oleh : Multon Ackrowi
Kamu adalah mahkluk terpilih
Potensi sudah dianugerahkan
Tempat bernaung mu dunia
Jalan hidupmu terbuka
Terkadang lempang terkadang sesak
Mencari suka melalui duka
Mahkluk bebas dalam batas
berpikir maju atau mundur
memilih syukur atau kufur
Tuhan ada pemberi kuasa
Kamu ada penentu usaha
Terus bekerja atau terlena
Hidup berguna atau sia-sia
Pembawa derita atau bahagia
Manusia ada bukan percuma
tentukan syurga atau neraka
Kita
telah terpilih lahir kedunia dengan kedudukan yang paling mulia, dengan sebaik
baik bentuk. Memiliki kesempurnaan akal dan nurani sebagai penuntun kehidupan. "Khalifatul
fil ard" pemimpin atas kehidupan di dunia, meniti jembatan karir menuju
akhir yang baik bukan hanya bagi diri pribadi namun juga memiliki tanggung
jawab bagi manusia lainnya.
Penciptaan
manusia bukan hanya dengan berbagai jenis suku, kulit, bahasa dan ras saja,
namun juga dengan berbagai sifat dasar dan karakter yang berbeda pula. Ada yang
penyabar, ada yang cenderung pemarah dan juga ada yang penuh canda. Meskipun
pada umumnya ketiga sifat dasar tersebut dimiliki oleh semua manusia hanya
kadar sifat tersebut yang berbeda-beda oleh karena itu kita perlu mengetahui
sifat dasar yang kita miliki agar mampu kita seimbangkan diantara ketiganya.
Saudara-saudariku
yang baik hatinya, pilihan dan ketentuan yang Tuhan curahkan di dunia
semestinya menjadi pembelajaran penting bagi kita dalam menyikapi kehidupan di
dunia ini. Bukankah telah banyak kejadian dan kisah yang kita baca ataupun kita
dengar bagaimana akhir dari manusia manusia yang tidak memiliki kemampuan yang
baik dalam menyeimbangkan kehidupannya. Bagaimana sifat-sifat buruk hanya
memberi petaka kepada tuannya dan pilihan kebaikan membawa keberuntungan bagi
tuannya. Lalu pertanyaan besarnya kenapa kejadian demi kejadian tidak membuat
sebagian dari kita atau kita sendiri tidak mengambil poin penting atas hal
tersebut. Apakah kita tidak memiliki akal sehat lagi untuk membedakan mana hal
baik dan mana hal yang buruk, atau jangan-jangan kita sudah menjadi makhluk sombong
yang lupa akan tujuan penciptaan kita di dunia.
Hidup
seperti sebuah perjalanan dimana tersedia banyak destinasi tujuan, kita bebas
memilih kemana kita hendak pergi, kendaraan apa yang kita gunakan semua
dikembalikan dengan kemampuan dan keinginan kita. Tidak ada satupun yang memaksa
kita akan kemana, yang ada hanya tawaran dari biro biro perjalanan dengan
berbagai macam promosinya namun pada akhirnya pilihan akan bermuara pada diri
kita. Perjalanan dan lokasi mana yang sesuai dengan diri kita. Setelah memilih
suatu perjalanan maka secara langsung hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan
tersebut mesti kita penuhi dan kita juga harus siap dengan segala konsekuensi
yang berlaku dalam perjalanan tersebut, entah itu biaya, lama waktu perjalanan
serta orang-orang yang turut serta dalam perjalanan tersebut. Resiko perjalanan
ke Jepang jelas berbeda dengan resiko perjalanan ke Irak, apakah bisa kita mengganti
resiko perjalanan tersebut ? tentu tidak, Jepang dan Irak adalah dua negara
dengan kondisi yang berbeda.
Untuk
itu mari bersama kita renungi kembali kemana tujuan kita dan apa pilihan kita
dalam hidup ini. Memang hidup ini penuh dengan godaan dan pengalih perhatian
ibarat tawaran dan promosi sebuah biro perjalanan yang memberikan begitu banyak
bonus dan kelebihan hingga kita ragu dengan pilihan utama yang sudah kita
pilih. Kemudian kembali pada diri kita sanggupkah kita menahan godaan tersebut.
Godaan yang membawa kita pada kenyaman sementara yang tanpa sadar telah
menghabiskan waktu kita untuk mencapai tujuan perjalanan utama kita. Saat kita
tersadar semua sudah terlambat, waktu yang kita punya hampir tidak ada lagi,
uang yang kita punya sudah tidak cukup lagi, yang ada hanya tinggal penyesalan
dan keluh kesah yang tidak mampu merubah pilihan yang sudah kita tentukan.
Apakah
tidak sia-sia energi penyesalan yang kita keluarkan saat semua cerita sudah
usai, saat air telah kering dan saat raga tak lagi kuasa. Kita ambil sebuah
frasa tentang seorang yang bercita cita mengubah dunia namun ia belum merubah
dirinya sendiri dan ia belum memilih jalan yang baik baginya sehingga pada saat
tersadar ia mendapati dirinya hanyalah lelaki tua renta yang dulu punya rencana
besar namun tidak memulainya dari hal yang paling kecil dan yang paling dekat
dengannya yaitu dirinya sendiri.
Pilihan
hidup sepenuhnya ada pada diri kita, bahkan ketika kita tidak memilih suatu
apapun, itu juga bermakna sebagai pilihan diluar dari pilihan yang ada. Jadi
sesungguhnya pilihan itu mutlak adanya tidak dapat dihindari. Mulailah untuk berani
memilih dari hal yang mudah dan mampu kita lakukan. Lalu apakah pilihan untuk menjadi
manusia yang baik masih meragukan buat kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar