Dulu.....
Ketika dia bersama kelompok ini, ia sangat menonjol sekali. Dia adalah
seorang aktifis. Semua orang tahu dengan dia, karena dia yang selalu menyuarakan
perlawanan atas ketidakadilan yang sedang terjadi pada saat itu. Membela
kebenaran, membela hak-hak lingkungannya, itu yang dia lakukan. Bahkan tidak hanya di kalangan teman-temannya
saja yang mengenalnya, bahkan secara eksternal ia pun juga dikenal oleh banyak
kalangan. Para wartawan pun mengenalnya, sehingga tidak heran jika dia sering
masuk dalam media dengan aksi-aksinya ataupun pernyataan-peryataan sikap yang
dia keluarkan. Bahkan tidak hanya itu, lebih dari itu untuk orang-orang yang
bisa mengenalnya. Dia besar bersama
bersama kelompok ini, dia terkenal bersama kelompok ini, dia hebat bersama
kelompok ini. Karena memang kelompok ini lah yang membuatnya besar.
Selain itu, dia tidak hanya memikirkan urusan yang kecil-kecil saja. Dia
tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia
mencoba memikirkan urusan di luar dia. Mulai dari kepentingan teman-temannya,
masyarakat sekitar, warga lokal, nasional, bahkan internasionalpun ia mencoba
untuk memikirkannya dan memberikan pandangan-pandangannya terkait dengan solusi
untuk mengatasi sebuah permasalahan. Pasti dia dulu memiliki cita-cita yang
besar, cita-cita yang tinggi, yang luas untuk sebuah tatanan masyarakat yang
ideal. Dia seperti singa yang memiliki taring,
yang memiliki kuku-kuku tajam, yang dengannya dia memiliki keberanian
untuk membela sebuah kebenaran dan melawan kezholiman.
Waktunya, hartanya, pikirannya tak sedikit dia korbankan bersama kelompok
ini untuk mencapai sebuah tujuan yang mulia, tujuan yang baik.
Akan tetapi.....
Kini telah berubah. Dia tidak lagi menjadi orang yang dikenal seperti
dahulu seiring dengan keputusannya untuk tidak lagi bersama dalam kelompok ini.
Singa yang dahulu gagah berani telah dipendamnya dalam-dalam di dalam diri nya.
Dia tidak memiliki taring lagi, dia tidak memiliki kuku-kuku yang tajam untuk
menerkam. Dia hilang, dia tidak lagi menjadi dikenal oleh banyak orang. Karena
itu lah emang keputusan yang dia buat, untuk menjadi orang biasa-biasa saja,
sama seperti orang biasa-biasa lainnya.
Semuanya dikarenakan oleh keputusan yang ia ambil sendiri untuk tidak lagi
bersama dengan kelompok ini. Kelompok ini yang membuatnya bergerak sehingga dia
dikenal, sehingga dia mampu mengeluarkan jiwa singanya. Dan mungkin pula
cita-citanya pun telah dia tenggelamkan dalam dirinya. Kini dia menjadi orang kecil.
Hidupnya hanya mengikuti ritme-ritme monoton, yang selalu ia jalani
begitu-begitu saja setiap harinya. Menikah, bekerja, ngurus anak, ya begitulah
mungkin kesehariannya. Cita-cita yang
dahulu bisa menjangkau melebihi batas wilayah mungkin kini telah menjadi
seadanya saja. Yang penting dirinya dan keluarganya bisa bahagia, mungkin itu
yang dipikirkannya.
Untuk jasa-jasanya,
karya-karyanya, perjuangan-perjuangannya di masa itu pastinya akan tetap dikenang bagi orang-orang yang tahu
denganya, akan tetapi hanya sebatas kenangan saja dengan diawali kata-kata
“dulu”.
“Dia”, yang tersebut dalam paragraf di atas bisa saja nanti terjadi pada
diriku atau dirimu atau diri kita semua ketika kita tidak bisa istiqomah berada
dalam kelompok ini. Itu semua bisa terjadi, telah banyak contoh orang-orang
yang seperti tersebut di atas. Dan bukannya tidak mungkin kita pun kelak akan
menjadi seperti “dia”. Yang tadinya bisa seperti singa, akan tetapi pada suatu
waktu kita tidak lagi bisa seperti itu. Harus ada keinginan untuk senantiasa berusaha istiqomah bersama kelompok
ini, sehingga kita pun istiqomah bersamanya. Adanya rasa takut jika-jika kita
nantinya ternyata tidak bisa istiqomah bersama kelompok ini, sehingga kita pun
tidak mau melibatkan diri dalam mewujudkan cita-cita besar kita. Maka kita akan
menjadi orang kecil.
Bersama kelompok ini kita dibentuk menjadi orang besar. Dikarenakan kita
diajarkan untuk memikirkan yang besar-besar, memikirkan orang lain tidak hanya
memikirkan diri sendiri. Maka tetaplah bersama kelompok ini jika engkau ingin
menjadi besar. Istiqomahlah bersama kelompok ini jika engkau tetap memiliki
cita-cita yang besar untuk kejayaan dan kebangkitan islam. Orang yang sendiri
tidaklah mungkin memiliki cita-cita yang besar sampai kejayaan dan
kebangkitannya. Kalaupun ada itu pun mungkin hanya di hati saja, dikarenakan
tidak ditunjukan dalam kerja-kerja nyata untuk mewujudkannya. Dengan adanya
kelompoklah cita-cita besar kita akan bisa terwujud, maka mustahillah orang
yang sendirian mampu mewujudkan cita-cita besar tersebut.
Meskipun kita sholeh akan tetapi ketika tidak bersama sebuah kelompok
maka sesungguhnya kita adalah yang memiliki cita-cita kecil, yaah hanya sebatas
diri sendiri, keluarga dan tetangga-tetangga sekitar. Karena untuk menjangkau
sesuatu yang besar, yang luas, yang jauh itu tidak lah mungkin dapat dilakukan
oleh seorang diri. Dia butuh kelompok, dia butuk kerja sama antar anggota
kelompok.
“maka istiqomahlah engkau (Muhammad) (di
jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang
yangbertobat bersamamu, dan janganlah engkau melampaui batas. Sunggu, Dia Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S Hud : 112)
Wallahu a’lam
Jambi, 02/02/2013
Yudhi Presetyo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar