Alhamdulillah ketika penulis selesai
mengikuti acara silaturrahiim Nasional #IndonesiaTanpaJIL, bisa menyempatkan
mampir dan i’tikaf di masjid Daarut Tauhid Bandung milik da’i kondang Aa Gymastiar
pada hari ahad, 11 Nopember 2012. Beruntung sekali bisa mendengarkan secara
langsung tausyiah yang disampaikan aagyim ba’da shubuhnya senin, 12 nopember
2012. Tausyiah tersebut merupakan program Manajemen Qolbu yang disiarkan
langsung di radio secara Nasional dari jam 05.00 – 06.00 WIB. Beruntung bisa
bertemu karena biasanya aagym lebih banyak tidak di tempat dikarenakan banyak
agenda yang harus dihadirinya.
Tausyiah dari aagym pada pagi itu
mengenai jangan bersikap berlebih-lebihan. Dengan diawali membaca Q.S At-Takatsur oleh seorang
santrinya. Dalam surat tersebut yang artinya
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai
kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah
begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu
benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan
melihatnya dengan 'ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu
tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Di dalam hidup, janganlah kita sebagai
seorang makhluk bersikap berlebih-lebihan. Karena dalam setiap apa yang ada pada diri
kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Semuanya akan dihisab oleh Allah SWT
ketika di yaumil akhir kelak. Semuanya tersebut akan memberikan kesaksiannya
atas kita. Orang yang kaya akan di hisab lebih lama dibandingkan dengan orang
miskin, ia harus mempertanggung jawabkan atas apa yang menjadi hartanya. Orang yang
serba ada akan lebih banyak dihisabnya dibandingkan dg orang yang serba kekurangan.
Itulah sulitnya ketika kita memiliki
barang yang banyak yang melekat pada diri kita. Semuanya akan di hisab satu
persatu secara terperinci pastinya. Semua barang akan memberikan kesaksiannya
terhadap kita. Apalagi jika ditambah rasa sombong yang tinggi terhadap
kepemilikan barang tersebut. Akan makin berat tanggung jawab kita selaku
pemiliknya. Padahal apa yang kita punya tersebut bukanlah milik kita yang
sesungguhnya.
Aagym memberikan kita pelajaran dengan
sebuah analogi seorang tukang parkir. Seorang tukang parkir tidaklah sombong
ketika ia mempunyai banyak mobil, banyak motor dengan berbagai macam
keistimewaannya masing-masing. Ia tahu bahwa itu sesungguhnya bukanlah miliknya,
itu semua hanyalah titipan dari sang pemiliknya. Sehingga ketika mobil atau
motor itu diambil oleh pemiliknya ia pun merasa tidak sedih karena memang ia
merasa itu semua bukanlah miliknya. Bahkan sampai habis pun motor dan mobilnya
ia tidak akan merasa sedih, karena memang pada hakekatnya ia tidak memiliki
apa-apa.
Seperti itulah dengan kita sebagai
manusia, apapun yang kita miliki ketika di dunia ini semunya hanyalah titipan
dari Allah SWT. Maka tidaklah pantas kita menyombongkan diri dengan apa yang
telah kita miliki. Kita hanyalah orang yang dipercaya oleh Allah untuk menerima
titipan dari-Nya, yang suatu saat Allah akan mengambilnya kembali. Jadi kenapa
harus bersedih ketika Allah mengambil satu persatu dari apa yang kita miliki
jika kita sadar bahwa memang semuanya itu adalah milik Allah dan menjadi hak
Allah jika ia ingin mengambilnya dari kita. Dan setiap apapun yang dititipkan kepada
seorang manusia semuanya akan dimintakan pertanggung jawabanya.
Menjadi beban yang sangat berat bagi
orang-orang yang memiliki kelebihan tentang sesuatu di muka bumi ini. Apalagi kelebihan
tersebut didapatkan dari cara-cara yang tidak baik seperti korupsi, menipu,
mencuri dan cara-cara jelek lainnya. Na’udzubbillahi min dzalik, kita pasti
akan termasuk orang yang merugi dan menyesal nanti kenapa kita melakukan
hal-hal tersebut.
Maka kesederhanaan itu dituntut kepada
kita, ketika kita tidak memerlukan sesuatu maka janganlah kita berusaha untuk
memilikinya. Ketika kita butuh baju 2 atau 3 pasang kenapa harus beli 10
pasang, ketika dengan 2 sepatu cukup kenapa harus beli 10 pasang. Karena setiap
apa yang kita miliki tersebut akan kita pertanggung jawabkan semuanya. Begitu juga
dengan harga suatu barang yang ingin kita miliki, tidaklah semuanya harus
mahal. Semuanya tergantung kebutuhan yang kita miliki agar kita mudah
memberikan pertanggung jawabannya kepada Allah.
Nggak masalah kita memiliki barang yang
bagus ketika kita memang membutuhkannya dan benar-benar berguna bagi kita untuk
menunjang kerja-kerja kita. Bahkan rasulullah pun memiliki kuda yang sangat
bagus, karena rasulullah ingin dalam perjalanannya atau dalm perperangangannya
ia memiliki kendaraan yang baik yang tidak menghambatnya dalm menyelesaikan
tugasnya tersebut.
Yudhi Prasetyo
Jakarta, 13 Nopember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar