Oleh : Yudhi
Prasetyo
Selayaknya tidak ada rasa kekhawatiran di dalam hati ketika ada
seorang al-akh atau al-ukh tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Baik itu
dikarenakan ia futur, mengundurkan diri ataupun pindah tugas. Karena kita telah
meyakini bahwa islam ini milik Allah dan Allah lah yang akan menjaganya.
Termasuk para juru dakwahnya, Allah telah menjamin akan selalu ada orang-orang
yang menjaga islam dengan jalan dakwah setiap masanya. Ketika generasi
sebelumnya telah hilang maka Dia akan menggantikannya dengan yang lain kembali,
sehingga islam dan dakwah islam akan senantiasa ada sampai hari akhir kelak.
Berhenti atau terus itu adalah pilihan, bersama atau tidak juga adalah
pilihan. Dakwah islam akan terus berjalan baik dengan atau tanpa kita. Itupun
adalah pilihan, apakah kita yang akan sebagai juru dakwahnya atau membiarkan
hanya orang lain saja yang menjalankan tugas dakwah itu. Sedangkan kita hanya
duduk dan melihat perkembangannya saja.
”Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai
´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,"(QS.
An Nisa' : 95)
Sudah seharusnya dan selayaknya bagi kita semua ketika hanya dengan
alasan banyaknya aktifitas kita terus kemudian kita tidak lagi bersama dalam
barisan dakwah. Begitu banyak keutamaan-keutamaan dakwah yang telah kita
ketahui sebelumnya, lantas kalah dengan ego pribadi kita. Meruginya kita ketika
tidak terus bersamanya atau bersamanya hanya sekedar saja tidak berkeinginan
semaksimal mungkin. Karena seharusnya kita merasakan bahwa kehadiran kita di
dalam barisan dakwah, dakwah akan diuntungkan. Dengan kita lah dakwah ini akan
dimenangkan.
Seharusnya ada sebuah perasaan menyesal ketika kita harus berhenti
sejenak atau selamanya, atau tidak lagi bersama barisan dakwah. Terus kemudian
digantikan dengan orang-orang yang pasti lebih baik dengan kita. Yakni mereka
yang akan selalu istiqomah menjalankan amanah dakwah itu. yang dengannya dakwah
berkembang pesat bahkan mungkin dengan sarananya dakwah ini akan dimenangkan.
Sedangkan kita hanya duduk terdiam dengan aktifitas-aktifitas pribadi kita
melihat mereka yang berhasil menggantikan kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Tidakkah ada rasa iri di hati kita, ketika kita tidak termasuk satu di dalam
barisan dakwah itu? apakah kita akan seperti ini :
"jika ada 1 Mujahid di dunia ini, maka sudah dipastikan dia bukanlah aku.
Jika ada 10 Mujahid, amak aku tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 100 Mujahid, maka aku pun tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 1000 Mujahid, maka aku juga tidak termasuk satu di dalamnya."
"jika ada 1 Mujahid di dunia ini, maka sudah dipastikan dia bukanlah aku.
Jika ada 10 Mujahid, amak aku tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 100 Mujahid, maka aku pun tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 1000 Mujahid, maka aku juga tidak termasuk satu di dalamnya."
Jadi, jangan bersedih saja bagi yang ditinggalkan teman-teman
seperjuangan karena mereka tidak lagi bersama kita dengan alasan apapun itu.
Jangan risau dengan sedikitnya orang yang bersama kita dalam barisan dakwah
ini, karena itu bisa jadi memberikan peluang besar bagi kita untuk semakin
banyak berkontribusi dan memberikan yang terbaik bagi dakwah ini. Jangan risau
dengan perkembangan dakwah ini ketika ada sebagian dari kita yang rehat
sejenak, karena dakwah ini milik Allah, islam ini milik Allah. Yakinlah Allah
akan menjaganya dan menggantikan mereka yang rehat sejenak itu dengan generasi
baru lagi.
“si anu mau mengundurkan diri, katanya jadwalnya full jadi takut gak
bisa optimal dengan amanahnya di sini.” sms seorang staf kepada pemimpinnya. “sedangkan
si itu mau pindah, mau melanjutkan study nya jadi gak di sini lagi, Jadi siapa
yang akan menggantikan mereka?” Tambahnya. Salahkah jika pemimpinnya tersebut
menjawab dengan jawabany yang singkat dan padat “mujahid-mujahidah baru”.
dimuat di web Bersama Dakwah >> http://www.bersamadakwah.com/2013/06/dakwah-dengan-atau-tanpa-kita.html

Selayaknya tidak ada rasa kekhawatiran di dalam hati ketika ada seorang al-akh atau al-ukh tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Baik itu dikarenakan ia futur, mengundurkan diri ataupun pindah tugas. Karena kita telah meyakini bahwa islam ini milik Allah dan Allah lah yang akan menjaganya.
BalasHapus