Jumat, 16 November 2012

Amalan antara Riya dan Ujub


Menjaga hati merupakan hal yang sangat penting ketika selesai melakukan sebuah atau banyak amal sholeh, agar amal sholeh tersebut tidak hilang seperti debu yang ditiup angin. Alangkah meruginya orang yang telah beramal akan tetapi sesungguhnya ia tidak mendapatkan apa-apa, dikarenakan ia tidak bisa menjaga hatinya. Ia merasa telah banyak  beramal ketika di dunia akan tetapi setelah ditimbang kelak ternyata amalan-amalannya tersebut telah hilang dikarenakan adanya sifat riya dan ujub yang mengiringi amalannya tersebut.

Riya karena ketika ia beramal ingin dilihat orang. Ia akan bertentangan dengan ikrarnya dalam setiap sholatnya yang mengatakan “iyya ka na’budu” hanya kepada-Mu lah kami beribadah. Yang seharusnya beramalnya manusia itu diniatkan sebagai bentuk ibadah untuk Allah SWT malah ia beramal hanya karena ingin dilihat dan dipuji manusia. Maka Allah SWT tidak akan menerima amalan manusia yang diiringi dengan sifat Riya’, amalan yang dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah. Dan Rasulullah pun sangat khawatir para sahabatnya melakukan riya’ Diriwayatkan dari Abu Said Radhiallahu’anhu dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari  ada Al Masih Ad dajjal ([2])?”, para sahabat menjawab : “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan sholat, ia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya” (HR. Ahmad)

Ketika ia berhasil untuk tidak mengiringi amalannya dengan riya, sebenarnya belum tentu ia sudah terbebas dari sifat-sifat buruk lain yang bisa merusak amalannya. Selanjutnya  jangan sampai ia terjebak dengan sikap ujub. Ujub adalah berbangga diri setelah melakukan suatu amal sholih. Ia tersembunyi di dalam hati. Ia akan memuji-muji dirinya sendiri dikarenakan telah melakukan amal sholeh, atau beramal paling banyak, atau beramal tanpa ingin dilihat orang lain. Ia selalu merasa-rasa dirinya lah yang paling hebat dibandingkan orang lain. Dan tanpa dirasakannya pula sifat tersebut dapat menghilangkan nilai pahala dari apa yang telah ia lakukan. Inilah yang dituntut dari kita yang melakukan amal sholeh yakni menjaga hati agar tetap ikhlas karena Allah baik itu ketika tampak dihadapan manusia ataupun disembunyikan di hadapan diri kita sendiri.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Tiga sifat yang dapat menghancurkan seseorang; Kikir yang selalu diikuti, Hawa nafsu yang selalu dituruti, dan merasa bangga terhadap dirinya sendiri.” (HR: Thabrani)

Memang sulit menjaga amalan yang telah kita lakukan agar tetap mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT kelak. Ketika diperlihatkan akan lebih dekat pada riya, jika disembunyikan akan lebih dekat dengan ujub. Sepertinya memang serba salah. Tidaklah serba salah, yang dituntut ketika kita beramal adalah tetap menjaga hati agar tetap ikhlas karena Allah bukan untuk dilihat manusia maupun untuk terjebak dengan memuji-muji diri sendiri. Jadi setelah beramal jagalah hati agar tidak jatu pada riya maupun ujub. Mau diperlihatkan ataupun disembunyikan ketika kita mampu menjaga keikhlasan karena Allah, maka insya Allah amalan tersebut akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT.

Menjaga keikhlasan setiap amal-amal yang kita lakukan itu dilakukan pada saat beramal sampai maut menjemput kita. Karena bisa saja meskipun ketika beramal kita bisa menjaga hati untuk tidak riya dan ujub akan tetapi jauh-jauh hari kedepan sifat tersebut tiba-tiba muncul dalam hati kita terhadap amalan yang dilakukan pada masa lampau, tetap ia akan menghapus amalan kita yang di masa lampau itu. Maka hanya kematianlah yang menjadi batas waktu untuk melihat keikhlasan amal sholeh yang telah kita lakukan, apakah ia benar-benar terhindar dari sifat riya dan ujub atau tidak, agar mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshowab.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
( HR. Muslim, An-Nasa'i, Ahmad )

Yudhi Prasetyo
Jambi, 17 Nopember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar