Rabu, 07 November 2012

Menyampaikan, untuk Belajar.



Ilmu yang kita miliki saat ini masihlah sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu yang telah Allah hamparkan di alam semesta ini. Terbukti tidak semua orang mampu menguasai semua hal, ada bidangnya masing-masing. Sepintar-pintar apapun seseorang pasti banyak hal yang tidak ia kuasai. Setiap orang memiliki ilmu yang berbeda-beda, ini akan membuat satu sama lain bisa saling membantu. Oleh sebab itu janganlah sampai sombong dengan ilmu yang kita miliki saat ini, sampai matipun pasti kita tidak akan mampu menguasai semua ilmu yang telah Allah hamparkan di semesta ini. Jika diibaratkan ilmu yang manusia miliki itu seperti air yang ada di ujung jari kita, setelah jari tersebut kita celupkan di lautan yang luas kemudian kita angkat. Air yang menetes itu lah ilmu yang kita miliki dibanding dengan begitu banyaknya air yang ada di lautan.

Seorang Musa AS saja tidak semua ilmu yang ia mampu  kuasai, ia merasa telah banyak yang diketahui dan tidak lagi perlu belajar dari orang lain. Akan tetapi terbukti ketika Allah memerintahkan kepada musa untuk belajar dengan nabi khidir. Dalam perjalanannya menunjukkan bahwa ada suatu ilmu yang belum dipunyai oleh musa, sehingga ia pun harus bertanya dan selalu protes akan apa yang dilakukan oleh khidir. Rasulullah Muhammad SAW pun dalam strategi perang banyak mendapatkan masukkan dari para sahabatnya yang ahli dalam strategi perang pada saat itu.

Jangan sampai menyombongkan diri atas ilmu yang baru kita miliki saat ini. Dengan ilmu yang sedikit tersebut  membuat kita meremehkan orang lain dan tidak merasa butuh belajar kembali. Dengan ilmu yang ada sampaikan lah kepada orang lain sembari kita pun belajar untuk menguasai ilmu-ilmu yang lainnya lagi.

Menyampaikan ilmu yang dimiliki akan menjadi sarana buat kita untuk mengetahui sebanyak apa ilmu yang kita miliki saat ini. Dengan menyampaikan ilmu yang dimiliki akan menjadi sarana mengetahui apa lagi kekurangan ilmu yang belum dimiliki. Sehingga dengan begitu kita akan termotivasi untuk mencari dan mempelajari ilmu yang lainnya kembali. Ketika kita enggan untuk menyampaikan ilmu yang dimiliki maka bisa saja rasa sombong itu timbul dalam diri yang membuat kita sudah merasa puas dengan ilmu yang telah kita miliki saat ini. Padahal ketika kita menyampaikannya kepada orang lain pasti akan terlihat sisi mana yang belum kita kuasai.

 “Sampaikanlah walau satu ayat”. Karena meskipun satu ayat yang kita sampaikan kita akan termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi,  tidak hanya cukup satu ayat saja. Pertemuan pertama kita sampaikan satu ayat, pertemuan selanjutnya tidak mungkin kita akan menyampaikan ayat yang sama. Maka selesai kita menyampaikan satu ayat saat itu, kita akan mencari ayat-ayat yang lain lagi untuk di sampaikan pada pertemuan berikutnya. Kitapun akan merasa begitu sedikit sekali ilmu yang dimiliki, cuma satu ayat. Dengan menyampaikan satu ayat saja kita akan termotivasi untuk mempelajari seribu ayat lagi mungkin kedepanya.

Intinya menyampaikan, menyampaikan ilmu yang dimiliki akan menumbuhkan motivasi belajar dan mencari ilmu lainnya. Akan tetapi ketika kita jarang dan enggan menyampaikan ilmu yang kita milki mungkin kita enggan pula untuk mencari dan belajar tentang ilmu-ilmu lainnya, lha wong kita gak tau apalagi yang mau dipelajari dan dibutuhkan.

Dalam setiap penyampaian ilmu yang kita lakukan pasti kita merasa ada ilmu yang musti kita tingkatkan kembali. Ntah itu substansi ilmu yang disampaikan ataupun cara penyampaiannya sendiri. Sehingga setelah kita menyampaikan tentang suatu ilmu kita dengan sendirinya akan mengevaluasi mana penyampaian yang belum sempurna, mana lagi yang harus diperbaiki kedepannya. Makanya sering kita lihat orang yang telah padat jadwal menyampaikan ilmunya ia malah makin memperbanyak lagi intensitas belajarnya, dari membaca buku, menghadiri taklim atau talaqi ilmu, browsing di internet ataupun sarana-sarana lain untuk dia mencari dan mempelajari ilmu yang ia butuhkan. Beda halnya dengan orang yang tidak pernah mau menyampaikan,  ia akan pasif dalam mencari dan mempelajari ilmu karena ia tidak termotifasi untuk itu.

Banyak sarana bagi kita untuk menyampaikan ilmu yang kita miliki, misalnya mengisi materi dalam sebuah acara pelatihan, mengisi taklim, mengisi mentoring, menjadi pembicara dalam sebuah acara atau bahkan hanya sekedar menulis pun kita berusaha menyampaikan ilmu yang kita miliki dalam bentuk tulisan. Jadi, pada dasarnya ketika kita diminta untuk menjadi pengisi materi yang akan menyampaikan ilmu yang kita miliki sebenarnya pada saat yang sama pula kita sedang belajar.

Terus mencari dan belajar. !!! jangan ragu tuk menyampaikan apa yang kita miliki. Karena dalam menyampaikan sesungguhnya kita sedang belajar.

Yudhi Prasetyo,
Jambi 08 Nopember 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar