Menjaga hati merupakan hal
yang sangat penting ketika selesai melakukan sebuah atau banyak amal sholeh, agar
amal sholeh tersebut tidak hilang seperti debu yang ditiup angin. Alangkah
meruginya orang yang telah beramal akan tetapi sesungguhnya ia tidak
mendapatkan apa-apa, dikarenakan ia tidak bisa menjaga hatinya. Ia merasa telah
banyak beramal ketika di dunia akan
tetapi setelah ditimbang kelak ternyata amalan-amalannya tersebut telah hilang dikarenakan
adanya sifat riya dan ujub yang mengiringi amalannya tersebut.
Riya karena ketika ia beramal
ingin dilihat orang. Ia akan bertentangan dengan ikrarnya dalam setiap
sholatnya yang mengatakan “iyya ka na’budu” hanya kepada-Mu lah kami
beribadah. Yang seharusnya beramalnya manusia itu diniatkan sebagai bentuk
ibadah untuk Allah SWT malah ia beramal hanya karena ingin dilihat dan dipuji
manusia. Maka Allah SWT tidak akan menerima amalan manusia yang diiringi dengan
sifat Riya’, amalan yang dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah. Dan
Rasulullah pun sangat khawatir para sahabatnya melakukan riya’ Diriwayatkan dari Abu Said Radhiallahu’anhu dalam
hadits marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Maukah
kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap
kamu dari ada Al Masih Ad dajjal
([2])?”, para sahabat menjawab : “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda : “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan
sholat, ia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang
melihatnya” (HR. Ahmad)
Ketika ia berhasil untuk
tidak mengiringi amalannya dengan riya, sebenarnya belum tentu ia sudah
terbebas dari sifat-sifat buruk lain yang bisa merusak amalannya. Selanjutnya jangan sampai ia terjebak dengan sikap ujub. Ujub
adalah berbangga diri setelah melakukan suatu amal sholih. Ia tersembunyi di dalam
hati. Ia akan memuji-muji dirinya sendiri dikarenakan telah melakukan amal
sholeh, atau beramal paling banyak, atau beramal tanpa ingin dilihat orang
lain. Ia selalu merasa-rasa dirinya lah yang paling hebat dibandingkan orang
lain. Dan tanpa dirasakannya pula sifat tersebut dapat menghilangkan nilai
pahala dari apa yang telah ia lakukan. Inilah yang dituntut dari kita yang
melakukan amal sholeh yakni menjaga hati agar tetap ikhlas karena Allah baik
itu ketika tampak dihadapan manusia ataupun disembunyikan di hadapan diri kita
sendiri.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya: “Tiga sifat yang dapat menghancurkan seseorang; Kikir
yang selalu diikuti, Hawa nafsu yang selalu dituruti, dan merasa bangga
terhadap dirinya sendiri.” (HR: Thabrani)
Memang sulit menjaga amalan
yang telah kita lakukan agar tetap mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT
kelak. Ketika diperlihatkan akan lebih dekat pada riya, jika disembunyikan akan
lebih dekat dengan ujub. Sepertinya memang serba salah. Tidaklah serba salah,
yang dituntut ketika kita beramal adalah tetap menjaga hati agar tetap ikhlas
karena Allah bukan untuk dilihat manusia maupun untuk terjebak dengan memuji-muji
diri sendiri. Jadi setelah beramal jagalah hati agar tidak jatu pada riya
maupun ujub. Mau diperlihatkan ataupun disembunyikan ketika kita mampu menjaga
keikhlasan karena Allah, maka insya Allah amalan tersebut akan mendapatkan
balasan pahala dari Allah SWT.
Menjaga keikhlasan setiap
amal-amal yang kita lakukan itu dilakukan pada saat beramal sampai maut
menjemput kita. Karena bisa saja meskipun ketika beramal kita bisa menjaga hati
untuk tidak riya dan ujub akan tetapi jauh-jauh hari kedepan sifat tersebut
tiba-tiba muncul dalam hati kita terhadap amalan yang dilakukan pada masa
lampau, tetap ia akan menghapus amalan kita yang di masa lampau itu. Maka hanya
kematianlah yang menjadi batas waktu untuk melihat keikhlasan amal sholeh yang
telah kita lakukan, apakah ia benar-benar terhindar dari sifat riya dan ujub atau
tidak, agar mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshowab.
Dari Abi Hurairah
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat
adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun
mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan
dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena
Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau
berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang
telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam
neraka.
Berikutnya orang (yang
diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al
Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya,
maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah
engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut
ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.'
Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang
‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai)
seorang qari' (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan
(tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya
dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili)
adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda.
Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia
pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan
dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan
shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku
melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau
berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan
memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan
(malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
( HR. Muslim, An-Nasa'i,
Ahmad )
Yudhi Prasetyo
Jambi, 17 Nopember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar