Ilmu yang
kita miliki saat ini masihlah sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu yang
telah Allah hamparkan di alam semesta ini. Terbukti tidak semua orang mampu
menguasai semua hal, ada bidangnya masing-masing. Sepintar-pintar apapun
seseorang pasti banyak hal yang tidak ia kuasai. Setiap orang memiliki ilmu
yang berbeda-beda, ini akan membuat satu sama lain bisa saling membantu. Oleh sebab
itu janganlah sampai sombong dengan ilmu yang kita miliki saat ini, sampai
matipun pasti kita tidak akan mampu menguasai semua ilmu yang telah Allah
hamparkan di semesta ini. Jika diibaratkan ilmu yang manusia miliki itu seperti
air yang ada di ujung jari kita, setelah jari tersebut kita celupkan di lautan
yang luas kemudian kita angkat. Air yang menetes itu lah ilmu yang kita miliki
dibanding dengan begitu banyaknya air yang ada di lautan.
Seorang
Musa AS saja tidak semua ilmu yang ia mampu kuasai, ia merasa telah banyak yang diketahui
dan tidak lagi perlu belajar dari orang lain. Akan tetapi terbukti ketika Allah
memerintahkan kepada musa untuk belajar dengan nabi khidir. Dalam perjalanannya
menunjukkan bahwa ada suatu ilmu yang belum dipunyai oleh musa, sehingga ia pun
harus bertanya dan selalu protes akan apa yang dilakukan oleh khidir. Rasulullah
Muhammad SAW pun dalam strategi perang banyak mendapatkan masukkan dari para
sahabatnya yang ahli dalam strategi perang pada saat itu.
Jangan sampai
menyombongkan diri atas ilmu yang baru kita miliki saat ini. Dengan ilmu yang
sedikit tersebut membuat kita meremehkan
orang lain dan tidak merasa butuh belajar kembali. Dengan ilmu yang ada
sampaikan lah kepada orang lain sembari kita pun belajar untuk menguasai
ilmu-ilmu yang lainnya lagi.
Menyampaikan
ilmu yang dimiliki akan menjadi sarana buat kita untuk mengetahui sebanyak apa
ilmu yang kita miliki saat ini. Dengan menyampaikan ilmu yang dimiliki akan
menjadi sarana mengetahui apa lagi kekurangan ilmu yang belum dimiliki. Sehingga
dengan begitu kita akan termotivasi untuk mencari dan mempelajari ilmu yang
lainnya kembali. Ketika kita enggan untuk menyampaikan ilmu yang dimiliki maka
bisa saja rasa sombong itu timbul dalam diri yang membuat kita sudah merasa
puas dengan ilmu yang telah kita miliki saat ini. Padahal ketika kita
menyampaikannya kepada orang lain pasti akan terlihat sisi mana yang belum kita
kuasai.
“Sampaikanlah walau satu ayat”. Karena meskipun
satu ayat yang kita sampaikan kita akan termotivasi untuk belajar lebih banyak
lagi, tidak hanya cukup satu ayat saja. Pertemuan
pertama kita sampaikan satu ayat, pertemuan selanjutnya tidak mungkin kita akan
menyampaikan ayat yang sama. Maka selesai kita menyampaikan satu ayat saat itu,
kita akan mencari ayat-ayat yang lain lagi untuk di sampaikan pada pertemuan
berikutnya. Kitapun akan merasa begitu sedikit sekali ilmu yang dimiliki, cuma satu
ayat. Dengan menyampaikan satu ayat saja kita akan termotivasi untuk
mempelajari seribu ayat lagi mungkin kedepanya.
Intinya menyampaikan,
menyampaikan ilmu yang dimiliki akan menumbuhkan motivasi belajar dan mencari
ilmu lainnya. Akan tetapi ketika kita jarang dan enggan menyampaikan ilmu yang
kita milki mungkin kita enggan pula untuk mencari dan belajar tentang ilmu-ilmu
lainnya, lha wong kita gak tau apalagi yang mau dipelajari dan dibutuhkan.
Dalam setiap
penyampaian ilmu yang kita lakukan pasti kita merasa ada ilmu yang musti kita
tingkatkan kembali. Ntah itu substansi ilmu yang disampaikan ataupun
cara penyampaiannya sendiri. Sehingga setelah kita menyampaikan tentang suatu
ilmu kita dengan sendirinya akan mengevaluasi mana penyampaian yang belum
sempurna, mana lagi yang harus diperbaiki kedepannya. Makanya sering kita lihat
orang yang telah padat jadwal menyampaikan ilmunya ia malah makin memperbanyak lagi
intensitas belajarnya, dari membaca buku, menghadiri taklim atau talaqi ilmu,
browsing di internet ataupun sarana-sarana lain untuk dia mencari dan
mempelajari ilmu yang ia butuhkan. Beda halnya dengan orang yang tidak pernah
mau menyampaikan, ia akan pasif dalam
mencari dan mempelajari ilmu karena ia tidak termotifasi untuk itu.
Banyak sarana
bagi kita untuk menyampaikan ilmu yang kita miliki, misalnya mengisi materi
dalam sebuah acara pelatihan, mengisi taklim, mengisi mentoring, menjadi
pembicara dalam sebuah acara atau bahkan hanya sekedar menulis pun kita
berusaha menyampaikan ilmu yang kita miliki dalam bentuk tulisan. Jadi, pada
dasarnya ketika kita diminta untuk menjadi pengisi materi yang akan
menyampaikan ilmu yang kita miliki sebenarnya pada saat yang sama pula kita
sedang belajar.
Terus mencari
dan belajar. !!! jangan ragu tuk menyampaikan apa yang kita miliki. Karena dalam
menyampaikan sesungguhnya kita sedang belajar.
Yudhi
Prasetyo,
Jambi 08
Nopember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar