohon yang rendah
ke pohon yang lebih tinggi agar lebih aman dari pemburu telur. Satu persatu
telur-telur tersebut dipindahkan, saat telur terakhir akan dipindahkan kuku
elang tersebut patah dan membuat telur yang dibawanya terjatuh, ia berusaha mencari
dari ketinggian kemudian menukik namun ia juga tidak menemukan telurnya
akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan pencarian tersebut.
Ternyata
telur tersebut jatuh diatas jerami tepat disebelah sarang ayam yang sedang
dierami. ketika induk ayam pulang ia melihat satu telur yang tidak pada
tempatnya yang tanpa ia sadari bahwa itu adalah telur elang, ia mendorong
dengan paruh dan kakinya terus menerus hingga masuk ke tempat ia mengeram.
Waktu
pun berlalu hingga satu persatu telur-telur yang ia erami menetas. dari 10
telur yang menetas ada satu anak ayam yang berbeda warna dan bentuknya.
warnanya kecoklatan, paruhnya lebih runcing daripada anak ayam lainnya, namun
karena sudah bercampur bersama anak ayam lainnya si anak elang tidak menyadari
bahwa sebenarnya ia adalah elang yang biasa memangsa ayam dan ayam pun tidak
menyadari bahwa ia sedang memelihara elang.
Pada
suatu waktu saat anak anak ayam tersebut berkerumun diluar kandang mencari
makan, tiba-tiba datang seekor elang besar akan menyambar hingga semua kocar
kacir termasuk elang kecil yang berada dalam kerumunan tersebut. Elang besar
tersebut coba kembali mendekat ke arah elang kecil yang tertinggal dari
kerumunannya lalu ia berkata "kenapa kau ikut berlari, kenapa kau takut
melihatku, bukankah kau sama sepertiku ? " elang kecil menjawab
"bukan, aku tidak sepertimu, kau kasar dan kejam, kau membuat kami takut
seharian, kau membuat kami lapar seharian" . Elang besar pun berkata
"baik jika itu pendapatmu, tapi lihat warna bulumu, bentuk paruhmu, bentuk
cakarmu kau sama sepertiku bukan seperti ayam ayam itu. Kau bisa terbang tinggi
sepertiku, melanglang buana di angkasa tapi jika kau memilih untuk tetap berada
bersama ayam tersebut mengais makan dengan paruh dan cakarmu silahkan" sesaat
elang kecilpun bimbang, saat elang besar akan terbang " tunggu ! teriak
elang kecil, tunjukkan padaku bagaimana cara bisa terbang sepertimu".
Elang
besar mengajak elang kecil ke tepi sebuah bukit "ikuti aku, kepakkan sayapmu
sekuat yang kau mampu, jangan berhenti sampai kau benar benar letih".
Elang kecilpun memulai pengalaman pertamanya untuk terbang. Usaha pertamanya
gagal bahkan baru tiga kali kepak ia terjerembab dari atas jurang. Elang besar
hanya berkata teruslah berusaha kau elang sepertiku terbanglah yang tinggi.
Percobaan kedua dan ketiga juga belum berhasil, sampai pada percobaan keempat
ia mulai melayang dan terus melayang semakin tinggi akhirnya dia mulai bisa
meliuk dan menukik. Ia merasa sangat gembira, dirinya makin percaya diri dan
mulai meyakini bahwa ia adalah elang yang tangguh gagah perkasa.
Kisah
diatas menggambarkan kondisi kita sebagai manusia yang terkadang lupa dengan
potensi besar dan jati diri kita yang mungkin larut dalam kondisi yang kurang
tepat, sehingga potensi yang ada menjadi kerdil, jati diri menjadi kabur, hidup
menjadi hilang arah dan pada akhirnya tujuan hidup tidak tercapai. "Hidup
tidak berguna ketika mati badan tersiksa"
Katakan
pada diri sendiri mulai saat ini saya akan mencari tahu siapa diri saya, apa
tujuan hidup saya, kenapa saya diciptakan dan manfaat apa yang akan saya
berikan dengan semua potensi besar yang melekat pada tubuh saya. Jadilah jiwa
yang sadar sepenuhnhya terhadap hidup dan kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar