Minggu, 11 Nopember 2012 setelah usai
mengikuti Silaturrahim Nasional Indonesia Tanpa JIL (SILATNAS ITJ) aku
berencana untuk mampir ke Pondok Pesantren Daarut Tauhid milik da’i kondang Aa’
Gymastiar. Turunlah kami di simpang Gerlong, jalan menuju ke arah Daarut
Tauhid. Kami jalan kaki menuju ke dalam bersama-sama, kira-kira 1 Km sampai ke
pondok pesantren Daarut Tauhid. Waktu itu menunjukkan kira-kira pukul 16.00. Akan tetapi kami tidak langsung menuju ke
Daarut Tauhid melainkan hendak bersilaturrahiim terlebih dahulu ke tempat Mas
Sukarno. Mas Sukarno adalah alumni Aktifis Dakwah Kampus (ADK) Universitas
Jambi yang sedang melanjutkan studi S3 di UPI. Tempat kostnya tidaklah terlalu
jauh dari Daarut Tauhid maupun Kampus UPI sendiri. Jalan menuju ke rumah beliau
dilewati melalui jalan-jalan kecil di
antara padatnya rumah di sana, maklum memang biasanya sekitaran kampus pasti
dipenuhi dengan rumah-rumah kost untuk mahasiswa. Sampailah kami di rumah Mas Sukarno.
Beruntung beliau ada di rumah karena katanya beliau juga baru pulang dari
berpergian (dari mana gitu,,,lupa, hehe). Pada awalnya kami hanya ada 4 orang
yang bersilaturrahim ke tempat beliau yakni, penulis sendiri, Sholahudin,
Risdalina dan Ima. Akan tetapi akan ada yang menyusul diajak sekalian
bersilaturrahiim di rumah Mas Sukarno yakni anak UNJA juga yang kebetulan ada
acara pertemuan BEM di UPI, mereka adalah Nila, Ides, dan Sita.
Tidak lama setelah kami berada di dalam
rumah sambil duduk dan bincang-bincang, eh ada tukang bakso lewat di depan
rumah. Lalu ditawari lah kami oleh mas Sukarno untuk dipesankan sesuai dengan
jumlah kami termasuk yang akan datang nanti. Pada awalnya kami menolak tapi
karena terus di paksa ya sudah gak papa lah diterima saja, rizki berarti (hehe,
padahal mau juga tuuh....ssssttt). Mas sukarno pun memesan sebanyak 7 porsi
sekaligus temen-temen yang akan menyusul nanti, meskipun sekarang mereka belum
datang akan tetapi sedang dijemput. Berbincanglah kami semua dengan Mas Sukarno,
mulai dari bertanya kabar sampai pesan-pesan yang ia sampaikan kepada kami
terutama yang masih jadi mahasiswa agar cepat lulusnya....(untung gua dah lulus).
Cerita demi derita, canda demi canda mewarnai ruangan rumah mas sukarno waktu
itu. Tanpa terasa seiring baksonya telah habis akan tetapi waktu menunjukan
telah hampir memasuki waktu maghrib. Yah meskipun masih banyak yang ingin kita sama-sama
share, kami harus berpamitan sama mas sukarno untuk menuju ke
masjid untuk sholat Maghrib berjamaah.
Kami bertujuh pun langsung menuju masjid
Daarut Tauhid untuk. Sesampainya di masjid Daarut Tauhid saya n sholahudin
menitipkan tas-tas kami kepada petugas penitipan barang masjid, sedangkan yang
akhwat menuju temapt akhwat di belakang. Setelah dititipkan barang-barang kami,
kami mengambil air wudhu bersama para santri lainnya yang semakin banyak
berdatangan ke tempat wadhu. Setelah adzan selesai tidak langsung iqomat tapi
melaksanakan sholat sunnah terlebih dahulu, sambil menunggu jamaah lain datang
juga sepertinya. Subhanallah luar biasa, jamaahnya sangat ramai sekal, penuh
sampai shaf paling belakang. Masjid daarut tauhid berlantai 3 dan sholat
berjamaahnya dilaksanakan di lantai 2 untuk yang laki-laki dan perempuan di
belakang dengan dibatasi hijab dan ada juga tempat sholat untuk yang perempuan
di atas lantai 3 karena memang yang lantai 2 tempat untuk yang perempuannya
juga kecil. Para santri tidak ribut ketika mau melaksanakan sholat, mungkin ini
hasil dari pola pendidikan yang diterapkan di daarut Tauhid.
(gak papa lah ya ada gua nya...he)
Setelah selesai sholat maghrib selesai,
semua jamaah diam sejenak melakukan dzikir sendiri-sendiri. Kemudian ada
tausyiah dari Aa’Gym yang sebelumnya juga sebagai imam sholat maghrib. Pada
awalnya aku tidak mengira bahwa yang menyampaikan tausyiah tersebut adalah
aagym, karena kalo di lihat dari wajahnya gak terlalu sama seperti yang kulihat
di layar televisi. Kalo dari suaranya sih emang mirip dengan suaranya AaGym,
atau mungkin aku melihatnya dari jarak yang agak jauh karena aku berada di shaf
yang agak di belakang ditambah dengan lampu yang tidak terlalu terang. Dia
tidak memakai kacamata dan sorban. Aku mengira itu orang lain, yang suaranya
sama dengan AaGym yang lembut. Ternyata emang beliau adalah aagym setelah
berdiri dan memakai kacamatanya. Senang sekali bisa mendengarkan tausyiahnya
secara langsung dari beliau. Karena biasanya beliau sering berada di luar kota.
Tausyiah yang disampaikan beliau ba’da maghrib yakni tentang selalu mengingat
Allah.
Setelah tausyiah selesai, kami tetap
berada di dalam masjid menunggu sholat Isya dengan tilawah Qur’an bersama
beberapa santri lainnya. Sampailah masuk waktu sholat isya dengan ditandai
adzan berkumandang seiring jamaah sholat memenuhi masjid. Jamaah sholatnya
masih tetap banyak sampai shaf paling belakang. Selesai sholat dilanjutkan
dengan tausyiah dari Aagym lagi yang pada waktu Beliau hanya sebagai makmum
saja mengenai ketenangan hati. Memang kebanyakkan tausyiah yang disampaikan
oleh aagym adalah berkaitan dengan hati.
Setelah tausyiah selesai kami berencana untuk
keluar pergi jalan-jalan melihat di lingkungan pesantren Daarut Tauhid. Sebelum
keluar kami bertanya kepada petugas masjid, apakah kami bisa menginap di dalam
masjid untuk malam ini. Dan ia menjawab bisa yang penting ijin dengan pengurus
DKM dan memberikan identitas diri kepadanya. Akhirnya kami keluar dari masjid
Daarut Tauhid. Pertama kami menuju ke dalam gerbang kompleks pondok pesantren.
Kompleks pondok pesantren merupakan kompleks yang bergabung dengan rumah warga
sekitar. Melihat-lihat di sekitaran kompleks pondok pesantren, ada minimarket,
galery jualan buku, pakaian, klinik Daarut Tauhid, Penginapan dan rumah warga
yang tidak dibatasi dengan sekat apapun.
Sampai malam pukul 22.00 WIB kami kembali
ke masjid Daarut Tauhid, yang sebelumnya kami juga jalan-jalan ke kampus UPI
dan sebentar duduk-duduk di sana. Sesampainya di masjid kami ambil tas-tas kami
kemudian naik ke lantai dua. Ketika di lantai dua ada salah satu pengurus DKM
yang menghampiri kami lalu menanyakan apakah kami mau i’tikaf di sana, jika ia kami harus mengisi absen
terlebih dahulu dan menyerahkan identitas diri. Maka kami pun mengisi absen dan
menyerahkan identitas diri, aku menyerahkan SIM dan akh Shola menyerahkan
KTP. Kami pun siap untuk i’tikaf dan
mabit di masjid tersebut setelah itu. Sebelum tidur kami tilawah sebentar,
setelah usai tilawah beberapa halaman kami duduk-duduk sebentar. Aku main HP
sambil mencharge HP dan akh shola membuka laptop belajar Screen Shoot. Lagi asyiknya main HP dan Laptop seorang
pengurus DKM menghampiri dan mengingatkan kami untuk menjaga barang berharganya
ketika hendak tidur nanti, kami pun menjawab “iya, insya Allah”. Rasa kantuk
pun datang, kami pun beranjak ambil posisi tidur di tempat yang telah di
sediakan dengan dibentangkannya tikar di atas karpet masjid. Kami tidur bersama
orang-orang lain yang kebetulan sama-sama menginap di sana. Kira-kira waktu itu
ada belasan orang yang turut menginap di sana. Setelah badan ini terbaring aku
pun tertidur.
Tidurku sangat nyenyak, sepertinya gak
mimpi. Jam 03.00 aku pun bangun dari
tidurku dan telah ada beberapa orang yang telah melakukan sholat tahajjud
secara infirodhi. Setelah membangunkan badan dari berbaring, aku sibuk
mencari HP ku yang sudah tidak ada di sekitar tempat aku tidur. Beberapa kali
aku mengecek sekitar tempat tidurku maupun di dalam tas, ternyata tetap tidak
ada. Aku mengira di awal HP ku telah hilang yang mungkin diambil orang. Setelah
capek mencarinya dan tidak menemukannya, ya sudahlah aku pasrah saja kalo memang
benar-benar hilang. Aku beranjak
mengambil air wudhu saja di bawah untuk ikut melaksanakan Qiyamul Lail.
Sebelum sampai ke tempat wudhu aku bertemu dengan akh shola, langsung aku
tanyakan kepada beliau apakah ia melihat HP ku, ternyata dia juga tidak tahu.
Ya sudahlah aku terus menuju tempat wudhu sambil bergumam dalam hati “mungkin
hilangnya HP ku di karenakan HP tersebut membuat aku terlena dengan selalu
memainkannya”.
Di tempat wudhu aku mengambil air wudhu
yang sebelumnya aku pergi ke kamar dahulu, airnya dingin sekali. Setelah
mengambil air wudhu tiba-tiba akh shola turun lagi ke tempat wudhu, ternyata ia
sedang mencari HPnya juga. Padahal katanya setelah bangun tidur tadi HPnya
masih ada karena ia melihat jam dari HPnya. Setelah dicarinya di bawah di
beberapa kamar mandi ia tidak juga menemukan HP nya. Pada saat itu ada rasa kelegaan
tersendiri dalam hatiku karena mungkin Hp kami berdua telah diselamatkan oleh
pengurus masjid. Akhirnya kami sama-sama beranggapan bahwa yang menyelamatkan
HP kami adalah pengurus masjid supaya tidak hilang diambil orang karena HP kami
tergeletak begitu saja. Kami pun agak tenang dengan beranggapan seperti itu.
Kami melanjutkan sholat tahajjud tanpa
memikirkan lagi dimana Hpnya. Sholat qiyamul lail sampai masuk waktu sholat
shubuh. Berkumandanglah adzan shubuh seiring dengan berdatangan para santri
masuk ke dalam masjid. Berlangsunglah sholat subuh berjamaah dengan jumlah
jamaah yang masih tetap banyak. Seusai sholat subuh, para jamaah diarahkan
untuk dzikir al-matsurat secara berjamaah yang dipimpin oleh satu orang. Dzikir
al-matsurat pun selesai para jamaah diam sejenak sambil menungggu kajian subuh
yang akan di sampaikan oleh aagym, ada yang mengantuk, ada yang tilawah, macam-macamlah.
Aku tidak tahu kalo habis subuh itu kajian subuh yang akan disiarkan langsung
di radio yang diisi oleh aagym. Akhirnya aagym pun muncul dari depan tempat
imam dengan diawali seruan kepada para santrinya yang ngantuk,”...hssshhh
bangun” beberapa dengan logat sundanya. Suaranya tidak membentak tapi dengan kelembutan,
menunjukkan kasih sayang beliau terhadap para santrinya. Sepertinya metode
pembelajaran yang diterapkan di pesantren ini penuh dengan kasih sayang,
sehingga menimbulkan kesadaran sendiri pada jiwa santri. Sebelum membuka kajian
nya, aagym mengajak para hadirin senam sederhana terlebih dahulu untuk
menghilangkan rasa kantuk yang ada. Anggkat tangan ke kanan ke kiri, kepala ke
kanan ke kiri, lalu barulah dimulai kajiannya.
Setelah selesai mendengarkan kajian subuh
bersama aagym dari pukul 05.00 – 06.00 aku dan akh shola berniat langsung
mengambil identitasku di kantor masjid
Daarut Tauhid yang berada di bawah. Sampailah kami di kantor pengurus
DKM, telah ada satu pengurus DKM yang ada di sana. Dialah yang menyerahkan
identitas masing-masing kami. Setelah identitas kami sudah diberikan, ia
menanyakan kepada kami, “merasa kehilangan sesuatu?” katanya. Langsung kami
jawab dengan rasa senang “iya”. Akhirnya dia mengambil HP kami dari sebuah laci
tempat untuk menyimpan HP kami. Kami pun merasa ternyata benar bahwa HP kami
telah diselamatkan oleh pengurus agar tidak hilang diambil orang lain yang juga
menginap di masjid. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut pengurus DKM itu
memberi pengingatan kepada kami “besok-besok kalo menginap di sini lagi,
barang-barangnya di simpan sendiri dengan aman, karena banyak yang datang
ketika malam”. Kami jawab” iya, insya allah...terima kasih ya sudah menyimpan
HP kami”.
Setelah itu, kami tetap berada di dalam
masjid sampai pukul kira-kira 07.00 WIB,
karena pada jam tersebut ada acara lagi yang khusus untuk para santri. Akhirnya
kami pun berangkat keluar meninggalkan masjid Daarut Tauhid. Rencana
selanjutnya adalah kami mau pergi ke pasar toko buku dan pasar membeli
oleh-oleh sebelum pulang. Sebelum berangkat kami sarapan terlebih dahulu di
depan masjid Daarut Tauhid. Karena tempat dan arah pasarnya kami tidak tahu
maka mau perginya akan serempak dengan risdalina dan ima. Sementara menunggu
mereka yang akan sarapan dahulu sebelum pergi, kami jalan pergi ke masjid UPI
dahuhu untuk sholat dhuha sambil menunggu mereka selesai sarapan dan siap untuk
pergi serempak. Akhirnya setelah selesai menunggu dan mereka sudah siap
kemudian kita bertemu untuk menuju ke pasar toko buku dengan menunggu mobil di
depan kampus UPI.
Yudhi Prasetyo
Jambi, 15 Nopember 2012
wkwkwkwk ada namaku ternyata, tulisan satu tahun yg lalu.
BalasHapushe..tak terasa dah 1 tahun
Hapus