Selasa, 05 November 2013

Sajak Kehidupan (2)

oleh : Multon Ackrowi

Kamu adalah mahkluk terpilih
Potensi sudah dianugerahkan
Tempat bernaung mu dunia

Jalan hidupmu terbuka
Terkadang lempang terkadang sesak
Mencari suka melalui duka

Mahkluk bebas dalam batas
berpikir maju atau mundur
memilih syukur atau kufur

Tuhan ada pemberi kuasa
Kamu ada penentu usaha
Terus bekerja atau terlena

Hidup berguna atau sia-sia
Pembawa derita atau bahagia

Manusia ada bukan percuma
tentukan syurga atau neraka


Kita telah terpilih lahir kedunia dengan kedudukan yang paling mulia, dengan sebaik baik bentuk. Memiliki kesempurnaan akal dan nurani sebagai penuntun kehidupan. "Khalifatul fil ard" pemimpin atas kehidupan di dunia, meniti jembatan karir menuju akhir yang baik bukan hanya bagi diri pribadi namun juga memiliki tanggung jawab bagi manusia lainnya.

Penciptaan manusia bukan hanya dengan berbagai jenis suku, kulit, bahasa dan ras saja, namun juga dengan berbagai sifat dasar dan karakter yang berbeda pula. Ada yang penyabar, ada yang cenderung pemarah dan juga ada yang penuh canda. Meskipun pada umumnya ketiga sifat dasar tersebut dimiliki oleh semua manusia hanya kadar sifat tersebut yang berbeda-beda oleh karena itu kita perlu mengetahui sifat dasar yang kita miliki agar mampu kita seimbangkan diantara ketiganya.

Saudara-saudariku yang baik hatinya, pilihan dan ketentuan yang Tuhan curahkan di dunia semestinya menjadi pembelajaran penting bagi kita dalam menyikapi kehidupan di dunia ini. Bukankah telah banyak kejadian dan kisah yang kita baca ataupun kita dengar bagaimana akhir dari manusia manusia yang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menyeimbangkan kehidupannya. Bagaimana sifat-sifat buruk hanya memberi petaka kepada tuannya dan pilihan kebaikan membawa keberuntungan bagi tuannya. Lalu pertanyaan besarnya kenapa kejadian demi kejadian tidak membuat sebagian dari kita atau kita sendiri tidak mengambil poin penting atas hal tersebut. Apakah kita tidak memiliki akal sehat lagi untuk membedakan mana hal baik dan mana hal yang buruk, atau jangan-jangan kita sudah menjadi makhluk sombong yang lupa akan tujuan penciptaan kita di dunia.

Hidup seperti sebuah perjalanan dimana tersedia banyak destinasi tujuan, kita bebas memilih kemana kita hendak pergi, kendaraan apa yang kita gunakan semua dikembalikan dengan kemampuan dan keinginan kita. Tidak ada satupun yang memaksa kita akan kemana, yang ada hanya tawaran dari biro biro perjalanan dengan berbagai macam promosinya namun pada akhirnya pilihan akan bermuara pada diri kita. Perjalanan dan lokasi mana yang sesuai dengan diri kita. Setelah memilih suatu perjalanan maka secara langsung hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan tersebut mesti kita penuhi dan kita juga harus siap dengan segala konsekuensi yang berlaku dalam perjalanan tersebut, entah itu biaya, lama waktu perjalanan serta orang-orang yang turut serta dalam perjalanan tersebut. Resiko perjalanan ke Jepang jelas berbeda dengan resiko perjalanan ke Irak, apakah bisa kita mengganti resiko perjalanan tersebut ? tentu tidak, Jepang dan Irak adalah dua negara dengan kondisi yang berbeda.

Untuk itu mari bersama kita renungi kembali kemana tujuan kita dan apa pilihan kita dalam hidup ini. Memang hidup ini penuh dengan godaan dan pengalih perhatian ibarat tawaran dan promosi sebuah biro perjalanan yang memberikan begitu banyak bonus dan kelebihan hingga kita ragu dengan pilihan utama yang sudah kita pilih. Kemudian kembali pada diri kita sanggupkah kita menahan godaan tersebut. Godaan yang membawa kita pada kenyaman sementara yang tanpa sadar telah menghabiskan waktu kita untuk mencapai tujuan perjalanan utama kita. Saat kita tersadar semua sudah terlambat, waktu yang kita punya hampir tidak ada lagi, uang yang kita punya sudah tidak cukup lagi, yang ada hanya tinggal penyesalan dan keluh kesah yang tidak mampu merubah pilihan yang sudah kita tentukan.

Apakah tidak sia-sia energi penyesalan yang kita keluarkan saat semua cerita sudah usai, saat air telah kering dan saat raga tak lagi kuasa. Kita ambil sebuah frasa tentang seorang yang bercita cita mengubah dunia namun ia belum merubah dirinya sendiri dan ia belum memilih jalan yang baik baginya sehingga pada saat tersadar ia mendapati dirinya hanyalah lelaki tua renta yang dulu punya rencana besar namun tidak memulainya dari hal yang paling kecil dan yang paling dekat dengannya yaitu dirinya sendiri.

Pilihan hidup sepenuhnya ada pada diri kita, bahkan ketika kita tidak memilih suatu apapun, itu juga bermakna sebagai pilihan diluar dari pilihan yang ada. Jadi sesungguhnya pilihan itu mutlak adanya tidak dapat dihindari. Mulailah untuk berani memilih dari hal yang mudah dan mampu kita lakukan. Lalu apakah pilihan untuk menjadi manusia yang baik masih meragukan buat kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar